Beranda / Romansa / Anak dari Sang CEO / Bab 32. Makan siang bertiga

Share

Bab 32. Makan siang bertiga

Penulis: Lovely Pearly
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-03 16:32:20

Revan menatap Arra yang sesekali melirik ke arahnya dan Rafa. Ia sangat yakin. Perlahan, hati Arra mulai melunak. Revan tak akan menyerah untuk mendapatkan Arra kembali. Ia tahu, jauh di lubuk hati wanita itu masih tersimpan rasa cinta padanya. Arra menjauh bukan karena perasaannya hilang, melainkan karena bayang-bayang orang tua Revan. Dan kini, yang perlu ia lakukan hanyalah membuat Arra kembali percaya dan merasa aman bergantung padanya.

“Oh iya, tunggu sebentar. Om juga bawa hadiah buat kamu, sama makan siang kita,” ucap Revan sambil mengecup pelipis putranya, lalu tersenyum ke arah Arra.

Ia kembali ke mobil dan membuka bagasi belakang. Dari sana, Revan mengeluarkan berbagai mainan dinosaurus yang ia pesan semalam, disusul dua kotak pizza untuk Arra dan Rafa.

Melihat Revan membawa banyak barang, Arra merasa tak tega. Ada rasa haru yang menyelinap di dadanya melihat perhatian pria itu pada Rafa. Ia pun membantu membawa sebagian barang. Rafa sendiri terlihat paling bersemangat, meme
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Anak dari Sang CEO   Bab 36. Revan ketika cemburu

    Revan membanting tabletnya ke atas meja dengan keras.Brak!Guncangannya membuat kopi di dalam cangkir bergoyang sebelum akhirnya tumpah sedikit, menodai taplak meja putih bersih. Rahang Revan mengeras, urat-urat di lehernya menonjol. Napasnya memburu, cepat dan berat, dipacu oleh panas yang membakar dadanya.“Sialan,” desisnya.Ia berusaha menetralkan perasaan cemburu yang menyerangnya saat melihat Arra pergi bersama pria lain. Namun, semakin ia mencoba mengabaikannya, pikiran itu justru kian mengusik. Revan benar-benar tidak suka melihat Arra tertawa bersama Niko. Terlebih karena sampai saat ini Arra masih menjaga jarak darinya. Sikap itu menimbulkan rasa iri yang menyengat. Arra bersikap berbeda padanya, meski Revan sudah berusaha mendekat dengan cara yang baik. Namun Arra tetap menghindar.Revan tahu, Niko adalah pria baik. Pria yang telah menjaga Arra selama dua tahun terakhir di perusahaan ini, jauh sebelum Revan menjabat. Apalagi Niko terlihat begitu akrab dengan Rafa. Fakta it

  • Anak dari Sang CEO   Bab 35. Revan terlambat

    Pagi itu, matahari bersinar cerah di langit Jakarta. Cahayanya jatuh tanpa ampun, seolah mengejek kekalutan hati Arra yang masih diselimuti mendung, sisa tangisan semalam yang belum sepenuhnya mengering.“Mami! Rafa udah siap!” seru Rafa dari arah teras, berlari kecil dengan ransel yang hampir lebih besar dari punggungnya sendiri.Arra menoleh, lalu tersenyum tipis. Ia berjongkok, merapikan rambut putranya yang sedikit berantakan.“Pinter banget anak Mami. Yuk, kita berangkat. Nanti keburu telat.”Mereka melangkah keluar rumah, meninggalkan keheningan pagi yang masih setengah terjaga.Baru saja tiba di pinggir jalan raya untuk menunggu taksi, sebuah mobil SUV berwarna silver menepi perlahan di depan mereka. Suaranya halus, nyaris tak mengganggu hiruk-pikuk pagi yang mulai ramai.Kaca jendela diturunkan. Wajah Niko yang ramah dan menenangkan muncul dari balik kemudi, disertai senyum khas yang selalu terasa hangat.“Pagi, Arra. Pagi juga, Rafa,” sapanya.Arra tertegun sejenak.“Kak Niko

  • Anak dari Sang CEO   Bab 34. Pertanyaan Rafa

    “Papi? Kok bisa nggak suka?” Rafa mengernyit heran. “Padahal enak, tahu. Kalau Om Revan, suka nggak pizza keju mozzarella?”Revan menatap Arra dengan ragu. Seolah tengah menimbang apakah harus mengiyakan atau tidak. Faktanya, ia memang benar-benar tidak menyukai keju mozzarella. Namun, apakah ini saat yang tepat untuk memberitahu Rafa bahwa dirinya adalah ayah kandungnya?Sebelum Revan sempat menjawab dengan jujur, ponselnya berdering. Nama asistennya, Kevin, terpampang di layar. Tanpa ragu, ia langsung mengangkat panggilan itu.Arra mengembuskan napas lega. Hampir saja ia membongkar rahasia terbesar dalam hidupnya. Ia merutuki ucapannya sendiri, terdengar seperti sedang menantang Revan. Ia lupa bahwa pria itu selalu jujur, dan jika Revan menjawab apa adanya, Rafa pasti akan kebingungan. Anak itu bisa saja curiga, menyamakan selera Revan dengan sosok papi yang selama ini ia ceritakan. Padahal papi itu adalah Revan sendiri.“Baik, saya akan ke sana,” ucap Revan datar sebelum mematikan

  • Anak dari Sang CEO   Bab 33. Kebiasaan yang sama

    Revan duduk di samping Rafa yang tengah menyantap makanannya dengan lahap. Sementara itu, Arra mengambilkan piring untuk Revan dan menyerahkannya pada pria tersebut. Dengan wajah antusias, Revan menyendok nasi goreng buatan Arra ke piringnya, lalu menghirup aromanya perlahan. Harumnya masih sama seperti dulu.Pemandangan dua pria di hadapannya menikmati nasi goreng buatannya membuat hati Arra mengembang bahagia. Ia ingin sekali menghentikan waktu, mengabadikan momen sederhana antara ayah dan anak itu. Dari cara mereka makan hingga kebiasaan mengelap sudut bibir saat ada sisa makanan, semuanya terasa begitu mirip. Tanpa perlu tes DNA, Arra tahu, kebiasaan Revan menurun sempurna pada Rafa.Bahkan cara mereka meminum air dari gelas pun sama. Jari kelingking keduanya terangkat tanpa sadar. Arra menghela napas lirih. Ia yang mengandung sembilan bulan dan membesarkan Rafa selama lima tahun, namun hampir semua kemiripan justru berasal dari Revan.Satu-satunya sifat Rafa yang ia rasa menurun

  • Anak dari Sang CEO   Bab 32. Makan siang bertiga

    Revan menatap Arra yang sesekali melirik ke arahnya dan Rafa. Ia sangat yakin. Perlahan, hati Arra mulai melunak. Revan tak akan menyerah untuk mendapatkan Arra kembali. Ia tahu, jauh di lubuk hati wanita itu masih tersimpan rasa cinta padanya. Arra menjauh bukan karena perasaannya hilang, melainkan karena bayang-bayang orang tua Revan. Dan kini, yang perlu ia lakukan hanyalah membuat Arra kembali percaya dan merasa aman bergantung padanya.“Oh iya, tunggu sebentar. Om juga bawa hadiah buat kamu, sama makan siang kita,” ucap Revan sambil mengecup pelipis putranya, lalu tersenyum ke arah Arra.Ia kembali ke mobil dan membuka bagasi belakang. Dari sana, Revan mengeluarkan berbagai mainan dinosaurus yang ia pesan semalam, disusul dua kotak pizza untuk Arra dan Rafa.Melihat Revan membawa banyak barang, Arra merasa tak tega. Ada rasa haru yang menyelinap di dadanya melihat perhatian pria itu pada Rafa. Ia pun membantu membawa sebagian barang. Rafa sendiri terlihat paling bersemangat, meme

  • Anak dari Sang CEO   Bab 31. Rexi kembali

    Revan merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Ia membuka sebuah aplikasi belanja online—aplikasi yang seumur hidup belum pernah ia gunakan untuk membeli apa pun. Selama ini, segala kebutuhannya selalu diurus oleh Kevin.Jarinya mengetik di kolom pencarian: Mainan dinosaurus terbaik.Ribuan hasil langsung bermunculan. Revan mengernyit. Ia tak tahu mana yang benar-benar bagus. Ia tidak ingin mainan sembarangan. Putranya harus mendapatkan yang terbaik.Ia pun beralih ke mesin pencari.“Best dinosaur toys for 5 year old boy, premium quality.”Setelah membaca beberapa ulasan dan perbandingan, jari Revan mulai menari di layar ponsel.Klik.Masukkan ke keranjang.Action figure T-Rex dengan suara realistis.Set Lego Jurassic World ukuran terbesar.Boneka Brontosaurus jumbo—cukup besar untuk dinaiki.Ensiklopedia dinosaurus 4D dengan teknologi augmented reality.Revan tak sedikit pun melirik harga. Yang ia perhatikan hanya keterangan: Best Seller, Premium, Educational.Dalam waktu kurang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status