로그인"Mas?" Aya kembali memanggil suaminya yang masih diam.Mata Ibra pun bergerak turun ke arah perut Aya yang bulat sempurna. Di mana ada kehidupan lain di dalamnya yang selalu bergerak pelan memamerkan keberadaannya di sana.Ibra menggeleng pelan, tangannya yang tadi aktif kini mengepal di sisi tubuh Aya. "Aku... aku takut, Aya. Bagaimana kalau aku menyakiti kalian? Dokter memang bilang aman, tapi melihat perutmu seperti ini... aku merasa seperti monster jika memaksakan diri," bisiknya.Tangan itu kemudian menjauh. Ibra menariknya. Ia hendak bangkit, bermaksud untuk pergi ke kamar mandi lagi, mungkin untuk melakukan 'permainan' yang sempat dipergoki Aya. Namun, sebelum ia sempat menjauh, tangan ramping Aya menahan lengannya dengan kuat."Mas!" Aya memanggil. Ibra pun terdiam karena genggaman yang cukup kuat itu berhasil menahannya. Lalu ia perlahan mengangkat tangannya yang bebas, berniat menepis pelan genggaman tangan Aya."Jangan pergi," pinta Aya tegas. Wanita i
Perjalanan pulang dari rumah sakit terasa lebih singkat dari biasanya bagi Ibra. Meski Samuel sesekali melirik dari spion tengah dengan tatapan penuh tanya, Ibra tidak peduli.Dunianya saat ini hanya berputar pada jemari Aya yang bertautan erat dengan tangannya di atas pangkuan Ibra. Ada semburat kebahagiaan yang tidak bisa ia sembunyikan, sebuah kelegaan yang seolah mengangkat beban berat berton-ton dari pundaknya.Kedua orang itu memilih diam, terutama Aya yang menahan malu di hadapan suaminya sendiri. Lalu wanita itu menyadari sesuatu dan menoleh menatap wajah Ibra yang masih tersenyum senang."Mas, seharusnya bukan aku yang malu, tapi kamu...." bisiknya Aya sembari mengerutkan keningnya saat menatap Ibra.Ibra membalas tatapan sang istri dengan senyuman lebar lalu mendekatinya. "Aku sudah bersembunyi, kamu sendiri yang malah mendengarnya. Itu salahmu karena kamu terlalu menggoda...." balasnya dengan berbisik.Wajah Aya kembali merah padam dan wanita itu pun m
Hening.Satu detik...Dua detik...Ibra yang tadinya duduk tegak dengan wajah datarnya, seketika mematung. Matanya melebar, menatap Aya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia seolah baru saja disambar petir di siang bolong. Kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh sang istri.Wajah pria yang biasanya dingin dan tak tergoyahkan itu perlahan-lahan berubah warna menjadi merah padam. Mulai dari telinga hingga ke lehernya. Sementara wajah Aya juga tak kalah merahnya."Eummm... Saya hanya ingin tahu, Dokter. Dan... apakah ada posisi yang... tidak membahayakan bagi janin?" Aya kembali mengajukan pertanyaan dengan malu-malu.Dokter Anis terkekeh pelan, menyadari ketegangan di antara pasangan suami istri di depannya. Ibra yang biasanya bisa menahan ekspresi datarnya, kini juga malu di hadapan sang dokter kandungan."Oh... pertanyaan ini sangat bagus dan sangat manusiawi kok, Bu Aya," ucap dokter Anis dengan nada santai untuk mencairkan suasana. Tak lupa wanita paruh baya itu memasang
"Astaga, Mas. Aku baik-baik saja. Lihat, aku sehat, nggak ada yang sakit," ucap Aya sembari tersenyum kecil, meski hatinya sebenarnya merasa sangat malu."Duduk dulu, Mas. Tarik napas... Kasihan Samuel juga itu di depan sampai pucat." Aya menunjuk ke arah pintu.Ibra menoleh sekilas ke arah Samuel, lalu memberikan kode agar asistennya itu menunggu di mobil saja. Setelah Samuel pergi, Ibra duduk di samping Aya, masih dengan napas yang belum sepenuhnya teratur.Aya menuntun tangan Ibra untuk mengusap perutnya. "Rasakan, Mas. Anak kita sedang tenang. Dia nggak papa."Ibra memejamkan mata saat telapak tangannya yang besar menyentuh permukaan perut Aya yang keras dan hangat. Perlahan, detak jantungnya yang menggila mulai melambat.Ibra menatap wajah Aya. Pria itu menatap ketenangan di wajah istrinya. Aya masih tampak segar dan baik-baik saja. Tidak menunjukkan adanya tanda kesakitan."Beneran?" tanya pria itu masih tak percaya.Aya mengangguk. "Iya, Mas. Aku dan anak kita baik-baik saja."
Di dalam mobil, suasana terasa begitu tegang. Samuel yang duduk di balik kemudi sesekali melirik melalui kaca spion tengah, memerhatikan raut wajah sang Presdir yang mengeras. Atasannya itu tampak tidak tenang dengan jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan dengan irama yang cepat dan tidak beraturan."Pak, apa perlu saya hubungi Rumah Sakit untuk menyiapkan tim medis?" tanya Samuel hati-hati, mencoba memecah kesunyian yang mencekam."Tidak perlu, Sam. Fokus saja pada jalanan. Harus cepat sampai rumah," sahut Ibra pendek. Suaranya berat, sarat akan kecemasan yang tertahan.Pikiran Ibra melayang ke mana-mana. Baginya, pesan singkat Aya yang mengatakan ingin ke dokter kandungan di luar jadwal rutin adalah sebuah tanda bahaya. Apakah Aya merasakan kontraksi di usia kandungan yang baru memasuki lima bulan? Apakah kandungannya bermasalah?Ibra menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang sangat cemas. 'Ada apa sebenarnya...?' gumamnya dalam hati.Atau kejadian semalam saat Ibra tanpa sen
"Nggak papa. Makanlah yang kenyang."Sarapan pun berlangsung dengan tenang namun hangat. Mereka mengobrol tentang rencana sekolah Putra hari ini dan beberapa hal kecil lainnya. Ibra sesekali memerhatikan piring Aya, memastikan istrinya menghabiskan porsinya agar nutrisi untuk calon bayi mereka terpenuhi. Dan untuknya tentu saja menu sarapan tanpa bawang putih.Setelah selesai, Ibra menoleh menatap Aya dengan lembut. Ia mengusap perut wanita itu dengan penuh kasih sayang."Aku berangkat dulu sama Putra. Kamu baik-baik dan istirahat di rumah saja," ujarnya tak lupa dengan senyuman. Seolah kejadian malam tadi di kamar mandi tak pernah terjadi dan dirinya tidak tahu bahwa Aya telah mendengar Ibra mendesahkan namanya."Iya, Mas." Aya membalasnya dengan senyuman yang begitu manis.Sejenak Ibra menelan ludahnya dengan susah payah. Istrinya yang cantik itu selalu bisa mengusik ketenangan dan gejolak di dalam dirinya."Kalau begitu kami berangkat," ucap Ibra sambil berdiri dan mengambil kunci
Kata-kata Putra seolah menampar Ibra dengan tamparan tak kasat mata namun begitu keras. Pria itu diam karena memang ia tak hadir dan ikut merawat anak laki-lakinya itu.Tak lama kemudian, beberapa pelayan lain masuk membawa belasan tas belanja bermerek. Isinya adalah pakaian anak-anak dari bahan su
"Tenanglah," ucap Ibra dingin, suaranya tetap datar meski jantungnya sempat berdesir mendengar suara parau wanita itu. "Putra aman bersamaku. Dia lebih baik di sini daripada kontrakan sempit dan panas itu.""Tapi aku ibunya! Aku yang mengandung dan membesarkannya! Kamu nggak punya hak merebut apa l
Putra kembali masuk ke dalam mobil mewah ayahnya. Bocah itu membuka pintu sendiri, namun ternyata kekuatannya kurang dan pintu masih tertutup. Ibra mengamatinya dalam diam. Lalu pria itu membukakan pintu tersebut untuknya."Makasih," ucap Putra ketus sembari duduk di bangku belakang.Ibra
Bertambah satu hari. Aya tak bisa tidur sama sekali. Terlihat dari wajah lelahnya dan juga lingkar hitam di bawah kedua matanya. Wanita itu terus memikirkan keberadaan anaknya. Dan Ibra sama sekali tak bisa dihubungi.Wajah Aya pucat pasi, seperti tanpa tenaga. Bahkan ada lingkar hitam yang m







