LOGINWith Alpha Cain…there's just something with him that makes my blood boil to the hottest degree, my mind roaring with spite and disdain every time I look at him in the eyes. I often ask myself, "Am I really sure to be the Alpha's Pet or am I just looking at the fastest way to die?" Maybe I'll never know the answer. Maybe I also knew the answer already. But deep inside, one thing's for sure: I hate Alpha Cain. But I also like some part of him. And I hate that part of myself that liked the part of him. *** Anastasia is an I-don't-fucking-care type of Omega who, because she's already bruised outside and broken deep inside, just accepts whatever comes her way. But Alpha Cain somehow liked her wicked mouth. She's the only Omega who can talk back to him with enough sarcasm and wits that most of his pack members lack of. And in the tradition of most packs, whether in every year, months, or even weeks and days, the Alpha will choose among Omegas as his Pet: a more accurate term for his personal bed warmer. It is an actual title in a pack reserved to only one person, with benefits and privileges on its own. And because Anastasia accidentally became drunk the night Alpha Cain tested her skills in bed, she rode so wild and satisfied the Alpha more than he expected. And a hate-to-love, pet-to-lovers tale began to unfold.
View More"Duh, sial banget sih, hari ini," Rutuk seorang gadis. Berjalan tergesa-gesa sambil mengetuk keningnya beberapa kali.
Masih terlihat jelas, rutinitas sejak pagi buta tadi, hingga membuatnya terlambat masuk kelas, di hari pertama perkuliahan ini. Membuatnya diminta menghadap dosen, yang entah siapa namanya. Ia bahkan tidak sempat mengingat nama dosen muda tadi.
Seorang dosen yang menurutnya galak. Saat ini ia hanya sedang menyiapkan mental untuk kembali bertemu dengannya. Zahira menghentikan langkah di depan ruang yang pintunya tertutup rapat.
Ia menggigit bibir bawah, demi menetralisir rasa takut tanpa alasan. Ini sudah dua kali zahira mengangkat tangan untuk mengetuk pintu, tetapi tangan mungil itu masih saja tak bergerak. Terpaku oleh rasa bimbang, antara berani dan tidak.
Namun, saat ia akan memberanikan diri, pintu itu telah terbuka dari dalam. Zahira mengerjap gugup, apalagi yang nampak pertama adalah tag nama bertuliskan Gema Mahardika.
"Anda telah membuat saya menunggu lama," Suara yang memarahinya di kelas tadi, kini kembali menggema di telinga. Zahira membelalak tanpa kedip beberapa saat. Melihat sosok tinggi di depan, bersuara tanpa menatapnya sedikitpun.
"Masuk!" Sang Dosen kembali bersuara, Zahira gelagapan.
"Eh, i, iya, Pak." Ia terlambat menyadari, bahwa saat ia mengatakan kalimat bodoh itu, ternyata dosen tadi telah menghilang dari hadapan.
Zahira maju dengan langkah terseret, mendekati meja yang pemiliknya telah duduk menatap layar ponsel. Setelah berdiri beberapa saat, ia yakin, sampai nanti pun, dosen itu tidak akan pernah memintanya duduk. Maka ia memutuskan mengambil inisiatif sendiri, menjatuhkan badan ke atas kursi di dekatnya.
Menunggu sampai bosan, sebab orang yang memintanya datang ini tak segera bersuara. Malah semakin asyik dengan layar kecil di tangan. Zahira jengah, menunduk takzim sejak tadi pun rasanya tak ada guna.
"Pak, kenapa saya diminta kesini?" Zahira bertanya jengkel, menatap kesal wajah dosen yang ternyata tetap fokus pada ponselnya.
Wajah kesalnya makin menjadi, saat beberapa menit berlalu tanpa jawaban sama sekali. Zahira kembali angkat suara, "Pak! Saya tanya, kenapa saya diminta kesini?"
Suaranya cukup lantang, sosok pria itu menatapnya tajam. Zahira perlahan menyadari, bahkan belum terdengar jawaban, ia kembali menunduk.
"Kenapa? Coba tanya pada dirimu sendiri."
"Iya, Pak. Karena saya datang terlambat, maafkan saya." Zahira menjawab asal karena rasa kesal masih menggenggam dada.
"Itu, sudah tau." Zahira akan lega jika Dosen itu melanjutkan kata. Sayangnya, malah kembali pada layar ponsel.
"Saya tau, Pak. Terus, abapak minta saya kesini ini kenapa? Saya minta maaf, dan masalahnya selesai. Nggak usah dibikin panjang. Bisa, kan?"
"Apakah itu sopan?" Zahira mendelik, rasanya ingin bersumpah demi apapun. Dosen itu memiliki sifat dingin, angkuh, cuek, dan sikap-sikap lainnya yang sejenis. Ia mendesah jengkel.Bahkan saat rentetan kalimat yang ia lontarkan tadi, tak berpengaruh apapun pada wajah dosen bernama Gema.
"Saya ingin menambah hukuman Anda. Nanti sore, temui saya di tempat itu." Dosen tadi berlalu setelah menjatuhkan kertas kecil di depan Zahira.
Gadis itu, menatap heran punggung yang baru saja keluar pintu. Menggeleng tak habis pikir, bagaimana ada seorang pengajar dengan sikap kejam seperti itu.
"Restoran?" Gumamnya saat mengetahui keterangan yang ada dalam kertas kecil tadi. "Jadi, hukumannya adalah, makan?" Ia bertanya pada diri sendiri. Kejap selanjutnya, gadis itu melompat girang.
"Yes. Jarang-jarang ada pengajar yang ngasih hukuman begini. Tapi .... " Bibir yang tadinya melengkung senyum itu, kembali. "Jangan-jangan, aku yang disuruh bayarin makanan dosen galak itu? Hah? Enak aja!" Zahira melesat keluar dengan uring-uringan tak jelas.
Senang sekaligus penasaran, akan hukuman yang ternyata di restoran. Sepanjang perkuliahan, bahkan Zahira tak sabar menanti sore tiba.
Sore ini, setelah mengantarkan pesanan pembeli, Zahira memarkirkan motor scoopy kesayangan. Yang ia beli dengan jerih payahnya sendiri. Hasil dari tabungan bisnis pakaian online, selama beberapa tahun ini, hingga ia akhirnya bisa melanjutkan angan terpendam. Yaitu kuliah, meski di usia yang lebih dari yang lain.
Belum lama ia duduk, dosen tadi datang. Zahira berfikir, pria itu memang orang disiplin dan menghargai waktu. Tak heran lagi, jika hanya dengan alasan terlambat, ia harus menerima hukuman.
"Ikut saya." Suara Pak Gema, yang bahkan Zahira belum sempat menyapanya. Ia malah dibuat gelagapan dengan perintah mendadak di luar perkiraan. Bahkan saat ini, Gema telah berdiri di depan mobilnya.
"Kita mau kemana?" Zahira bertanya, setelah menyusul dengan langkah tergesa.
"Masuk!" Sekali lagi perintah dari sang dosen, Zahira menepuk kening. Meski begitu, ia akan tetap patuh.
Ia masuk setelah mendengus kecil, dan belum sempurna meletakkan badan, matanya kembali dikejutkan dengan tangan Gema, memegang tas kecil di depan wajah.
"Cepat pakai, dan rapikan rambutmu yang berantakan itu." Zahira kembali mendengus, ia bahkan belum sempat bertanya.
Beruntung ia bergerak cepat, seenaknya saja pemilik mobil itu masuk dan menghidupkan mesinnya.
"Kita mau kemana sih, pak? Terus, motor saya gimana?" Tanya Zahira saat mobil melaju kencang, menuju tempat yang ia tak tau kemana. Sayangnya, pertanyaan tadi tak pernah dijawab oleh Pak Gema.
Hanya saja, tak butuh waktu lama, mobil itu berhenti di depan rumah luas dan asri. Zahira yakin, itu pasti rumah Dosennya. Namun, hingga detik ini, ia tak mengerti, kenapa Dosen itu mengajaknya kemari.
"Siapa namamu tadi?" Suara Gema membuyarkan lamunan Zahira, membuat gadis itu terkejut berlebihan. Selebihnya adalah, tak habis pikir. Jadi, Dosen yang akan memberikan hukuman itu belum tau namanya.
Ya Tuhan, ia menepuk kening. "Nama saya Zahira, Pak. Lebih lengkapnya adalah, Wardah Zahira." Ia menekan setiap kata tentang namanya, dan mengetahui pria di depan kemudi tak bereaksi sama sekali.
"Tidak peduli siapa. Yang jelas, apapun yang akan kamu hadapi setelah ini, kamu hanya cukup menurut dan menjawab iya. Paham, kamu?"
"Iya, Pak Dosen." Ia menjawab nyengir. Mengekor saja, berjalan cepat demi mengejar langkah panjang pria tadi. Sepanjang langkah ia tetap bergumam pada diri sendiri, hukuman apa yang sebenarnya akan diterima.
Keduanya masuk ruangan depan, yang di sana terdapat beberapa orang berpenampilan indah. Zahira membelalak lebar, masih belum tau apa sebenarnya akan terjadi. Dan yang membuatnya semakin gugup adalah, mengetahui bahwa semua mata di ruangan ini, semua menatap ke arahnya.
"Gema! Jadi hanya karena perempuan jelek itu, kamu nolak aku?" Teriak sosok yang terlihat paling cantik, dengan dandanan mewah di antara yang lain.
Zahira memicing, menatap semua orang satu persatu. Tak peduli dengan pandangan mereka semua, yang menyiratkan kebencian entah karena apa. Kini, ia beralih melihat Gema. Pria itu tetap tak bereaksi di sebelahnya. Namun, sedikit banyak, ia paham apa yang terjadi.
Apalagi perempuan cantik tadi, kini perlahan mendekat, menatapnya penuh amarah dan kebencian. Tatapan yang sama juga terarah pada Gema. Zahira menghela nafas dalam-dalam, hatinya mendadak diliputi rasa khawatir.
"Jadi kamu lebih memilih dia, daripada aku yang telah bertahun-tahun mencintai kamu, Gema!"
"Kita tidak cocok." Singkat dan padat, mungkin itulah watak dari seorang dosen bernama Gema.
"Apa yang membuat kita nggak cocok? Latar belakang keluarga kita sejajar!" Perempuan tadi berteriak lantang, tetapi Gema tak lagi merespon.
"Gema. Apa-apaan ini? Kamu mau bikin malu papa dan mama?" Zahira yang kaget, saat tiba-tiba terdengar suara pria mendekat. Yang ia yakini itu adalah Ayah Gema.
"Maaf, Papa. Tapi saya tidak mencintai Aurel. Saya akan menikahi dia dalam waktu dekat, bukan begitu, Zahira?" Suara Gema, dan wajah itu mengarah ke Zahira. Ia mendelik kaget.
Bersambung ***
“No,” I told myself loudly, gulping down my panic. “It’s too early for the judgment.” But my curiosity reached greater heights when I stared at it. It’s calling to me to read it, to at least have a glimpse of it. A wishful smile appeared on my face.I did not move for a moment. Then, I picked up the letter in a second. I did not stir. I just weighed the red letter between my fingers.And then slowly, so slowly, I opened the letter, careful not to rip it apart. As an Omega, I’ve learned how to open letters as if I’ve never opened them at all.“Alpha Cain,” I read silently, “I have received your letter asking me how to find a true mate. But truth be told, no one can find their true love unless they dare to fall in love. So the only thing I can advise you is to allow yourself to find your mate, whether it’s your fated mate or chosen mate. You will eventually find out who your true mate is if you allow yourself to find them. Who knows? Perhaps you’d be like me: my
The laundry wasn’t so tiresome. It’s the fact that even the laundry room has luxurious paintings and lavish furniture that I’m kind of weary of. I thought the laundry room that Alpha Cain mentioned earlier was much more akin to a cave mouth, but this place proved me wrong. They really made sure they slapped it on my face about how poor I was.Out here slouching on the floor two levels below the grand foyer with me, Beta Charlene finally lifted her gaze to me after what seemed to be thousands of minutes. “There’s more.” “What more?” “Laundry.” She flashed a grin at me. It wasn’t malicious, but it did furrow my brows. “Of course there’s more,” I breathed. Alpha Cain lived alone in this goddamn manor, and yet he seemed to have a never-ending mountain of unwashed clothes. ‘Does he change clothes every second?!’ I thought, keeping the words within my grasp. It will be trouble if Beta Charlene—or worse, Alpha Cain—hears
I shot him a mild glare. “Can you blame me if I ate with a mess earlier? And who told you that if an Omega ate like it’s her last meal is also messy in her chores?”The Alpha narrowed her eyes, somewhat surprised and in disbelief.“Your actions will say otherwise after I checked your work.”I swallowed. He’s challenging me.And pressuring me.For Omegas, we’re already bombarded by tasks and chores the moment we already learned to walk. My childhood (and most of Omegas’ childhoods) is more of a free trial to eternal damnation of being a laundress, a cook, a household maid, and many more.“I’ll be in my library. Feel free to look around for a minute or two. The broom closet is under the second stairs, not the grand staircase. The laundry room is two levels below.”Then the Alpha Cain vanished, walking away from my sight and bringing his air of arrogance with him.Just when I’m sure he’s no longer around, I yelped in excitement and punched the air repeatedly while keeping my joyous voice
His laugh was like a midnight storm, yet it was still seductive and alluring.“Do you know why I invited you to come clean my manor?”I smirked. “Because you want to make sure the one cleaning your house has a pretty face?”Alpha Cain barked a laugh, the sound filling my ears like the music from pleasure halls. “Yes, but no. I invited you because the Omega in-charge of my laundry is in labor and the other Omegas in my manor are doing their own chores.” “Sweet,” was all I said. I almost asked him if he cannot do laundry and cleaning on his own when he doesn't look that busy today. “I am busy today,” he said as if he just read my thoughts on my face. “There have been some border problems according to the Beta in patrol. Some Rogues have dumped another body yet again—an Omega who was trying to escape from another pack.” “Which pack?” I found myself asking, and somehow I braced myself for sounding so serious all of a sudden. “From the Ruby D
“Excuse me?!” The words tumbled out of me even before I could blink. “How do you think I eat? Using my feet?!” The Alpha choke on his coffee, spluttering some on the table and on his white three-fourth long sleeve. His hair was neatly combed to the side; his beard was shaved, though a few
‘Gosh, Anastasia, you’re such an overthinker!’ I scratched my head. Ayana growling in agreement with my thoughts.I trailed behind Alpha Cain, his footsteps too fast for me to catch up. His long strides prompted me to give a quick run.Panting, I linked my arm with the Alpha. He arched his brow as if
Although being an Alpha’s Pet—and an Alpha’s Pet candidate—is technically his private and personal whore, the people made no sound about it.Either because they don’t want to disappoint the Alpha or perhaps there is more to being an Alpha’s Pet than serving him in bed and escorting him to whatever re
I woke up facing the door, and the snarl of the guard with bright golden eyes and stark moon-white fur greeted my morning. I’m already used to that. But what I’m not used to is waking up thinking about the Alpha of the Blood Dawn Pack. And his scent stains the air in The City Under.Fuck A












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.