LOGINPagi itu, Arra melangkah tergesa memasuki gedung kantor. Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya, berpadu dengan suasana tegang yang terasa di setiap sudut. Sejumlah karyawan terlihat sudah berbaris rapi di lobi, seolah tengah bersiap menyambut bos baru mereka. Pemilik perusahaan yang baru saja melakukan akuisisi.
Dengan langkah cepat, Arra menuju meja kerjanya yang berada di deretan tengah ruangan. Di sana, Dinda, sahabat sekaligus rekan sekantornya, sedang sibuk merapikan make up tipis di depan cermin kecil. Arra spontan teringat bahwa ia sendiri hanya sempat memoles bedak tipis dan mengikat rambutnya dengan gaya kuncir kuda. Ia pun buru-buru mengurai rambutnya, mengoleskan sedikit pelembap di bibir, lalu merapikan kerah blusnya. “Arra, sumpah ya … aku deg-degan banget! Kira-kira bos barunya galak nggak, sih?” keluh Dinda, menghampiri sambil menatap gugup ke arah pintu utama. “Hsst, kamu jangan ngomong gitu, nanti kedengeran,” bisik Arra sambil menahan senyum. “Tapi, Ra … aku denger katanya bos barunya tuh ganteng banget. Gaya-nya cool, tapi cuek dan galak gitu,” ucap Dinda penuh semangat. Arra menatap sahabatnya sambil tersenyum geli. “Yakin? Kamu dapet info dari mana? Kita semua aja belum tahu wajahnya kayak gimana. Jangan buru-buru bikin kesimpulan, Din. Siapa tahu bosnya kayak yang dulu.” Dinda langsung merinding, membayangkan bos lama mereka yang berkepala botak, perut buncit, dan berjenggot tipis. “Ih, jangan dibayangin, Ra! Tapi katanya nih, yang ngambil alih perusahaan kita tuh orang Alendra!” katanya, kini dengan nada antusias. Sekejap saja, jantung Arra berdetak kencang. Ia menatap Dinda dengan ekspresi kaget, seolah kata itu baru saja menghidupkan kembali sesuatu yang sudah lama ia kubur dalam-dalam. “Kenapa? Kok liat aku gitu?” tanya Dinda dengan suara kecil, mulai gelisah. “Kamu bilang siapa tadi?” tanya Arra pelan, hampir berbisik. “Orang Alendra. Katanya perusahaan keluarga Alendra yang mengakuisisi tempat kita.” Darah Arra seolah berhenti mengalir. Kepalanya mendadak ringan, dan tubuhnya limbung. Untung Dinda sigap memeganginya sebelum ia jatuh. “Arra?! Kamu kenapa?” seru Dinda panik, menatap wajah sahabatnya yang tiba-tiba memucat. Bahunya bergetar halus, matanya tampak kosong dan gelisah. “Hey, Arra!” Arra mencoba menarik napas dalam-dalam, memaksa dirinya tenang. Perlahan, ia melepaskan pegangan Dinda dan berdiri tegak, berusaha menutupi gejolak di dadanya. Ia tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip upaya menyembunyikan gemuruh. “Aku nggak apa-apa, Din. Cuma agak pusing aja, belum sempat sarapan,” ucapnya pelan, berbohong. Padahal pagi tadi ia sudah sarapan bersama Rafa. Ia hanya berharap nama Alendra yang dimaksud bukan Revan Alendra. Dinda mengembuskan napas lega. “Kirain kenapa. Oke, nanti habis acara penyambutan bos baru, kita makan bareng di kantin, ya? Biar kamu nggak pingsan.” “Nggak usah, aku udah minum Energen tadi pagi,” elak Arra sambil tersenyum. “Energen doang? Nggak cukup, tau! Pokoknya nanti kamu makan dikit, ya. Aku nggak mau dapet laporan kalo karyawan bernama Arra Prameswari tumbang gara-gara kelaparan. No, no, no!” oceh Dinda heboh. Arra terkekeh kecil. “Iya, iya, Baginda Ratu. Nurut, deh.” Dinda mendengus pura-pura sebal, tapi senyumnya lembut. Arra menatapnya dengan rasa hangat di dada. Di tengah segala kekhawatiran yang mulai menyusup, ia tahu satu hal pasti, ia masih punya seseorang yang peduli padanya. Suasana di lobi pagi itu terasa lebih tegang dari biasanya. Semua karyawan berdiri rapi, berbaris dengan penuh wibawa, menanti kedatangan bos baru mereka, pemimpin perusahaan yang baru saja melakukan akuisisi besar. Arra berdiri di samping Dinda, mencoba menenangkan diri meski jantungnya berdetak tak beraturan. Dari balik dinding kaca, deretan mobil mewah mulai berhenti di depan pintu utama. Salah satunya menarik perhatian Arra. Pintu mobil itu terbuka perlahan, memperlihatkan sosok seseorang yang melangkah keluar dengan tenang. Arra menunduk sopan, menahan napas. Ia tak berani menatap siapa pun. Langkah sepatu kulit terdengar menggema di seluruh aula, mantap dan berwibawa. Dari ujung mata, ia bisa melihat sepintas, jas hitam elegan, kemeja putih bersih, jam tangan mahal, dan sepatu mengilap. Langkah itu berhenti tepat di depannya. Arra bisa merasakan kehadiran pria itu begitu dekat hingga dadanya terasa sesak. Namun tatapan pria itu tetap lurus ke depan, tak menoleh sedikit pun. Tiba-tiba, sebuah tepukan ringan di bahunya membuat Arra menoleh kaget. “Ra, kamu bisa bantu saya bentar?” Suara Niko, manager keuangan, memecah ketegangan. Arra hampir berteriak karena refleks gugupnya sendiri. Pria yang berdiri di depan mereka sempat menoleh ke arah suara itu. Pandangannya tertumbuk pada sosok wanita dengan rambut panjang terurai, berdiri membelakangi nya. Ia tak bisa melihat wajahnya jelas, namun bentuk tubuh itu terasa begitu familiar, seolah pernah sangat ia kenal. “Mari, Pak. Panggung sudah siap untuk penyambutan,” ucap sang asisten di samping pria itu. Pria itu mengangguk pelan, lalu melangkah naik ke atas panggung kecil yang telah disiapkan. Sementara itu, Arra menatap Niko dan menjawab dengan sopan, “Baik, Pak Niko. Saya ambil dulu bunganya di luar.” Ia berpamitan pada Dinda lalu bergegas keluar. Di depan gerbang, tukang ojek online telah datang membawa bucket bunga untuk seremoni penyambutan. Setelah mengucapkan terima kasih, Arra segera kembali menuju aula utama. Namun langkahnya tiba-tiba melambat. Dari kejauhan, di atas panggung, ia melihat sosok yang tak asing. Pria itu berdiri tegap dengan jas hitamnya, berbicara penuh wibawa di depan seluruh karyawan. Suaranya, posturnya, bahkan caranya memegang mikrofon, semuanya terasa terlalu familiar. Jantung Arra seolah berhenti berdetak. Tatapannya membeku pada satu titik, pada wajah pria itu. Wajah yang sudah lima tahun tak pernah ia lihat, namun tak pernah benar-benar bisa ia lupakan. Revan Alendra. Nama itu bergema di kepalanya. Dunia seakan berhenti berputar. “Arra! Kemari, bawa bucket bunganya ke sini,” panggil Niko melalui mikrofon. Revan menoleh ke arah suara itu dan pandangannya langsung jatuh pada sosok wanita yang kini berdiri di tengah ruangan. Ia terpaku. Tubuhnya menegang. Matanya tak berkedip. “Arra?” panggil Niko lagi. Arra tersadar dari lamunannya. Ia buru-buru menghapus air mata yang tanpa sadar sudah mengalir di pipi, menarik napas panjang, lalu melangkah perlahan menuju panggung. Setiap langkah terasa berat, seolah membawanya kembali ke masa lalu yang selama ini ia hindari. Kini, ia berdiri tepat di depan Revan. Untuk sesaat, waktu seperti berhenti. “Selamat datang di perusahaan kami, Pak,” ucap Arra pelan namun tegas, mencoba bersikap profesional. Ia menyerahkan bucket bunga dengan senyum sopan, senyum yang bergetar halus di ujung bibirnya. Revan tidak langsung menyambut. Tatapannya menelusuri wajah Arra, wajah yang sama, hanya kini tampak lebih dewasa, lebih lelah, dan lebih kuat. Lalu, dengan gerakan pelan, ia mengambil bunga itu. “Terima kasih,” ucapnya datar. Suaranya dalam, tenang, namun menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Bagi Arra, mendengar suara itu lagi adalah tamparan perasaan. Lima tahun berlalu, dan nada suaranya masih sama, tegas, menenangkan, dan menyakitkan di waktu bersamaan. “Saya izin pamit,” ucap Arra cepat, menunduk sopan sebelum turun dari panggung. Ia kembali ke sisi Dinda yang sudah menunggunya dengan mata berbinar. “Sumpah, Ra! Gimana rasanya?” tanya Dinda bersemangat. “Rasa apaan, sih! Udah, diam, fokus,” elak Arra cepat, mencoba menahan gejolak dalam dirinya. “Rasanya ngomong sama Pak CEO gimana? Deg-degan, kan? Ganteng banget, kan? Wangi banget pasti! Parfumnya kayaknya mahal banget tuh, Ra!” Arra hanya tersenyum kecil, pandangannya kembali terarah pada panggung. Revan tengah berbicara dengan nada tegas, menjelaskan beberapa kebijakan baru perusahaan. Namun bagi Arra, semua suara lain seolah hilang. Yang tersisa hanyalah aroma parfum yang sama, aroma yang dulu selalu melekat pada Revan, aroma yang kini kembali menembus waktu dan ruang. “Kamu mau beli parfum yang mana?” “Yang ini, wangi banget. Aku suka.” “Yaudah, kita beli yang sama, ya.” “Tapi mahal, Van. Cukup beli satu aja, nanti aku minta kamu.” “Buat kamu, nggak ada kata mahal.” Kenangan itu menghantamnya tanpa ampun. Arra menunduk pelan, berusaha menelan rasa perih yang tiba-tiba datang menyerbu. Wangi itu masih sama. Suara itu masih sama. Hanya jarak di antara mereka yang kini berbeda. “Maafkan aku, Revan …,” bisiknya nyaris tak terdengar. “Semua ini demi kebaikan kamu.”Malam semakin larut, namun Revan tak kunjung datang. Arra sudah siap untuk pulang; bahkan Rafa, yang sejak tadi menunggu dengan penuh antusias, kini tertidur lelap. Ada rasa tidak enak yang mengganjal di hati Arra—ia merasa telah merepotkan pria itu.Sebenarnya, Arra sempat berniat pulang berdua dengan Rafa menggunakan taksi online. Namun Revan melarangnya dan meminta Arra menunggu sebentar, dengan alasan ia sedang mengurus urusan pribadi.Arra menghela napas pelan, jemarinya terangkat memijat pelipis yang mulai terasa berdenyut. Dinda dan Niko sudah lebih dulu pulang. Sebelum pergi, Arra sempat menceritakan pada Dinda tentang hubungannya dengan Revan dan meminta sahabatnya itu untuk merahasiakannya. Untung saja, Dinda mengerti.Tiba-tiba, pintu ruang rawat Rafa terbuka. Revan muncul dengan penampilan yang sedikit kusut. Seketika rasa bersalah Arra kian menguat. Siapa tahu Revan sebenarnya sedang sibuk bekerja, dan kehadirannya justru menghambat. Seharusnya tadi ia bersikeras pulang n
Setibanya di basement, Revan melihat Kevin berdiri di depan mobil sambil mengamati sekitar. Begitu melihat Revan keluar dari pintu rumah sakit, Kevin segera menghampirinya.“Selanjutnya, Pak?”“Kita belanja kebutuhan Arra dan Rafa. Hari ini hari terakhir Rafa dirawat. Saya akan membawa mereka ke apartemen saya, dan mulai hari ini kami bertiga tinggal bersama,” ujar Revan tegas.Ia sudah mantap mengambil keputusan itu. Arra dan putranya akan tinggal bersamanya. Tapi sebelum itu, ia harus membeli semua kebutuhan mereka terlebih dahulu. Setelahnya, ia akan membujuk Arra secara perlahan.“Baik, Pak. Kita pergi sekarang?”“Iya. Kali ini kita belanja banyak. Baju wanita, mainan anak, dan semua yang dibutuhkan.”“Siap, Pak.”Kevin membuka pintu penumpang dan mempersilakan Revan masuk, lalu segera membawa mobil menuju pusat perbelanjaan.***“Astaga, Rafa! Kamu nggak apa-apa, kan?!” teriak Dinda histeris. Ia baru saja datang untuk menjenguk “keponakan tersayang”-nya. Meski bukan keponakan kan
Kertas di tangan Revan bergetar. Lututnya lemas, memaksanya jatuh terduduk di kursi yang tadi diduduki Gunawan. Napasnya tercekat di tenggorokan.Benar. Selama ini instingnya tidak keliru.Rafa adalah anaknya—darah dagingnya sendiri.Dalam dua detik pertama, Revan merasakan kelegaan yang luar biasa, seolah beban ribuan ton terangkat dari pundaknya. Ia tidak gila. Ia tidak halu. Rafa benar-benar putranya.Namun detik berikutnya, gelombang emosi lain menghantam jauh lebih keras: rasa bersalah, penyesalan, dan kesedihan yang dalam.Revan menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Di dalam kesunyian ruang pribadi Gunawan itu, pertahanan seorang Revan Alendra runtuh total.Bahu tegapnya berguncang hebat. Isak yang selama ini tertahan pecah dari bibirnya, berubah menjadi raungan pilu yang menyayat hati.“Ya Tuhan…” rintihnya di sela tangis.Bayangan lima tahun terakhir berputar di kepalanya seperti sebuah film dokumenter yang kejam.Ia membayangkan Arra hamil sendirian—mungkin muntah-muntah
Kevin: “Hasilnya sudah keluar, Pak. Saya masih di Rumah Sakit Cipto. Saya tunggu di sini. Kata Dokter Gunawan, beliau ingin bertemu Bapak secara langsung.”Revan menghembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan. Saatnya telah tiba. Ia tahu persis alasan Gunawan ingin menemuinya. Pria itu pasti bertanya-tanya—bagaimana mungkin Revan memiliki seorang anak, sementara ia belum menikah dan bahkan belum pernah menyebarkan undangan pernikahan.Revan berdiri, lalu memasukkan ponselnya ke saku celana. Ia berusaha memasang wajah setenang mungkin, topeng seorang CEO yang selalu ia kenakan saat menghadapi krisis perusahaan.“Arra,” panggil Revan.Arra menoleh sambil meletakkan piring buahnya. “Ya, Van? Kenapa?”“Aku harus ke perusahaan sebentar. Kevin bilang ada berkas kontrak yang harus aku tanda tangani sekarang juga. Urgent,” kata Revan lancar, berbohong tanpa ragu.“Oh, iya, Van. Silakan. Kamu pasti sibuk sekali,” ucap Arra dengan nada bersalah. “Maaf ya, gara-gara nemenin kita di sini ka
Revan kembali duduk di kursi di samping ranjang Rafa. Jantungnya masih berdegup kencang, sisa adrenalin dari kejadian tadi. Ia menatap Rafa yang kini tampak tenang, asyik menonton kartun di televisi dinding.“Om, tadi temennya Om bawa makanan apa?” tanya Rafa tanpa mengalihkan pandangan dari layar.“Bubur ayam spesial buat kita bertiga, sama kopi buat Om,” jawab Revan. Suaranya sudah kembali normal.Revan menyandarkan punggungnya ke kursi. Rasa bersalah perlahan merayap di dadanya karena melakukan semua ini tanpa sepengetahuan Arra. Jika Arra tahu ia mengambil sampel Rafa diam-diam, perempuan itu pasti marah besar. Seolah-olah Revan sedang berusaha merebut anaknya.Namun Revan tak punya pilihan.Bayangan wajah mommy-nya kemarin kembali terlintas. Tamparan itu. Tatapan penuh kebencian saat Mirna menyerang Arra tanpa ampun. Ia tahu, mommy-nya tidak akan berhenti. Jika suatu hari Revan mengakui Rafa sebagai anaknya di hadapan keluarga besar Alendra, Mirna pasti akan menyangkal habis-habi
“Om Revan tahu nggak? Mainan yang Om kasih itu, Rafa suka banget. Rexi jadi punya teman,” kata Rafa antusias sambil terkekeh. “Sekarang Rexi kayak pemimpin perang di kerajaan.”“Bagus kalau Rafa suka. Nanti Om belikan yang lain. Kamu mau apa?” tanya Revan.Rafa tampak berpikir sejenak. Namun, ia teringat pesan maminya—ia tidak boleh meminta apa pun kepada orang lain selain maminya. Katanya, itu tidak sopan.“Enggak usah, Om. Temannya Rexi yang kemarin aja sudah cukup. Rafa sudah senang kok. Kata Mami, nggak boleh minta mainan ke orang lain,” ujarnya polos.“Om ini bukan orang lain,” sahut Revan lembut. “Jadi bilang saja, kamu mau apa?”Melihat wajah Revan yang tampak sungguh-sungguh dan tidak bercanda, Rafa akhirnya mengungkapkan keinginannya.“Rafa mau mainan robot, Om. Namanya apa ya… Former? Pokoknya mirip itu.”“Transformers?” tebak Revan.“Iya, itu!” Rafa mengangguk semangat. “Mainan kayak punya teman Rafa yang selalu dibawa ke sekolah.”Revan tersenyum, lalu mengelus rambut Rafa







