Share

Bab 189

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-04-04 21:30:32

"Pak, apa kita perlu ikut menyelidiki masalah ini?" tanya Samuel ketika ia dan sang Presdir berjalan keluar melewati lobi.

"Tahan dulu. Biarkan mereka yang bekerja. Sekarang kita fokus pada masalah kebocoran data itu. Kamu harus bisa menyelesaikannya, secepatnya," jawab Ibra dengan tegas.

"Baik, Pak," sahut Samuel.

*

Sore harinya, Ibra kembali ke rumah dengan beban di pundak yang terasa semakin berat. Namun, pemandangan di ruang tengah sedikit meredakan ketegangannya.

Putr
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 308

    Satu jam kemudian, suasana rumah mulai ramai. Putra, anak laki-laki mereka yang menggemaskan, sudah rapi dengan seragam taman kanak-kanaknya. Mereka bertiga kini berada di ruang makan, menikmati sarapan pagi yang hangat seperti biasa, tanpa ada aroma bawang sama sekali.Sebelum Ibra menyantap makanannya, pria itu mengambilkan nasi dan lauk untuk sang istri. Ia lalu mengambil makanan ke piringnya lalu membaca email di tabletnya sebentar, sementara Aya memperhatikan suaminya dengan senyuman.Setelah sarapan selesai, Ibra berdiri dan merapikan dasinya, bersiap untuk berangkat kerja. Seperti biasa, dia akan mengantar Putra ke sekolah TK-nya terlebih dahulu sebelum menuju ke kantor pusat."Ayo, Ayah!" seru Putra dengan penuh semangat."Semangat sekali," gumam Aya sembari tersenyum.Aya mengantar suami dan anaknya hingga ke teras depan, tempat mobil Maybach mewah Ibra sudah terparkir rapi dengan pintu yang dibukakan oleh Santo."Aku berangkat dulu," ucap Ibra, melangkah mendekat ke arah Aya

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 307

    Ibra mengangguk, memberikan senyuman tipis terakhir sebelum melangkah pergi. Saat menuju pintu keluar, ia melihat Samuel yang juga sudah selesai makan dan menunggunya. "Pak," sapa Samuel sopan."Ayo kembali. Masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan," ajaknya dengan ekspresi datar dan satu tangannya menepuk saku jas di mana ponsel yang menyimpan catatan kesukaan istrinya ada di sana.Langkah kaki Ibra kembali tegap dan tegas, memancarkan aura wibawa seorang Presdir papan atas yang semula sempat luntur oleh rasa malu di dalam restoran tadi.Setelah punggung Ibra benar-benar menghilang di balik pintu kaca restoran, Gina langsung menyandarkan tubuhnya ke bahu Niko, mengembuskan napas panjang seolah baru saja lolos dari ujian paling menegangkan dalam hidupnya."Huffttt... gila, Yang! Aku masih nggak percaya dengan apa yang baru saja terjadi," gumam Gina dengan suara setengah berbisik namun penuh penekanan. "Seorang Presdir kaku, dingin, dan berwajah datar sepert

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 306

    Ibra terpaku. Lidahnya mendadak kelu untuk merangkai kata. Pertanyaan Gina tidak salah, sangat logis bagi seorang sahabat yang peduli. Namun, bagi pria dengan harga diri setinggi langit seperti Ibra, mengakui bahwa dirinya terlalu kaku untuk bertanya langsung pada istrinya sendiri adalah hal yang sangat menguji rasa malunya. Ketegangan pun kembali menyelimuti di antara mereka bertiga.Melihat rahang Ibra yang mengeras dan tatapan matanya yang mendadak lurus menatap cangkir teh chamomile di depannya, Gina langsung menyadari bahwa pertanyaannya mungkin sudah melewati batas. Ketakutan mulai merayap di benak gadis itu. Bagaimana jika sang Presdir tersinggung dan membuat Niko kesulitan dalam memulai kembali bisnisnya?Sadar suasana menjadi terlalu tegang, Gina segera memutar otak. Dengan cepat, ia mengulas senyum lebar dan melepaskan tawa renyah yang sengaja dibuat sedikit heboh untuk mencairkan keheningan yang membeku."Ahahaha! Maaf, maaf, Pak Ibra! Aduh, saya ini kalau bicara memang suk

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 305

    "Ah. Tidak, tidak. Saya akan memberi tahu Anda apa yang saya tahu. Jadi apa yang ingin Anda tanyakan soal Aya?" Gina cepat-cepat berbicara. Kembali bertanya. Ia tidak ingin membuat suasana menjadi canggung kembali. Sementara Niko memilih diam menyimak.Ibra menghela napas panjang. "Bagi beberapa orang mungkin ini hal kecil, tapi bagiku ini penting. Aku memang salah karena tidak terlalu memerhatikan istriku sendiri. Jadi, tolong beri tahu aku. Apa saja makanan kesukaan Aya yang paling ia gemari? Dan apa yang paling tidak ia sukai?"Gina tampak terkejut. Jadi ternyata memang benar sang Presdir tidak tahu kesukaan istrinya sendiri. Lalu Gina tersenyum lebar, merasa sangat senang karena sahabatnya ternyata memiliki suami yang sedemikian rupa ingin berusaha, meskipun caranya sangat kaku. Dan yang ia tahu lagi adalah, suami sahabatnya itu terlalu gengsi dan itu lucu."Ehem." Gina berdeham pelan. "Kalau soal makanan, Aya itu sebenarnya tidak muluk-muluk, Pak," jawab Gina bersemangat. "Dia it

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 304

    Niko mengamati deretan kalimat formal dan kaku khas Ibra di layar ponsel kekasihnya. Dahinya ikut berkerut. "Tumben sekali. Selama ini kan Kak Ibra kalau ada apa-apa selalu lewat Aya atau Samuel. Kenapa tiba-tiba langsung menghubungi kamu secara personal?""Nah, itu dia! Makanya aku bingung," sahut Gina sambil menggaruk pelipisnya. "Apa... apa jangan-jangan mereka lagi ada masalah rumah tangga ya, Mas? Atau ada hal buruk yang terjadi sama kandungan Aya? Tapi kenapa aku nggak boleh kasih tahu Aya?"Niko mencoba berpikir rasional. Sebagai seorang pria, ia mencoba membaca situasi dari sudut pandang lain. Selain itu, Niko juga merasa sangat berutang budi pada Ibra. Beberapa waktu yang lalu, Niko selamat dari kejahatan keluarganya sendiri dan juga mendapatkan biaya pengobatan serta operasi yang sangat besar dari Ibra. Meski sebenarnya Ibra melakukannya sebagai ucapan terima kasih karena telah membantu Bagaskara Group."Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu, Yang," kata Niko menenangkan. "K

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 303

    Pipi Aya seketika merona merah mendengar pertanyaan anaknya. Ia menunduk, pura-pura sibuk merapikan letak sendok dan garpunya. Sementara itu, Ibra berdeham kecil, merasa sedikit gugup oleh tatapan menyelidik polos dari anak laki-lakinya yang cerdas."Ayah panggil Bunda 'Sayang'. Memangnya kenapa, Putra? Ada yang salah?" jawab Ibra, berusaha mempertahankan wibawanya meski telinganya mulai memerah.Putra justru langsung memamerkan senyuman lebar hingga deretan giginya yang rapi terlihat. "Nggak salah, Yah! Malah bagus banget! Putra suka dengarnya. Bunda juga kelihatan jadi tambah cantik kalau dipanggil begitu sama Ayah. Biasanya kan Ayah panggil nama Bunda atau 'Kamu' aja kayak ke sekretaris di kantor.""Putra...." tegur Aya pelan sambil menahan senyum, merasa gemas dengan kejujuran anaknya yang terlalu blak-blakan.Ibra tertegun mendengar ucapan anaknya. Ternyata, selama ini anak sekecil Putra pun memerhatikan betapa kakunya hubungan pernikahan kedua orang tuanya. Kenyataan itu membuat

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 46

    Bertambah satu hari. Aya tak bisa tidur sama sekali. Terlihat dari wajah lelahnya dan juga lingkar hitam di bawah kedua matanya. Wanita itu terus memikirkan keberadaan anaknya. Dan Ibra sama sekali tak bisa dihubungi.Wajah Aya pucat pasi, seperti tanpa tenaga. Bahkan ada lingkar hitam yang m

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 60

    Tawa Ibra berhenti, tetapi kilatan di matanya justru semakin intens saat kembali menatap Aya. Ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit basah akibat pagutan tadi, sebuah gerakan yang membuat wajah Aya semakin memanas."Hyper?" Ibra mengulang kata tersebut dengan nada mengejek. "Mungkin kamu ben

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 47

    "Tenanglah," ucap Ibra dingin, suaranya tetap datar meski jantungnya sempat berdesir mendengar suara parau wanita itu. "Putra aman bersamaku. Dia lebih baik di sini daripada kontrakan sempit dan panas itu.""Tapi aku ibunya! Aku yang mengandung dan membesarkannya! Kamu nggak punya hak merebut apa l

    last updateLast Updated : 2026-03-21
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 153

    "Eumm. Mungkin bisa sampai persalinan nanti, Bu," jawab Dokter singkat.Ibra terdiam. Ia memejamkan mata sejenak, merasakan perutnya kembali bergejolak hanya karena memikirkan aroma kopi dan semur daging tadi. Namun, di balik rasa sakit fisiknya, ada sebuah kebanggaan tersirat. Jika ini adalah cara

    last updateLast Updated : 2026-04-05
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status