登入"Master Teja, tolong maafkan atas kelakuan burukku yang tadi," ucap Herman sembari langsung mengambil posisi berlutut di atas lantai yang kemudian segera diikuti oleh seluruh muridnya."Eh, ayo buruan bangun, jangan pada begini dong, kita ini kan sama-sama manusia!" seru Teja sembari bergerak cepat menarik lengan Herman agar kembali berdiri tegak.Melihat pengakuan yang diucapkan Herman tadi, Sanjaya dan semua orang yang berada di kubu perguruannya langsung kompak menghela napas lega.Sekali lagi, Teja terbukti berhasil menyelamatkan perguruan mereka."Master Teja, menurut pandanganmu, sebenarnya apa kendala besar yang aku alami ini kok sampai nggak bisa naik tingkatan lagi?" tanya Herman dengan nada bicara yang malu-malu.Teja mengedarkan pandangan matanya menatap ke arah sekeliling ruangan gedung serbaguna yang masih ramai tersebut. "Kita lanjut ngobrol santai di dalam rumah Pak Sanjaya aja gimana biar lebih enak?"Herman langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat cepat tanda se
BUKK!Tinju besar dan bertenaga milik Herman masuk mendarat tepat mengenai bagian dada bidang Teja.Namun Teja sama sekali tak bergeser sedikit pun dari posisi berdirinya, bahkan ia tetap berdiri kokoh tanpa menunjukkan ekspresi kesakitan sama sekali!Sebaliknya, Herman yang justru refleks mengibaskan tangan kanannya karena merasakan rasa sakit yang teramat sangat seperti baru saja meninju permukaan dinding baja tebal."Tinjumu lembek banget kayak pukulan balita, Om!" ejek Teja sembari tertawa meremehkan.Teja lalu perlahan mengeluarkan sebuah lencana emas dari balik saku kemeja yang dikenakannya.Itu adalah lencana khusus penasihat kehormatan Perguruan Silat Teratai Kembar yang tempo hari secara langsung diberikan oleh Sanjaya kepadanya."Sialan kamu, gara-gara tinjumumu barusan malah bikin lencana berhargaku ini jadi agak penyok sedikit!" ucap Teja santai sembari mengibaskan lencana di tangannya tersebut.Melihat benda logam yang dipegang oleh pemuda itu, kedua belah mata Herman lan
"Kamu itu posisinya masih ada di tingkat dasar tahap puncak, Lin, jadi biar aku aja yang maju buat ngelawan dia," ucap Wiryo ikut melangkah maju ke depan guna melindungi Linda."Hahaha, Wir, emangnya apa sih yang mau kamu banggain dari kemampuanmu itu? Orang yang cuma punya kemampuan tingkat sedang tahap puncak kayak kamu kok malah sok-sokan mau lawan aku?" Herman terbahak-bahak mendengar ucapan itu dengan nada sangat meremehkan."Jangankan cuma lawan kamu, Wir, gurumu si Sanjaya aja yang kemampuannya cuma mentok di tingkat menengah tahap medium itu juga aslinya bukan tandingan buatku!" seru Herman dengan penuh rasa percaya diri yang tinggi."Perlu kalian semua tahu ya kalau selama lima tahun belakangan ini tingkat kemampuanku sudah berhasil naik dengan sangat pesat!" Herman menyombongkan diri sembari menyilangkan kedua belah tangannya di depan dada.Raut wajah Wiryo dan Sanjaya seketika langsung berubah menjadi sangat tegang setelah mendengar pengakuan dari musuh di hadapan mereka.P
Teja hanya menggelengkan kepalanya perlahan sembari menyunggingkan senyuman tipis untuk menenangkan. "Nggak usah terlalu dipikirin kayak begitu, Lin. Kondisi tubuhku emang dasarnya agak unik dan sulit buat bisa orgasme.""Kan aku jadi merasa nggak enak banget sama kamu, Ja… masa dari tadi cuma aku doang yang dapet enaknya, tapi kamu belum keluar sama sekali," sahut Linda dengan raut wajah yang tampak diselimuti perasaan bersalah."Udahh, nggak apa-apa kok, santai aja. Mungkin lain kali pas ada waktu luang kita bisa coba lagi," hibur Teja sembari mengusap lembut pucuk kepala Linda yang masih berbaring di atas kasur.Linda akhirnya menganggukkan kepalanya dengan pelan seraya menatap lekat-lekat milik Teja yang masih berdiri gagah seteguh karang.Teja pun segera meraih pakaian mereka yang berserakan di lantai. "Ya sudah, sekarang buruan pakai baju lagi gih, Lin. Habis ini kita balik ke rumah kamu.""Aku masih pengen di sini, Ja…" rengek Linda dengan manja sembari meraih lengan tangan Tej
Gerakan pinggul Teja terus berpacu meningkatkan kecepatan hantaman demi hantaman kuat ke arah bokong montok Linda yang masih kokoh menungging. Suara benturan kulit yang basah antara pangkal paha Teja dan bokong padat Linda bergaung memenuhi seluruh sudut kamar rumah singgah.Setengah ukuran batang besar miliknya yang tertanam di dalam liang intim Linda terasa terjepit begitu luar biasa ketat, memberikan sensasi jepitan dinding daging yang luar biasa nikmat bagi Teja. Pemuda itu tampak mengatur napasnya yang memburu panas, menikmati setiap inci gesekan kuat yang menyiksa sekaligus memanjakan kejantanannya yang terbesar se-Indonesia tersebut."Shhh, Lin... jepitan punyamu beneran ketat banget, bikin nagih!" gumam Teja dengan suara berat penuh kepuasan yang tertahan.Linda tidak bisa lagi menjawab dengan kalimat yang jelas, melainkan hanya mampu mengeluarkan erangan kacau.Kepala gadis itu masih bergerak gelisah ke kiri dan ke kanan, dengan sepasang tangan yang meremas kuat-kuat permuk
"J-Jaa, plisss buruan langsung masukin aja punyamu, aku bener-bener udah nggak tahannn!" rintih Linda dengan suara yang terputus-putus menahan gejolak gairah.Teja hanya tersenyum nakal mendengarnya, namun ia justru sengaja menambah satu jari telunjuk lagi ke dalam lubang intim tersebut.Ia menusukkan kedua jarinya itu keluar masuk dengan irama yang sangat cepat sambil sesekali menggesek area klitoris Linda menggunakan ibu jarinya."Tejaaa! Aku udah nggak kuattt lagi, ohhhh!" Linda bergerak semakin tidak terkendali sembari terus menggoyangkan pinggul dan bokongnya ke sana kemari demi mengejar ritme dua jari Teja."Nikmatin aja semuanya, Lin, nggak usah banyak protes!" tegas Teja sembari menekan kuat-kuat kedua jarinya jauh menusuk ke dalam sana."Ohh ohhh, iyaa, ohhhh... aku mau keluarrr sekarang, Ja, ohhh geli banget sumpahhh!" jerit Linda dengan tubuh yang mulai berkeringat halus."Lepasin aja semuanya, Lin, nggak usah ditahan-tahan lagi," ucap Teja yang tangannya menjadi semakin li
"Pak Sanjaya, sepertinya aku harus pamit pulang sekarang," ucap Teja sembari melirik ke arah jam dinding ruang tamu yang sudah menunjukkan pukul 8.15 malam."Setiap dua hari sekali aku akan datang kembali ke sini untuk mengontrol dan memastikan perkembangan kesehatan organ dalammu," lanjut Teja sem
Mendengar tawaran tulus tersebut, Teja tak menolak sama sekali demi menjaga perasaan hormat dari sang guru besar yang baru saja ia sembuhkan."Terima kasih banyak, Pak Sanjaya. Aku menerimanya bukan untuk menyombongkan diri atau pamer kekuatan, tapi lebih kepada niat untuk meningkatkan interaksi de
"Gimana, Pak Sanjaya?" tanya Teja sembari menyeka banyak keringat di dahi dan lehernya."Astaga, Ja! Apa aku beneran sembuh? Napasku sekarang lega banget, nggak ada nyeri sama sekali di dada, semua rasa sakit juga hilang sirna, dan badanku terasa segar bugar kayak baterai yang habis dicas!" seru Sa
"Jangan begitu, Linda. Teja ini datang justru buat ngobatin penyakit ayah!" kata Sanjaya mencoba menenangkan putrinya yang tampak sangat sinis menyambut kedatangan sang pemuda di teras rumah."Umur 19 tahun mau ngobatin ayah? Yang bener aja?!" dengus Linda sembari melipat kedua tangan di depan dada







