Share

Bab 190

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-04-04 23:50:31

"Beneran, Nek?" tanya Putra dengan mata berbinar.

"Iya, Sayang. Jadilah anak pintar ya, nurut sama Ayah dan Bunda. Nenek pulang dulu," sahur Dewi.

Setelah mengantar Dewi sampai ke depan pintu dan memastikan mobilnya berlalu, Ibra kembali ke dalam. Suasana rumah terasa lebih tenang, hanya ada suara denting piring dari dapur tempat Aya menyiapkan makan malam.

"Mas mandilah dulu. Kita makan," ucap Aya lembut.

Ibra mendekati istrinya terlebih dahulu. Lalu memeluk Aya dari belakang dan mengusap lemb
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 205

    Aya terdiam. "Maksudnya?" tanya wanita itu heran."Itu baru spekulasi, Aya. Tapi... setidaknya kita memang harus berhati-hati," jawab Ibra."Iya, Mas. Aku mengerti. Setidaknya masalah ini harus segera diselesaikan supaya kita bisa hidup tenang," imbuh Aya."Ya sudah. Sekarang kita tidur. Ibu hamil nggak boleh begadang. Besok aku akan meminta laporan penyelidikan lagi," ujar Ibra lembut sembari mengelus perut Aya.Wanita itu perlahan berbaring. Ibra membantunya memakai selimut dengan gerakan lembut."Tidurlah," ucap Ibra lembut sembari mencium kening istrinya dan dirinya ikut berbaring. Tak lupa pria itu mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar. Di dalam kamar dengan pencahayaan yang remang-remang, Ibra berbaring menyamping, memeluk Aya dari belakang. Tangannya mengusap lembut perut Aya yang sudah besar, ingin merasakan gerakan halus dari calon buah hati mereka."Dia... semoga sehat dan semakin besar biar aku bisa merasakan

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 204

    Samuel tertegun mendengar perintah itu. "Audit menyeluruh, Pak? Termasuk keluarga dan orang kepercayaan Anda?" tanya pria itu.Ibra tidak menjawab. Matanya yang sedingin es sudah cukup menjadi jawaban. Samuel segera mengangguk patuh dan melangkah keluar dengan cepat, meninggalkan Ibra sendirian di ruang rapat yang kini terasa mencekam."Sam," panggil Ibra kemudian."Iya, Pak?""Periksa saja orang-orang terdekat. Termasuk para tim IT. Periksa mereka lagi. Juga... periksa para mitra saat ini. Apakah mereka melakukan tindakan yang mencurigakan akhir-akhir ini atau tidak. Soal keluargaku, biar aku sendiri yang memastikan," lanjutnya.Samuel menatap wajah sang Presdir. "Maaf, Pak. Apa Anda mencurigai Bu Aya?" tanyanya.Ibra diam lagi. Lalu pria itu menatap ke luar jendela yang menunjukkan gedung pencakar langit lain di sebelah gedung perusahaannya."Aku sendiri tidak percaya. Aya tidak pernah memiliki niat seperti itu. Tapi untuk meyakinkan dan mencari bukti kalau istriku tidak bersalah, a

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 203

    Semua orang terdiam. Termasuk Danu dan Wawan. Atmosfer di dalam ruangan itu pun berubah dingin dan penuh tekanan. Ibra kembali menunjukkan kekuasaan dinginnya.Ibra menatap mata mereka satu per satu. Tatapan tajam dan dingin yang selalu melekat padanya. "Saya harap kita akan melanjutkan kerjasama sesuai kontrak lama yang sedang berjalan. Namun untuk proyek baru ini, kami minta Anda sekalian memberikan waktu satu minggu lagi untuk pembuktian akhir. Keputusan final akan diambil minggu depan."Jawaban yang tegas itu tidak menyisakan ruang untuk debat. Meski beberapa wajah masih tampak ragu, mereka tahu bahwa Ibra telah memberikan jalan tengah yang paling logis. Rapat pun resmi ditutup dalam damai.Ibra menghela napas, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang empuk dengan satu tangan yang mengetuk-ngetuk pelan meja.Satu per satu peserta rapat mulai meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru, seolah ingin segera lepas dari atmosfer berat yang menyelimuti mereka selama dua j

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 202

    Suasana di dalam ruang rapat lantai lima gedung perusahaan Bagaskara Group terasa seperti medan perang yang dingin. Meskipun pendingin ruangan diatur pada suhu 22 derajat celsius, keringat dingin tampak mengintip di pelipis beberapa orang.Meja jati panjang yang mengilap di tengah ruangan seolah menjadi pembatas antara dua kubu yang sedang menimbang nasib. Sebagian dari mereka yang ingin melangkah maju demi keuntungan besar, dan satu kubu yang masih meragukan Bagaskara Group karena insiden yang menghebohkan beberapa waktu yang lalu.Ibra duduk di kursi kebesarannya, posisi punggungnya tegak, menunjukkan kekuasaan yang tak tergoyahkan. Di sebelah kanannya, Samuel, asisten kepercayaannya, telah menyiapkan setumpuk dokumen digital yang terpampang jelas di layar proyektor besar.Di dalam ruang itu, suasana terasa formal dan sedikit lebih tegang meski yang hadir adalah orang-orang yang sudah lama bekerja sama dengan Ibra. Ada beberapa direktur dari perusahaan rekanan yang cukup dekat secar

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 201

    Gedung pencakar langit berlogo Bagaskara Group itu tampak jauh lebih hidup hari ini. Setelah berhasil menangani masalah kebocoran data, hari ini adalah hari penting bagi perusahaan Ibra untuk kembali mendapatkan kepercayaan dari mitranya.Setelah menikmati waktu liburan tiga hari dua malam, Ibra kembali ke kursi kebesarannya. Ia sedang duduk di kursi kerja sembari memeriksa beberapa dokumen penting yang diserahkan oleh Samuel.Siang itu Ibra sedang menatap tumpukan laporan keuangan saat pintu ruangannya diketuk pelan kemudian terbuka perlahan. Ia tidak perlu bertanya siapa itu. Dari aroma parfum bunga yang lembut selalu mendahului langkahnya."Mas Ibra?" Sapaan lembut terdengar dari ambang pintu.Ibra langsung mendongak. Wajah yang tadinya kaku karena angka-angka, mendadak melembut dengan senyuman. Di ambang pintu, Aya berdiri dengan balutan dress sutera untuk ibu hamil berwarna pastel yang longgar namun tetap memancarkan keanggunan. Di tangannya, sebuah tas bekal tersampir."Aya? Kam

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 200

    "Sayang?" panggil Gina lembut."Hm?"Gina mengendurkan pelukannya dan mendongak menatap wajah pucat sang kekasih. Meski pucat, wajah Niko cukup tampan dengan alis tebal dan hidung yang mancung. Rahang tegasnya pun menambah ketampanannya yang memiliki sisi imut."Apa ada masalah? Sebenarnya Mas tadi mau minta tolong apa sama Putra?" tanya Gina sembari menatap wajah Niko.Pria itu diam sebentar. Lalu ia menarik pinggang Gina ke dalam pelukannya. "Kita makan, yuk? Aku sudah lapar," ajaknya. Pria itu sengaja mengalihkan pembicaraan.Gina pun tak berani bertanya lagi. Mereka akhirnya masuk ke dalam vila untuk makan pagi bersama.*Di sisi lain, sekitar pukul delapan, Ibra, Aya, dan Putra kembali ke vila mereka. Tina sudah menyiapkan buah-buahan segar di meja ruang tengah. Putra yang kelelahan tapi juga kekenyangan, segera merangkak ke sofa dan tertidur pulas dengan sekumpulan kerang yang masih dalam genggaman."Ya ampun, dia ketiduran," gumam Aya sembari mendekati anaknya."Biarkan saja."

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 60

    Tawa Ibra berhenti, tetapi kilatan di matanya justru semakin intens saat kembali menatap Aya. Ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit basah akibat pagutan tadi, sebuah gerakan yang membuat wajah Aya semakin memanas."Hyper?" Ibra mengulang kata tersebut dengan nada mengejek. "Mungkin kamu ben

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 63

    Langkah Ibra terasa ringan namun pikirannya berat saat ia memasuki lobi gedung Bagaskara Group. Para karyawan membungkuk hormat, tetapi sang Presdir hanya melewatinya dengan tatapan lurus.Di kepalanya, bayangan Aya yang menamparnya, Aya yang menatapnya getir, hingga Aya yang memegang keningnya den

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 65

    "Bunda, Bunda cantik banget, deh," pujian itu lolos dari bibir mungil Putra yang kini duduk di salah satu sisi tempat tidur sang ibu.Aya mematut dirinya di depan cermin. Malam itu ia mengenakan blus biru muda dan celana krem. Rambutnya dia kepang satu dengan dua buah jepit lidi yang terlihat manis

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 61

    Darah Aya terasa membeku. Ancaman itu adalah kelemahan terbesarnya. Ia menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah yang tertahan. "Kamu... kamu jahat sekali. Ternyata kamu memang licik.""Itu bukan licik. Tapi begitulah dunia bekerja," jawab Ibra santai meski tiba-tiba dadanya nye

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status