Share

Bab 258

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-05-13 19:04:20

"Astaga, Mas. Aku baik-baik saja. Lihat, aku sehat, nggak ada yang sakit," ucap Aya sembari tersenyum kecil, meski hatinya sebenarnya merasa sangat malu.

"Duduk dulu, Mas. Tarik napas... Kasihan Samuel juga itu di depan sampai pucat." Aya menunjuk ke arah pintu.

Ibra menoleh sekilas ke arah Samuel, lalu memberikan kode agar asistennya itu menunggu di mobil saja. Setelah Samuel pergi, Ibra duduk di samping Aya, masih dengan napas yang belum sepenuhnya teratur.

Aya menuntun tangan Ibra untuk meng
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 258

    "Astaga, Mas. Aku baik-baik saja. Lihat, aku sehat, nggak ada yang sakit," ucap Aya sembari tersenyum kecil, meski hatinya sebenarnya merasa sangat malu."Duduk dulu, Mas. Tarik napas... Kasihan Samuel juga itu di depan sampai pucat." Aya menunjuk ke arah pintu.Ibra menoleh sekilas ke arah Samuel, lalu memberikan kode agar asistennya itu menunggu di mobil saja. Setelah Samuel pergi, Ibra duduk di samping Aya, masih dengan napas yang belum sepenuhnya teratur.Aya menuntun tangan Ibra untuk mengusap perutnya. "Rasakan, Mas. Anak kita sedang tenang. Dia nggak papa."Ibra memejamkan mata saat telapak tangannya yang besar menyentuh permukaan perut Aya yang keras dan hangat. Perlahan, detak jantungnya yang menggila mulai melambat.Ibra menatap wajah Aya. Pria itu menatap ketenangan di wajah istrinya. Aya masih tampak segar dan baik-baik saja. Tidak menunjukkan adanya tanda kesakitan."Beneran?" tanya pria itu masih tak percaya.Aya mengangguk. "Iya, Mas. Aku dan anak kita baik-baik saja."

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 257

    Di dalam mobil, suasana terasa begitu tegang. Samuel yang duduk di balik kemudi sesekali melirik melalui kaca spion tengah, memerhatikan raut wajah sang Presdir yang mengeras. Atasannya itu tampak tidak tenang dengan jemarinya mengetuk-ngetuk sandaran tangan dengan irama yang cepat dan tidak beraturan."Pak, apa perlu saya hubungi Rumah Sakit untuk menyiapkan tim medis?" tanya Samuel hati-hati, mencoba memecah kesunyian yang mencekam."Tidak perlu, Sam. Fokus saja pada jalanan. Harus cepat sampai rumah," sahut Ibra pendek. Suaranya berat, sarat akan kecemasan yang tertahan.Pikiran Ibra melayang ke mana-mana. Baginya, pesan singkat Aya yang mengatakan ingin ke dokter kandungan di luar jadwal rutin adalah sebuah tanda bahaya. Apakah Aya merasakan kontraksi di usia kandungan yang baru memasuki lima bulan? Apakah kandungannya bermasalah?Ibra menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang sangat cemas. 'Ada apa sebenarnya...?' gumamnya dalam hati.Atau kejadian semalam saat Ibra tanpa sen

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 256

    "Nggak papa. Makanlah yang kenyang."Sarapan pun berlangsung dengan tenang namun hangat. Mereka mengobrol tentang rencana sekolah Putra hari ini dan beberapa hal kecil lainnya. Ibra sesekali memerhatikan piring Aya, memastikan istrinya menghabiskan porsinya agar nutrisi untuk calon bayi mereka terpenuhi. Dan untuknya tentu saja menu sarapan tanpa bawang putih.Setelah selesai, Ibra menoleh menatap Aya dengan lembut. Ia mengusap perut wanita itu dengan penuh kasih sayang."Aku berangkat dulu sama Putra. Kamu baik-baik dan istirahat di rumah saja," ujarnya tak lupa dengan senyuman. Seolah kejadian malam tadi di kamar mandi tak pernah terjadi dan dirinya tidak tahu bahwa Aya telah mendengar Ibra mendesahkan namanya."Iya, Mas." Aya membalasnya dengan senyuman yang begitu manis.Sejenak Ibra menelan ludahnya dengan susah payah. Istrinya yang cantik itu selalu bisa mengusik ketenangan dan gejolak di dalam dirinya."Kalau begitu kami berangkat," ucap Ibra sambil berdiri dan mengambil kunci

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 255

    Aya masih terpaku pada layar ponselnya, jemarinya perlahan menggulir artikel yang membahas tentang hubungan suami istri selama masa kehamilan. Informasi yang ia dapatkan seolah memberikan validasi sekaligus keberanian baru. Namun, tetap saja, membayangkan dirinya harus memulai pembicaraan sensitif itu membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Pasalnya selama ini Ibra lah yang selalu mengajak dan memimpin permainan."Aya?""Ah... Mas!"Aya terlonjak kaget. Ponsel yang dipegangnya hampir saja merosot dari genggaman jika ia tidak segera mendekapnya ke dada. Ia menoleh dengan gerakan perlahan. Dan ia menemukan Ibra sudah berdiri tak jauh dari tempat tidur. Tak menyadari bahwa suaminya itu sudah keluar dari kamar mandi.Ibra mengernyitkan dahi, tampak heran melihat reaksi istrinya yang tampak berlebihan. "Kamu kenapa? Serius sekali sampai kaget begitu.""Eummm... nggak papa, Mas. Cuma... cuma aku lagi serius baca berita barusan," sahut Aya cepat, tentu saja berdusta. Wajahnya yang

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 254

    "Ummm...." Suara lenguhan terdengar pelan.Sinar matahari pagi yang hangat mulai menyeruak masuk melalui celah-celah gorden kamar yang tidak tertutup rapat. Suasana kamar masih begitu tenang, hanya terdengar suara detak jam dinding dan napas teratur dari pria yang masih terlelap di samping Aya.Aya terbangun lebih dulu. Tubuhnya terasa jauh lebih segar setelah tidur nyenyak yang cukup panjang, meski ada sedikit rasa pegal di pinggangna. Hal yang lumrah bagi wanita yang kandungannya sudah mulai membesar. Ia mengubah posisinya perlahan, berbaring miring menghadap Ibra."Mas Ibra...." panggilnya lembut.Ditatapnya wajah suaminya yang masih terpejam rapat. Dalam keadaan tidur seperti ini, gurat-gurat tegas dan dingin yang biasanya terpancar dari wajah Ibra seolah luluh, digantikan oleh ketenangan yang tulus. Bulu mata Ibra yang lebat tampak kontras dengan kulit wajahnya yang putih bersih. Aya memperhatikan setiap detail itu dengan rasa sayang yang membuncah.Tiba-tiba Aya teringat kejadia

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 253

    Namun, tepat saat suasana semakin memanas, Ibra tiba-tiba menjauhkan wajahnya. Ia mengambil napas panjang dan memejamkan mata, mencoba menenangkan debaran jantungnya sendiri. Tangannya pun menjauh dari dada sintal Aya."Mas...?" bisik Aya bingung, napasnya juga masih tersengal. Wanita itu, juga ikut mulai terbawa suasana.Ibra membuka kedua matanya, menatap wajah sang istri yang merah padam."Maaf, Aya," ujar Ibra dengan suara serak. Ia mengusap lembut pipi sang istri dengan ibu jarinya. "Aku nggak mau egois. Kandunganmu baru memasuki lima bulan, dan beberapa minggu terakhir ini kamu sangat stres dengan masalah ini. Aku takut kalau kita lanjut... itu akan membahayakanmu atau bayi kita. Aku nggak mau ambil risiko sekecil apa pun."Aya tertegun. Ada sedikit rasa kecewa yang muncul secara alami, namun di saat yang sama, hatinya luluh melihat betapa Ibra sangat memprioritaskan keselamatannya, sangat peduli padanya. "Aku mengerti, Mas. Nggak papa...."Ibra mengecup ke

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 91

    Aya hanya mendengus melihat tingkah Ibra yang sok kuat, padahal tangannya masih sedikit gemetar saat memegang sendok. Ia memilih beranjak untuk mengambil gelas teh hangat yang ia bawa tadi."Minum ini setelah buburnya habis," ujar Aya sembari meletakkan gelas di meja nakas yang dekat dengan posisi

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 87

    "Emmmhhh...." Lenguhan pelan itu terdengar. Aya membuka kedua matanya dan menoleh ke arah suaminya.Pagi itu, cahaya matahari merayap masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka, menerangi kamar yang mewah. Aya baru saja bangun. Tubuhnya memang terasa pegal luar biasa, namun tanggung jawabnya s

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 85

    "Ah, maaf...." cicit Aya yang tersadar akan tindakannya. Wanita itu menegakkan badannya dan melepaskan genggaman tangannya.Ibra hanya diam dengan ekspresi datar. Membuat suasana semakin canggung. Aya cepat-cepat menoleh ke jendela dan membiarkan dirinya memandangi lampu jalanan yang mulai menyala.

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 76 (18+)

    Aya memejamkan mata. "Nggak... Kita sudah pernah ke sini lagi, kan?" Ia menoleh menatap Ibra."Hm." Ibra memutar tubuhnya menghadap Aya. "Dan malam itu adalah malam pertama bagi kita berdua. Aku memberimu uang itu, dan kamu memberiku malam yang tidak pernah bisa kulupakan...."Aya membulatkan kedua

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status