Share

bab 3

Penulis: Azzhura_Nia
last update Tanggal publikasi: 2025-10-22 18:49:06

Vania membanting pintu kamarnya.

"Bagus bu, sekarang si jalang itu tak mungkin bisa bertahan lama disini," ujar Elisa dengan senyum liciknya.

Elisa dan juga bu Lina pun masuk ke dalam rumah.

Vania mencari berkas-berkas kepemilikan rumah dan juga perusahaan yang ia simpan di nakas samping tempat tidurnya.

"Loh, bukannya ini dikunci?" Vania kaget saat tahu nakas tempat menyimpan berkas-berkas sudah dirusak tempat kuncinya.

"Arrgghh, kenapa bisa seperti ini sih," teriak Vania. Ia sungguh frustasi dengan semua ini.

Vania kemudian masuk ke dalam kamar ayahnya. Saat ini sang ayah terbaring lemah tak berdaya dengan berbagai alat kesehatan yang menempel diseluruh tubuh.

Enam bulan yang lalu sang ayah, pak Widodo, mengalami serangan jantung mendadak dan belum diketahui sebabnya sampai sekarang. Serangan jantung tersebut membuat seluruh saraf pak Widodo tak berfungsi dengan baik. Bahkan untuk membuka matanya saja dia tidak bisa.

Pak Widodo seperti mayat hidup, bernafas namun tak bisa melakukan apapun. Ia menjadi pria vegetatif sejak terkena serangan jantung.

"Ayah bangunlah, sampai kapan ayah akan terus seperti ini? Vania hanya punya ayah sekarang." Vania menangis sembari memeluk tangan sang ayah.

Tak disangka sang ayah juga ikut menangis. Terlihat dari sudut matanya mengeluarkan bulir bening, seakan ia mendengar apa yang diucapkan putrinya itu.

"Ayah tahu, sepeninggal ibu, istri barumu itu semena-mena padaku yah. Sekarang istri barumu dan anaknya semakin menjadi. Entah sampai kapan aku bisa bertahan yah, bahkan rumah ini dan juga perusahaan sudah berpindah nama menjadi nama mereka."

Vania menceritakan semua yang terjadi pada sang ayah walau ia tahu sang ayah tak akan membalas ucapannya. Vania pun mengusap air matanya. Tiba-tiba ponselnya berdering.

"Halo Aldo," sapa Vania diujung telepon.

"Halo Vania, sedang apa kau?" tanya Aldo.

Aldo adalah teman Vania semasa kuliah. Mereka memang kuliah di kampus yang sama namun dengan jurusan yang berbeda, Vania di managemen bisnis, sedangkan Aldo di kedokteran. Namun mereka terlihat sangat akrab dan bisa dibilang mereka adalah sahabat.

"Aku sedang bersama ayahku," ucap Vania sendu.

"Oh ya, bagaimana keadaan om Widodo?," tanya Aldo. Ia pernah beberapa kali main ke rumah Vania saat masa kuliah dulu.

"Masih seperti ini Do. Entahlah, aku hanya berharap ayah bisa bangun secepatnya." Ujar Vania sembari sesenggukan. Ia tak kuasa menahan air matanya yang kembali menetes tanpa aba-aba.

"Van, sebenarnya aku memiliki kenalan seorang dokter ahli saraf. Jika kau berkenan, kita bawa ayahmu ke rumah sakit temanku agar ayahmu bisa cepat sembuh," ujar Aldo.

Seperti mendapat angin segar, Vania pun langsung menyetujui ide itu.

"Aku setuju Do. Hanya saja aku bingung dengan biayanya. Uangku pasti tak akan cukup untuk biaya pengobatan ayah." Ujar Vania sedih.

"Benar Vania, kapan aku pernah bercanda dengan ucapanku. Masalah biaya, tak perlu kau risaukan, lebih baik kau bersiap-siap karena aku dan juga temanku akan kesana untuk menjemput ayahmu," ucap Aldo.

"Baiklah," ujar Vania. Telepon pun ditutup.

Vania segera membereskan semua pakaian ayahnya dan juga beberapa barang penting milik sang ayah. Ia juga membereskan semua pakaiannya. Ia tak mungkin terus menerus berada di rumah yang sudah ia anggap seperti neraka ini.

Sekitar 1 jam kemudian, Aldo benar-benar datang dengan membawa temannya yang seorang dokter ahli saraf.

"Cari siapa?" tanya bu Lina ketus. Kebetulan ia sedang berada di ruang tamu.

"Maaf bu, Vanianya ada?" tanya Aldo. Dia sudah tahu kalau bu Lina adalah ibu tirinya Vania.

3 bulan setelah ibunya Vania meninggal, bu Lina dan juga pak Widodo menikah. Pak Widodo berpikir kalau Vania pasti butuh sosok seorang ibu pengganti karena pak Widodo melihat bu Lina sebagai seorang wanita yang penyayang.

Sebenarnya dulu bu Lina adalah asisten rumah tangga di rumah Vania. Dia juga terlihat baik pada Vania, itulah kenapa pak Widodo mau mempersunting bu Lina dan menjadikannya istri.

Pak Widodo bahagia saat bu Lina hamil Elisa. Sebagai anak yang baik, Vania selalu membantu pekerjaan ibu tirinya. Itulah kenapa sejak saat itu tenaga Vania selalu dimanfaatkan oleh bu Lina.

Awalnya memang hanya sekedar membantu, tapi lama-kelamaan Vania malah benar-benar dijadikan pembantu oleh ibu tirinya sendiri. Apalagi saat pak Widodo melakukan perjalanan dinas ke luar kota ataupun keluar negeri, maka semakin menjadilah sikap bu Lina pada Vania. Vania yang saat itu masih kecil pun hanya bisa menerima perlakuan ibu tirinya dan hanya bisa meluapkannya dengan tangisan.

"Mah, Vania ikut sama mamah aja ya, bu Lina jahat sama Vania mah. Vania selalu disiksa saat ayah nggak ada dirumah," tangis Vania pun pecah tatkala ia mengunjungi makam sang ibu.

Sejak ditinggal ibunya, Vania memang sering ke makam sang ibu untuk sekedar melepas kangen dan curhat. Makam mamahnya Vania memang tak jauh dari rumah Vania. Pak Widodo pun memaklumi Vania karena mungkin Vania masih belum ikhlas melepas kepergian ibunya. Jika pak Widodo ada dirumah, ia pasti akan menemani Vania ke makam ibunya.

Bu Lina selalu mengancam Vania agar tak memberitahu ayahnya jika ia tak memperlakukan Vania dengan layak. Itulah kenapa Vania tak pernah bilang kalau dirinya selalu diperlakukan tak sepantasnya oleh sang ibu tiri.

Sakit hati yang ia pendam sejak kecil membuat diri Vania menjadi anak yang kuat. Ia juga memiliki dendam kesumat pada sang ibu tiri dan juga adik tirinya. Apalagi sekarang semua harta peninggalan sang ibu telah dikuasai oleh ibu dan anak itu.

"Aldo, ayo masuk," Vania menarik tangan Aldo.

"Eh tunggu," hadang bu Lina.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Anak Rahasia Sang CEO   Bab 26

    "Tapi ceritakan saja, Van. Aku siap mendengar. Siapa tahu aku bisa membantu menemukan siapa ayah bayi itu," Aldo menawarkan dirinya, suara lembutnya menenangkan. Vania menunduk, rahangnya bergetar kecil. Ia tahu, sekali membuka luka lama, seluruh dunia bisa runtuh. Tapi kalau dia bungkam, kebenaran pasti akan terungkap sendiri, dan itu lebih menakutkan. "Aku dijebak oleh Elisa. Minumanku dicampur obat... dan aku malah dijual ke pria asing..." ucapnya tertahan, kata-kata itu keluar seperti bisikan kematian bagi kebahagiaannya yang dulu. "Apa?" Aldo terhenti, mata membelalak bagai disambar petir di siang bolong. Napasnya tersengal, seolah udara di sekitarnya mendadak mengental. Vania menatap ke depan, nafasnya keluar berat, penuh beban yang tak mampu ia sembunyikan. "Aku tak menyangka Elisa bisa berbuat sejahat itu," katanya lirih, suaranya pecah oleh amarah yang membara. Aldo mengerutkan kening, suaranya seperti tercekik oleh keheranan, "Apa benar semua ini cuma soal harta?" Vani

  • Anak Rahasia Sang CEO   Bab 25

    Vania menatap kosong ke arah yang jauh, seolah mencari jawaban di cakrawala harapan yang pudar."Aku sudah memutuskan untuk mempertahankan bayi ini, Do. Mungkin aku pernah berbuat salah, tapi anak ini… dia tak berdosa. Aku tak mau menambah dosa dalam hidupku yang sudah penuh dengan penyesalan di hadapan Tuhan," jawabnya pelan, suaranya menggema dengan keteguhan yang getir sekaligus lembut. Keheningan mengisi ruang di antara mereka, seolah waktu berhenti sejenak untuk meresapi keputusan yang mengubah segalanya.Aldo menatap Vania dengan mata yang penuh perhatian, lalu mengangguk pelan."Apa pun keputusanmu, Van, aku akan selalu mendukungmu. Yang terpenting sekarang, kamu harus segera kuat dan pulih," ucapnya lembut, seolah ingin menyalurkan segenap kekuatan hidup ke dalam jiwa Vania.Vania mengangguk tanpa kata, senyum kecil yang tak sepenuhnya tulus menghiasi bibirnya. Sesaat Aldo terdiam sebelum mengulangi, "Dokter Willy bilang kondisi ayahmu sud

  • Anak Rahasia Sang CEO   bab 24

    "Besok, kau harus datang menemui dia. Perhatikan kondisinya dengan seksama, tapi jangan sekali-kali bertanya atau berkata yang bisa menambah beban pikirannya," suara dokter Willy mengandung peringatan tegas. "Emosi ibu hamil sangat berbeda dengan wanita biasa. Jadi, kau harus bisa menjaga perasaannya agar tetap stabil, jangan sampai satu kata saja memancing kemarahannya." Lanjut dokter Willy. Aldo mengangguk pelan, dadanya sesak oleh kekhawatiran yang tak kunjung reda. Mereka melangkah masuk ke ruang pemeriksaan Pak Widodo yang sunyi penuh harap. "Kondisinya mulai membaik," dokter Willy menghela napas, "Kita tinggal menunggu waktu kapan Pak Widodo membuka matanya. Mungkin butuh kesabaran ekstra, tapi aku yakin harapan itu masih ada." Kata-kata itu seperti sinar tipis yang menembus kegelapan di dada Aldo. Meski perlahan, harapan itu menguat, menggenggam erat di tengah ketidakpastian yang merayap. Di sudut lain rumah sakit, Vania menunduk, pikirannya berkecamuk dalam diam. Dua

  • Anak Rahasia Sang CEO   bab 23

    Aldo menatapnya sejenak, lalu menarik napas panjang seolah menahan badai dalam dadanya. "Baiklah… Tenangkan dirimu dulu. Jika benar ayah dari bayi itu adalah Hendra, aku yang akan menghadapinya. Aku tidak akan membiarkan kamu menanggung semua ini sendirian," ucapnya tegas, penuh tekad yang tak bisa dipungkiri. Langkah Aldo menjauh dengan ragu, melewati ruang yang terasa semakin menyesakkan. Ia tahu, ini bukan sekadar masalah biasa. Bagi Vania, ini adalah pukulan keras yang hampir menghancurkan jiwa. Bagi Aldo, ini juga tembok besar yang menandai batas antara dirinya dan Vania, bahwa mereka hanya bisa bertahan sebagai teman, tidak lebih dari itu. Vania menunduk, jari-jarinya meraba perutnya yang masih datar, suara hatinya terdengar berbisik pilu, "A-aku hamil?" Kenangan pahit itu membayang, malam saat ia terperangkap dalam jebakan Elisa, saat sosok pria itu bersamanya, bukan Hendra seperti yang disangka, tapi seseorang asing

  • Anak Rahasia Sang CEO   bab 22

    "Marta belum tahu pasti alasan ketidakhadiran nona Vania, Pak. Mungkin ada masalah internal yang kita sama sekali tak dengar," ujarnya, mencoba menenangkan suasana dengan nada tenang tapi tegas. "Ini sudah berminggu-minggu, Pak. Bukan sifatnya nona Vania yang biasa. Pasti ada sesuatu yang tersembunyi di balik semua ini." Ucap Tirta menenangkan. Perlahan, kemarahan Samuel mencair, pikirannya berputar mencoba mencerna fakta yang tersirat dari kata-kata Tirta. Ia mengangguk pelan, dengan suara yang lebih lembut tapi tetap tegas. "Kamu benar, Tirta. Sepanjang aku mengenalnya, Vania tak pernah sekalipun seperti ini. Aku akan coba menghubunginya sekarang juga." Dadanya sesak, menahan gelombang kekhawatiran yang mengusik hatinya, sebuah pertanda bahwa bukan sekadar ketidakhadiran biasa yang sedang mereka hadapi. Tirta mengangguk, setuju bahwa itu memang langkah yang lebih baik. Namun, dia masih belum tahu apa keputusan selanjutnya

  • Anak Rahasia Sang CEO   bab 21

    Reno menatap lurus ke matanya, nada suaranya mengalun meyakinkan layaknya orator ulung."Saya terpikat pada perusahaan Anda. Saya sudah menggali semuanya dengan teliti, VL Grup bukan sembarang perusahaan, melainkan bintang yang bersinar di langit bisnis desain perhiasan Indonesia. Jika nona berkenan, saya ingin menanamkan modal saya di sini. Percayakan pada saya, dan kita akan meraih sesuatu yang lebih besar." Ucap Reno.Elisa terkejut, hampir tak percaya dengan tawaran yang baru saja terserap ke dalam pikirannya."A-apa? Tuan Bernett serius? Hanya dari satu kali melihat karya saya, anda mau mempercayakan uang Anda pada VL Grup?" suaranya gemetar, tapi penuh dengan harap yang tak bisa dibendung.Reno tersenyum ringan, seperti menutup sebuah lembaran dan membuka peluang baru yang menjanjikan."Pasti, nona. Atau, beri tahu saya, apa yang paling Anda butuhkan sekarang? Bahan baku? Berlian? Apapun itu, saya siap mengaturnya. Tapi semua ini hanya akan terwujud kalau kita bekerja sama. Baga

  • Anak Rahasia Sang CEO   bab 19

    "Maaf jika kedatangan saya mengejutkan anda nona," ucap pak Nagato tak enak hati. Vania pun menggeleng dan tersenyum."Desain yang anda berikan dua Minggu yang lalu, ternyata meledak dan laku keras di pasaran nona. Banyak kaum hawa yang menyukai desain dari perhiasan ini. Rata-rata merek

  • Anak Rahasia Sang CEO   bab 18

    "Pak, Anda sudah tahu alasan saya di sini, ayah saya sedang sakit dan di rawat disini." Vania menatap tajam, suaranya berat penuh harap."Kalau memang Bapak setuju, saya siap bekerja sama dengan anda, tapi saya tak bisa meninggalkan ayah saya dan ikut ke rumah usaha Bapak." Lanjut Vania.Dahi Pak N

  • Anak Rahasia Sang CEO   bab 17

    "Bukan. Lihat ini, ada goresan kecil bertuliskan 'VL'. Ini bukan karya adik Vania, tapi karya asli Vania yang mungkin belum pernah dipublikasikan. Aku juga melihat beberapa hasil karya Vania yang diunggah di sosial media miliknya, dan itu pasti ada goresan kecil bertuliskan VL ini," ucap Xander d

  • Anak Rahasia Sang CEO   bab 16

    Ia mundur dengan hati yang berdebar, melepas perjuangan itu pada dokter dan suster-suster yang sigap. Suster pertama membuka kancing baju Pak Widodo dengan hati-hati, lalu memasang elektrokardiogram, alat kecil yang kini menjadi harapan mereka untuk mengawasi setiap denyut jantung ayahnya.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status