Share

Bab 4

Author: Andin
Keesokan paginya, Aldo datang ke rumah sakit untuk menjemputku.

Dia sepertinya tidak tidur semalaman, sorot matanya dipenuhi kilatan garis merah. Begitu duduk, hal pertama yang dia lihat adalah botol infusku.

"Tadi malam pendarahan lagi?"

"Iya."

"Kenapa nggak kasih tahu aku?"

Aku menatapnya.

Tadi malam aku sempat meneleponnya.

Panggilan itu baru berdering dua kali sebelum akhirnya dimatikan.

Belakangan, Pak Diki, asisten Aldo memberitahuku kalau Melly menangis terus saat dijahit, jadi Aldo menemaninya di dalam dan tidak leluasa mengangkat telepon.

"Takut ganggu kamu."

Aldo terdiam sejenak.

Dia sepertinya juga teringat akan panggilan telepon itu, lalu merangkulku ke dalam pelukannya.

"Tangan Melly tergores pecahan giok sampai harus mendapat dua jahitan."

"Dari kecil dia paling takut sakit, di sampingnya juga nggak ada orang lain, aku nggak bisa tinggalin dia gitu aja."

Aku merespons pelan.

"Iya."

"Soal gelang itu, aku tahu perasaanmu lagi nggak enak."

Dia jeda sejenak, nada suaranya memelan.

"Waktu itu aku yang emosi sama dia duluan, sampai akhirnya dia pergi ke luar negeri."

"Selama tujuh tahun ini, aku hidup enak, sementara dia sama sekali nggak pernah balik."

"Karina, aku utang penjelasan sama dia."

Aku bersandar di dadanya, mendengarkan detak jantungnya yang berembus tenang.

Ternyata dia selalu ingat kalau dia berutang pada Melly.

Makanya setelah wanita itu kembali, dia memberinya posisi, membentenginya dari rumor, menggendongnya keluar terlebih dahulu saat kebakaran terjadi.

Padahal aku juga pernah berutang padanya.

Saat ibu sakit parah, aku berlutut di depan loket pembayaran memohon agar dokter mau menunggu sehari lagi.

Aldo-lah yang membangunkanku, lalu menyodorkan kartu banknya.

Kemudian saat dia disingkirkan oleh Keluarga Septian, aku menemaninya berdesakan di kantor sempit sambil makan mie instan, lalu membantunya merapikan berkas hingga fajar tiba.

Saat ada orang yang sengaja mencekokinya alkohol di acara jamuan bisnis, aku pasang badan di depan sampai mengalami pendarahan lambung tanpa mengeluh sedikit pun.

Waktu itu aku selalu merasa pemberiannya terlalu banyak, sementara usahaku masih belum cukup.

Sampai akhirnya kebakaran itu merenggut anakku, barulah aku berani mengakui ....

Selama tujuh tahun ini, aku tidak menikmati kebaikannya secara cuma-cuma.

Aku sudah melunasinya.

Melihatku melamun, Aldo mengangkat tangan menyentuh wajahku.

"Nanti kalau kondisimu udah membaik, aku bakal bawa kamu tinggal di kota pesisir sebentar."

"Kamu dari dulu mau lihat laut, 'kan?"

Aku menatap alis dan matanya yang berjarak sangat dekat dariku, sampai mataku mendadak terasa hangat.

Di tahun kedua pernikahan kami, dia juga pernah berjanji membawaku melihat laut.

Namun, sebelum berangkat, arus kas Grup Septian mendadak terputus.

Malam itu, dia bersandar di sofa kantor dan matanya memerah di depanku untuk pertama kalinya.

"Karina, aku mungkin bakal kehilangan segalanya."

Aku membatalkan dua tiket pesawat kami, lalu mentransfer seluruh tabunganku ke rekeningnya.

"Nggak apa-apa, aku temani kamu cari uang dari awal lagi."

Kemudian Grup Septian berhasil diselamatkan. Dia memelukku dan berjanji, begitu posisinya stabil, dia pasti mengganti liburan itu.

Janji itu tertunda selama lima tahun.

Kini dia akhirnya teringat.

Tapi, aku sudah tidak ingin pergi lagi.

"Boleh."

Aku tetap mengiyakan seperti biasa.

Dia tersenyum, lalu membungkuk mencium dahiku.

"Tidurlah, aku temani kamu."

Malam itu, dia tumben tidak pergi ke mana-mana.

Aku mendengarkan irama napasnya, terjaga menatap langit-langit sampai fajar menyingsing.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku tidak pernah lagi membahas tentang kebakaran itu, tidak pula mempertanyakan soal Melly.

Perhiasan, aset rumah, dan saham yang diberikan Aldo padaku, semuanya kuserahkan kepada pengacara untuk diproses.

Bi Sika yang melihat meja rias mendadak kosong separuh tidak tahan untuk bertanya.

"Nyonya, kenapa merapikan barang-barang ini?"

"Ada beberapa model yang udah aku nggak suka."

Bi Sika tidak berpikir macam-macam.

Semua orang tahu, Aldo memanjakanku selama tujuh tahun.

Mereka yakin aku tidak akan sanggup melepas posisi sebagai Nyonya Septian, apalagi kehidupan mewah yang dia berikan padaku.

Namun, mereka lupa.

Tujuh tahun lalu saat pertama kali tinggal di Keluarga Septian, aku hanya membawa sebuah koper tua.

Isinya cuma dua pasang baju ganti, foto ibu, dan selembar kuitansi pembayaran sebesar 740 juta.

Kini saat harus pergi, satu koper pun masih sangat cukup.

Di hari keberangkatanku, Aldo pergi ke kota sebelah.

Proyek yang dipegang Melly bermasalah, beberapa direktur menolak membubuhkan tanda tangan, jadi dia turun tangan langsung untuk pasang badan membela Melly.

Pagi harinya, dia mengirimkan pesan padaku.

[Aku langsung balik begitu masalahnya selesai.]

[Nanti malam kita makan bareng.]

Nada bicaranya sama persis seperti biasanya.

Dia mungkin mengira aku masih akan seperti tujuh tahun belakangan ini, menyalakan lampu rumah dan menunggunya pulang.

Namun kali ini, aku tidak membalas pesannya.

Saat pengumuman bandara bergema, aku menyerahkan dokumen cerai kepada pengacara.

"Tunggu sampai pesawat lepas landas, baru serahkan ini ke dia."

Pengacara menatap lembaran dokumen aset itu.

"Rumah, saham, perhiasan, semuanya benar-benar nggak mau?"

"Nggak mau."

"Semua ini udah lebih dari cukup untuk membuat hidupmu terjamin seumur hidup."

Aku menunduk menatap telapak tanganku.

Bekas cincin kawin yang kukenakan selama tujuh tahun di sana, kini hanya menyisakan lingkaran putih tipis.

"Kalau aku ambil, aku bakal merasa masih berutang sama dia."

"Kondisinya sekarang sudah pas."

Saat pesawat menembus lautan awan, kerlap-kerlip lampu Kota Malan perlahan mengecil.

Tujuh tahun lalu, aku pindah dari kamar ruang bawah tanah ke vila Keluarga Septian. Pertama kali tidur di atas kasur yang begitu empuk, aku sampai tidak berani membalikkan badan semalaman.

Aldo menertawakanku yang kampungan, lalu memelukku erat bersama selimutnya.

Dia bilang.

"Karina, inilah rumahmu."

Belakangan aku belajar memakai gaun malam, minum wine, juga belajar tersenyum menghadapi orang-orang Keluarga Septian yang merendahkanku.

Pada akhirnya, mereka tidak lagi secara terang-terangan memanggilku gadis miskin.

Aku pun hampir lupa, aku sebenarnya tidak berasal dari sana.

Sampai akhirnya kebakaran itu terjadi, Aldo melepaskan genggaman tanganku, lalu berbalik menggendong Melly.

Saat itulah aku mendadak sadar kembali.

Hanya orang yang dipilih olehnya yang berhak bertahan di Keluarga Septian.

Sementara aku hanya kebetulan ditolong olehnya sekali, lalu keliru mengira diriku akan dipilih olehnya selamanya.

Kota ini pernah memberiku hari-hari paling berat, tapi juga pernah memberiku sebuah rumah yang indah seperti mimpi.

Kini mimpinya sudah usai.

Aku tidak mati dalam kebakaran hebat itu.

Hanya saja istri Aldo, sudah selamanya tertinggal di dalam sana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 10

    Tiga tahun kemudian, aku membeli sebuah bangunan kecil di tepi pantai.Lantai satu kujadikan toko roti, lantai dua kupakai untuk mengajari anak-anak gadis sekitar membuat kue manis.Beberapa di antara mereka ada yang bernasib sama seperti diriku yang dulu.Tidak punya ijazah, tidak punya pula anggota keluarga yang bisa diandalkan.Aku memberi mereka gaji, sekaligus mengajari mereka keterampilan yang bisa dipakai untuk bertahan hidup.Tante Ica sering bilang, aku sudah banyak berubah.Tidak lagi serba hati-hati, tidak pula terbiasa melihat raut wajah orang lain terlebih dahulu.Saat berkaca barulah aku menyadari, ternyata setelah meninggalkan Aldo, aku bisa hidup jauh lebih menjadi diriku sendiri dibandingkan dulu.Rumah tua peninggalan ibu tidak kujual.Bunga bokor di pekarangan terus bermekaran setiap tahunnya.Sesekali aku duduk di bawah pohon, teringat akan calon anakku yang tidak sempat lahir ke dunia.Masih terasa sedih.Tapi, rasa sedih itu sudah tidak sanggup lagi mengurung lang

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 9

    Setahun kemudian, "Toko Roti Segar" membuka cabang kedua.Aku tidak memakai modal uang peninggalan Aldo sedikit pun.Awal memulainya sangat berat.Aku menjaminkan rumah tua ibu, lalu memangkas jam tidur harian menjadi lima jam saja.Tapi kali ini, kerja keras ini demi diriku sendiri.Doni bertanggung jawab menangani promosi, Tante Ica membantuku mengawasi cabang toko pertama.Di hari pembukaan toko baru, antrean panjang mengular di depan pintu.Aku berdiri di depan oven, menatap loyang demi loyang roti yang mengembang, hatiku pertama kalinya merasakan kepuasan yang sangat mantap.Dulu tiap kali orang membicarakanku, mereka selalu bilang kalau aku ini istrinya Aldo.Sekarang ada orang yang sengaja datang jauh-jauh cuma demi menikmati sepotong kue buatan Karina.Aku bukan lagi bayang-bayang siapa pun.Sesekali Aldo masih suka datang.Dia tidak lagi memohon padaku untuk kembali, tidak pula pasang badan menghalangi jalanku.Dia hanya duduk di sudut toko yang paling pojok, memesan secangkir

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 8

    Aldo tidak pergi meninggalkan kota kecil ini.Dia menginap di homestay sebelah.Setiap pagi sebelum pintu toko dibuka, dia sudah berdiri menanti di seberang jalan.Aku tidak memedulikannya.Dia akan terus menunggu sampai malam hari.Pernah suatu kali saat angin topan menerjang, papan nama toko terhempas jatuh.Keesokan harinya saat aku tiba di toko, papan namanya sudah selesai diperbaiki.Doni bilang Aldo menerjang hujan mengerjakannya tengah malam, sampai telapak tangannya tergores plat besi dan mendapat enam jahitan.Aku hanya menghubungi tukang untuk menggantinya dengan papan nama yang baru.Menatap papan nama lama yang dilepas, ada sorot canggung dan serba salah di mata Aldo."Kenapa harus diganti?""Aku nggak suka berutang sama orang.""Kita ini suami istri.""Sebentar lagi udah bukan."Dia tidak berkata apa-apa lagi.Sebelum persidangan cerai dimulai, Aldo akhirnya mau menandatangani surat perjanjian itu.Di hari penandatanganan, dia mengalihkan kembali seluruh aset atas namaku.

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 7

    Hari saat toko roti resmi dibuka, cuacanya sangat bagus.Aku menamainya "Toko Roti Segar".Tante Ica bilang namanya kurang elegan.Tapi, menurutku nama itu sangat bagus.Tokonya tidak besar, begitu jendela dibuka bisa langsung melihat laut.Pada awalnya pelanggan tidak terlalu banyak, setiap hari aku bangun jam empat pagi untuk menguleni adonan, lalu jam sepuluh malam baru menutup toko.Tubuhku masih suka terasa nyeri samar-samar.Dokter memintaku kontrol rutin tepat waktu, serta mengingatkanku agar tidak terlalu lelah.Aku mulai belajar cara merawat diriku sendiri.Dulu aku selalu ingat obat lambung Aldo, jadwal rapat, dan setiap hari penting baginya, tapi sering kali lupa kalau diriku sendiri juga bisa sakit.Sebulan kemudian, toko perlahan punya pelanggan langganan.Doni, pemilik homestay di sebelah, membantuku mengambil foto lalu mengunggahnya ke internet.Tepi pantai, bunga-bunga segar, dan roti yang baru matang menarik perhatian cukup banyak wisatawan.Ada orang yang mengenaliku,

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 6

    Aku menghabiskan waktu setengah bulan untuk merapikan rumah tua peninggalan ibu.Di pekarangan awalnya ada pohon jeruk yang sudah mati kering.Tante Ica membujukku untuk menebangnya saja.Tapi, aku malah menyiramnya selama beberapa hari.Belakangan tukang kebun memberitahuku bahwa akar pohonnya sudah membusuk, kalau dibiarkan cuma bakal mengundang hama.Aku berdiri di bawah pohon cukup lama."Kalau gitu tebang aja deh."Ada hal-hal yang kalau memang sudah mati, tidak akan bisa hidup kembali cuma karena disiram air berkali-kali.Setelah batang kayunya diangkut pergi, pekarangan rumah jadi terasa sangat luas.Di sana aku menanam bunga bokor putih.Lalu menggunakan tabunganku sendiri untuk menyewa sebuah ruko di tepi pantai, bersiap membuka toko roti.Sebelum menikah dengan Aldo, aku pernah bekerja mengantar minuman di kelab malam, pernah juga jadi anak magang di toko kue.Waktu ibu dirawat di rumah sakit, aku sering membawa pulang roti sisa yang tidak terjual.Ibu selalu bilang, roti bua

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 5

    Setelah pesawat mendarat, aku tidak langsung menyalakan ponsel.Di luar jendela sedang turun hujan.Lampu-lampu kota asing ini menyatu menjadi satu deretan dari balik kabut air.Sama seperti hujan malam bertahun-tahun lalu, saat pertama kali aku ikut Aldo pulang ke Keluarga Septian.Waktu itu dia memegangkan payung untukku, lalu memasangkan jasnya ke bahuku.Kini aku menyeret koper tuaku, berjalan sendirian menerobos hujan.Saat ponsel kembali menyala, di layar bermunculan puluhan panggilan tak terjawab.Aku tidak membukanya.Sopir taksi bertanya aku mau pergi ke mana.Aku menyebutkan nama sebuah kota kecil di tepi pantai.Di sana ada sebuah rumah tua peninggalan ibu.Waktu aku masih kecil, ibu selalu bilang kalau sembuh nanti, dia akan membawaku kembali ke sana untuk melihat laut.Tapi, dia tidak pernah sempat menunggu sampai hari itu tiba.Saat mobil melaju keluar dari bandara, aku mengheningkan ponsel, lalu bersandar di kaca jendela dan tertidur.Tidurku sangat lelap.Saat terbangun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status