Home / Romansa / Andai Waktu Berpihak / Bab 5 - Mertua Aneh

Share

Bab 5 - Mertua Aneh

Author: Arcelia V
last update publish date: 2026-09-23 11:43:19

"Mapnya udah aku titip di Kak Has-,"

Ucapan Kala terhenti karena Pak Gandi langsung menyeret tangan Kala dan masuk ke dalam ruangannya.

"Apa-apan sih, Pa?" Kala marah, lalu menepis kasar tangan sang mertua dari lengan kanannya.

"Diam!" bentak Pak Gandi dengan rahang mengeras. "Kamu jangan dulu pulang, bantuin papa periksa beberapa berkas di sini," titahnya seraya mengajak Kala untuk duduk.

Kala menyipitkan mata, menatap lurus-lurus sang mertua.

"Papa kenapa sih, pa? Lagian kan masih ada pegawai yang emang kerja di sini!" jawab Kala semakin kesal.

"Kerja mereka gak bagus!" kilah Pak Gandi ketus. "Udah, kamu gak usah banyak omong. Mereka gak bakalan protes!"

"Tapi aku gak ngerti, Pa... " Kala masih berusaha untuk menolak.

"Buka-buka aja, yang penting kamu tetap diam disini!"

"Mertua aneh!" Kala membatin, matanya mendelik tajam pada sosok pria tua di seberangnya.

Tak mungkin kalau Kala tak menceritakan hal ini pada Axel, ia merogoh saku jaketnya dan segera mengirimkan pesan pada Axel.

Sewaktu Kala menatap layar ponselnya, ia seperti sedang diperhatikan oleh papa mertuanya itu.

"Kamu gak gerah pakai jilbab dan baju panjang terus?" tanya Pak Gandi sewatu Kala mengalihkan pandangannya kembali pada ponselnya.

"Maksud papa apa?" tanya Kala memicingkan mata.

"Ya... Kali aja kamu mau buka," kata pria itu sambil membuang napas.

Kala tak menjawab. Hanya memalingkan wajah, menatap layar ponselnya kembali.

"Kamu lagi chattingan sama siapa?" tanya Pak Gandi menatap Kala lurus-lurus.

"Bukan urusan papa," jawab Kala dingin.

Pak Gandi tampak berdiri, lalu berjalan cepat menghampiri Kala dan menyambar ponsel dari genggaman tangannya.

"Pa!" Kala membentak sambil berusaha merebut kembali ponsel itu dari papa mertuanya, tapi Pak Gandi berhasil melihat layar ponsel Kala.

"Diam!" katanya pelan namun tegas. "Kamu masih berhubungan dengan lelaki ini?" tanya Pak Gandi sambil melotot, ia menggertak giginya.

Kala merebut kembali ponselnya dari bapak tua itu.

"Papa mau kalau aku teriak di sini?" Kala mengancam sambil berjalan mundur selangkah demi selangkah, menjauh dari Pak Gandi.

"Sudah papa bilang kamu jangan berhubungan dengan lelaki manapun!"

"Tapi kenapa?" Kala nyaris berteriak, tapi ia masih memelankan suaranya--menghargai ayah kandung dari mendiang suaminya.

"Papa cuma gak mau kamu menikah lagi, kasihan Regi di sana kalau lihat wanita yang dikasihinya berpaling pada pria lain,"

"Omong kosong!" bentak Kala, namun tetap dengan nada suara rendah.

Tanpa ingin berlama-lama di tempat itu bersama dengan mertua anehnya, Kala pun berhasil keluar dari ruangan sang Kepala Desa dengan langkah yang terburu.

Wajahnya memerah, matanya sembab menahan tangis.

"Kal... "

Suara itu.

Langkah Kala terhenti di depan gerbang kantor Desa Sukamerta. Ia memindai ke segala arah mencari sumber suara.

Tiba-tiba satu kap es krim muncul di depan matanya, aroma parfum khas yang sering dipakai Axel terembus oleh indera penciumannya.

"Axel.. "

Mata Kala berbinar, wajahnya yang sembab berubah ceria.

"Satu buah es krim untuk nona yang cantik," kata Axel sambil tersenyum tulus. Kala pun menerimanya dengan senang hati.

"Terima kasih,"

"Sama-sama," katanya sambil merangkul pundak Kala untuk berjalan beriringan dengannya. "Kamu gak apa-apa, kan? Mertua kamu gak sakiti kamu lagi?"

Kala menggeleng pelan. "Papa gak sakiti aku, cuma berlagak aneh seperti yang aku bilang sama kamu," katanya sambil menyeruput es krim. "Padahal sebelum ini dia normal-normal aja," lanjutnya lagi.

"Kalau kamu sampai diapa-apain, aku gak akan ragu lagi buat ambil kamu dari dia apapun resikonya," ucap Axel yakin.

Kala menunduk, seolah ada hal lain yang mengganjal pikirannya.

"Tapi, kalaupun aku berhasil kamu ambil. Emangnya orang tua kamu bisa nerima aku?"

Kala menatap wajah lelaki itu lekat-lekat, seakan jawaban Axel adalah penentu segala keputusan yang akan dia ambil selanjutnya.

"Aku gak peduli pendapat mereka," jawab Axel tanpa pikir panjang. "Aku gak mau kehilangan kamu lagi untuk yang kedua kalinya."

Sewaktu Axel menatapku, ada seseorang yang berjalan datang menghampiri kami.

"Wah, Neng Kala sekarang udah punya pasangan lagi, ya?" tanya seorang wanita bergamis menenteng kantong plastik di tangan kanannya.

Kala tersentak.

"Aduh!" gumamnya dalam hati.

Ia lupa kalau dirinya sedang berjalan di jalan lingkungan rumah mertuanya.

Namun, dengan mudahnya Axel menjawab pertanyaan ibu-ibu itu dengan seulas senyum tipis di bibirnya. "Saya saudaranya, Bu." kata Axel.

"Oh, saudaranya." jawab si ibu sedikit malu. "Dikirain pacar baru, padahal udah senang kalau pacarnya. Ganteng, Neng!" ujar si ibu tersenyum lebar.

Kala hanya menyuguhkan seulas senyum. Tak tahu harus berkata apa.

"Pulanglah, kalau terjadi sesuatu lagi di rumah aku bakal datang jemput kamu," ucap Axel pada Kala begitu si ibu yang tadi pergi meninggalkan keduanya.

Kala mengangguk pelan.

"Terima kasih,"

Axel mengangguk lalu melambaikan tangan pada wanita yang dikasihinya itu.

Namun, ketika beberapa detik Kala melangkahkan kakinya lagi. Terdengar suara yang tak asing di telinganya.

"Bagus sekali kamu!"

Kala terhenyak.

Kepalanya refleks menoleh ke belakang. Pak Gandi tiba-tiba sudah berada di depan matanya.

"Pa-Papa?"

Kala terkejut, keringat dingin mulai mengucur.

"Ikut papa!"

Pak Gandi menuntun tangan Kala kasar dan meminta perempuan itu untuk naik ke motornya.

Tanpa banyak bertanya Kala hanya bisa pasrah, ia takut kalau pria itu melaporkan kejadian barusan pada ayahnya lagi.

Namun, yang membuat Kala bingung...

"Pa... Papa mau bawa aku kemana?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 8 - Kebersamaan yang Singkat

    Baru beberapa jam Axel membawa Kala pergi bersamanya, berita mengenai Axel sudah menyebar kemana-mana. Narasi bahwa Axel seorang penculik dan predator wanita sudah tertanam kuat di kepala masyarakat seluruh Kota.Berulang kali ponsel Kala pun berdering, bahkan beberapa pesan masuk memenuhi notifikasi layar ponselnya. Namun, Kala mengabaikannya meski itu dari papanya sendiri. "Aku gak suka kamu kayak gini," kata Kala cemberut. Axel tersenyum tipis. "Terus kamu pengen aku kayak gimana barusan?" Nadanya begitu lembut. "Iya ngapain kek, jangan mau dipukulin gitu aja. Kamu kan gak salah!"Kala marah sambil mengompres wajah Axel yang memar bekas dipukuli tadi. "Aw!" Axel meringis. "Pelan-pelan," katanya lagi. "Salah sendiri kenapa pasrah aja sewaktu dipukuli tadi,""Aku cuma kasihan sama orang-orang itu, gak salah apa-apa tapi masa aku pukuli?""Kenapa kamu gak langsung bawa aku lari aja tadi, daripada kamu dipukuli sampai memar-memar kayak gini?!" Kala masih cemberut, tapi sebenarnya

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 7 - Drama Mertua Licik

    Kedua pria itu segera menyeret Axel keluar, dan memisahkan Kala dari sisinya. "Jangan sentuh aku!" bentak Kala pada kedua pria yang sedang memeganginya. "Lepasin!"Sementara Kala berusaha untuk melepaskan cengkeraman kedua orang yang memeganginya. Axel sudah dibawa oleh orang-orang itu menjauh darinya dan ia dipukuli oleh massa. "Axel!" Kala menjerit karena tak tahan melihat kekasih hatinya disakiti. "Aku bersumpah kalau Axel sampai kenapa-kenapa aku bakal bikin perhitungan sama kalian semua!" teriak Kala memberi ancaman. Kala berontak, ia kembali melakukan hal yang sama seperti apa yang telah ia lakukan pada papa mertuanya. Seperti pahlawan di televisi, Kala menendang satu-satu kedua orang yang menghalanginya. Entah darimana wanita itu mempelajari ilmu bela diri. "Axel.. "Kala berlari menghampiri kekasih hatinya. "Minggir kalian semua, minggir!"Reaksi wanita itu benar-benar diluar dugaan. Namun orang-orang masih mengabaikannya, malah tubuh Kala ikut tertimpuk oleh batu dan me

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 6 - Pria Itu Mengurungnya

    "Diam kamu di sini!" bentak Pak Gandi sambil membanting tubuh Kala ke lantai. Kala berontak, ia berusaha berdiri lagi meski ada bagian lututnya yang sakit. "Papa bawa aku kemana? Ini dimana, Pa?" teriak Kala dengan raut wajah penuh rasa takut. "Percuma kamu teriak, gak akan ada satu orang pun yang dengar!" jawab mertuanya sambil tertawa bercampur amarah. Kala menangis. Ia tak mengerti kenapa papa mertuanya bersikap aneh dan tak seperti biasanya. Dan, beberapa detik kemudian.. Tangan kasarnya itu mendarat di dagu Kala, memaksa Kala untuk membalas tatapannya, meski ia tahu kalau Kala sedang menangis. "Gak usah nangis, sayang... " katanya sambil tersenyum, nadanya lembut selembut sutera. Namun, Kala sudah terlanjur jijik. Ia memalingkan mukanya lagi."Diam, jangan menoleh." Pria tua itu menahannya. "Jangan buang muka sama papa, sayang.." katanya lagi sambil duduk di samping Kala. Jaraknya begitu dekat, sangat dekat hingga membuat Kala semakin takut dan ingin lari."Lepasin aku,

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 5 - Mertua Aneh

    "Mapnya udah aku titip di Kak Has-,"Ucapan Kala terhenti karena Pak Gandi langsung menyeret tangan Kala dan masuk ke dalam ruangannya. "Apa-apan sih, Pa?" Kala marah, lalu menepis kasar tangan sang mertua dari lengan kanannya. "Diam!" bentak Pak Gandi dengan rahang mengeras. "Kamu jangan dulu pulang, bantuin papa periksa beberapa berkas di sini," titahnya seraya mengajak Kala untuk duduk. Kala menyipitkan mata, menatap lurus-lurus sang mertua."Papa kenapa sih, pa? Lagian kan masih ada pegawai yang emang kerja di sini!" jawab Kala semakin kesal. "Kerja mereka gak bagus!" kilah Pak Gandi ketus. "Udah, kamu gak usah banyak omong. Mereka gak bakalan protes!""Tapi aku gak ngerti, Pa... " Kala masih berusaha untuk menolak. "Buka-buka aja, yang penting kamu tetap diam disini!""Mertua aneh!" Kala membatin, matanya mendelik tajam pada sosok pria tua di seberangnya. Tak mungkin kalau Kala tak menceritakan hal ini pada Axel, ia merogoh saku jaketnya dan segera mengirimkan pesan pada Ax

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 4 - Dibalik Pintu

    "Kal, bisa tolong ambilkan papa air minum?" Tak seperti biasanya Pak Gandi meminta tolong pada Kala untuk urusan itu. Tentu saja Kala sedikit kebingungan sewaktu mendengar perintah tersebut. Kala hanya diam membisu. Bertanya-tanya sendiri apa mungkin karena mama mertuanya tak ada? "Kal, kamu dengar gak? Kamu lagi ngapain di sana?" seru mertuanya lagi. Kala segera mengenakan jilbabnya, lalu keluar kamar untuk menemui sang papa mertua di ruang depan. "Kenapa kamu lama sekali?" ujar Pak Gandi menyipitkan mata begitu Kala datang menghampirinya. "Kenapa juga di rumah masih pakai jilbab?" tanyanya kesal. "Kok?" Kala heran dengan sikap Pak Gandi baru-baru ini. Biasanya beliau tak pernah bersikap tidak sopan seperti itu. "Kenapa papa suruh aku buka jilbabku?" tanya Kala dengan nada sedikit meninggi. "Ini rumah saya, jadi kamu harus ikut aturan yang saya bikin!" sentak Pak Gandi sambil mengangkat kedua kakinya ke atas meja. Kelakuan Pak Gandi benar-benar membuat Kala tak habis pikir. Se

  • Andai Waktu Berpihak   Bab 3 - Di Depan Pintu

    "Maaf kalau saya lancang, tapi saya gak tega melihat Kala diperlakukan kasar oleh bapak mertuanya."Jantung Kala berdebar kencang tak karuan. Ia takut kalau kedua keluarganya akan semakin mempersulit kehidupan Axel nanti. "Xel, udah. Tolong kamu pergi aja, aku yakin semuanya akan aman kalau kamu bisa pergi dari sini," ucap Kala dengan berderai air mata, memohon. "Kal, gak bisa." balas Axel tegas. "Kalau aja pertemuan pertama kita tadi berkesan baik, kayaknya aku gak akan sampai segila ini." tuturnya jujur. "Tapi aku gak mau kalau kamu sampai kenapa-kenapa, aku gak bisa lihat itu, Xel... "Mereka berdua lupa kalau semua keluarga memperhatikan, tanpa sadar tangan sang ayah Kala mendarat di pipi wanita berlesung itu. Hingga Kala meringis kesakitan. "Apa-apaan kamu?" bentak sang Ayah. "Apa Ayah gak salah dengar?""Kala cinta sama Axel, Yah... Perasaan itu masih ada sampai sekarang, Kala juga gak ngerti... " Kala menangis hingga terisak. Pak Gandi langsung menggebrak meja. "Sudah say

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status