MasukKehidupan Windy berubah semenjak kematian Jimmy. Rangkaian pembunuhan mulai terjadi, dan para korban adalah mereka yang memiliki hubungan ataupun interaksi dengan Windy. Tuduhan serta dugaan negatif mulai menyerang. Di sisi lain, Windy juga menerima teror dari seseorang yang tidak diketahui. Apakah mereka adalah orang yang sama?
Lihat lebih banyakAlih-alih menjawab, Brian malah duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur membelai pipi Windy. Mengelusnya lembut penuh sayang. Kalimat penuh kebohongan siap untuk ia luncurkan."Tadi, sepulang dari kampus, aku mampir ke salah satu supermarket dekat perempatan lampu merah. Aku lihat di jalanan banyak kepingan kaca dan mobil taksi yang diderek. Aku juga lihat beberapa bercak darah di jalan. Dari yang aku dengar dari obrolan orang-orang, katanya ada kecelakaan. Aku nggak berpikir bahwa orang itu kamu. Sampai akhirnya kamu nelpon aku, pikiranku langsung melayang ke perempatan tadi. Dan ya, aku tahu kamu di sini karena ini adalah Rumah Sakit paling dekat sama tempat kecelakaan kamu barusan. Untuk kamar, kan aku bisa nanya sama bagian resepsionis."Brian tersenyum simpul, beberapa helai anak rambut Windy ia selipkan di balik te
Brian menutup pintu apartemen. Berjalan memasuki area dapur lalu meletakkan beberapa kantong belanja di atas meja pantry. Satu per satu keperluan dapur ia keluarkan dan langsung ia susun ke sejumlah tempat yang telah Brian tetapkan. Sembari menyusun, ranumnya bersiul. Mengalunkan irama ciptaan sendiri sebagai teman pemecah sepi.“Habis belanja mingguan?”Suara lembut mendayu sukses buat Brian terlonjak dari tempatnya berdiri. Dari seberang meja pantry, tampak sosok Tani tengah bersandar asyik pada punggung sofa sembari memainkan segelas anggur merah di tangan. Ranum tipisnya tersenyum lebar pada Brian.Bukan hal baru Tania sering berkunjung dan bisa masuk di kediaman Brian. Toh, dia tahu password apartemen Brian. Sang empunya sendiri jua yang memberi
Pukul 9 malam, Brian mengantar Windy pulang. Sebelum keduanya berpisah, ucapan selamat malam dan mimpi indah menjadi penutup istimewa. Windy menutup pintu lalu bersandar. Kejadian di dalam bioskop tak kunjung enyah dari pandangan.“Kamu nggak perlu jawab sekarang kok. Kamu bisa jawab kapanpun kamu siap.”Itu adalah kalimat yang Brian sisipkan di telinga Windy, sebelum mengecup samar permukaan pipi Windy. Demi Tuhan, selama kencan tadi Windy benar-benar mati kutu akibat perlakuan Brian yang terlampau manis. Padahal sebelumnya banyak pria yang juga bersikap manis pada Windy, namun entah kenapa gadis cantik ini merasa ada yang berbeda dari Brian.Karena tampan? Sepertinya tidak.Melainkan
Windy duduk di depan cermin rias. Sibuk mengubah tampilan rambutnya menjadi bentuk gelombang dengan alat catok. Sesekali Windy sisir menggunakan jemari agar tampak lebih natural.Usai mencatok rambut, Windy mulai merias wajah. Mengoles sunscreen, pelembab, dan cushion. Kedua alis tebalnya ia sisir rapi dan mengisinya sedikit dengan pensil alis berwarna coklat tua.Ia bubuhkan sedikit blush on ke bagian dalam pipi hingga menyentuh sedikit area pelipis. Kemudian, Windy raih liptint warna merah cherry, mengolesnya ke bagian dalam bibir, lalu sisanya ia tepuk ke tepi bibir sampai menyerupai warna gradasi.Selesai!Windy tersenyum manis melihat pantulan dirinya di cermin. Dia tidak pernah da
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.