Share

Bab 7

Author: Stroberi
Bella sebenarnya ingin menolak, tetapi tiba-tiba dia teringat sesuatu.

Dia mengangkat ponselnya dan mengirim sebuah pesan. Tidak lama kemudian, ponsel Tuan Willy ikut berbunyi bersamaan.

[Kalau nggak ingin dia kecewa, transfer seratus triliun itu ke rekeningku sekarang juga.]

Uang seratus triliun itu sebenarnya baru akan diberikan saat hari pernikahan Bella tiba. Namun, dia sudah tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dengan keadaan seperti sekarang, dia takut akan terjadi perubahan.

Melihat Tuan Willy tidak kunjung mengambil ponselnya, Bella mengingatkan dengan tenang, "Ayah, ponsel Ayah berbunyi. Nggak dicek?"

Begitu membaca isi pesan itu, raut wajah Tuan Willy langsung berubah.

Namun, keraguan itu hanya berlangsung sesaat. Dia segera membalas singkat.

[Ya.]

Bella tahu Tuan Willy adalah orang yang selalu menepati ucapan. Setelah mendapat jawaban pasti, dia menoleh pada Raisa dan memperlihatkan senyum tipis.

"Aku bakal ikut."

Karena kejadian tadi, Bella sudah kehilangan minat untuk berfoto.

Dia pun membawa Vivi pergi dari studio foto, meninggalkan semua rasa kesal dan kekacauan itu di belakang.

Sesampainya di rumah, Bella tertidur lelap. Dalam mimpinya, semua kenangan bersama Martin kembali muncul satu per satu.

Alunan piano di pesta kedewasaan mereka, dansa di tengah aula, lalu semuanya perlahan hilang tertiup angin hingga tidak bersisa.

Di tengah kesadaran yang samar, dia seperti mendengar suara langkah kecil dan gesekan pelan. Awalnya dia mengira itu hanya bagian dari mimpi.

Namun, ketika membuka mata, Bella mendapati Martin ternyata sudah pulang entah sejak kapan.

Pria itu dengan hati-hati meletakkan bubur jamur hangat yang dibungkus rapi di atas meja. Gerakannya begitu pelan dan lembut.

Saat pandangan mereka bertemu, tangan Martin gemetar hingga bubur panas itu tumpah ke tangannya sendiri.

Setelah buru-buru mengelapnya, dia tersenyum pada Bella. "Kau sudah bangun? Cepat makan. Aku yakin hari ini kau belum makan apa-apa, jadi aku pergi membelikan bubur jamur favoritmu di barat kota."

"Mm."

Bella memang lapar. Dia tidak menolak perhatian Martin.

Di tengah makan, Martin kembali membuka suara.

"Tadi di studio foto, suasana antara kau sama Paman Willy terasa aneh. Apa terjadi sesuatu di antara kalian?"

"Nggak."

Jawaban Bella singkat dan tegas, tanpa banyak bicara lagi.

Martin menghela napas pelan. Dia ingin menyeka butiran nasi di sudut bibir Bella, tetapi Bella menghindar.

Tangannya menggantung canggung di udara, maju salah mundur pun salah. Beberapa detik kemudian, Martin perlahan menarik tangannya kembali.

"Bella, aku tahu kau masih marah sama aku. Tapi aku sudah bilang, semua ini kulakukan hanya untuk membantumu menebus rasa bersalah pada Raisa. Nggak lebih dari itu."

"Dia sebentar lagi bakal menikah ke Keluarga Daryata. Semua orang melakukan ini cuma buat menghiburnya sebelum dia pergi."

Bella memotong ucapannya, "Jadi menurutmu sikap pilih kasih ayah sama ibu ke Raisa juga cuma bentuk kompensasi karena dia bakal menikah ke Keluarga Daryata, begitu?"

Martin tampak terpaku. Dia refleks balik bertanya, "Memangnya bukan begitu?"

Bella tidak menjawab, tetapi dalam hati dia mencibir dingin.

Tiba-tiba dia jadi penasaran. Dia ingin sekali melihat ekspresi Martin saat tahu bahwa orang yang akan menikah ke Keluarga Daryata bukan Raisa, melainkan dirinya.

"Sudahlah. Beberapa hari ini jangan membuat masalah lagi. Setelah Raisa menikah ke Keluarga Daryata, semuanya bakal kembali normal."

Bella tetap diam. Tatapannya hanya tertuju pada daun-daun gugur di luar jendela.

Ya. Semua ini memang akan segera berakhir.

...

Keesokan paginya, Martin bangun sangat awal. Setiap kali bepergian, dia selalu sengaja memarkir mobil tepat di depan vila agar Bella tidak perlu berjalan terlalu jauh.

Namun, kali ini, begitu Bella keluar rumah, dia langsung melihat Raisa duduk di kursi penumpang depan.

Raisa memperlihatkan senyum polosnya yang seakan tidak berbahaya.

"Kak, aku sedikit mabuk perjalanan. Nggak apa-apa kalau aku duduk di depan, 'kan?"

"Nggak masalah."

Jawaban Bella membuat Martin dan Raisa sama-sama terkejut.

Martin awalnya mengira dia harus bersusah payah menjelaskan panjang lebar, tetapi Bella justru menyetujuinya begitu mudah.

Senyum puas perlahan muncul di sudut bibirnya. Pasti perkataannya semalam berhasil menenangkan Bella.

Sementara itu, Raisa hanya mengernyit tipis. Tatapannya terus mengamati Bella lewat kaca spion dengan penuh selidik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 27

    Saat Martin kembali sadar, dia tidak melihat Bella di sisinya.Dia tertawa getir. "Sepertinya, dia memang sangat membenciku."Namun, di detik berikutnya, Bella masuk ke ruang rawat sambil membawa kotak bekal makanan. Saat melihat Martin sudah bangun, dia tampak sedikit terkejut."Cepat sekali sadarnya? Makanlah dulu.""Aku kira, kau sudah lama pergi ...."Bella tersenyum tipis. "Bagaimanapun juga, kau terluka karena menyelamatkanku. Sebelum kau sadar, aku memang nggak bakal pergi."Setelah mengatakan itu, nada bicara Bella berubah. "Tapi jangan salah paham. Aku nggak bakal merasa berutang budi karenanya. Semua musibah ini juga bermula darimu."Martin menundukkan kepala. Dia tahu semua ini memang terjadi karena dirinya.Beberapa saat kemudian, dia baru bertanya dengan suara pelan, "Bella, apa benar kita sudah nggak mungkin kembali seperti dulu? Apa pun yang kulakukan, sekeras apa pun aku meminta maaf dan mencoba memperbaiki semuanya, aku tetap nggak bisa mendapatkanmu kembali?"Bella me

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 26

    Bella berbalik ingin pergi, tetapi Martin kembali menghalangi jalannya."Bella, sekarang aku mengerti. Kau marah karena aku terlalu baik pada Raisa, 'kan? Aku akui, memang aku gagal menjaga batasan. Tolong maafkan aku sekali ini, ya? Aku bersumpah kejadian seperti itu nggak bakal terulang lagi."Melihat Bella tetap diam, Martin kembali memohon dengan suara rendah, "Bella, maafkan aku, ya?""Nggak."Martin bahkan belum sempat merasa kecewa ketika suara Raisa tiba-tiba terdengar."Martin, jadi benar kau datang menemui Bella! Semua yang kau katakan kemarin itu cuma bohong?"Martin langsung menoleh tajam. Suaranya sedingin es. "Raisa, kau mengikutiku?"Raisa tidak menjawab pertanyaannya dan terus berbicara sendiri, "Kemarin kau jelas-jelas bilang sudah melupakan Bella! Kau bilang bakal hidup baik-baik denganku, bahkan mengajakku pergi ke luar negeri buat menenangkan diri. Jadi sekarang kenapa kau malah datang mencari Bella?""Kenapa kau selalu begini? Saat bersama Bella, kau memikirkanku.

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 25

    "Ini apa?""Aku memintamu datang ke sini buat menunjukkan ini. Aku mau mengajakmu pergi ke luar negeri buat menenangkan diri, jadi perlu menandatangani dokumen asuransi."Raisa langsung berseri-seri. "Benarkah? Oke! Aku tanda tangan sekarang juga!"Setelah menandatangani halaman pertama, Martin membalik beberapa lembar berikutnya. "Yang di sini juga perlu ditandatangani."Tatapan Raisa dipenuhi keraguan. "Kenapa asuransi harus tanda tangan sebanyak ini?"Saat dia hendak membacanya dengan teliti, Martin langsung menghentikannya."Raisa, apa kau nggak percaya padaku?"Sejak Bella menikah ke Keluarga Daryata, Martin memang jarang memanggilnya dengan lembut. Kalau bukan karena sedang melamun dan tidak fokus, dia biasanya memanggilnya dengan dingin.Martin yang memanggil dengan lembut kembali membuatnya menurunkan kewaspadaan.Raisa menghentikan tangannya yang hendak membuka dokumen itu. "Mana mungkin? Orang yang paling kupercaya adalah kau."Martin tersenyum puas. Setelah Raisa selesai men

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 24

    Saat Martin sempoyongan kembali ke hotel, hari sudah hampir memasuki dini hari.Hawa dingin di dalam kamar terus mengingatkannya bahwa Bella sudah tidak ada lagi di sana.Dia terduduk lesu bersandar di sisi ranjang, menggenggam setengah botol alkohol yang belum habis. "Katanya alkohol itu yang barang bagus, bisa membuat orang melupakan semua kesedihan. Jangan sampai mengecewakanku."Setelah mengatakannya, Martin langsung menenggak sisa minuman itu hingga tandas.Seketika kepalanya terasa nyeri hebat, sedangkan sensasi terbakar di lambung membuat keringat dingin mulai mengalir.Dia mengeluarkan ponselnya dan berulang kali mengusap foto Bella di layar. "Bella, aku sangat merindukanmu ...."Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Efek mabuk Martin langsung hilang setengahnya.Dengan suara lirih dia bergumam, "Bella, pasti Bella yang datang mencariku.""Dia masih seperti dulu, pintar dan cerdas. Bahkan tanpa kuberi tahu alamatnya, dia tetap bisa menemukan aku ...."Namun, begitu kata-kata itu keluar

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 23

    Suasana di sekitar seketika kembali tenang seperti semula. Kini hanya Raisa dan Martin yang saling berpandangan.Martin berdiri sempoyongan lalu melangkah pergi ke kejauhan. Raisa buru-buru meraih tangannya. "Kak Martin, kau mau ke mana?"Martin menepis tangannya, tetapi Raisa dengan keras kepala kembali mendekat. "Kak Martin, ke mana pun kau pergi, aku bakal ikut.""Pergi!"Tenaga Martin terlalu kuat. Raisa terdorong jatuh ke pasir. Kerikil tajam dan butiran pasir menggores tangannya hingga berdarah tanpa henti, tetapi Martin seolah tidak melihat apa pun dan terus pergi tanpa menoleh.Raisa pun ditinggalkan sendirian sambil menangis tersedu-sedu.Tanpa sadar, Martin berjalan hingga tiba di sebuah bar.Dia memesan beberapa gelas minuman keras, lalu meneguknya sekaligus. Sang bartender tampak khawatir dan dengan niat baik mengingatkannya, "Tuan, minuman yang Anda pesan kadar alkoholnya sangat tinggi. Kalau diminum seperti itu, nggak baik buat kesehatan.""Atau saya ganti dengan yang kad

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 22

    "Theo, memanfaatkan keadaan seperti ini sama sekali nggak terhormat. Aku sama Bella kekasih sejak kecil. Dengan hak apa kau muncul di tengah-tengah kami saat seperti ini?"Belum sempat Theo berbicara, Bella sudah berdiri di depannya. Nada suaranya pun sama sekali tidak menyisakan belas kasihan."Aku sudah menikah dengan Theo. Hubungan kita sejak lama juga sudah berakhir. Jadi, tolong berhenti menggangguku lagi!"Ini pertama kalinya Martin melihat Bella bersikap sekasar itu. Dan semua itu demi pria lain.Air mata tiba-tiba jatuh dari mata Martin tanpa peringatan. "Bella, kau benar-benar nggak menginginkanku lagi?""Kita sudah menjadi kekasih masa kecil lebih dari dua puluh tahun. Bagaimana kau tega meninggalkanku seperti ini?""Aku nggak percaya, aku nggak percaya kau sudah nggak mencintaiku. Kau pasti masih marah, 'kan? Aku bakal menunggumu. Aku bakal menunggu sampai emosimu reda, lalu kita bicara baik-baik.""Atau, apa yang harus kulakukan supaya kau mau memaafkanku?"Martin terus ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status