LOGINSamuel tertegun mendengar perintah itu. "Audit menyeluruh, Pak? Termasuk keluarga dan orang kepercayaan Anda?" tanya pria itu.Ibra tidak menjawab. Matanya yang sedingin es sudah cukup menjadi jawaban. Samuel segera mengangguk patuh dan melangkah keluar dengan cepat, meninggalkan Ibra sendirian di ruang rapat yang kini terasa mencekam."Sam," panggil Ibra kemudian."Iya, Pak?""Periksa saja orang-orang terdekat. Termasuk para tim IT. Periksa mereka lagi. Juga... periksa para mitra saat ini. Apakah mereka melakukan tindakan yang mencurigakan akhir-akhir ini atau tidak. Soal keluargaku, biar aku sendiri yang memastikan," lanjutnya.Samuel menatap wajah sang Presdir. "Maaf, Pak. Apa Anda mencurigai Bu Aya?" tanyanya.Ibra diam lagi. Lalu pria itu menatap ke luar jendela yang menunjukkan gedung pencakar langit lain di sebelah gedung perusahaannya."Aku sendiri tidak percaya. Aya tidak pernah memiliki niat seperti itu. Tapi untuk meyakinkan dan mencari bukti kalau istriku tidak bersalah, a
Semua orang terdiam. Termasuk Danu dan Wawan. Atmosfer di dalam ruangan itu pun berubah dingin dan penuh tekanan. Ibra kembali menunjukkan kekuasaan dinginnya.Ibra menatap mata mereka satu per satu. Tatapan tajam dan dingin yang selalu melekat padanya. "Saya harap kita akan melanjutkan kerjasama sesuai kontrak lama yang sedang berjalan. Namun untuk proyek baru ini, kami minta Anda sekalian memberikan waktu satu minggu lagi untuk pembuktian akhir. Keputusan final akan diambil minggu depan."Jawaban yang tegas itu tidak menyisakan ruang untuk debat. Meski beberapa wajah masih tampak ragu, mereka tahu bahwa Ibra telah memberikan jalan tengah yang paling logis. Rapat pun resmi ditutup dalam damai.Ibra menghela napas, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang empuk dengan satu tangan yang mengetuk-ngetuk pelan meja.Satu per satu peserta rapat mulai meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru, seolah ingin segera lepas dari atmosfer berat yang menyelimuti mereka selama dua j
Suasana di dalam ruang rapat lantai lima gedung perusahaan Bagaskara Group terasa seperti medan perang yang dingin. Meskipun pendingin ruangan diatur pada suhu 22 derajat celsius, keringat dingin tampak mengintip di pelipis beberapa orang.Meja jati panjang yang mengilap di tengah ruangan seolah menjadi pembatas antara dua kubu yang sedang menimbang nasib. Sebagian dari mereka yang ingin melangkah maju demi keuntungan besar, dan satu kubu yang masih meragukan Bagaskara Group karena insiden yang menghebohkan beberapa waktu yang lalu.Ibra duduk di kursi kebesarannya, posisi punggungnya tegak, menunjukkan kekuasaan yang tak tergoyahkan. Di sebelah kanannya, Samuel, asisten kepercayaannya, telah menyiapkan setumpuk dokumen digital yang terpampang jelas di layar proyektor besar.Di dalam ruang itu, suasana terasa formal dan sedikit lebih tegang meski yang hadir adalah orang-orang yang sudah lama bekerja sama dengan Ibra. Ada beberapa direktur dari perusahaan rekanan yang cukup dekat secar
Gedung pencakar langit berlogo Bagaskara Group itu tampak jauh lebih hidup hari ini. Setelah berhasil menangani masalah kebocoran data, hari ini adalah hari penting bagi perusahaan Ibra untuk kembali mendapatkan kepercayaan dari mitranya.Setelah menikmati waktu liburan tiga hari dua malam, Ibra kembali ke kursi kebesarannya. Ia sedang duduk di kursi kerja sembari memeriksa beberapa dokumen penting yang diserahkan oleh Samuel.Siang itu Ibra sedang menatap tumpukan laporan keuangan saat pintu ruangannya diketuk pelan kemudian terbuka perlahan. Ia tidak perlu bertanya siapa itu. Dari aroma parfum bunga yang lembut selalu mendahului langkahnya."Mas Ibra?" Sapaan lembut terdengar dari ambang pintu.Ibra langsung mendongak. Wajah yang tadinya kaku karena angka-angka, mendadak melembut dengan senyuman. Di ambang pintu, Aya berdiri dengan balutan dress sutera untuk ibu hamil berwarna pastel yang longgar namun tetap memancarkan keanggunan. Di tangannya, sebuah tas bekal tersampir."Aya? Kam
"Sayang?" panggil Gina lembut."Hm?"Gina mengendurkan pelukannya dan mendongak menatap wajah pucat sang kekasih. Meski pucat, wajah Niko cukup tampan dengan alis tebal dan hidung yang mancung. Rahang tegasnya pun menambah ketampanannya yang memiliki sisi imut."Apa ada masalah? Sebenarnya Mas tadi mau minta tolong apa sama Putra?" tanya Gina sembari menatap wajah Niko.Pria itu diam sebentar. Lalu ia menarik pinggang Gina ke dalam pelukannya. "Kita makan, yuk? Aku sudah lapar," ajaknya. Pria itu sengaja mengalihkan pembicaraan.Gina pun tak berani bertanya lagi. Mereka akhirnya masuk ke dalam vila untuk makan pagi bersama.*Di sisi lain, sekitar pukul delapan, Ibra, Aya, dan Putra kembali ke vila mereka. Tina sudah menyiapkan buah-buahan segar di meja ruang tengah. Putra yang kelelahan tapi juga kekenyangan, segera merangkak ke sofa dan tertidur pulas dengan sekumpulan kerang yang masih dalam genggaman."Ya ampun, dia ketiduran," gumam Aya sembari mendekati anaknya."Biarkan saja."
"Minta tolong apa, Om?" tanya Putra sembari memiringkan sedikit kepalanya. Menatap Niko dengan keheranan yang polos. Kedua tangannya pun menggenggam ujung kaosnya agar kerang yang telah terkumpul tidak jatuh.Niko menarik tangannya. Pria itu menunduk dalam. Gina pun mendekatinya dan mengusap punggung pria itu. Ia ikut berjongkok."Om Niko kenapa?" tanya Putra polos."Om nggak papa," jawab Niko sembari menegakkan kepalanya menatap Putra."Putra!" seruan Aya terdengar memanggil anaknya.Putra menoleh menatap sang ibu yang memanggilnya. "Om, Tante... Bundaku manggil. Om mau minta tolong apa? Bilang aja," ujarnya.Niko menggeleng pelan. "Nggak jadi, Putra. Om cuma mau minta tolong supaya Putra jadi anak yang hebat," jawabnya."Masa begitu, Om?" tanya Putra heran.Niko mengangguk. "Iya."Bocah itu diam sejenak. "Oke, deh. Kalau gitu Putra mau balik ke Ayah sama Bunda, ya? Makasih udah kasih tahu tempat kerang sebanyak ini," ucapnya.Gina mengusap k
Kata-kata Putra seolah menampar Ibra dengan tamparan tak kasat mata namun begitu keras. Pria itu diam karena memang ia tak hadir dan ikut merawat anak laki-lakinya itu.Tak lama kemudian, beberapa pelayan lain masuk membawa belasan tas belanja bermerek. Isinya adalah pakaian anak-anak dari bahan su
"Tenanglah," ucap Ibra dingin, suaranya tetap datar meski jantungnya sempat berdesir mendengar suara parau wanita itu. "Putra aman bersamaku. Dia lebih baik di sini daripada kontrakan sempit dan panas itu.""Tapi aku ibunya! Aku yang mengandung dan membesarkannya! Kamu nggak punya hak merebut apa l
Putra kembali masuk ke dalam mobil mewah ayahnya. Bocah itu membuka pintu sendiri, namun ternyata kekuatannya kurang dan pintu masih tertutup. Ibra mengamatinya dalam diam. Lalu pria itu membukakan pintu tersebut untuknya."Makasih," ucap Putra ketus sembari duduk di bangku belakang.Ibra
Bertambah satu hari. Aya tak bisa tidur sama sekali. Terlihat dari wajah lelahnya dan juga lingkar hitam di bawah kedua matanya. Wanita itu terus memikirkan keberadaan anaknya. Dan Ibra sama sekali tak bisa dihubungi.Wajah Aya pucat pasi, seperti tanpa tenaga. Bahkan ada lingkar hitam yang m







