MasukAya dan Tina spontan menoleh ke arah Putra yang kini berlari ke arah mereka. Bocah lima tahun itu tampak berlari dengan tergesa-gesa. Bahkan seragamnya belum ganti. Sebuah kotak beludru warna hitam pun ada di dalam genggaman salah satu tangannya."Bunda!" seru Putra lagi saat sudah berada di hadapan sang ibu."Ada apa, Sayang?" tanya Aya lembut. Wanita itu mencoba tetap terlihat tegar di hadapan anak sulungnya.Putra semakin mendekat dan kini duduk di samping sang ibu. Bocah itu menoleh menatap Tina, lalu menoleh menatap ibunya lagi."Bunda, Ayah belum pulang, ya?" tanya Putra."Belum, Sayang. Mungkin... Ayah lagi sibuk," jawab Aya memberikan alasan yang mudah dimengerti oleh anaknya."Kalau begitu kita jemput Ayah di kantor, Bun," usul bocah itu.Aya mengusap rambut Putra dengan lembut, mencoba menyembunyikan getar di tangannya. Namun, tatapan Putra tidak tertuju pada ibunya, melainkan pada Tina yang masih berdiri mematung di dekat mereka. Ada semacam ketegasan yang tidak biasa di ma
Tina menatap wajah cantik majikannya yang tampak sedikit pucat karena kelelahan baik fisik maupun pikiran. "Kalau teman dekat, Tuan hanya dekat dengan Pak Samuel. Tapi saya ragu kalau Pak Samuel yang berkhianat. Bagaimana pun juga, mereka sudah seperti kakak adik, Nyonya."Aya mengangguk. "Aku juga sepemikiran, Bi. Samuel selalu ada untuk Mas Ibra."Tina ikut mengangguk menanggapi. "Terus... seingat saya teman dekat yang lain adalah Pak Niko. Tapi mereka tidak bisa dibilang terlalu dekat. Lalu... bukan teman tapi orang yang dulu cukup akrab dengan Tuan, umurnya tidak sebaya dengan Tuan Ibra...." Aya kembali menatap wajah Tina yang sudah tua. Tampak dari keriput yang tercipta pada lipatan mata dan keningnya. Namun, Tina memiliki wajah yang teduh dan menenangkan."Dulu sebelum Tuan Besar, Tuan Ronal meninggal, beliau dekat dengan beberapa orang. Tapi yang paling dekat adalah Pak Hengki Pramana. Beliau adalah sahabat karib Tuan Ronal dan juga cukup akrab dengan Tuan Ibra," jelasnya.Aya
Samuel mundur satu langkah, tangannya terangkat di depan dada. "Pak, saya bersumpah demi nyawa saya. Saya tidak mungkin melakukan ini. Saya sudah bekerja bersama Anda selama bertahun-tahun!""Tapi pesan misterius itu, Sam... pesan yang bilang ada pengkhianat di dekatku," cicit Ibra sembari mengepalkan kedua tangannya. Amarah mulai membakar akal sehatnya. "New World Development tahu persis kelemahan psikologis mitra kita. Mereka menyerang dengan isu lahan di saat yang sangat tepat. Siapa yang memberikan celah itu kalau bukan orang dalam yang mengatur jadwal komunikasi?""Pak Ibra. Saya juga bingung, Pak! Saya berani diaudit, silakan periksa semua rekening saya, ponsel saya, bahkan tempat tinggal saya!" Samuel terdengar putus asa.Ibra menatap wajah sedih Samuel. Pria itu pun terdiam, teringat ucapan Aya yang selalu diucapkan saat ia mulai mencurigai orang yang selalu ada untuknya.'Tetaplah waspada, tapi jangan biarkan rasa curiga itu merusak kinerja timmu.'Kalim
Sementara itu, suasana di kantor pusat Bagaskara Group berbanding terbalik 180 derajat. Langit siang hari di kota itu yang mendung seolah menjadi latar belakang yang sempurna untuk kekacauan yang akan meledak.Pukul dua siang. Hanya tersisa kurang dari dua puluh empat jam sebelum 'grand launching' proyek besar dan terbaru Bagaskara Group yang disusun oleh tim Ibra, serta merupakan ide dari Aya dan Ibra. Sebuah mega-proyek superblok ramah lingkungan yang diprediksi akan merevolusi pasar properti Asia Tenggara.Saat Ibra baru saja menyesap teh camomile buatan Aya, tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya dihantam terbuka tanpa ketukan.Brak!Ibra tentu saja terkejut. Dirinya ingin marah atas ketidak sopanan Samuel. Namun saat melihat Samuel masuk dengan wajah sepucat kertas, napasnya memburu, dan tablet di tangannya gemetar. Pria itu mengurungkan niatnya dan kini malah berubah cemas."Pak Ibra... kita punya masalah besar. Masalah yang sangat buruk." Suara Samuel tercekat."Tenangkan dirimu,
"Ayah cepatlah mandi, lalu kita makan," ucap Aya sembari berjalan mendekat."Iya, Bunda."Setelah Ibra membersihkan diri dan berganti pakaian santai, mereka bertiga berkumpul di meja makan. Menu malam ini sederhana namun menggugah selera, favorit Ibra karena tidak ada bau bawang sama sekali. Selama makan, Putra bercerita dengan antusias tentang kegiatannya di sekolah dan bagaimana Lili hampir saja menjatuhkan vas bunga di ruang tamu, lalu dengan pertemuannya dengan Niko.Aya lebih banyak diam, namun matanya tak lepas dari suaminya. Ia melihat gurat lelah di sudut mata Ibra, sebuah kelelahan yang berusaha disembunyikan di balik senyum tegasnya. Ada rasa rindu di hati Aya untuk kembali duduk di samping Ibra di kantor, menyusun strategi dan menghadapi musuh bersama. Namun, ia tahu Ibra sangat keras kepala soal kesehatannya sekarang. Apa lagi karena ia mengandung anak kedua mereka dan pria itu sangat protektif."Mas," panggil Aya lembut. Ibra pun menoleh menatap istrinya
Aya memeluk sahabatnya itu. "Aku yakin Mas Niko-mu pasti akan segera sembuh. Kalian juga pasti akan hidup bahagia.""Aamiin, Ay. Makasih."Kembali lagi pada Putra dan Niko, keduanya tampak begitu akrab."Oh iya, Om Niko harus lihat Lili!""Lili siapa?""Kucing Putra yang sudah kaya adek sendiri. Dia sudah besar sekarang!" Putra menarik tangan Niko menuju halaman belakang."Jangan lari-lari, Sayang!" seru Aya memperingatkan."Iya, Bunda. Ayo, Om!"Gina dan Aya hanya memerhatikan dari kejauhan, membiarkan mereka bermain, sementara para wanita itu berbincang di paviliun kecil.Di halaman belakang yang dipenuhi dengan tanaman dan bunga, Putra memanggil Lili, kucing putih kesayangannya. Kucing itu mengeong manja, melompat-lompat mengejar bola bulu yang dilemparkan Putra. Niko tertawa kecil, meski sesekali ia harus menutup mulutnya karena batuk yang tertahan."Dia sangat aktif, ya?" ujar Niko terdengar lemah."Iya, Oma. Ayah bilang Lili harus rajin olahraga supaya tidak malas seperti kucing
Tawa Ibra berhenti, tetapi kilatan di matanya justru semakin intens saat kembali menatap Aya. Ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit basah akibat pagutan tadi, sebuah gerakan yang membuat wajah Aya semakin memanas."Hyper?" Ibra mengulang kata tersebut dengan nada mengejek. "Mungkin kamu ben
Langkah Ibra terasa ringan namun pikirannya berat saat ia memasuki lobi gedung Bagaskara Group. Para karyawan membungkuk hormat, tetapi sang Presdir hanya melewatinya dengan tatapan lurus.Di kepalanya, bayangan Aya yang menamparnya, Aya yang menatapnya getir, hingga Aya yang memegang keningnya den
"Bunda, Bunda cantik banget, deh," pujian itu lolos dari bibir mungil Putra yang kini duduk di salah satu sisi tempat tidur sang ibu.Aya mematut dirinya di depan cermin. Malam itu ia mengenakan blus biru muda dan celana krem. Rambutnya dia kepang satu dengan dua buah jepit lidi yang terlihat manis
Darah Aya terasa membeku. Ancaman itu adalah kelemahan terbesarnya. Ia menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah yang tertahan. "Kamu... kamu jahat sekali. Ternyata kamu memang licik.""Itu bukan licik. Tapi begitulah dunia bekerja," jawab Ibra santai meski tiba-tiba dadanya nye







