FAZER LOGIN"Ka-kamu siapa?" tanya Kala pada lelaki berjaket hitam itu. Tapi dia bukan Axel. "Ikut sama aku, kayaknya kamu lagi ketakutan banget," ucapnya sambil meraih tangan Kala, dan Kala pun berdiri. "Terima kasih," ucap Kala tanpa senyum, ia seperti tak ingin berurusan dengan lelaki lain selain dengan Axel. "Sama-sama, kenalin aku Gerry," katanya sambil mengulurkan tangan kembali.Kala terdiam membeku, entah harus bagaimana ia bersikap."Kamu tinggal dimana?" tanya lelaki itu. Kala masih terdiam, karena dia sendiri bingung harus melangkahkan kakinya kemana. Jika pulang ke rumah orang tuanya tak mungkin, apalagi kalau harus kembali lagi ke rumah mertuanya. Sungguh tak mungkin."Aku gak punya tujuan," jawab Kala pada akhirnya setelah sekian detik membisu. "Kalau begitu, ikut aku.."Karena merasa tak memiliki tempat untuk pulang, Kala pun mau tak mau mengikuti ajakan dari lelaki yang baru saja ia temukan itu. "Kenapa kamu gak punya tujuan? Orang tua kamu kemana?" tanya lelaki itu lagi sam
"Ma, kayaknya papa harus bawa Kala pergi dari rumah ini," ucap Pak Gandi pada istrinya sewaktu Kala baru saja dipersilakan duduk di dalam rumahnya. "Papa gak mau dia ketemu lagi sama lelaki itu," lanjutnya lagi. Bu Hani melirik Kala sejenak, lalu kemudian memperhatikan suaminya lagi. "Pindah kemana, Pa? Memangnya kita punya rumah lagi?" tanya sang istri kemudian. "Papa bakal cari kontrakan, atau kalau mama setuju. Rumah ini akan papa jual dan beli rumah baru sebagai gantinya," ucap Pak Gandi mantap. Bu Hani menggelengkan kepalanya pelan. "Mama gak setuju, Pa," katanya, lalu melirik kembali ke arah Kala yang duduk di seberangnya, "Kalau cuma dicarikan kontrakan saja mama gak keberatan,""Kalau gitu, biar Kala cari sendiri aja tempat tinggalnya. Papa dan Mama gak usah repot-repot carikan," ujar Kala kemudian.Pak Gandi menolak. "Kamu kan papa yang urus, jadi kamu gak bisa cari kontrakan sendiri," tuturnya. "Kenapa papa repot-repot sekali, pa? Daripada uangnya dipakai untuk bayar kon
"Bukannya itu laki-laki yang ada di berita?" celetuk salah seorang warga begitu melihat Axel dan Kala bersiap menaiki motor. "Iya-iya, betul dia orangnya!"Meski Kala dan Axel mendengar obrolan beberapa orang di sampingnya, tak mengubah tekad Axel untuk tetap membawa Kala pergi bersamanya. Namun, belum sampai seratus meter motor itu melaju, ada beberapa mobil yang menghadang motor Axel sehingga lelaki itu harus mematikan mesin motornya. "Itu mobil ayah," gumam Kala pelan, namun terdengar begitu jelas di telinga kanan Axel. Benar saja, Pak Ivan turun dari mobil lalu berjalan cepat menghampiri Axel. "Turun!" kata sang ayah pada anak perempuannya, sorot matanya tajam seperti kilatan pedang yang menusuk. Kala menggelengkan kepalanya berulang kali. "Nggak, Yah.. Aku gak mau balik lagi ke rumah itu," jawab Kala memohon. "Kata ayah turun!" bentak sang ayah tanpa mau peduli. Axel yang menyaksikan itu tak mungkin jika hanya diam saja. Ia menggerung-gerungkan motor, bersiap untuk membaw
Baru beberapa jam Axel membawa Kala pergi bersamanya, berita mengenai Axel sudah menyebar kemana-mana. Narasi bahwa Axel seorang penculik dan predator wanita sudah tertanam kuat di kepala masyarakat seluruh Kota.Berulang kali ponsel Kala pun berdering, bahkan beberapa pesan masuk memenuhi notifikasi layar ponselnya. Namun, Kala mengabaikannya meski itu dari papanya sendiri. "Aku gak suka kamu kayak gini," kata Kala cemberut. Axel tersenyum tipis. "Terus kamu pengen aku kayak gimana barusan?" Nadanya begitu lembut. "Iya ngapain kek, jangan mau dipukulin gitu aja. Kamu kan gak salah!"Kala marah sambil mengompres wajah Axel yang memar bekas dipukuli tadi. "Aw!" Axel meringis. "Pelan-pelan," katanya lagi. "Salah sendiri kenapa pasrah aja sewaktu dipukuli tadi,""Aku cuma kasihan sama orang-orang itu, gak salah apa-apa tapi masa aku pukuli?""Kenapa kamu gak langsung bawa aku lari aja tadi, daripada kamu dipukuli sampai memar-memar kayak gini?!" Kala masih cemberut, tapi sebenarnya
Kedua pria itu segera menyeret Axel keluar, dan memisahkan Kala dari sisinya. "Jangan sentuh aku!" bentak Kala pada kedua pria yang sedang memeganginya. "Lepasin!"Sementara Kala berusaha untuk melepaskan cengkeraman kedua orang yang memeganginya. Axel sudah dibawa oleh orang-orang itu menjauh darinya dan ia dipukuli oleh massa. "Axel!" Kala menjerit karena tak tahan melihat kekasih hatinya disakiti. "Aku bersumpah kalau Axel sampai kenapa-kenapa aku bakal bikin perhitungan sama kalian semua!" teriak Kala memberi ancaman. Kala berontak, ia kembali melakukan hal yang sama seperti apa yang telah ia lakukan pada papa mertuanya. Seperti pahlawan di televisi, Kala menendang satu-satu kedua orang yang menghalanginya. Entah darimana wanita itu mempelajari ilmu bela diri. "Axel.. "Kala berlari menghampiri kekasih hatinya. "Minggir kalian semua, minggir!"Reaksi wanita itu benar-benar diluar dugaan. Namun orang-orang masih mengabaikannya, malah tubuh Kala ikut tertimpuk oleh batu dan me
"Diam kamu di sini!" bentak Pak Gandi sambil membanting tubuh Kala ke lantai. Kala berontak, ia berusaha berdiri lagi meski ada bagian lututnya yang sakit. "Papa bawa aku kemana? Ini dimana, Pa?" teriak Kala dengan raut wajah penuh rasa takut. "Percuma kamu teriak, gak akan ada satu orang pun yang dengar!" jawab mertuanya sambil tertawa bercampur amarah. Kala menangis. Ia tak mengerti kenapa papa mertuanya bersikap aneh dan tak seperti biasanya. Dan, beberapa detik kemudian.. Tangan kasarnya itu mendarat di dagu Kala, memaksa Kala untuk membalas tatapannya, meski ia tahu kalau Kala sedang menangis. "Gak usah nangis, sayang... " katanya sambil tersenyum, nadanya lembut selembut sutera. Namun, Kala sudah terlanjur jijik. Ia memalingkan mukanya lagi."Diam, jangan menoleh." Pria tua itu menahannya. "Jangan buang muka sama papa, sayang.." katanya lagi sambil duduk di samping Kala. Jaraknya begitu dekat, sangat dekat hingga membuat Kala semakin takut dan ingin lari."Lepasin aku,







