INICIAR SESIÓNHujan di luar jendela kantor lantai eksekutif tidak lagi terdengar seperti nyanyian, melainkan seperti bisikan-bisikan pengkhianatan yang mencoba menembus kaca kedap suara. Di tanganku, selembar surat kaleng berisi rincian rekening luar negeri milik Baskoro bergetar pelan. Rahasia adalah api, dan pagi ini, seseorang baru saja menyiramkan bensin ke tanganku. Aku duduk di kursi kebesaran yang kini terasa terlalu dingin. Sejak konfrontasi dengan Baskoro di rapat kemarin, atmosfer di Tri Utama berubah menjadi sangat beracun. Setiap tatapan staf di koridor terasa seperti sembilu; ada yang menaruh harap, namun lebih banyak yang menunggu aku tergelincir dari puncak menara gading ini. Pintu terbuka tanpa suara. Arkana melangkah masuk, penampilannya selalu tanpa cela, namun ada gurat kelelahan yang sangat tipis di sudut matanya yang tajam. Ia tidak menyapa. Ia hanya berjalan menuju meja bar di sudut ruangan, menuangkan wiski meski jarum jam baru menunjukkan pu
Deru mesin Rolls-Royce yang kedap suara tidak mampu meredam gemuruh di dadaku. Di sampingku, Arkana duduk dengan ketenangan yang nyaris menghina. Ia baru saja menyeret duniaku ke tepi jurang di rumah Baskoro, namun ia masih sempat merapikan manset kemejanya seolah kami baru saja pulang dari jamuan makan malam biasa.Di pangkuanku, map berisi dokumen aliran dana ilegal Baskoro terasa seberat timah. Aku menatap keluar jendela, pada lampu-lampu Jakarta yang melintas cepat seperti garis-garis neon yang kabur. Bayangan wajah Pandu yang hancur karena dendam di ruang gelap tadi terus menghantuiku. Ia adalah sisa-sisa masa laluku yang kini hanya menjadi kerikil di bawah sepatu mahal Arkana."Kau terlalu banyak berpikir, Anindya," suara Arkana memecah kesunyian, rendah dan bergetar. "Dokumen itu ada di tanganmu. Besok, Baskoro hanya akan menjadi sejarah yang terlupakan.""Dan bagaimana dengan Pandu?" aku menoleh, menatap matanya yang sedalam palung. "Kau bilang dia bukan lagi masalah kita.
Deru mesin Rolls-Royce yang kedap suara tidak mampu meredam gemuruh di dadaku. Di sampingku, Arkana duduk dengan ketenangan yang nyaris menghina. Ia baru saja menyeret duniaku ke tepi jurang di rumah Baskoro, namun ia masih sempat merapikan manset kemejanya seolah kami baru saja pulang dari jamuan makan malam biasa. Di pangkuanku, map berisi dokumen aliran dana ilegal Baskoro terasa seberat timah. Aku menatap keluar jendela, pada lampu-lampu Jakarta yang melintas cepat seperti garis-garis neon yang kabur. Bayangan wajah Pandu yang hancur karena dendam di ruang gelap tadi terus menghantuiku. Ia adalah sisa-sisa masa laluku yang kini hanya menjadi kerikil di bawah sepatu mahal Arkana. "Kau terlalu banyak berpikir, Anindya," suara Arkana memecah kesunyian, rendah dan bergetar. "Dokumen itu ada di tanganmu. Besok, Baskoro hanya akan menjadi sejarah yang terlupakan." "Dan bagaimana dengan Pandu?" aku menoleh, menatap matanya yang sedalam pa
Aroma kopi hitam yang tajam mengisi ruang kerjaku pagi ini, namun kafein sekuat apa pun tak mampu menghalau rasa dingin yang mengendap di tulang belakangku. Di atas meja, sebuah amplop cokelat tanpa pengirim tergeletak manis. Isinya hanya selembar foto: aku dan Arkana di balkon penthouse dua malam lalu. Sudut pengambilannya sangat presisi, menangkap momen saat Arkana membisikkan instruksi akuisisi di telingaku, namun dari kejauhan, itu terlihat seperti skandal yang sangat intim.Seseorang sedang mengawasi kami dari kegelapan, menunggu retakan terkecil muncul di permukaan zirah yang kami bangun.Pintu kantorku terbuka tanpa ketukan. Arkana masuk dengan langkah santai, namun rahangnya yang mengeras memberi tahu bahwa dia sudah tahu. Ia melemparkan tabletnya ke atas mejaku, menampilkan berita utama di sebuah portal bisnis independen tentang "Wanita di Balik Bayang-Bayang Sang Algojo"."Mereka mulai menggali, Anindya," ucapnya, suaranya seperti desis ular.
Pintu lift terbuka, menampakkan Arkana yang sedang berdiri di depan jendela kaca raksasa, menatap gemerlap Jakarta seolah ia sedang meninjau papan catur pribadinya. Ia tidak menoleh saat aku masuk, namun aku tahu ia bisa merasakan kehadiranku dari aroma parfum cendana dan mawar yang ia pilihkan sendiri untukku."Kau terlambat sepuluh menit, Anindya," suaranya rendah, bergetar di udara malam yang sunyi."Aku harus memastikan Maya dan staf lainnya benar-benar meninggalkan gedung tanpa menimbulkan keributan," jawabku sambil meletakkan tas kecilku di atas meja marmer. "Beberapa dari mereka mencoba bicara padaku, tapi aku tetap berjalan. Persis seperti yang kau ajarkan."Arkana berbalik perlahan. Ia melepaskan dasinya, membiarkan kancing kemeja atasnya terbuka, memperlihatkan ketegangan di otot lehernya. Ia melangkah mendekat, mengurungku dalam auranya yang menyesakkan."Bagus. Rahasia keberhasilan kita adalah menjaga jarak. Jangan biarkan mereka m
Pagi ini, gedung Tri Utama tampak seperti tugu peringatan atas segala hal yang telah kukorbankan. Aku berdiri di balkon lantai eksekutif, membiarkan angin kencang Jakarta menerpa wajahku yang kini tertutup riasan tebal, topeng sempurna untuk menyembunyikan mata yang tak lagi bisa menangis. Di bawah sana, kota tampak begitu kecil, dan orang-orang yang berlalu-lalang terlihat seperti semut yang tak berarti. Inilah akhir dari Fase Satu. Aku telah mencapai puncak, namun udara di sini terasa begitu tipis dan menyesakkan.Aku melirik arloji di pergelangan tanganku. Sepuluh menit lagi, pengumuman restrukturisasi final akan disiarkan ke seluruh divisi. Nama-nama yang kutandatangani semalam, termasuk Maya, akan resmi dihapus dari sistem perusahaan."Pemandangan dari sini selalu membuat orang merasa seperti Tuhan, bukan?"Suara itu datang dari belakangku. Arkana berjalan keluar ke balkon, mengenakan kemeja hitam legam dengan jas tersampir di bahunya. Ia berdiri d







