Share

Bab 8

Author: Stroberi
Setelah tiba di area perkemahan, Tuan Willy dan Nyonya Siska masih belum datang.

Bella tidak ingin berada bertiga saja dengan Martin dan Raisa, jadi dia memilih berjalan sendiri ke arah hutan.

Melihat Bella pergi, Raisa tersenyum manis pada Martin. "Kak Martin, kau atur semuanya di sini dulu saja. Aku mau menemani kakak."

Martin mengangguk puas. "Raisa memang anak baik."

Setengah jam kemudian, Tuan Willy dan Nyonya Siska akhirnya tiba. Mereka langsung melihat ke sekeliling. "Raisa mana? Ke mana Raisa pergi?"

"Raisa bilang dia mau jalan-jalan sebentar di hutan bersama Bella. Harusnya sebentar lagi kembali."

Nyonya Siska terus mengangguk. "Anak itu memang baik sekali. Meski Bella terus memusuhinya, dia tetap menganggap Bella sebagai kakak terbaiknya."

Di tengah percakapan itu, Bella berjalan keluar dari arah hutan seorang diri. Begitu menyadari tidak ada siapa pun di belakangnya, Nyonya Siska segera menghampiri.

"Kenapa cuma kau sendiri? Raisa mana?"

Bella langsung kebingungan mendengar pertanyaan itu. "Mana aku tahu dia di mana?"

Martin segera berdiri lalu berjalan cepat ke arah Bella. "Tadi Raisa bilang dia pergi menemanimu jalan-jalan. Kau nggak melihatnya?"

Bella sangat tidak suka nada interogasi itu. Dia menjawab dingin, "Nggak."

Namun, jawaban singkat itu justru membuat emosi Nyonya Siska kembali meledak.

Wanita itu mencengkeram bahu Bella erat-erat, air matanya jatuh tanpa henti.

"Bella, sebenarnya apa maumu? Dulu adikmu sudah pernah hilang sekali karena kau! Kenapa sekarang dia hilang lagi? Apa kau memang sengaja nggak mau dia hidup tenang?"

Ucapan itu langsung menyulut amarah Bella. "Aku sudah bilang aku sama sekali nggak melihatnya! Dia sudah sebesar itu, kalau hilang apa semuanya juga harus jadi tanggung jawabku?"

Baru saja kalimat itu selesai, sebuah tamparan keras mendarat di pipi kirinya. Selama dua puluh enam tahun hidupnya, itu pertama kalinya Nyonya Siska menamparnya.

Nyonya Siska sendiri tampak terpaku menatap tangan kanannya. "Bella ... Ibu nggak sengaja ... Ibu ...."

Martin buru-buru maju mencoba menenangkan suasana. "Sudahlah. Yang paling penting sekarang mencari Raisa dulu. Soal lainnya bisa dibicarakan nanti."

Martin hanya menepuk bahu Bella sekilas tanpa benar-benar menghiburnya.

Namun, Bella sudah terbiasa. Dia memang tidak lagi berharap apa pun dari mereka.

Untuk membuktikan dirinya tidak bersalah, Bella ikut masuk ke dalam hutan bersama mereka. Dia ingin menemukan Raisa dan bertanya langsung di depan semua orang.

Hutan itu sangat lebat. Tidak lama kemudian, Bella terpisah dari Martin dan yang lainnya.

Anehnya, baru sekitar lima menit tersesat, Raisa justru muncul di hadapannya.

Bella langsung mengernyit, lalu seketika memahami semuanya.

"Jadi ini memang sengaja kau lakukan?"

Raisa terkekeh pelan. "Sepertinya kau nggak sebodoh itu. Tapi sekalipun kau tahu, memangnya kau bisa berbuat apa?"

"Dua puluh tahun lalu kau membuatku hilang. Sekarang, dua puluh tahun kemudian, kau kembali sengaja meninggalkanku di hutan. Menurutmu ayah sama ibu bakal berpikir apa tentangmu? Dan menurutmu, mereka bakal percaya sama kau atau percaya sama aku?"

"Aku sudah dengar semuanya. Karena sebentar lagi kau bakal menikah ke Keluarga Daryata dan nggak ada lagi hubungan dengan Keluarga Lesmana, ada beberapa hal yang nggak perlu lagi kusimpan. Aku bakal membuatmu mengerti semuanya sebelum pergi. Anggap saja ini hadiah pernikahan dariku sebagai adikmu."

Sambil berkata demikian, Raisa sedikit mendekat lalu membisikkan sesuatu di telinga Bella.

Mata Bella langsung membelalak. Wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan. "Apa yang kau katakan itu benar?"

Raisa memainkan rambutnya sambil tersenyum penuh arti. "Buat apa aku membohongimu?"

Hutan itu begitu sunyi. Hanya ada suara angin sepoi-sepoi yang menggerakkan dedaunan.

Bella mengepalkan tangannya erat. Ternyata, kebenaran di balik hilangnya Raisa dua puluh tahun lalu benar-benar di luar dugaan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 27

    Saat Martin kembali sadar, dia tidak melihat Bella di sisinya.Dia tertawa getir. "Sepertinya, dia memang sangat membenciku."Namun, di detik berikutnya, Bella masuk ke ruang rawat sambil membawa kotak bekal makanan. Saat melihat Martin sudah bangun, dia tampak sedikit terkejut."Cepat sekali sadarnya? Makanlah dulu.""Aku kira, kau sudah lama pergi ...."Bella tersenyum tipis. "Bagaimanapun juga, kau terluka karena menyelamatkanku. Sebelum kau sadar, aku memang nggak bakal pergi."Setelah mengatakan itu, nada bicara Bella berubah. "Tapi jangan salah paham. Aku nggak bakal merasa berutang budi karenanya. Semua musibah ini juga bermula darimu."Martin menundukkan kepala. Dia tahu semua ini memang terjadi karena dirinya.Beberapa saat kemudian, dia baru bertanya dengan suara pelan, "Bella, apa benar kita sudah nggak mungkin kembali seperti dulu? Apa pun yang kulakukan, sekeras apa pun aku meminta maaf dan mencoba memperbaiki semuanya, aku tetap nggak bisa mendapatkanmu kembali?"Bella me

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 26

    Bella berbalik ingin pergi, tetapi Martin kembali menghalangi jalannya."Bella, sekarang aku mengerti. Kau marah karena aku terlalu baik pada Raisa, 'kan? Aku akui, memang aku gagal menjaga batasan. Tolong maafkan aku sekali ini, ya? Aku bersumpah kejadian seperti itu nggak bakal terulang lagi."Melihat Bella tetap diam, Martin kembali memohon dengan suara rendah, "Bella, maafkan aku, ya?""Nggak."Martin bahkan belum sempat merasa kecewa ketika suara Raisa tiba-tiba terdengar."Martin, jadi benar kau datang menemui Bella! Semua yang kau katakan kemarin itu cuma bohong?"Martin langsung menoleh tajam. Suaranya sedingin es. "Raisa, kau mengikutiku?"Raisa tidak menjawab pertanyaannya dan terus berbicara sendiri, "Kemarin kau jelas-jelas bilang sudah melupakan Bella! Kau bilang bakal hidup baik-baik denganku, bahkan mengajakku pergi ke luar negeri buat menenangkan diri. Jadi sekarang kenapa kau malah datang mencari Bella?""Kenapa kau selalu begini? Saat bersama Bella, kau memikirkanku.

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 25

    "Ini apa?""Aku memintamu datang ke sini buat menunjukkan ini. Aku mau mengajakmu pergi ke luar negeri buat menenangkan diri, jadi perlu menandatangani dokumen asuransi."Raisa langsung berseri-seri. "Benarkah? Oke! Aku tanda tangan sekarang juga!"Setelah menandatangani halaman pertama, Martin membalik beberapa lembar berikutnya. "Yang di sini juga perlu ditandatangani."Tatapan Raisa dipenuhi keraguan. "Kenapa asuransi harus tanda tangan sebanyak ini?"Saat dia hendak membacanya dengan teliti, Martin langsung menghentikannya."Raisa, apa kau nggak percaya padaku?"Sejak Bella menikah ke Keluarga Daryata, Martin memang jarang memanggilnya dengan lembut. Kalau bukan karena sedang melamun dan tidak fokus, dia biasanya memanggilnya dengan dingin.Martin yang memanggil dengan lembut kembali membuatnya menurunkan kewaspadaan.Raisa menghentikan tangannya yang hendak membuka dokumen itu. "Mana mungkin? Orang yang paling kupercaya adalah kau."Martin tersenyum puas. Setelah Raisa selesai men

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 24

    Saat Martin sempoyongan kembali ke hotel, hari sudah hampir memasuki dini hari.Hawa dingin di dalam kamar terus mengingatkannya bahwa Bella sudah tidak ada lagi di sana.Dia terduduk lesu bersandar di sisi ranjang, menggenggam setengah botol alkohol yang belum habis. "Katanya alkohol itu yang barang bagus, bisa membuat orang melupakan semua kesedihan. Jangan sampai mengecewakanku."Setelah mengatakannya, Martin langsung menenggak sisa minuman itu hingga tandas.Seketika kepalanya terasa nyeri hebat, sedangkan sensasi terbakar di lambung membuat keringat dingin mulai mengalir.Dia mengeluarkan ponselnya dan berulang kali mengusap foto Bella di layar. "Bella, aku sangat merindukanmu ...."Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Efek mabuk Martin langsung hilang setengahnya.Dengan suara lirih dia bergumam, "Bella, pasti Bella yang datang mencariku.""Dia masih seperti dulu, pintar dan cerdas. Bahkan tanpa kuberi tahu alamatnya, dia tetap bisa menemukan aku ...."Namun, begitu kata-kata itu keluar

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 23

    Suasana di sekitar seketika kembali tenang seperti semula. Kini hanya Raisa dan Martin yang saling berpandangan.Martin berdiri sempoyongan lalu melangkah pergi ke kejauhan. Raisa buru-buru meraih tangannya. "Kak Martin, kau mau ke mana?"Martin menepis tangannya, tetapi Raisa dengan keras kepala kembali mendekat. "Kak Martin, ke mana pun kau pergi, aku bakal ikut.""Pergi!"Tenaga Martin terlalu kuat. Raisa terdorong jatuh ke pasir. Kerikil tajam dan butiran pasir menggores tangannya hingga berdarah tanpa henti, tetapi Martin seolah tidak melihat apa pun dan terus pergi tanpa menoleh.Raisa pun ditinggalkan sendirian sambil menangis tersedu-sedu.Tanpa sadar, Martin berjalan hingga tiba di sebuah bar.Dia memesan beberapa gelas minuman keras, lalu meneguknya sekaligus. Sang bartender tampak khawatir dan dengan niat baik mengingatkannya, "Tuan, minuman yang Anda pesan kadar alkoholnya sangat tinggi. Kalau diminum seperti itu, nggak baik buat kesehatan.""Atau saya ganti dengan yang kad

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 22

    "Theo, memanfaatkan keadaan seperti ini sama sekali nggak terhormat. Aku sama Bella kekasih sejak kecil. Dengan hak apa kau muncul di tengah-tengah kami saat seperti ini?"Belum sempat Theo berbicara, Bella sudah berdiri di depannya. Nada suaranya pun sama sekali tidak menyisakan belas kasihan."Aku sudah menikah dengan Theo. Hubungan kita sejak lama juga sudah berakhir. Jadi, tolong berhenti menggangguku lagi!"Ini pertama kalinya Martin melihat Bella bersikap sekasar itu. Dan semua itu demi pria lain.Air mata tiba-tiba jatuh dari mata Martin tanpa peringatan. "Bella, kau benar-benar nggak menginginkanku lagi?""Kita sudah menjadi kekasih masa kecil lebih dari dua puluh tahun. Bagaimana kau tega meninggalkanku seperti ini?""Aku nggak percaya, aku nggak percaya kau sudah nggak mencintaiku. Kau pasti masih marah, 'kan? Aku bakal menunggumu. Aku bakal menunggu sampai emosimu reda, lalu kita bicara baik-baik.""Atau, apa yang harus kulakukan supaya kau mau memaafkanku?"Martin terus ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status