بيت / Romansa / Andai Waktu Berpihak / Bab 4 - Dibalik Pintu

مشاركة

Bab 4 - Dibalik Pintu

مؤلف: Arcelia V
last update تاريخ النشر: 2026-09-23 09:12:16

"Kal, bisa tolong ambilkan papa air minum?"

Tak seperti biasanya Pak Gandi meminta tolong pada Kala untuk urusan itu. Tentu saja Kala sedikit kebingungan sewaktu mendengar perintah tersebut. Kala hanya diam membisu. Bertanya-tanya sendiri apa mungkin karena mama mertuanya tak ada?

"Kal, kamu dengar gak? Kamu lagi ngapain di sana?" seru mertuanya lagi.

Kala segera mengenakan jilbabnya, lalu keluar kamar untuk menemui sang papa mertua di ruang depan.

"Kenapa kamu lama sekali?" ujar Pak Gandi menyipitkan mata begitu Kala datang menghampirinya. "Kenapa juga di rumah masih pakai jilbab?" tanyanya kesal.

"Kok?" Kala heran dengan sikap Pak Gandi baru-baru ini. Biasanya beliau tak pernah bersikap tidak sopan seperti itu. "Kenapa papa suruh aku buka jilbabku?" tanya Kala dengan nada sedikit meninggi.

"Ini rumah saya, jadi kamu harus ikut aturan yang saya bikin!" sentak Pak Gandi sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja.

Kelakuan Pak Gandi benar-benar membuat Kala tak habis pikir. Sebenarnya apa yang terjadi pada papa mertuanya itu?

"Kalau aku gak mau gimana? Ini hak aku, dan aku gak mau lepas jilbabku di depan Papa," ucap Kala seraya membalikkan badannya, hendak kembali menuju kamarnya.

"Loh..loh.. Mau kemana kamu?" seru Pak Gandi, kedua kakinya diturunkan lagi ke lantai. Ia beranjak dari tempat duduknya. "Papa suruh kamu ambilkan minum kenapa kamu gak ambilkan juga?"

Kala pun segera mengambilkan minum untuk pria berseragam khaki tersebut dan pergi ke dapur.

Setelah dibawakan dari dapur, Kala meletakkannya di atas meja.

"Jangan disimpan di meja," tegur sang mertua. "Kemarikan!" ujarnya lagi.

Kala hanya menurut saja. Ia meraih kembali mug tersebut lalu memberikannya pada Pak Gandi.

"Ini."

"Terima kasih," katanya sambil tersenyum.

Kala pun membalikkan badannya. Ia rasa tugasnya sudah selesai.

Namun, lagi-lagi mertuanya meminta Kala melakukan sesuatu yang lain untuknya.

"Tolong ambilkan tas papa di kamar, Kal. Papa lupa tadi," titahnya sambil menahan lengan Kala supaya tak pergi.

Mau menolak, tapi Kala juga takut kualat. Pak Gandi juga orang tuanya. Namun, jika Kala sampai harus masuk ke dalam kamar mertuanya itu, apakah masih dianggap wajar?

"Kenapa gak papa sendiri aja yang ambil?" kata Kala sambil bergerak mundur, menghindari sentuhan mertuanya lagi.

"Papa buru-buru, cepat ambil jangan banyak alasan!" titah pria tua itu dengan nada suara yang kasar.

"Papa aja yang ambil, Kala gak mau," jawab Kala sambil terus berjalan cepat menjauh dari mertuanya.

Pak Gandi tampak marah, namun karena ia harus berangkat. Ia tak sempat mengomeli Kala lagi dan hanya membiarkan menantunya itu kembali ke dalam kamar. Mungkin, Pak Gandi sendiri yang harus mengambil tasnya sendiri di dalam kamarnya.

Gandi Wiratmoko adalah seorang Kepala Desa yang terkenal kebaikannya di mata masyarakat, anak-anaknya juga dipandang baik dan pintar oleh para tetangganya. Anak pertama mereka bernama Cakra--ia sudah menikah dan kini bekerja sebagai leader di PT Adiwarna Teknologi Nusantara dan menetap di Jakarta bersama anak dan istrinya. Sementara anak bungsunya Syakira--ia sekolah dan mondok di pesantren daerah Bogor. Berbeda dengan Regi yang hanya pegawai kantoran biasa, dan menikah dengan Kala atas permintaan ayahnya Kala. Karena di dalam pandangan ayahnya, bisa menikahkan putrinya dengan putra dari Kepala Desa adalah suatu kebanggaan yang luar biasa. Mereka semua tinggal di Kuningan.

Begitu juga dengan istrinya Hani Widiastuti, ia dikenal sebagai istri dari Kepala Desa yang ramah dan disegani oleh banyak orang. Karena memang jarang sekali ada keluarga yang sekolah atau pendidikannya tinggi seperti keluarga Pak Gandi.

Setiap pagi, Bu Hani punya rutinitas kemasyarakatan bersama beberapa orang kepercayaannya di luar rumah. Namun, semenjak Regi berpulang, Bu Hani sempat mogok dan hanya berdiam diri saja di rumah. Baru hari ini beliau mulai beraktifitas lagi.

Dan, meskipun semua orang menentang hubungannya dengan Axel, tapi Kala tak bisa menahan dirinya sendiri untuk tak berinteraksi dengan lelaki itu.

Semalam, Kala sudah menceritakan pada Axel, kalau ada bunyi suara seseorang yang sedang memegang gagang pintu kamarnya. Dan kali ini, Kala juga tak mungkin hanya membiarkan cerita ini tersimpan di dalam benaknya saja.

Kala mengambil ponselnya, lalu menceritakan semuanya kepada Axel tentang Pak Gandi yang bersikap aneh padanya.

Kala pikir, permasalahan tadi pagi bersama papa mertuanya itu tak akan merembet dan meluas kemana-mana. Namun ketika mama mertuanya kembali dari acara kemasyarakatannya di luar, beliau tiba-tiba berceramah panjang lebar.

"Pokoknya mama minta tolong sama kamu, kalau mama lagi ada kegiatan di luar, dan papa minta bantuan kamu. Kamu tolonglah dia, ya?" pinta sang mama mertua padanya.

"Tapi barusan papa minta ambilkan tasnya di kamar, aku cuma ngerasa kalau itu gak wajar," kilah Kala, berusaha menjelaskan menurut pandangannya.

"Lah, memangnya kenapa kalau masuk ke kamar?" Bu Hani terkekeh, seakan menganggap bahwa tak perlu ada yang dikhawatirkan. "Kamu pikir emangnya apa yang gak wajar? Kan cuma ambilkan tas doang," lanjut mama mertuanya lagi.

Kala pikir mungkin memang dia yang terlalu cemas, sehingga berpikiran yang bukan-bukan tentang papa mertuanya.

Anehnya, pria yang menjabat sebagai Kepala Desa itu justru lebih sering memanggil Kala untuk keperluan mendesak atau hal receh sekalipun.

"Kal, bisa kamu antarkan dokumen ini ke kantor?" kata Bu Hani mengintip di balik pintu kamar Kala.

Kala menoleh.

"Dokumen apa itu, Ma?"

"Kurang tahu, tapi tadi papa minta tolong dibawakan." ujar Bu Hani sambil meletakkan map hijau berisikan dokumen tersebut di meja rias Kala. "Kamu yang bawakan katanya,"

Kala termenung.

"Kenapa gak sama mama aja?"

"Kamu kenapa sih, Kal? Setiap kali dimintai tolong jawabannya selalu kayak gitu," ucap sang mama dengan wajah muram. "Kamu kan sudah kami anggap seperti anak sendiri,"

Kala bimbang.

Di lain sisi, ia malas bersinggungan dengan papa mertuanya, di sisi lainnya ia tak ingin ada kesalahpahaman sehingga menimbulkan masalah baru lagi.

"Baiklah, Ma." Kala berdiri dari pijakannya. "Biar Kala yang antar,"

"Nah, gitu dong... "

Bu Hani tersenyum lega.

Setibanya di kantor, Kala sulit menemukan keberadaan Pak Gandi. Sampai ia bertemu dengan salah satu pegawai di sana.

"Mohon maaf, Pak Gandi kemana, ya?" Kala bertanya dengan nada sopan. "Kenapa di ruangannya gak ada?"

"Oh, kayaknya Bapak lagi shalat,"

Kala mengangguk mengerti. "Baiklah, saya datang kemari hanya untuk menitipkan dokumen Pak Gandi yang tertinggal," ucap Kala sembari menyodorkan map tersebut pada Hasna. "Ini," katanya lagi.

"Kala... "

Terdengar suara Pak Gandi dari ujung sana.

Kala pun menoleh.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 8 - Kebersamaan yang Singkat

    Baru beberapa jam Axel membawa Kala pergi bersamanya, berita mengenai Axel sudah menyebar kemana-mana. Narasi bahwa Axel seorang penculik dan predator wanita sudah tertanam kuat di kepala masyarakat seluruh Kota.Berulang kali ponsel Kala pun berdering, bahkan beberapa pesan masuk memenuhi notifikasi layar ponselnya. Namun, Kala mengabaikannya meski itu dari papanya sendiri. "Aku gak suka kamu kayak gini," kata Kala cemberut. Axel tersenyum tipis. "Terus kamu pengen aku kayak gimana barusan?" Nadanya begitu lembut. "Iya ngapain kek, jangan mau dipukulin gitu aja. Kamu kan gak salah!"Kala marah sambil mengompres wajah Axel yang memar bekas dipukuli tadi. "Aw!" Axel meringis. "Pelan-pelan," katanya lagi. "Salah sendiri kenapa pasrah aja sewaktu dipukuli tadi,""Aku cuma kasihan sama orang-orang itu, gak salah apa-apa tapi masa aku pukuli?""Kenapa kamu gak langsung bawa aku lari aja tadi, daripada kamu dipukuli sampai memar-memar kayak gini?!" Kala masih cemberut, tapi sebenarnya

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 7 - Drama Mertua Licik

    Kedua pria itu segera menyeret Axel keluar, dan memisahkan Kala dari sisinya. "Jangan sentuh aku!" bentak Kala pada kedua pria yang sedang memeganginya. "Lepasin!"Sementara Kala berusaha untuk melepaskan cengkeraman kedua orang yang memeganginya. Axel sudah dibawa oleh orang-orang itu menjauh darinya dan ia dipukuli oleh massa. "Axel!" Kala menjerit karena tak tahan melihat kekasih hatinya disakiti. "Aku bersumpah kalau Axel sampai kenapa-kenapa aku bakal bikin perhitungan sama kalian semua!" teriak Kala memberi ancaman. Kala berontak, ia kembali melakukan hal yang sama seperti apa yang telah ia lakukan pada papa mertuanya. Seperti pahlawan di televisi, Kala menendang satu-satu kedua orang yang menghalanginya. Entah darimana wanita itu mempelajari ilmu bela diri. "Axel.. "Kala berlari menghampiri kekasih hatinya. "Minggir kalian semua, minggir!"Reaksi wanita itu benar-benar diluar dugaan. Namun orang-orang masih mengabaikannya, malah tubuh Kala ikut tertimpuk oleh batu dan me

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 6 - Pria Itu Mengurungnya

    "Diam kamu di sini!" bentak Pak Gandi sambil membanting tubuh Kala ke lantai. Kala berontak, ia berusaha berdiri lagi meski ada bagian lututnya yang sakit. "Papa bawa aku kemana? Ini dimana, Pa?" teriak Kala dengan raut wajah penuh rasa takut. "Percuma kamu teriak, gak akan ada satu orang pun yang dengar!" jawab mertuanya sambil tertawa bercampur amarah. Kala menangis. Ia tak mengerti kenapa papa mertuanya bersikap aneh dan tak seperti biasanya. Dan, beberapa detik kemudian.. Tangan kasarnya itu mendarat di dagu Kala, memaksa Kala untuk membalas tatapannya, meski ia tahu kalau Kala sedang menangis. "Gak usah nangis, sayang... " katanya sambil tersenyum, nadanya lembut selembut sutera. Namun, Kala sudah terlanjur jijik. Ia memalingkan mukanya lagi."Diam, jangan menoleh." Pria tua itu menahannya. "Jangan buang muka sama papa, sayang.." katanya lagi sambil duduk di samping Kala. Jaraknya begitu dekat, sangat dekat hingga membuat Kala semakin takut dan ingin lari."Lepasin aku,

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 5 - Mertua Aneh

    "Mapnya udah aku titip di Kak Has-,"Ucapan Kala terhenti karena Pak Gandi langsung menyeret tangan Kala dan masuk ke dalam ruangannya. "Apa-apan sih, Pa?" Kala marah, lalu menepis kasar tangan sang mertua dari lengan kanannya. "Diam!" bentak Pak Gandi dengan rahang mengeras. "Kamu jangan dulu pulang, bantuin papa periksa beberapa berkas di sini," titahnya seraya mengajak Kala untuk duduk. Kala menyipitkan mata, menatap lurus-lurus sang mertua."Papa kenapa sih, pa? Lagian kan masih ada pegawai yang emang kerja di sini!" jawab Kala semakin kesal. "Kerja mereka gak bagus!" kilah Pak Gandi ketus. "Udah, kamu gak usah banyak omong. Mereka gak bakalan protes!""Tapi aku gak ngerti, Pa... " Kala masih berusaha untuk menolak. "Buka-buka aja, yang penting kamu tetap diam disini!""Mertua aneh!" Kala membatin, matanya mendelik tajam pada sosok pria tua di seberangnya. Tak mungkin kalau Kala tak menceritakan hal ini pada Axel, ia merogoh saku jaketnya dan segera mengirimkan pesan pada Ax

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 4 - Dibalik Pintu

    "Kal, bisa tolong ambilkan papa air minum?" Tak seperti biasanya Pak Gandi meminta tolong pada Kala untuk urusan itu. Tentu saja Kala sedikit kebingungan sewaktu mendengar perintah tersebut. Kala hanya diam membisu. Bertanya-tanya sendiri apa mungkin karena mama mertuanya tak ada? "Kal, kamu dengar gak? Kamu lagi ngapain di sana?" seru mertuanya lagi. Kala segera mengenakan jilbabnya, lalu keluar kamar untuk menemui sang papa mertua di ruang depan. "Kenapa kamu lama sekali?" ujar Pak Gandi menyipitkan mata begitu Kala datang menghampirinya. "Kenapa juga di rumah masih pakai jilbab?" tanyanya kesal. "Kok?" Kala heran dengan sikap Pak Gandi baru-baru ini. Biasanya beliau tak pernah bersikap tidak sopan seperti itu. "Kenapa papa suruh aku buka jilbabku?" tanya Kala dengan nada sedikit meninggi. "Ini rumah saya, jadi kamu harus ikut aturan yang saya bikin!" sentak Pak Gandi sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Kelakuan Pak Gandi benar-benar membuat Kala tak habis pikir. Se

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 3 - Di Depan Pintu

    "Maaf kalau saya lancang, tapi saya gak tega melihat Kala diperlakukan kasar oleh bapak mertuanya."Jantung Kala berdebar kencang tak karuan. Ia takut kalau kedua keluarganya akan semakin mempersulit kehidupan Axel nanti. "Xel, udah. Tolong kamu pergi aja, aku yakin semuanya akan aman kalau kamu bisa pergi dari sini," ucap Kala dengan berderai air mata, memohon. "Kal, gak bisa." balas Axel tegas. "Kalau aja pertemuan pertama kita tadi berkesan baik, kayaknya aku gak akan sampai segila ini." tuturnya jujur. "Tapi aku gak mau kalau kamu sampai kenapa-kenapa, aku gak bisa lihat itu, Xel... "Mereka berdua lupa kalau semua keluarga memperhatikan, tanpa sadar tangan sang ayah Kala mendarat di pipi wanita berlesung itu. Hingga Kala meringis kesakitan. "Apa-apaan kamu?" bentak sang Ayah. "Apa Ayah gak salah dengar?""Kala cinta sama Axel, Yah... Perasaan itu masih ada sampai sekarang, Kala juga gak ngerti... " Kala menangis hingga terisak. Pak Gandi langsung menggebrak meja. "Sudah say

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status