MasukAldo ke rumah Vania dengan membawa temannya yang seorang dokter ahli saraf. Mereka pun kemudian masuk kedalam tanpa memperdulikan ocehan bu Lina.
"Heeeh awas kalian ya," kesal Bu Lina. Bu Lina juga ikut masuk kedalam sembari memperhatikan mereka. Sesaat setelah sampai di kamar pak Widodo, "Tolong periksa ayah saya dok," ucap Vania. Teman Aldo yang bernama Willy itu pun segera memeriksa keadaan ayah Vania yang hanya bisa terbaring lemah tak berdaya diatas tempat tidur. "Lebih baik kita segera membawa beliau kesana. Disana alat-alat kesehatannya sudah sangat canggih. Saya yakin ayahmu akan sembuh jika ditangani dengan baik disana," ucap teman Aldo tersebut. Vania pun menatap Aldo sesaat dan terlihat Aldo langsung mengangguk. Vania pun ikut mengangguk dan menyetujui keputusan dokter. Baginya, kesehatan sang ayah amatlah penting dari apapun. "Baiklah saya setuju," Vania segera mengambil koper miliknya dan milik sang ayah yang memang sudah ia persiapkan sebelumnya. "Tunggu, kau tidak bisa seenaknya membawa suamiku kemanapun kau mau!" Lantang bu Lina. Ia mencoba menghentikan tindakan Vania yang seenaknya membawa suaminya pergi tanpa persetujuan darinya. Vania pun tak memperdulikan ucapan Bu Lina, ia masih terus saja membereskan barang lain untuk keperluan sang ayah yang memang akan ia bawa untuk disana. Karena geram, Bu Lina pun akhirnya menghampiri Vania dan segera menjauhkan Vania dari barang-barang suaminya. "Apa-apaan kamu! Sudah ku bilang jangan seenaknya membawa suamiku pergi!" Ultimatum Bu Lina. "Diam kau!" Sentak Vania dengan nada tinggi. Ia pun mendekati Bu Lina dan mendekatkan dirinya ke ibu tirinya tersebut. "Urusi saja urusanmu itu dengan pak Kasno. Bukankah kau ada main dengan dia?" Ucap Vania sembari berbisik. Bu Lina pun langsung kaget karena Vania mengetahui perselingkuhannya dengan supir keluarga Widodo. Plaakk!! Bu Lina mengerang kesakitan akibat tamparan Vania. Ia pun melotot tajam kearah Vania sambil jari telunjuknya menunjuk langsung ke muka Vania. "Kau," geram Bu Lina. "Apa? Kau pikir aku takut denganmu hah. Ingat, akan aku rebut kembali apa yang sudah menjadi hakku. Camkan itu," ancam Vania. "Ayo Do, dok," ucap Vania pada Aldo dan dokter Willy. Mereka pun mengangguk dan memindahkan pak Widodo ke brangkar pasien yang memang sudah disiapkan oleh teman Aldo yang seorang dokter itu. Dengan cukup susah payah mereka memindahkan pak Widodo, mereka pun langsung keluar rumah dan membawa pak Widodo menuju mobil yang memang biasa dipakai temannya Aldo untuk menjemput pasien gawat darurat. Mereka pun langsung menuju ke bandara karena jet pribadi yang akan membawa mereka ke Jepang sudah menunggu di bandara. Rupanya, saat Vania cerita ke Aldo saat itu tentang kondisi sang ayah, Aldo sudah menelpon pihak maskapai yang kebetulan adalah teman dekatnya sekaligus menyewa jet pribadi milik teman Aldo, si pengelola maskapai. Karena memang di bandara tersebut sudah tersedia penyewaan jet pribadi dan helikopter untuk keperluan darurat. "Kurang ajar, dari mana dia tahu kalau aku dan Kasno memiliki hubungan spesial?" Panik Bu Lina. "Bisa gawat kalau sampai dia tahu kalau Elisa adalah anak Kasno. Enggak enggak, rahasia ini nggak boleh sampai terbongkar. Cukup aku saja yang tahu rahasia ini. Aku harus melakukan cara agar Vania tak membongkar rahasiaku," ucap Bu Lina sembari berjalan mondar mandir di kamar sang suami. Sejak pak Widodo dilanda penyakit berkepanjangan, keberadaan Bu Lina semakin intens dan menimbulkan desas-desus dalam lingkaran rumah tangga itu. Awalnya, komunikasi antara Bu Lina dan pak Kasno, sang supir pribadi, hanya sekedar basa-basi kecil. Namun, kini segalanya telah berubah. Mereka terlihat begitu rapat, terlibat dalam perbincangan yang semakin dalam, dan kerap kali tertangkap berbagi keintiman di sudut-sudut tersembunyi rumah besar itu, asal tak seorang pun yang memergoki. Vania, anak sambung Bu Lina, suatu malam berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman dan secara tidak sengaja menyaksikan tindakan yang tak terpikirkan tersebut. Hatinya remuk, kepercayaan pada sosok ibu tiri yang harusnya menjaga keharmonisan keluarga, kini terkoyak. Vania tak bisa lagi mengalihkan pandangan dari gerak-gerik ibu tirinya. Ketika rumah dipenuhi keheningan, ia menyusuri lorong-lorong, melihat lebih dari yang seharusnya ia lihat. Dan, dari titik itulah Vania menyadari bahwa ada benih-benih skandal terlarang yang bersemi di antara Bu Lina dan pak Kasno. Mobil pun melaju menuju bandara yang dituju. Sekitar satu jam dari rumah, akhirnya mereka pun sampai di bandara dan para rekan dokter Willy sudah menunggu kedatangan mereka sejak tadi. Dengan penuh kehati-hatian, mereka menurunkan pak Widodo dari mobil dan membawanya menuju lorong khusus untuk keadaan darurat. Tak menunggu waktu yang lama, mereka pun akhirnya naik ke jet dengan membawa pak Widodo di dalamnya. Mereka menempuh perjalanan sekitar kurang lebih 7 jam 30 menit dan mereka tiba di bandara internasional Tokyo atau bandara Haneda. Setelah turun dari pesawat, pak Widodo pun langsung dilarikan ke rumah sakit yang memang jaraknya tak jauh dari bandara Haneda. Di rumah sakit itu juga dokter Willy dinas disana. Itulah sebabnya Aldo merekomendasikan rumah sakit di Jepang itu agar dokter Willy bisa memantau keadaan pak Widodo dengan baik. "Terimakasih banyak Do, kalau bukan karena kamu, entah bagaimana jadinya ayahku sekarang," ucap Vania sendu. "Sama-sama Van, kamu kan sahabat aku. Apalagi pak Widodo juga begitu baik padaku." Ujar Aldo dengan senyum manisnya. Vania pun mengangguk. Kini ia harus fokus dengan kesembuhan sang ayah. Ia sudah tak peduli lagi dengan perusahaan sang ibu walaupun dengan susah payah ia membangunnya hingga sebesar sekarang. Jika ayahnya sudah sembuh nanti, barulah ia memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa kembali merebut apa yang sudah menjadi haknya."Tapi ceritakan saja, Van. Aku siap mendengar. Siapa tahu aku bisa membantu menemukan siapa ayah bayi itu," Aldo menawarkan dirinya, suara lembutnya menenangkan. Vania menunduk, rahangnya bergetar kecil. Ia tahu, sekali membuka luka lama, seluruh dunia bisa runtuh. Tapi kalau dia bungkam, kebenaran pasti akan terungkap sendiri, dan itu lebih menakutkan. "Aku dijebak oleh Elisa. Minumanku dicampur obat... dan aku malah dijual ke pria asing..." ucapnya tertahan, kata-kata itu keluar seperti bisikan kematian bagi kebahagiaannya yang dulu. "Apa?" Aldo terhenti, mata membelalak bagai disambar petir di siang bolong. Napasnya tersengal, seolah udara di sekitarnya mendadak mengental. Vania menatap ke depan, nafasnya keluar berat, penuh beban yang tak mampu ia sembunyikan. "Aku tak menyangka Elisa bisa berbuat sejahat itu," katanya lirih, suaranya pecah oleh amarah yang membara. Aldo mengerutkan kening, suaranya seperti tercekik oleh keheranan, "Apa benar semua ini cuma soal harta?" Vani
Vania menatap kosong ke arah yang jauh, seolah mencari jawaban di cakrawala harapan yang pudar."Aku sudah memutuskan untuk mempertahankan bayi ini, Do. Mungkin aku pernah berbuat salah, tapi anak ini… dia tak berdosa. Aku tak mau menambah dosa dalam hidupku yang sudah penuh dengan penyesalan di hadapan Tuhan," jawabnya pelan, suaranya menggema dengan keteguhan yang getir sekaligus lembut. Keheningan mengisi ruang di antara mereka, seolah waktu berhenti sejenak untuk meresapi keputusan yang mengubah segalanya.Aldo menatap Vania dengan mata yang penuh perhatian, lalu mengangguk pelan."Apa pun keputusanmu, Van, aku akan selalu mendukungmu. Yang terpenting sekarang, kamu harus segera kuat dan pulih," ucapnya lembut, seolah ingin menyalurkan segenap kekuatan hidup ke dalam jiwa Vania.Vania mengangguk tanpa kata, senyum kecil yang tak sepenuhnya tulus menghiasi bibirnya. Sesaat Aldo terdiam sebelum mengulangi, "Dokter Willy bilang kondisi ayahmu sud
"Besok, kau harus datang menemui dia. Perhatikan kondisinya dengan seksama, tapi jangan sekali-kali bertanya atau berkata yang bisa menambah beban pikirannya," suara dokter Willy mengandung peringatan tegas. "Emosi ibu hamil sangat berbeda dengan wanita biasa. Jadi, kau harus bisa menjaga perasaannya agar tetap stabil, jangan sampai satu kata saja memancing kemarahannya." Lanjut dokter Willy. Aldo mengangguk pelan, dadanya sesak oleh kekhawatiran yang tak kunjung reda. Mereka melangkah masuk ke ruang pemeriksaan Pak Widodo yang sunyi penuh harap. "Kondisinya mulai membaik," dokter Willy menghela napas, "Kita tinggal menunggu waktu kapan Pak Widodo membuka matanya. Mungkin butuh kesabaran ekstra, tapi aku yakin harapan itu masih ada." Kata-kata itu seperti sinar tipis yang menembus kegelapan di dada Aldo. Meski perlahan, harapan itu menguat, menggenggam erat di tengah ketidakpastian yang merayap. Di sudut lain rumah sakit, Vania menunduk, pikirannya berkecamuk dalam diam. Dua
Aldo menatapnya sejenak, lalu menarik napas panjang seolah menahan badai dalam dadanya. "Baiklah… Tenangkan dirimu dulu. Jika benar ayah dari bayi itu adalah Hendra, aku yang akan menghadapinya. Aku tidak akan membiarkan kamu menanggung semua ini sendirian," ucapnya tegas, penuh tekad yang tak bisa dipungkiri. Langkah Aldo menjauh dengan ragu, melewati ruang yang terasa semakin menyesakkan. Ia tahu, ini bukan sekadar masalah biasa. Bagi Vania, ini adalah pukulan keras yang hampir menghancurkan jiwa. Bagi Aldo, ini juga tembok besar yang menandai batas antara dirinya dan Vania, bahwa mereka hanya bisa bertahan sebagai teman, tidak lebih dari itu. Vania menunduk, jari-jarinya meraba perutnya yang masih datar, suara hatinya terdengar berbisik pilu, "A-aku hamil?" Kenangan pahit itu membayang, malam saat ia terperangkap dalam jebakan Elisa, saat sosok pria itu bersamanya, bukan Hendra seperti yang disangka, tapi seseorang asing
"Marta belum tahu pasti alasan ketidakhadiran nona Vania, Pak. Mungkin ada masalah internal yang kita sama sekali tak dengar," ujarnya, mencoba menenangkan suasana dengan nada tenang tapi tegas. "Ini sudah berminggu-minggu, Pak. Bukan sifatnya nona Vania yang biasa. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di balik semua ini." Ucap Tirta menenangkan. Perlahan, kemarahan Samuel mencair, pikirannya berputar mencoba mencerna fakta yang tersirat dari kata-kata Tirta. Ia mengangguk pelan, dengan suara yang lebih lembut tapi tetap tegas. "Kamu benar, Tirta. Sepanjang aku mengenalnya, Vania tak pernah sekalipun seperti ini. Aku akan coba menghubunginya sekarang juga." Dadanya sesak, menahan gelombang kekhawatiran yang mengusik hatinya, sebuah pertanda bahwa bukan sekadar ketidakhadiran biasa yang sedang mereka hadapi. Tirta mengangguk, setuju bahwa itu memang langkah yang lebih baik. Namun, dia masih belum tahu apa keputusan selanjutnya
Reno menatap lurus ke matanya, nada suaranya mengalun meyakinkan layaknya orator ulung."Saya terpikat pada perusahaan Anda. Saya sudah menggali semuanya dengan teliti, VL Grup bukan sembarang perusahaan, melainkan bintang yang bersinar di langit bisnis desain perhiasan Indonesia. Jika nona berkenan, saya ingin menanamkan modal saya di sini. Percayakan pada saya, dan kita akan meraih sesuatu yang lebih besar." Ucap Reno.Elisa terkejut, hampir tak percaya dengan tawaran yang baru saja terserap ke dalam pikirannya."A-apa? Tuan Bernett serius? Hanya dari satu kali melihat karya saya, anda mau mempercayakan uang Anda pada VL Grup?" suaranya gemetar, tapi penuh dengan harap yang tak bisa dibendung.Reno tersenyum ringan, seperti menutup sebuah lembaran dan membuka peluang baru yang menjanjikan."Pasti, nona. Atau, beri tahu saya, apa yang paling Anda butuhkan sekarang? Bahan baku? Berlian? Apapun itu, saya siap mengaturnya. Tapi semua ini hanya akan terwujud kalau kita bekerja sama. Baga
"Maaf jika kedatangan saya mengejutkan anda nona," ucap pak Nagato tak enak hati. Vania pun menggeleng dan tersenyum."Desain yang anda berikan dua Minggu yang lalu, ternyata meledak dan laku keras di pasaran nona. Banyak kaum hawa yang menyukai desain dari perhiasan ini. Rata-rata merek
"Pak, Anda sudah tahu alasan saya di sini, ayah saya sedang sakit dan di rawat disini." Vania menatap tajam, suaranya berat penuh harap."Kalau memang Bapak setuju, saya siap bekerja sama dengan anda, tapi saya tak bisa meninggalkan ayah saya dan ikut ke rumah usaha Bapak." Lanjut Vania.Dahi Pak N
"Bukan. Lihat ini, ada goresan kecil bertuliskan 'VL'. Ini bukan karya adik Vania, tapi karya asli Vania yang mungkin belum pernah dipublikasikan. Aku juga melihat beberapa hasil karya Vania yang diunggah di sosial media miliknya, dan itu pasti ada goresan kecil bertuliskan VL ini," ucap Xander d
Ia mundur dengan hati yang berdebar, melepas perjuangan itu pada dokter dan suster-suster yang sigap. Suster pertama membuka kancing baju Pak Widodo dengan hati-hati, lalu memasang elektrokardiogram, alat kecil yang kini menjadi harapan mereka untuk mengawasi setiap denyut jantung ayahnya.







