Home / Romansa / Anak dari Sang CEO / Bab 1. Rindu yang tak pernah padam

Share

Anak dari Sang CEO
Anak dari Sang CEO
Author: Lovely Pearly

Bab 1. Rindu yang tak pernah padam

Author: Lovely Pearly
last update Last Updated: 2025-11-01 13:21:51

Hujan kembali turun malam itu. Rintiknya menari di atas genting, menciptakan irama lembut yang bagi sebagian orang terdengar menenangkan, namun tidak bagi Arra. Bagi wanita itu, hujan selalu menjadi pengingat tentang sesuatu yang ingin ia lupakan dan tentang seseorang yang tak pernah benar-benar bisa ia lepaskan.

Dari balik jendela kecil rumah kontrakan sederhananya, Arra memandangi jalanan yang basah. Cahaya lampu jalan berpendar lembut, memantul di permukaan genangan air yang menutup tanah. Aroma tanah basah berpadu dengan wangi kayu lembap, memenuhi ruangan mungil berukuran tiga kali empat meter itu.

“Mami, mobil-mobilannya tenggelam!”

Suara kecil itu memecah lamunannya. Arra menoleh.

Di ruang tengah, seorang bocah laki-laki berusia lima tahun tengah berjongkok, menatap serius ke arah ember berisi beberapa mobil mainan yang terapung di dalamnya. Wajahnya bulat, kulitnya cerah, dan sepasang mata tajam itu begitu mirip dengan milik seseorang yang dulu pernah ia cintai sepenuh hati.

“Rafa, sudah malam. Ayo, waktunya tidur,” ucap Arra lembut sambil menghampiri bocah itu.

“Tapi mobilnya belum diselamatin, Mami. Kasihan nanti kedinginan.”

Arra tak kuasa menahan tawa kecil. “Nanti mereka bisa sakit, ya, kalau kedinginan?”

Rafa mengangguk sungguh-sungguh, membuat Arra tersenyum dan menepuk lembut puncak kepalanya.

“Baiklah. Mami bantu selamatin mereka, tapi habis itu langsung tidur. Janji?”

“Janji!” serunya riang.

Mereka pun mengangkat satu per satu mobil mainan itu, mengeringkannya dengan tisu, lalu menatanya di rak kayu di sudut ruangan. Setelah selesai, Arra menggendong Rafa menuju kamar kecil yang dindingnya mulai retak di beberapa bagian.

Ia membaringkan bocah itu di atas ranjang mungil yang tertutup selimut biru lusuh. Rafa menggeliat sebentar, lalu memeluk erat boneka dinosaurus kesayangannya.

Arra menatap wajah kecil itu dengan lembut dan di balik senyum tipisnya, ada rindu yang diam-diam kembali menyesakkan dada.

“Mami…,” panggilnya pelan, suaranya nyaris tenggelam di antara kantuk.

Arra menoleh lembut. “Ya, sayang?”

“Kenapa Mami selalu sedih kalau lihat hujan?”

Pertanyaan itu menghantam Arra seperti belati halus yang diselipkan di antara tulang rusuknya. Ia terdiam, menatap wajah polos anaknya yang kini menunggu jawaban dengan mata setengah terpejam.

“Mami nggak sedih, kok.”

Rafa mengerjap, lalu bergumam lirih, “Bohong …. Mata Mami berair terus setiap hujan datang. Rafa nggak suka hujan yang bikin Mami nangis.”

Arra menunduk, jemarinya terulur membelai rambut halus anak itu. “Tidur, ya, sayang. Besok Mami harus kerja pagi.”

“Rafa sayang Mami …,” bisiknya pelan, sebelum tenggelam dalam lelap.

Hening kembali memenuhi kamar. Arra tetap duduk di sisi ranjang, memandangi wajah kecil itu. Damai, tanpa beban, tanpa tahu berapa banyak luka yang ibunya simpan.

“Maafin Mami, Rafa dan terima kasih sudah mau menemani Mami di sini,” ucapnya lirih. Air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh juga. Ia cepat-cepat menyekanya, takut Rafa terbangun.

Sudah lima tahun berlalu sejak malam itu. Malam ketika ia memutuskan pergi, meninggalkan satu-satunya pria yang benar-benar ia cintai. Revan Alendra. Nama yang masih bergema di kepalanya, bahkan setelah bertahun-tahun ia berusaha memadamkannya dari ingatan.

Dulu, Arra adalah gadis ceria dengan mimpi sederhana. Bekerja, menikah dengan pria yang ia cintai, dan membangun keluarga kecil yang hangat. Namun semuanya hancur hanya karena satu malam, satu keputusan dan satu rasa takut. Ia masih mengingat dengan jelas wajah Revan malam itu, lelah, tapi tetap lembut. Suaranya hangat ketika menyebut nama Arra, membuat hati wanita itu selalu tenang. Namun dalam hitungan detik, semua berubah menjadi luka.

“Kamu akan menikah dengan putri rekan bisnis Papa. Ini bukan tawaran, ini keputusan.”

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya hingga kini. Ia mendengarnya langsung, tanpa sengaja, dari balik pintu ruang kerja keluarga Alendra. Dan sejak malam itu, Arra tahu, dirinya tidak akan pernah cukup untuk Revan. Maka ia pergi. Tanpa menjelaskan apa pun, tanpa memberi kesempatan bagi Revan untuk memilih, tanpa sempat memberitahunya bahwa di dalam tubuhnya tengah tumbuh kehidupan kecil, buah cinta mereka.

Arra menatap tangannya yang kurus, lalu mengusap lembut pipi Rafa. Anak itu tumbuh sehat, ceria, dan pintar. Jauh lebih kuat daripada dirinya. Namun setiap kali Arra menatap mata Rafa, rasa bersalah itu selalu datang kembali. Karena di sana, di dalam sorot mata itu, ia selalu melihat Revan.

Jarum jam di dinding menunjuk pukul sembilan malam. Arra berdiri, mematikan lampu kamar, lalu melangkah perlahan ke dapur kecil di sudut rumah. Ia menuang air panas ke dalam cangkir, memandangi uap yang perlahan mengepul, seolah membawa segala kenangan yang ingin ia lupakan.

Besok, hari penting menantinya. Perusahaan tempatnya bekerja sebagai staf administrasi akan diakuisisi oleh perusahaan besar. Semua karyawan gelisah, takut akan perubahan. Tapi Arra hanya punya satu harapan sederhana. Semoga hari esok berjalan tenang tanpa kejutan apa pun.

***

Pagi itu, Arra tampak sibuk seperti biasa. Ia menyiapkan sarapan dan bekal sederhana untuk mereka berdua, sambil sesekali melirik jam dinding yang terus berdetak seolah mengingatkannya agar tak terlambat. Setelah semuanya siap, ia membantu Rafa mengenakan seragam TK, merapikan kerah bajunya, lalu menyisir rambut halus anak itu dengan penuh kasih.

Sedikit parfum disemprotkan di leher kecil Rafa, wangi lembut yang segera memenuhi ruangan. Bocah itu tampak begitu tampan pagi itu. Senyum lebarnya memperlihatkan lesung pipi di sisi kanan, begitu mirip dengan seseorang yang dulu pernah mengisi seluruh hatinya, Revan Alendra.

“Mami, Rafa udah ganteng belum?”

Nada manja dan menggemaskan itu membuat Arra tak kuasa menahan senyum. Ia menunduk, mengecup pipi kanan Rafa dengan lembut.

“Udah dong! Ganteng banget! Anak Mami paling ganteng sedunia!”

Arra terkekeh kecil, tapi di balik tawanya, ada semburat haru yang tak bisa ia sembunyikan. Tatapan matanya melembut, di hadapannya kini seolah berdiri Revan dalam wujud kecil yang polos dan penuh cahaya. Air matanya nyaris jatuh ketika Rafa tiba-tiba berkata,

“Tuh kan, Mami nangis lagi, kayak kemarin malam pas hujan turun.”

Arra menahan tawa yang tercampur isak, mengusap cepat sudut matanya.

“Mami nggak nangis, sayang. Mami cuma keinget seseorang ….”

“Seseorang? Siapa? Tante Dinda atau Om Niko? Biar Rafa pukul aja! Mereka jahat udah bikin Mami nangis!”

Anak kecil itu mencemberut, wajahnya penuh keseriusan yang malah membuat Arra tertawa kecil.

“Siapa yang ngajarin pukul-pukul gitu? Mami nggak pernah loh!”

“Om Niko!” jawabnya cepat. “Om Niko bilang, kalau ada yang bikin Mami nangis, Rafa harus pukul!” Rafa mengepalkan tinjunya kecil-kecil, seolah siap berkelahi demi Maminya.

Arra menggeleng sambil tersenyum, lalu mencubit lembut hidung anaknya. “Jangan dengerin Om Niko. Emangnya kamu mau pukul Papi kamu?”

Rafa langsung menatap Arra dengan mata membulat, terkejut. “Papi? Mami kangen Papi, ya?”

Pertanyaan itu membuat dada Arra menghangat dan nyeri di saat yang sama. Tangan mungil Rafa menggenggam tangannya, menempelkannya di pipinya yang chubby.

“Iya …,” jawab Arra pelan, senyumnya sendu. Ia mengusap lembut pipi Rafa.

“Kalau gitu, liat Rafa aja sepuas Mami! Soalnya Rafa kan mirip Papi.”

Kalimat polos itu membuat Arra terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum kecil. Matanya menatap wajah anak itu dengan rasa syukur yang dalam. Rafa memang sangat perhatian, persis seperti ayahnya.

Dan di saat-saat seperti ini, Arra tahu ... bagaimana mungkin ia bisa benar-benar melupakan Revan?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak dari Sang CEO   Bab 50. Tinggal bersama

    Malam semakin larut, namun Revan tak kunjung datang. Arra sudah siap untuk pulang; bahkan Rafa, yang sejak tadi menunggu dengan penuh antusias, kini tertidur lelap. Ada rasa tidak enak yang mengganjal di hati Arra—ia merasa telah merepotkan pria itu.Sebenarnya, Arra sempat berniat pulang berdua dengan Rafa menggunakan taksi online. Namun Revan melarangnya dan meminta Arra menunggu sebentar, dengan alasan ia sedang mengurus urusan pribadi.Arra menghela napas pelan, jemarinya terangkat memijat pelipis yang mulai terasa berdenyut. Dinda dan Niko sudah lebih dulu pulang. Sebelum pergi, Arra sempat menceritakan pada Dinda tentang hubungannya dengan Revan dan meminta sahabatnya itu untuk merahasiakannya. Untung saja, Dinda mengerti.Tiba-tiba, pintu ruang rawat Rafa terbuka. Revan muncul dengan penampilan yang sedikit kusut. Seketika rasa bersalah Arra kian menguat. Siapa tahu Revan sebenarnya sedang sibuk bekerja, dan kehadirannya justru menghambat. Seharusnya tadi ia bersikeras pulang n

  • Anak dari Sang CEO   Bab 49. Arra mengaku ke Dinda

    Setibanya di basement, Revan melihat Kevin berdiri di depan mobil sambil mengamati sekitar. Begitu melihat Revan keluar dari pintu rumah sakit, Kevin segera menghampirinya.“Selanjutnya, Pak?”“Kita belanja kebutuhan Arra dan Rafa. Hari ini hari terakhir Rafa dirawat. Saya akan membawa mereka ke apartemen saya, dan mulai hari ini kami bertiga tinggal bersama,” ujar Revan tegas.Ia sudah mantap mengambil keputusan itu. Arra dan putranya akan tinggal bersamanya. Tapi sebelum itu, ia harus membeli semua kebutuhan mereka terlebih dahulu. Setelahnya, ia akan membujuk Arra secara perlahan.“Baik, Pak. Kita pergi sekarang?”“Iya. Kali ini kita belanja banyak. Baju wanita, mainan anak, dan semua yang dibutuhkan.”“Siap, Pak.”Kevin membuka pintu penumpang dan mempersilakan Revan masuk, lalu segera membawa mobil menuju pusat perbelanjaan.***“Astaga, Rafa! Kamu nggak apa-apa, kan?!” teriak Dinda histeris. Ia baru saja datang untuk menjenguk “keponakan tersayang”-nya. Meski bukan keponakan kan

  • Anak dari Sang CEO   Bab 48. Kebenaran di atas kertas

    Kertas di tangan Revan bergetar. Lututnya lemas, memaksanya jatuh terduduk di kursi yang tadi diduduki Gunawan. Napasnya tercekat di tenggorokan.Benar. Selama ini instingnya tidak keliru.Rafa adalah anaknya—darah dagingnya sendiri.Dalam dua detik pertama, Revan merasakan kelegaan yang luar biasa, seolah beban ribuan ton terangkat dari pundaknya. Ia tidak gila. Ia tidak halu. Rafa benar-benar putranya.Namun detik berikutnya, gelombang emosi lain menghantam jauh lebih keras: rasa bersalah, penyesalan, dan kesedihan yang dalam.Revan menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Di dalam kesunyian ruang pribadi Gunawan itu, pertahanan seorang Revan Alendra runtuh total.Bahu tegapnya berguncang hebat. Isak yang selama ini tertahan pecah dari bibirnya, berubah menjadi raungan pilu yang menyayat hati.“Ya Tuhan…” rintihnya di sela tangis.Bayangan lima tahun terakhir berputar di kepalanya seperti sebuah film dokumenter yang kejam.Ia membayangkan Arra hamil sendirian—mungkin muntah-muntah

  • Anak dari Sang CEO   Bab 47. Hasil

    Kevin: “Hasilnya sudah keluar, Pak. Saya masih di Rumah Sakit Cipto. Saya tunggu di sini. Kata Dokter Gunawan, beliau ingin bertemu Bapak secara langsung.”Revan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Saatnya telah tiba. Ia tahu persis alasan Gunawan ingin menemuinya. Pria itu pasti bertanya-tanya—bagaimana mungkin Revan memiliki seorang anak, sementara ia belum menikah dan bahkan belum pernah menyebarkan undangan pernikahan.Revan berdiri, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia berusaha memasang wajah setenang mungkin, topeng seorang CEO yang selalu ia kenakan saat menghadapi krisis perusahaan.“Arra,” panggil Revan.Arra menoleh sambil meletakkan piring buahnya. “Ya, Van? Kenapa?”“Aku harus ke perusahaan sebentar. Kevin bilang ada berkas kontrak yang harus aku tanda tangani sekarang juga. Urgent,” kata Revan lancar, berbohong tanpa ragu.“Oh, iya, Van. Silakan. Kamu pasti sibuk sekali,” ucap Arra dengan nada bersalah. “Maaf ya, gara-gara nemenin kita di sini ka

  • Anak dari Sang CEO   Bab 46. Menunggu hasil

    Revan kembali duduk di kursi di samping ranjang Rafa. Jantungnya masih berdegup kencang, sisa adrenalin dari kejadian tadi. Ia menatap Rafa yang kini tampak tenang, asyik menonton kartun di televisi dinding.“Om, tadi temennya Om bawa makanan apa?” tanya Rafa tanpa mengalihkan pandangan dari layar.“Bubur ayam spesial buat kita bertiga, sama kopi buat Om,” jawab Revan. Suaranya sudah kembali normal.Revan menyandarkan punggungnya ke kursi. Rasa bersalah perlahan merayap di dadanya karena melakukan semua ini tanpa sepengetahuan Arra. Jika Arra tahu ia mengambil sampel Rafa diam-diam, perempuan itu pasti marah besar. Seolah-olah Revan sedang berusaha merebut anaknya.Namun Revan tak punya pilihan.Bayangan wajah mommy-nya kemarin kembali terlintas. Tamparan itu. Tatapan penuh kebencian saat Mirna menyerang Arra tanpa ampun. Ia tahu, mommy-nya tidak akan berhenti. Jika suatu hari Revan mengakui Rafa sebagai anaknya di hadapan keluarga besar Alendra, Mirna pasti akan menyangkal habis-habi

  • Anak dari Sang CEO   Bab 45. Tes DNA

    “Om Revan tahu nggak? Mainan yang Om kasih itu, Rafa suka banget. Rexi jadi punya teman,” kata Rafa antusias sambil terkekeh. “Sekarang Rexi kayak pemimpin perang di kerajaan.”“Bagus kalau Rafa suka. Nanti Om belikan yang lain. Kamu mau apa?” tanya Revan.Rafa tampak berpikir sejenak. Namun, ia teringat pesan maminya—ia tidak boleh meminta apa pun kepada orang lain selain maminya. Katanya, itu tidak sopan.“Enggak usah, Om. Temannya Rexi yang kemarin aja sudah cukup. Rafa sudah senang kok. Kata Mami, nggak boleh minta mainan ke orang lain,” ujarnya polos.“Om ini bukan orang lain,” sahut Revan lembut. “Jadi bilang saja, kamu mau apa?”Melihat wajah Revan yang tampak sungguh-sungguh dan tidak bercanda, Rafa akhirnya mengungkapkan keinginannya.“Rafa mau mainan robot, Om. Namanya apa ya… Former? Pokoknya mirip itu.”“Transformers?” tebak Revan.“Iya, itu!” Rafa mengangguk semangat. “Mainan kayak punya teman Rafa yang selalu dibawa ke sekolah.”Revan tersenyum, lalu mengelus rambut Rafa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status