Short
Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin

Sembilan Tahun yang Hanyut Bersama Angin

By:  GesCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Nama kami hanya berbeda satu huruf. Asisten junior Rendra bernama Alesha, sedangkan namaku Alisha. Untuk kesekian kalinya, Alesha kembali salah menyebut nama kami berdua. Kali ini, kesalahan itu terjadi di pesta lajang yang diadakan perusahaan untuk merayakan hubunganku dan Rendra. Semua orang langsung bersorak, menggoda kami berdua. Sebuah spanduk berisi ucapan selamat atas berakhirnya masa lajangku dan Rendra pun dibentangkan. Seseorang membacanya dengan lantang. “Selamat untuk Rendra dan Alesha! Semoga kalian selalu bahagia dan saling mencintai selamanya!” Suasana di dalam ruang pesta seketika hening. Suara Alesha yang lirih dan gugup pun terdengar. “Maaf, Kak Alisha. Aku nggak sengaja salah lagi.” Aku tak berkata apa-apa. Aku hanya menoleh ke arah Rendra. Alisnya bahkan tak berkerut sedikit pun. Tanpa sadar, dia justru menenangkan Alesha. “Nggak apa-apa. Cuma masalah kecil. Dia nggak akan mempermasalahkannya.” Setelah mengatakan itu, dia berjalan menghampiri Alesha dan berdiri di sisi yang berlawanan denganku. Tubuhnya sepenuhnya menutupi sosok Alesha. Tatapannya kembali tertuju kepadaku, menyiratkan peringatan yang sama seperti sebelumnya. “Alisha, itu cuma spanduk. Dia nggak sengaja melakukannya.”

View More

Chapter 1

Bab 1

“Toh, semua orang tahu tokoh utama hari ini adalah kita. Nggak usah permasalahkan hal kecil seperti ini, oke?”

Alesha.

Alisha.

Bukankah semuanya sudah jelas?

Perlahan, kulepaskan balon yang sejak tadi kupegang.

“Ya, aku nggak akan mempermasalahkannya.”

Mulai sekarang, aku juga tak akan pernah mempermasalahkan apa pun lagi.

….

Balon yang kulepaskan perlahan melayang ke udara. Tampak begitu mencolok di tengah ruangan yang sunyi, sebelum akhirnya jatuh lemas ke lantai.

Di tengah suasana yang canggung, seseorang bersuara pelan.

“Kalau begitu … spanduk ini masih perlu dipasang atau nggak?”

Aku hanya memasang wajah datar.

“Pasang saja. Bagaimanapun, ada orang yang sudah bersusah payah membuatnya.”

Begitu aku selesai mengatakannya, mata Alesha langsung memerah.

“Kak Alisha, aku benar-benar nggak sengaja.”

“Spanduk ini kupesan tadi malam waktu lembur sampai jam sebelas. Mungkin karena sudah terlalu malam, aku nggak sengaja mengirim nama yang salah.”

“Aku benar-benar minta maaf!”

Aku bahkan belum sempat bicara, Rendra sudah lebih dulu mengernyit.

“Alisha, cuma beda satu huruf. Nggak perlu menyudutkannya.”

“Anggap saja itu namamu. Sudahlah, jangan dipermasalahkan lagi.”

Aku menatapnya.

Aku benar-benar tak mengerti bagaimana bisa aku lagi-lagi dianggap mempersulit Alesha.

Ketidaksenangan di mata Rendra semakin terlihat jelas. Saat dia hendak menegurku, seseorang segera maju mencairkan suasana.

“Kak, sini! Ayo, kita minum!”

“Benar! Besok ‘kan hari terakhir kalian sebagai lajang!”

Setelah beberapa kali bersulang, suasana kembali meriah.

Aku duduk di kursi.

Di sampingku, Rendra sedang mengupas udang karang kecil.

Gerakannya sangat cepat.

Karena aku menyukainya, selama sembilan tahun ini dia selalu mengupaskan udang untukku.

Tak lama kemudian, daging udang di dalam mangkuk sudah menumpuk hingga menggunung.

Aku baru saja hendak berkata bahwa aku sedang tak berselera makan. Namun, sebelum sempat mengatakannya, dia menggeser mangkuk itu ke sebelah kanan.

Tepat di depan Alesha.

Namun, perkataannya justru ditujukan kepadaku.

“Lesha lagi pakai kuku panjang, jadi nggak leluasa. Jangan salah paham.”

Hatiku terasa seperti digesek butiran pasir halus.

Perih dan kebas sekaligus.

“Lisha, seumur hidupku, aku hanya akan mengupaskan udang untukmu!”

Ucapan Rendra yang dulu pernah kudengar kembali terngiang di telingaku, membuatku tak habis pikir.

Bagaimana mungkin hati seseorang berubah secepat ini?

Daging udang di dalam mangkuk itu tampak merah mencolok hingga membuat mataku terasa perih.

Aku bangkit dan pergi ke toilet.

Saat kembali, baru saja sampai di depan pintu ruangan, aku mendengar tawa mengejek dari salah seorang rekan bisnis.

“Mas Bro, bentar lagi kamu ‘kan mau nikah. Kok masih perhatian banget sama Lesha?”

“Nah, itu poinnya. Jangan-jangan ... kamu mau punya dua sekaligus?”

Rendra tak menyangkal.

Namun, Alesha justru angkat bicara.

“Aduh, jangan sembarangan bicara!”

“Kak Rendra cuma sedang menjagaku.”

Namun, nada suaranya sama sekali tak terdengar seperti sedang menyangkal.

Justru terdengar seperti sedang bermanja.

Setelah itu, terdengar gelak tawa penuh ejekan.

Aku mendorong pintu dan masuk.

Orang-orang di dalam buru-buru mengalihkan pembicaraan.

Senyum tadi masih tersisa di sudut bibir Rendra. Dia lalu mendorong sebuah mangkuk ke arahku.

“Beberapa hari lalu kamu bilang mau makan udang, ‘kan? Nih, untukmu.”

Aku menunduk dan melihat isinya.

Itu adalah sisa udang yang dimakan Alesha.

Ternyata dia masih ingat aku pernah bilang ingin makan udang.

Hanya saja, sekarang di hatinya, aku hanya pantas memakan sisa orang lain.

Sampai acara selesai dan kami berfoto bersama, peralatan makan di depanku tak pernah lagi tersentuh.

Namun, Rendra sudah tak lagi melihatnya.

Setelah acara selesai, hujan deras turun di luar.

Aku berdiri di depan pintu, menunggu Rendra.

Pintu mobil terbuka.

Rendra datang sambil membawa payung.

Dia melewatiku begitu saja.

Sebaliknya, dia justru merangkul Alesha yang berdiri di belakangku, melindunginya saat mengantarnya masuk ke mobil.

Setelah mereka berdua duduk dengan nyaman, barulah Rendra memanggilku.

“Kenapa bengong? Hujannya deras sekali. Cepat masuk!”

Bahu kiriku baru saja terluka seminggu lalu.

Aku tak boleh terkena hujan.

Dia sudah melupakannya.

Hujan deras malam itu sekaligus memadamkan kobaran api terakhir yang masih tersisa di hatiku.

Aku menarik sudut bibirku dengan getir, lalu membuka pintu mobil di tengah guyuran hujan dan masuk ke dalam.

Sepanjang perjalanan, Alesha terus mengobrol dengan Rendra tentang hal-hal sepele.

Mulai dari pakaian apa yang akan dikenakan besok ke kantor, hingga anjing yang mereka pelihara di rumah yang belakangan ini tak berselera makan.

Rendra sesekali menanggapi sambil tersenyum.

Seolah-olah dia bukan orang yang dulu pernah berkata kepadaku …

“Jangan ganggu aku saat sedang menyetir.”

Aku mengeluarkan ponsel.

Di layar masih terlihat halaman reservasi untuk mengurus surat nikah di Kantor Urusan Sipil yang kubuat seminggu lalu.

Jadwalnya lusa.

Jariku sedikit gemetar.

Lalu ….

Kutekan tombol batalkan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status