تسجيل الدخول"Maaf kalau saya lancang, tapi saya gak tega melihat Kala diperlakukan kasar oleh bapak mertuanya."
Jantung Kala berdebar kencang tak karuan. Ia takut kalau kedua keluarganya akan semakin mempersulit kehidupan Axel nanti. "Xel, udah. Tolong kamu pergi aja, aku yakin semuanya akan aman kalau kamu bisa pergi dari sini," ucap Kala dengan berderai air mata, memohon. "Kal, gak bisa." balas Axel tegas. "Kalau aja pertemuan pertama kita tadi berkesan baik, kayaknya aku gak akan sampai segila ini." tuturnya jujur. "Tapi aku gak mau kalau kamu sampai kenapa-kenapa, aku gak bisa lihat itu, Xel... " Mereka berdua lupa kalau semua keluarga memperhatikan, tanpa sadar tangan sang ayah Kala mendarat di pipi wanita berlesung itu. Hingga Kala meringis kesakitan. "Apa-apaan kamu?" bentak sang Ayah. "Apa Ayah gak salah dengar?" "Kala cinta sama Axel, Yah... Perasaan itu masih ada sampai sekarang, Kala juga gak ngerti... " Kala menangis hingga terisak. Pak Gandi langsung menggebrak meja. "Sudah saya duga!" katanya marah. "Saya yakin kalau lelaki itu dalang dibalik kematian anak saya!" tambahnya sambil menatap Kala dan Axel silih bergantian. "Ng-nggak, nggak Yah.. " Kala menggeleng, membantah setiap tuduhan yang mengarah pada lelaki yang dikasihinya itu. "Sial!" Axel mendengus kasar, lalu menatap Kala lurus-lurus. "Kalau aku tahu kamu semenderita ini, aku gak akan pernah rela melepaskan kamu waktu itu, Kal!" Suara Axel meninggi, seakan tak ada satupun hal yang lelaki itu takuti di rumah ini. "Ayah gak setuju! Kamu tahu itu, kan?" Pak Ivan menyela percakapan keduanya. "Sudahlah!" Pak Gandi menimpali. "Biarkan Kala tetap menjadi menantu kami, setidaknya untuk menebus kesalahannya sendiri karena telah membuat anak kami meninggal!" Kala menggenggam kelima jari tangan lelaki yang bertubuh kekar layaknya tentara itu. "Tolong, pergilah..." Axel tak mungkin mundur, tapi dari sorot matanya terlihat kalau ia sendiri tak ingin menyusahkan Kala. "Baik, aku izinkan Kala untuk tetap tinggal di rumah ini," ucap Axel menatap semuanya silih berganti. "Tapi kalau aku sampai dengar Kala diperlakukan tidak adil, bahkan hingga membuat dirinya menderita. Aku tak akan segan mengambil Kala kembali dari kalian!" "Memangnya kamu siapa berani mengambil keputusan seperti itu?" Pak Ivan menimpali. "Saya tahu Bapak adalah ayah kandungnya," jawab Axel dengan sorot mata tajam. "Tapi saya yakin, hanya saya yang bisa membuat putri Bapak bahagia!" Sebelum Axel pergi dari rumah itu, ia menyelipkan sebuah kertas pada Kala, tak tahu isinya apa. "Kenapa kamu gak dengar kata Ayah?" tanya Pak Ivan sewaktu Axel sudah menghilang dari pandangan mereka semua. "Ayah udah bilang sama kamu, kamu jangan pernah ketemu lagi sama lelaki itu!" "Aku gak sengaja ketemu dia di sana, Yah. Lagipula hampir setiap aku kesana, aku gak pernah ketemu sama dia-" Kalimat Kala terpotong karena Pak Gandi menyelanya. "Halah, kamu kayaknya ngarep banget bisa ketemu lagi sama lelaki itu. Makanya kamu sering banget pergi ke sana," cibir lelaki paruh baya itu sambil memonyong-monyongkan mulutnya. "Pah..." Kala mulai berani bersuara. "Udahlah, Papa gak usah sok tahu dan jadi kompor di depan ayahku!" kata Kala tegas. Kedua wanita yang berdiri di samping suaminya masing-masing itu pun akhirnya turun tangan, berusaha menghentikan seluruh ketegangan yang sedari tadi terjadi di rumah. "Pah, sudahlah.." ucap Bu Hani sambil memegang pundak suaminya. "Gak baik ada tamu tapi kok malah dianggurin begitu," lanjutnya lagi sambil mempersilakan besannya untuk duduk di sofa. Akhirnya, suasana yang sempat menegang itu kini mencair. Meski pikiran Kala masih terus tertaut pada sosok yang beberapa menit baru saja meninggalkannya. Padahal, ia baru saja merasakan debaran yang selama ini ia rindukan. Tapi kenyataan masih harus memisahkan mereka kembali. Entahlah, apakah kesempatan itu akan datang lagi untuk mempertemukan mereka? "Kal, tolong bawakan air minum untuk ayah dan ibu kamu," ucapan Bu Hani membuat Kala tersentak. "Iya, Ma..." Kala berdiri, mengambilkan air minum dan menyuguhkan beberapa camilan yang ada untuk kedua orang tuanya. "Mohon maaf kalau kedatangan kami kesini tanpa berbicara terlebih dahulu," ucap Pak Ivan pada keluarga besannya. "Sebenarnya, saya berniat untuk menjemput Kala untuk pulang ke rumah bersama kami," ungkap Pak Ivan melanjutkan ucapannya. "Loh, kenapa?" tanya Pak Gandi dengan mengangkat alis, tubuhnya yang tadi bersandar pada dinding kursi, kini berubah tegak seakan ikut tegang. "Kami takut kalau kehadiran Kala malah menjadi beban di keluarga ini, lagipula Kala sudah menjadi janda sekarang," ujar Bu Lia--istrinya Pak Ivan. "Gak ada yang anggap Kala sebagai beban kok," sahut Pak Gandi antusias, lalu melirik pada istrinya. "Iya kan, Mah?" Kala duduk di lantai, agak jauh dari keramaian keluarga. Ia teringat pada kertas yang diselipkan oleh Axel, dan membukanya. Ternyata, itu nomor telepon Axel. Ada tulisan juga di dalam kertasnya. [Jangan ragu untuk hubungi aku. Kalau kamu butuh lari, aku siapkan sepatunya sekarang!] Kala tersenyum tipis. Kalimat itu terdengar seperti suara Axel ketika berbicara. Meski hanya dengan tulisan sesingkat itu, Kala merasa mampu untuk menghadapi semua ketakutan yang mungkin akan menyapanya lagi nanti. Kala hanya mendengar samar tentang apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya itu. Namun, ibunya tiba-tiba datang mendekat pada Kala yang sedang terduduk lesu di lantai. "Kal, tadinya Ayah sama Ibu mau bawa kamu pulang, tapi mertua kamu gak izinin," ucap Bu Lia dengan memaksakan senyum di wajahnya. "Ayah sama Ibu gak mau bikin mereka marah, mereka sangat menyayangi Regi. Jadi, mereka gak mau kehilangan kamu karena kamu wanita kesayangan anaknya," jelas sang Ibu. "Aku gak ngerti kenapa Pak Gandi bersikap sampai segitunya, Bu," ucap Kala lirih. "Salah kamu sendiri kenapa cari masalah," sahut sang Ibunda seakan menunjukkan keberpihakannya kepada siapa. "Aku gak cari masalah, Bu. Aku gak sengaja ketemu Axel tadi," ucap Kala berusaha meyakinkan Ibunya, berharap sang Ibunda mau mengerti. "Pokoknya kamu jangan pernah sebut-sebut nama dia lagi, lupain lelaki itu!" tegas Ibunya sambil melotot. Tanpa berlama-lama di rumah besannya, Pak Ivan dan istrinya kembali pamit untuk pulang. "Ingat, ayah gak mau dengar hal buruk lagi tentang kamu dari Pak Gandi." kata ayahnya mengingatkan. "Jangan bikin ayah malu untuk kedua kalinya!" ucapnya lagi. "Aku bukan anak kecil lagi, Yah... Aku tahu apa yang harus dan gak harus aku lakukan," kata Kala berusaha tenang meski hatinya sudah muak sekali dengan semua kelakuan orang dewasa di sekitarnya ini. Kedua orang tua Kala pergi dari rumah itu tanpa meninggalkan kesan baik pada Kala, keduanya masih memasang wajah muram dan kecewa. Itulah yang membuat Kala merasa terpojok dan sendirian di rumah ini. Karena malam semakin larut, Kala sudah berada di dalam kamarnya untuk tidur. Namun, sewaktu lampu tidur sudah ia gelapkan. Kala mendengar ada seseorang yang sedang memegang gagang pintu kamarnya. Siapa orang itu?Baru beberapa jam Axel membawa Kala pergi bersamanya, berita mengenai Axel sudah menyebar kemana-mana. Narasi bahwa Axel seorang penculik dan predator wanita sudah tertanam kuat di kepala masyarakat seluruh Kota.Berulang kali ponsel Kala pun berdering, bahkan beberapa pesan masuk memenuhi notifikasi layar ponselnya. Namun, Kala mengabaikannya meski itu dari papanya sendiri. "Aku gak suka kamu kayak gini," kata Kala cemberut. Axel tersenyum tipis. "Terus kamu pengen aku kayak gimana barusan?" Nadanya begitu lembut. "Iya ngapain kek, jangan mau dipukulin gitu aja. Kamu kan gak salah!"Kala marah sambil mengompres wajah Axel yang memar bekas dipukuli tadi. "Aw!" Axel meringis. "Pelan-pelan," katanya lagi. "Salah sendiri kenapa pasrah aja sewaktu dipukuli tadi,""Aku cuma kasihan sama orang-orang itu, gak salah apa-apa tapi masa aku pukuli?""Kenapa kamu gak langsung bawa aku lari aja tadi, daripada kamu dipukuli sampai memar-memar kayak gini?!" Kala masih cemberut, tapi sebenarnya
Kedua pria itu segera menyeret Axel keluar, dan memisahkan Kala dari sisinya. "Jangan sentuh aku!" bentak Kala pada kedua pria yang sedang memeganginya. "Lepasin!"Sementara Kala berusaha untuk melepaskan cengkeraman kedua orang yang memeganginya. Axel sudah dibawa oleh orang-orang itu menjauh darinya dan ia dipukuli oleh massa. "Axel!" Kala menjerit karena tak tahan melihat kekasih hatinya disakiti. "Aku bersumpah kalau Axel sampai kenapa-kenapa aku bakal bikin perhitungan sama kalian semua!" teriak Kala memberi ancaman. Kala berontak, ia kembali melakukan hal yang sama seperti apa yang telah ia lakukan pada papa mertuanya. Seperti pahlawan di televisi, Kala menendang satu-satu kedua orang yang menghalanginya. Entah darimana wanita itu mempelajari ilmu bela diri. "Axel.. "Kala berlari menghampiri kekasih hatinya. "Minggir kalian semua, minggir!"Reaksi wanita itu benar-benar diluar dugaan. Namun orang-orang masih mengabaikannya, malah tubuh Kala ikut tertimpuk oleh batu dan me
"Diam kamu di sini!" bentak Pak Gandi sambil membanting tubuh Kala ke lantai. Kala berontak, ia berusaha berdiri lagi meski ada bagian lututnya yang sakit. "Papa bawa aku kemana? Ini dimana, Pa?" teriak Kala dengan raut wajah penuh rasa takut. "Percuma kamu teriak, gak akan ada satu orang pun yang dengar!" jawab mertuanya sambil tertawa bercampur amarah. Kala menangis. Ia tak mengerti kenapa papa mertuanya bersikap aneh dan tak seperti biasanya. Dan, beberapa detik kemudian.. Tangan kasarnya itu mendarat di dagu Kala, memaksa Kala untuk membalas tatapannya, meski ia tahu kalau Kala sedang menangis. "Gak usah nangis, sayang... " katanya sambil tersenyum, nadanya lembut selembut sutera. Namun, Kala sudah terlanjur jijik. Ia memalingkan mukanya lagi."Diam, jangan menoleh." Pria tua itu menahannya. "Jangan buang muka sama papa, sayang.." katanya lagi sambil duduk di samping Kala. Jaraknya begitu dekat, sangat dekat hingga membuat Kala semakin takut dan ingin lari."Lepasin aku,
"Mapnya udah aku titip di Kak Has-,"Ucapan Kala terhenti karena Pak Gandi langsung menyeret tangan Kala dan masuk ke dalam ruangannya. "Apa-apan sih, Pa?" Kala marah, lalu menepis kasar tangan sang mertua dari lengan kanannya. "Diam!" bentak Pak Gandi dengan rahang mengeras. "Kamu jangan dulu pulang, bantuin papa periksa beberapa berkas di sini," titahnya seraya mengajak Kala untuk duduk. Kala menyipitkan mata, menatap lurus-lurus sang mertua."Papa kenapa sih, pa? Lagian kan masih ada pegawai yang emang kerja di sini!" jawab Kala semakin kesal. "Kerja mereka gak bagus!" kilah Pak Gandi ketus. "Udah, kamu gak usah banyak omong. Mereka gak bakalan protes!""Tapi aku gak ngerti, Pa... " Kala masih berusaha untuk menolak. "Buka-buka aja, yang penting kamu tetap diam disini!""Mertua aneh!" Kala membatin, matanya mendelik tajam pada sosok pria tua di seberangnya. Tak mungkin kalau Kala tak menceritakan hal ini pada Axel, ia merogoh saku jaketnya dan segera mengirimkan pesan pada Ax
"Kal, bisa tolong ambilkan papa air minum?" Tak seperti biasanya Pak Gandi meminta tolong pada Kala untuk urusan itu. Tentu saja Kala sedikit kebingungan sewaktu mendengar perintah tersebut. Kala hanya diam membisu. Bertanya-tanya sendiri apa mungkin karena mama mertuanya tak ada? "Kal, kamu dengar gak? Kamu lagi ngapain di sana?" seru mertuanya lagi. Kala segera mengenakan jilbabnya, lalu keluar kamar untuk menemui sang papa mertua di ruang depan. "Kenapa kamu lama sekali?" ujar Pak Gandi menyipitkan mata begitu Kala datang menghampirinya. "Kenapa juga di rumah masih pakai jilbab?" tanyanya kesal. "Kok?" Kala heran dengan sikap Pak Gandi baru-baru ini. Biasanya beliau tak pernah bersikap tidak sopan seperti itu. "Kenapa papa suruh aku buka jilbabku?" tanya Kala dengan nada sedikit meninggi. "Ini rumah saya, jadi kamu harus ikut aturan yang saya bikin!" sentak Pak Gandi sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Kelakuan Pak Gandi benar-benar membuat Kala tak habis pikir. Se
"Maaf kalau saya lancang, tapi saya gak tega melihat Kala diperlakukan kasar oleh bapak mertuanya."Jantung Kala berdebar kencang tak karuan. Ia takut kalau kedua keluarganya akan semakin mempersulit kehidupan Axel nanti. "Xel, udah. Tolong kamu pergi aja, aku yakin semuanya akan aman kalau kamu bisa pergi dari sini," ucap Kala dengan berderai air mata, memohon. "Kal, gak bisa." balas Axel tegas. "Kalau aja pertemuan pertama kita tadi berkesan baik, kayaknya aku gak akan sampai segila ini." tuturnya jujur. "Tapi aku gak mau kalau kamu sampai kenapa-kenapa, aku gak bisa lihat itu, Xel... "Mereka berdua lupa kalau semua keluarga memperhatikan, tanpa sadar tangan sang ayah Kala mendarat di pipi wanita berlesung itu. Hingga Kala meringis kesakitan. "Apa-apaan kamu?" bentak sang Ayah. "Apa Ayah gak salah dengar?""Kala cinta sama Axel, Yah... Perasaan itu masih ada sampai sekarang, Kala juga gak ngerti... " Kala menangis hingga terisak. Pak Gandi langsung menggebrak meja. "Sudah say







