Share

Bab 3

Author: Andin
Setelah surat pernyataan dirilis, semua orang memuji keputusan tegas Aldo.

Ada juga yang memuji kelapangan dadaku, bilang kalau aku memang pantas menjadi Nyonya Septian.

Demi meredam rumor, Adis menggelar jamuan makan keluarga.

Dia secara khusus berpesan.

"Nanti malam semua senior Keluarga Septian bakal hadir, kamu jangan pasang muka masam."

"Melly lagi syok, kalau dia ada salah cakap, kamu ngalah aja."

Aku mengangguk.

"Iya."

Aldo memilihkanku gaun panjang yang longgar.

"Kondisimu belum pulih, nanti tunjukkan diri sebentar aja, lalu kita pulang."

Setelah berucap, dia mengambil bros mutiara dari kotak perhiasan, lalu menyematkannya di dadaku.

Itu hadiah ulang tahun yang dia berikan padaku di tahun pertama pernikahan kami.

Waktu itu aliran dana Grup Septian sedang bermasalah. Saat berada di titik terendahnya, dia bahkan sampai menjual mobilnya.

Aku sudah bilang tidak minta apa-apa.

Namun, dia malah memakai uang hasil menjual jam tangannya untuk membeli bros ini.

"Apa yang orang lain punya, istriku juga harus punya."

Aku menyentuh mutiara itu.

Barangnya masih ada.

Hanya saja pria yang dulu selalu memprioritaskanku, sepertinya sudah tidak ada lagi.

Saat tiba di Keluarga Septian, Melly sedang menemani Nenek Sari, neneknya Aldo mengobrol.

Dia mengenakan gelang giok milik Keluarga Septian.

Di tahun pertama aku masuk ke keluarga ini, Nenek Sari bilang gelang itu bakal diwariskan untuk menantu tertua Keluarga Septian.

Namun, meski sudah tujuh tahun mengenakan cincin kawin Nyonya Septian, aku bahkan tidak pernah menyentuh gelang itu.

Adis menjelaskan sambil tersenyum.

"Hari ini Melly pakai gaun kebaya, jadi aku pinjamkan gelang itu padanya."

Melly mengangkat tangannya.

"Karina nggak bakal keberatan, 'kan?"

Aku menggelengkan kepala.

"Nggak keberatan."

Senyumnya makin terlihat lembut.

"Bagus deh, kamu 'kan sebelumnya nggak pernah pakai, harusnya memang nggak suka."

Aldo mengerutkan dahi, tapi dia hanya berkata.

"Ayo makan."

Di tengah santap malam, Nenek Sari menanyakan proyek Subaya.

Itu proyek yang berhasil kudapatkan setelah menemaninya bergadang selama setengah tahun di masa-masa tersulit Aldo.

Demi membuat seorang direktur senior berubah pikiran, aku pernah berdiri menunggunya di tengah terpaan hawa dingin selama empat jam, sampai mengalami demam tinggi begitu pulang.

Aldo memelukku dan berbisik berulang kali.

"Karina, kalau posisiku udah stabil nanti, aku nggak bakal biarin kamu mohon sama orang lain lagi."

Namun kini, penanggung jawab baru proyek itu adalah Melly.

Wanita itu duduk di samping Aldo, berbicara dengan sangat lancar tentang bisnis yang dulu kurebut bersama Aldo.

Para senior Keluarga Septian melontarkan pujian bertubi-tubi.

"Memang harus Melly."

"Latar belakang dan wawasannya cocok sekali sama Aldo."

Adis menambahkan dengan nada datar.

"Hal-hal seperti itu, mau diusahakan sekeras apa pun belakangan, tetap nggak bakal bisa dipelajari."

Di bawah meja, Aldo menggenggam tanganku.

Sama seperti dulu setiap kali keluarganya menyudutkanku.

Hatiku baru merasa sedikit sedih, Melly mendadak memekik kaget.

"Gelangnya kok bisa retak?"

Ada garis retakan halus di atas batu giok itu.

Dia panik dan menatapku.

"Karina, tadi kamu sempat menarik tanganku ...."

Tatapan semua orang seketika tertuju padaku.

Adis membanting sumpitnya dengan kasar.

"Kalau kamu nggak suka aku pinjamkan gelang ini ke Melly, kamu juga nggak bisa seenaknya merusaknya!"

"Aku nggak pernah menyentuh gelang itu."

"Kalau bukan kamu, siapa lagi?"

Melly buru-buru membujuk.

"Tante jangan marah, Karina 'kan baru aja kehilangan bayinya, wajar kalau perasaannya lagi nggak stabil."

Kalimat itu terdengar seperti membelaku.

Padahal kenyataannya justru makin menyudutkanku seolah aku melukai orang lain karena cemburu.

Aku menatap Aldo.

Raut lelah terpancar di sela dahinya.

"Karina, kamu minta maaf dulu sama Nenek."

"Bukan aku."

"Melly nggak punya alasan buat mempertaruhkan pergelangan tangannya sendiri."

Aku mendadak teringat kejadian bertahun-tahun lalu.

Saat itu seorang tamu di kelab malam menuduhku mencuri jam tangan.

Semua orang mendesak ingin menggeledah tubuhku.

Aldo pasang badan melindungiku di belakangnya, lalu memeriksa rekaman CCTV selama enam jam penuh.

Pada akhirnya, dia memaksa orang itu berlutut dan meminta maaf padaku.

Dia bilang.

"Karina ikut aku, dia nggak boleh kena tuduhan kotor seperti ini."

Namun kini, dia bahkan tidak memeriksa apa pun.

Mungkin karena di dalam hatinya, Melly juga tidak boleh kena tuduhan kotor.

Sementara aku sudah terbiasa menanggungnya.

Adis mendesak dengan suara dingin.

"Tunggu apa lagi?"

Aku menatap Aldo.

Dia tidak mengalihkan pandangannya, tapi dia juga tidak berdiri di sampingku.

Aku perlahan bangkit berdiri, lalu menundukkan kepala ke arah Nenek Sari.

"Maaf, sudah merusak acara makan malam keluarga."

Raut wajah Aldo akhirnya melunak.

"Karina memang selalu pengertian, masalah ini sampai di sini aja."

Dia menemani Melly untuk mengobati luka goresan di pergelangan tangannya.

Dia tidak melihat, saat aku bangkit berdiri, bagian bawah gaunku sudah ternoda warna merah pekat.

Di tengah perjalanan pulang, perut bawahku mendadak terasa sakit luar biasa.

Aku membungkuk, keringat dingin terus mengucur deras.

Sopir yang melihat raut wajahku dari kaca spion langsung panik, dia segera memutar arah dan membawaku ke rumah sakit.

Dokter menghentikan pendarahanku, lalu menegur dengan nada keras.

"Baru selesai operasi, udah berdiri lama-lama, kamu nggak sayang sama badanmu sendiri?"

Aku terbaring di ranjang RS, menahan sakit hingga tidak sanggup bersuara.

Aldo hanya menyuruh asistennya menyampaikan satu pesan.

Luka Melly mengalami infeksi, jadi dia tidak bisa datang malam ini.

Lampu-lampu di luar jendela padam satu per satu.

Aku membuka berkas surat cerai yang dikirimkan oleh pengacara, lalu membubuhkan tanda tanganku di lembar terakhir.

Tanggal keberangkatanku ditetapkan tujuh hari lagi.

Hari itu tepat hari peringatan kematian ibu.

Tujuh tahun lalu, Aldo mengeluarkan 740 juta demi memperpanjang hidup ibuku selama setengah tahun terakhir.

Kini, aku sudah menemaninya melewati masa-masa paling berat selama tujuh tahun, juga meninggalkan seorang anak di dalam kobaran api.

Utang budi ini, seharusnya sudah lunas sepenuhnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 10

    Tiga tahun kemudian, aku membeli sebuah bangunan kecil di tepi pantai.Lantai satu kujadikan toko roti, lantai dua kupakai untuk mengajari anak-anak gadis sekitar membuat kue manis.Beberapa di antara mereka ada yang bernasib sama seperti diriku yang dulu.Tidak punya ijazah, tidak punya pula anggota keluarga yang bisa diandalkan.Aku memberi mereka gaji, sekaligus mengajari mereka keterampilan yang bisa dipakai untuk bertahan hidup.Tante Ica sering bilang, aku sudah banyak berubah.Tidak lagi serba hati-hati, tidak pula terbiasa melihat raut wajah orang lain terlebih dahulu.Saat berkaca barulah aku menyadari, ternyata setelah meninggalkan Aldo, aku bisa hidup jauh lebih menjadi diriku sendiri dibandingkan dulu.Rumah tua peninggalan ibu tidak kujual.Bunga bokor di pekarangan terus bermekaran setiap tahunnya.Sesekali aku duduk di bawah pohon, teringat akan calon anakku yang tidak sempat lahir ke dunia.Masih terasa sedih.Tapi, rasa sedih itu sudah tidak sanggup lagi mengurung lang

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 9

    Setahun kemudian, "Toko Roti Segar" membuka cabang kedua.Aku tidak memakai modal uang peninggalan Aldo sedikit pun.Awal memulainya sangat berat.Aku menjaminkan rumah tua ibu, lalu memangkas jam tidur harian menjadi lima jam saja.Tapi kali ini, kerja keras ini demi diriku sendiri.Doni bertanggung jawab menangani promosi, Tante Ica membantuku mengawasi cabang toko pertama.Di hari pembukaan toko baru, antrean panjang mengular di depan pintu.Aku berdiri di depan oven, menatap loyang demi loyang roti yang mengembang, hatiku pertama kalinya merasakan kepuasan yang sangat mantap.Dulu tiap kali orang membicarakanku, mereka selalu bilang kalau aku ini istrinya Aldo.Sekarang ada orang yang sengaja datang jauh-jauh cuma demi menikmati sepotong kue buatan Karina.Aku bukan lagi bayang-bayang siapa pun.Sesekali Aldo masih suka datang.Dia tidak lagi memohon padaku untuk kembali, tidak pula pasang badan menghalangi jalanku.Dia hanya duduk di sudut toko yang paling pojok, memesan secangkir

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 8

    Aldo tidak pergi meninggalkan kota kecil ini.Dia menginap di homestay sebelah.Setiap pagi sebelum pintu toko dibuka, dia sudah berdiri menanti di seberang jalan.Aku tidak memedulikannya.Dia akan terus menunggu sampai malam hari.Pernah suatu kali saat angin topan menerjang, papan nama toko terhempas jatuh.Keesokan harinya saat aku tiba di toko, papan namanya sudah selesai diperbaiki.Doni bilang Aldo menerjang hujan mengerjakannya tengah malam, sampai telapak tangannya tergores plat besi dan mendapat enam jahitan.Aku hanya menghubungi tukang untuk menggantinya dengan papan nama yang baru.Menatap papan nama lama yang dilepas, ada sorot canggung dan serba salah di mata Aldo."Kenapa harus diganti?""Aku nggak suka berutang sama orang.""Kita ini suami istri.""Sebentar lagi udah bukan."Dia tidak berkata apa-apa lagi.Sebelum persidangan cerai dimulai, Aldo akhirnya mau menandatangani surat perjanjian itu.Di hari penandatanganan, dia mengalihkan kembali seluruh aset atas namaku.

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 7

    Hari saat toko roti resmi dibuka, cuacanya sangat bagus.Aku menamainya "Toko Roti Segar".Tante Ica bilang namanya kurang elegan.Tapi, menurutku nama itu sangat bagus.Tokonya tidak besar, begitu jendela dibuka bisa langsung melihat laut.Pada awalnya pelanggan tidak terlalu banyak, setiap hari aku bangun jam empat pagi untuk menguleni adonan, lalu jam sepuluh malam baru menutup toko.Tubuhku masih suka terasa nyeri samar-samar.Dokter memintaku kontrol rutin tepat waktu, serta mengingatkanku agar tidak terlalu lelah.Aku mulai belajar cara merawat diriku sendiri.Dulu aku selalu ingat obat lambung Aldo, jadwal rapat, dan setiap hari penting baginya, tapi sering kali lupa kalau diriku sendiri juga bisa sakit.Sebulan kemudian, toko perlahan punya pelanggan langganan.Doni, pemilik homestay di sebelah, membantuku mengambil foto lalu mengunggahnya ke internet.Tepi pantai, bunga-bunga segar, dan roti yang baru matang menarik perhatian cukup banyak wisatawan.Ada orang yang mengenaliku,

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 6

    Aku menghabiskan waktu setengah bulan untuk merapikan rumah tua peninggalan ibu.Di pekarangan awalnya ada pohon jeruk yang sudah mati kering.Tante Ica membujukku untuk menebangnya saja.Tapi, aku malah menyiramnya selama beberapa hari.Belakangan tukang kebun memberitahuku bahwa akar pohonnya sudah membusuk, kalau dibiarkan cuma bakal mengundang hama.Aku berdiri di bawah pohon cukup lama."Kalau gitu tebang aja deh."Ada hal-hal yang kalau memang sudah mati, tidak akan bisa hidup kembali cuma karena disiram air berkali-kali.Setelah batang kayunya diangkut pergi, pekarangan rumah jadi terasa sangat luas.Di sana aku menanam bunga bokor putih.Lalu menggunakan tabunganku sendiri untuk menyewa sebuah ruko di tepi pantai, bersiap membuka toko roti.Sebelum menikah dengan Aldo, aku pernah bekerja mengantar minuman di kelab malam, pernah juga jadi anak magang di toko kue.Waktu ibu dirawat di rumah sakit, aku sering membawa pulang roti sisa yang tidak terjual.Ibu selalu bilang, roti bua

  • Anggur Kecil yang Gugur Sebelum Waktunya   Bab 5

    Setelah pesawat mendarat, aku tidak langsung menyalakan ponsel.Di luar jendela sedang turun hujan.Lampu-lampu kota asing ini menyatu menjadi satu deretan dari balik kabut air.Sama seperti hujan malam bertahun-tahun lalu, saat pertama kali aku ikut Aldo pulang ke Keluarga Septian.Waktu itu dia memegangkan payung untukku, lalu memasangkan jasnya ke bahuku.Kini aku menyeret koper tuaku, berjalan sendirian menerobos hujan.Saat ponsel kembali menyala, di layar bermunculan puluhan panggilan tak terjawab.Aku tidak membukanya.Sopir taksi bertanya aku mau pergi ke mana.Aku menyebutkan nama sebuah kota kecil di tepi pantai.Di sana ada sebuah rumah tua peninggalan ibu.Waktu aku masih kecil, ibu selalu bilang kalau sembuh nanti, dia akan membawaku kembali ke sana untuk melihat laut.Tapi, dia tidak pernah sempat menunggu sampai hari itu tiba.Saat mobil melaju keluar dari bandara, aku mengheningkan ponsel, lalu bersandar di kaca jendela dan tertidur.Tidurku sangat lelap.Saat terbangun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status