LOGIN“Revan?” Mirna terperangah. “Lepaskan Mommy! Mommy sedang membersihkan hama ini dari kantor kamu!”Revan tak melepaskan genggaman tangan ibunya. Ia justru menarik tangan itu menjauh dari wajah Arra, lalu menghempaskannya pelan ke samping.“Dia bukan hama, Mom. Dia karyawan Revan,” ucap Revan tegas. “Dan di gedung ini, Revan yang berkuasa. Bukan Mommy. Ingat satu hal—ini bukan Alendra Corp, tempat Mommy bisa bersikap semena-mena.”Revan kemudian beralih menatap Arra. Pipi kiri wanita itu memerah, jelas terlihat bekas lima jari. Sudut bibirnya pun sedikit berdarah. Hati Revan seakan hancur berkeping-keping. Ia telah berjanji akan melindungi Arra, tetapi ia terlambat beberapa menit.Dengan lembut, Revan menyentuh pipi Arra yang memar.“Sakit?” bisiknya.Arra hanya menggeleng pelan, tetap menatap Mirna dengan pandangan datar.Pemandangan itu justru membuat Mirna semakin histeris.“Revan! Jangan sentuh dia! Kamu sudah diguna-guna, ya? Nathania benar! Perempuan ini racun! Dia cuma mengincar
Pagi itu suasana kantor berjalan tenang, sangat kontras dengan drama lembur paksa semalam. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah-celah blinds di ruang divisi administrasi, membentuk garis-garis cahaya di atas meja kerja Arra.Meski Revan telah menarik perintah lembur, Arra tetap mengerjakan tugas yang sebelumnya diberikan kepadanya. Revan sempat ingin menghentikannya, namun Arra bersikeras. Ia khawatir pencabutan lembur secara tiba-tiba justru akan menimbulkan kecurigaan di kalangan karyawan. Pertanyaan seperti mengapa Pak Revan mendadak membatalkan lembur? bisa saja muncul. Karena itu, Arra hanya meminta waktu satu minggu untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut, dan Revan pun terpaksa menyetujuinya.Arra fokus mengetik laporan audit kemarin, sesekali menyeruput teh hangat di sampingnya. Perasaannya pagi ini terasa jauh lebih ringan. Pengakuan jujur Revan semalam tentang rasa cemburunya seolah mencairkan gumpalan es yang selama ini membeku di antara mereka. Arra telah memutuskan
Tiba-tiba, suara langkah sepatu pantofel terdengar nyaring di tengah keheningan.Jantung Arra berdegup lebih kencang. Tubuhnya menegang, mencoba menebak siapa yang datang diam-diam di jam seperti ini. Ia ingin menoleh, tapi rasa takut menahannya. Ingatannya melayang pada cerita-cerita horor yang pernah Dinda ceritakan.Dan tepat saat itu, sebuah tangan menyentuh bahunya.“Ah!” Arra berjengkit kaget. Ia langsung menoleh untuk melihat siapa pelakunya.Dan ternyata…Sosok itu adalah Niko. Arra seketika menghela napas lega setelah menyadari siapa yang datang. Namun kebingungan segera menyusul. Mengapa Niko belum pulang di jam segini? Kenapa pria itu ikut lembur seperti dirinya?“Kak Niko belum pulang?” tanya Arra dengan raut bingung.Niko tersenyum tipis. Sebenarnya, ia tidak tega meninggalkan Arra sendirian di tempat ini. Terlebih lagi, Arra harus pulang larut hanya karena mengerjakan pekerjaan yang bukan tanggung jawabnya. Karena itu, Niko sengaja menyelesaikan pekerjaannya yang seharus
Dengan langkah berat dan hati yang dongkol, Arra menaiki lantai atas. Ia yakin semua ini pasti berhubungan dengan sesuatu, meski ia tak tahu kesalahan apa yang telah diperbuatnya kali ini hingga Revan melampiaskan amarah kepadanya.Begitu memasuki ruangan CEO, udara seolah membeku. Bukan karena pendingin ruangan, melainkan karena aura dingin pria yang duduk di balik meja besar itu. Revan sama sekali tidak menatap Arra. Jemarinya sibuk menari di atas keyboard, wajahnya kaku tanpa ekspresi.“Duduk,” perintah Revan dingin.Arra menuruti, duduk di kursi di hadapan Revan.“Pak, maaf… soal tugas audit itu, apa tidak ada kesalahan? Jumlahnya sangat banyak, Pak. Saya rasa tidak mungkin bisa selesai malam ini.”Revan menghentikan ketikannya. Perlahan ia mengangkat wajah, menatap Arra dengan sorot mata tajam yang membuat nyali Arra seketika menciut.“Kamu keberatan?” tanya Revan datar.“Bukan keberatan, Pak. Tapi…” Arra menelan ludah. “Kasihan anak saya. Dia sendirian di rumah dan harus menungg
Revan membanting tabletnya ke atas meja dengan keras.Brak!Guncangannya membuat kopi di dalam cangkir bergoyang sebelum akhirnya tumpah sedikit, menodai taplak meja putih bersih. Rahang Revan mengeras, urat-urat di lehernya menonjol. Napasnya memburu, cepat dan berat, dipacu oleh panas yang membakar dadanya.“Sialan,” desisnya.Ia berusaha menetralkan perasaan cemburu yang menyerangnya saat melihat Arra pergi bersama pria lain. Namun, semakin ia mencoba mengabaikannya, pikiran itu justru kian mengusik. Revan benar-benar tidak suka melihat Arra tertawa bersama Niko. Terlebih karena sampai saat ini Arra masih menjaga jarak darinya. Sikap itu menimbulkan rasa iri yang menyengat. Arra bersikap berbeda padanya, meski Revan sudah berusaha mendekat dengan cara yang baik. Namun Arra tetap menghindar.Revan tahu, Niko adalah pria baik. Pria yang telah menjaga Arra selama dua tahun terakhir di perusahaan ini, jauh sebelum Revan menjabat. Apalagi Niko terlihat begitu akrab dengan Rafa. Fakta it
Pagi itu, matahari bersinar cerah di langit Jakarta. Cahayanya jatuh tanpa ampun, seolah mengejek kekalutan hati Arra yang masih diselimuti mendung, sisa tangisan semalam yang belum sepenuhnya mengering.“Mami! Rafa udah siap!” seru Rafa dari arah teras, berlari kecil dengan ransel yang hampir lebih besar dari punggungnya sendiri.Arra menoleh, lalu tersenyum tipis. Ia berjongkok, merapikan rambut putranya yang sedikit berantakan.“Pinter banget anak Mami. Yuk, kita berangkat. Nanti keburu telat.”Mereka melangkah keluar rumah, meninggalkan keheningan pagi yang masih setengah terjaga.Baru saja tiba di pinggir jalan raya untuk menunggu taksi, sebuah mobil SUV berwarna silver menepi perlahan di depan mereka. Suaranya halus, nyaris tak mengganggu hiruk-pikuk pagi yang mulai ramai.Kaca jendela diturunkan. Wajah Niko yang ramah dan menenangkan muncul dari balik kemudi, disertai senyum khas yang selalu terasa hangat.“Pagi, Arra. Pagi juga, Rafa,” sapanya.Arra tertegun sejenak.“Kak Niko







