Share

55. Sang Penasihat

Penulis: Leva Lorich
last update Tanggal publikasi: 2026-06-20 10:42:45

"Gimana, Pak Sanjaya?" tanya Teja sembari menyeka banyak keringat di dahi dan lehernya.

"Astaga, Ja! Apa aku beneran sembuh? Napasku sekarang lega banget, nggak ada nyeri sama sekali di dada, semua rasa sakit juga hilang sirna, dan badanku terasa segar bugar kayak baterai yang habis dicas!" seru Sanjaya dengan mata berbinar-binar gembira.

"Beneran sembuh, Pak, tapi dalam seminggu kedepan akan terus aku kontrol kondisinya karena organ dalammu masih berada dalam masa rawan setelah penyembuhan ini
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   57. Insiden Di Pom Bensin

    "Pak Sanjaya, sepertinya aku harus pamit pulang sekarang," ucap Teja sembari melirik ke arah jam dinding ruang tamu yang sudah menunjukkan pukul 8.15 malam."Setiap dua hari sekali aku akan datang kembali ke sini untuk mengontrol dan memastikan perkembangan kesehatan organ dalammu," lanjut Teja sembari merapikan letak tas selempang kecilnya."Sekali lagi terima kasih banyak atas pertolongan besarmu hari ini, Ja. Oh iya, terimalah dan simpan baik-baik benda ini," ucap Pak Sanjaya sembari memberikan sebuah lencana logam berwarna emas yang bergrafir logo dua teratai."Itu adalah lencana kehormatan tertinggi dari perguruan Teratai Kembar, di mana hanya aku sebagai guru besar yang berhak memberikannya kepada orang luar," jelas Sanjaya dengan raut wajah serius."Kedudukan pemegang lencana ini setara dengan keputusan, perkataan, dan perintahku bagi perguruan ini, yang sekaligus menunjukkan posisimu sebagai penasihat kehormatan kami," lanjut sang pria sepuh menjabarkan fungsi penting benda te

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   56. Harta, Tahta, Wanita

    Mendengar tawaran tulus tersebut, Teja tak menolak sama sekali demi menjaga perasaan hormat dari sang guru besar yang baru saja ia sembuhkan."Terima kasih banyak, Pak Sanjaya. Aku menerimanya bukan untuk menyombongkan diri atau pamer kekuatan, tapi lebih kepada niat untuk meningkatkan interaksi dengan dunia bela diri agar pengetahuanku ikut bertambah luas," tutur Teja dengan sikap yang sangat rendah hati."Terima kasih banyak atas kesediaan kamu, Ja. Ayo sekarang ikut aku sebentar ke area belakang gedung," ujar Sanjaya sembari bangkit berdiri dengan senyum lebar yang menghiasi wajah tuanya.Teja dan Wiryo segera melangkah mengikuti langkah kaki Sanjaya yang kini tampak begitu tegap dan cepat, sama sekali tidak ringkih seperti sebelum ia sembuh tadi.Sanjaya membawa mereka berdua berjalan menuju ke sebuah ruangan lain berukuran cukup luas di bagian belakang gedung perguruan silat, lalu membuka pintu gerbang besarnya lebar-lebar.Di dalam sana berjajar sangat rapi belasan mobil mewah d

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   55. Sang Penasihat

    "Gimana, Pak Sanjaya?" tanya Teja sembari menyeka banyak keringat di dahi dan lehernya."Astaga, Ja! Apa aku beneran sembuh? Napasku sekarang lega banget, nggak ada nyeri sama sekali di dada, semua rasa sakit juga hilang sirna, dan badanku terasa segar bugar kayak baterai yang habis dicas!" seru Sanjaya dengan mata berbinar-binar gembira."Beneran sembuh, Pak, tapi dalam seminggu kedepan akan terus aku kontrol kondisinya karena organ dalammu masih berada dalam masa rawan setelah penyembuhan ini," jelas Teja menenangkan sang guru besar."Serius? Kamu beneran bisa nyembuhin penyakit menahun ayahku?" Linda terbelalak dengan mulut menganga, menatap Teja seolah-olah pemuda di depannya itu adalah makhluk mulia yang turun dari langit."Bahkan pengobatanmu nggak sampai satu jam, cuma delapan belas menitan!" imbuh Wiryo yang sejak tadi ikut menyaksikan prosesi ajaib tersebut dengan tubuh gemetar saking takjubnya."Yaa, seperti yang kalian lihat sekarang. Ini nyata, bukan halu atau trik sulap m

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   54. Terkuras Habis

    "Jangan begitu, Linda. Teja ini datang justru buat ngobatin penyakit ayah!" kata Sanjaya mencoba menenangkan putrinya yang tampak sangat sinis menyambut kedatangan sang pemuda di teras rumah."Umur 19 tahun mau ngobatin ayah? Yang bener aja?!" dengus Linda sembari melipat kedua tangan di depan dada dan memandang Teja dengan tatapan meremehkan.Wiryo yang tadi diam akhirnya ikut angkat bicara demi membela kemampuan sang pemuda di hadapan Linda yang ketus tersebut."Master Teja ini ahli banget, Linda. Tadi dia bisa menyembuhkan pergelangan kakiku yang dislokasi dalam waktu singkat dan tanpa rasa sakit," ujar Wiryo meyakinkan dengan nada suara yang menggebu-gebu."Itu kan tulang, yang diderita ayahku penyakit dalam, beda jurusannya!" balas Linda dengan suara ketusnya yang semakin meninggi, menolak mentah-mentah kesaksian tersebut.Sanjaya menggeleng melihat keras kepalanya sang putri dalam menyikapi niat baik tamunya."Apa salahnya kalau Teja mencoba, Lin?" tanya Sanjaya dengan helaan na

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   53. Angka Delapan

    Teja sebentar beralih menatap Nana dan Bintang yang sejak tadi berdiri setia tidak jauh dari posisinya berada."Na, kayaknya kamu mending diantar pulang sama Bintang dulu deh. Aku perlu konsentrasi tinggi dan waktu yang cukup lama buat menangani penyakit Pak Sanjaya ini," ujar Teja memberikan penjelasan.Nana yang sedari tadi menyimak pembicaraan serius tersebut langsung mengangguk patuh tanpa membantah sedikit pun."Iya, Ja, kalau ada apa-apa nanti tolong kabari aku ya," sahut Nana dengan raut wajah yang dipenuhi rasa peduli, tak lagi terlihat ketakutan seperti awal kedatangan mereka tadi.Teja mengangguk pelan, lalu memalingkan wajahnya menatap tajam ke arah Bintang yang berdiri sigap di sebelah Nana."Tang, tolong kamu antar Nana pulang sampai ke rumahnya dengan selamat. Bawa juga semua anak buahmu pulang ke markas," perintah Teja dengan nada tegas."Bos nggak perlu bantuan atau pengawalan tambahan lagi di sini?" tanya Bintang untuk memastikan keamanan sang pemimpin geng tersebut s

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   52. Sudah Kemana-mana

    "Kamu... kamu mengetahui penyakitku?" pria sepuh bernama Sanjaya itu terkesiap, menatap Teja dengan pandangan mata yang dipenuhi keterkejutan luar biasa."Si-siapa kamu sebenarnya, Anak Muda?" lanjutnya dengan suara yang bergetar menahan rasa penasaran yang teramat sangat."Nama lengkapku Teja Surya," jawab Teja singkat sembari menatap tenang ke dalam sepasang mata tua milik sang guru besar.Pria tua itu sejenak terdiam dan berpikir keras, mencoba mencocokkan nama tersebut dengan ingatan masa lalunya yang sudah lama terkubur."Kamu anak Toni Surya, master pijat legendaris dari kota sebelah?" matanya melebar seketika setelah berhasil menemukan jawaban yang ia cari.Kini giliran Teja yang dibuat kaget setengah mati mendengarnya, tidak menyangka nama ayahnya akan disebut di tempat itu."Bapak mengenal ayahku?" tanya Teja untuk memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar."Namaku Sanjaya, aku adalah sahabat lama ayahmu, Nak. Tak kusangka Toni sudah mendidikmu hingga menjadi pemuda sehe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status