공유

Bab 9

작가: Stroberi
Di tengah percakapan itu, terdengar suara langkah kaki dan teriakan dari kejauhan.

Sorot mata Raisa langsung berubah. Dia mengambil batu di dekatnya lalu dengan kejam menggores wajahnya sendiri.

"Ayah! Ibu! Kak Martin! Aku di sini!"

Saat Tuan Willy, Nyonya Siska, dan Martin berlari menghampiri, yang mereka lihat adalah Raisa tergeletak di tanah dengan wajah penuh darah.

Sementara Bella berdiri tidak jauh darinya dengan ekspresi dingin.

Kali ini, Martin benar-benar tidak mampu menahan amarahnya lagi. Dia mencengkeram pergelangan tangan Bella erat-erat, matanya dipenuhi kemarahan.

"Bella, sebenarnya apa yang kau inginkan? Bukannya waktu itu aku sudah menjelaskannya dengan sangat jelas? Kau terus menyudutkan Raisa seperti ini, apa hatimu benar-benar nggak merasa bersalah?"

Nyonya Siska buru-buru berjongkok di samping Raisa sambil menangis dan mengusap darah di wajahnya.

"Raisa, kenapa sampai jadi begini? Bilang ke ibu, sebenarnya apa yang terjadi?"

"Ibu, aku lelah. Aku sudah berusaha keras menjaga hubungan baik dengan kakak, tapi kenapa kakak masih memperlakukanku seperti ini?"

"Aku susah payah menemukan jalan keluar dari hutan. Begitu keluar, aku bertemu kakak. Dia menggores wajahku dengan batu sambil bilang ingin melihat bagaimana aku menggoda Kak Martin dengan wajah ini."

"Kalau kepulanganku cuma membawa masalah seperti ini, lebih baik aku mati saja."

Mendengar ucapan Raisa, hati Nyonya Siska terasa begitu sakit. Dia hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri karena gagal melindungi putrinya.

Setelah kekacauan panjang itu, hari mulai gelap.

Tuan Willy dan Nyonya Siska membawa Raisa pulang lebih dulu, menyisakan Bella dan Martin di tempat itu.

Sepanjang perjalanan, Martin tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya membawa Bella masuk ke mobil dalam diam.

Mobil perlahan melaju. Dua puluh menit kemudian, Bella mulai merasa ada yang tidak beres.

Dia mengernyit. "Ini bukan jalan pulang. Kau mau membawaku ke mana?"

Martin tidak menjawab. Dia justru menghentikan mobil di pinggir jalan lalu menarik Bella keluar.

"Sudah waktunya kau merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan. Kalau nggak, kau nggak bakal pernah berubah. Aku melakukan semua ini demi kebaikanmu."

Tanpa memberi kesempatan Bella berbicara, Martin langsung pergi meninggalkannya. Yang tersisa hanya asap knalpot mobil yang perlahan menghilang.

Tempat itu benar-benar terpencil, jauh dari permukiman mana pun. Bella berjalan susah payah beberapa kilometer, tetapi tidak satu pun kendaraan lewat.

Angin malam awal musim hujan membawa hawa dingin yang menusuk. Bella hanya mengenakan gaun tipis dan kini tubuhnya mulai menggigil.

Suara binatang di sekitar membuat rasa takutnya makin besar. Dia mempercepat langkah, tetapi tiba-tiba menginjak batu dan terkilir.

Belum sempat bangkit, Bella melihat sesuatu mendekat dari kejauhan. Sepasang mata hijau menyala di kegelapan.

Bella langsung menyadarinya. Serigala!

Napasnya tercekat. Bella berbalik dan berlari tanpa arah dengan panik. Namun, tiba-tiba kakinya menginjak udara kosong. Tubuhnya jatuh lurus ke bawah jurang.

Telinganya mendengar suara angin menderu. Bella merasa tidak rela. Dia belum sempat menikmati hidupnya sendiri. Dia tidak rela mati seperti ini!

Makin cepat tubuhnya jatuh, makin pasrah pula dirinya. Bella perlahan memejamkan mata.

Kalau ada kehidupan berikutnya, dia tidak ingin lagi menjadi putri Keluarga Lesmana, dan lebih tidak ingin mengenal Martin.

Saat Bella membuka mata kembali, pemandangan yang familiar di hadapannya membuatnya linglung. Bukankah dia sudah jatuh ke jurang? Lalu kenapa sekarang dia berada di kamar tidurnya sendiri?

Baru setelah rasa sakit menusuk dari dahinya, dia sadar dirinya belum mati.

Dengan susah payah dia bangkit, lalu mendengar suara Martin sedang menelepon di balkon.

Suara Martin tidak terlalu jelas. Bella hanya samar-samar mendengar nama Raisa beberapa kali.

Bella tidak ingin lagi mendengar apa pun tentang mereka. Baru saja dia mengenakan perangkat jemala, sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke ponselnya.

[Apa semua barangmu sudah dibereskan? Nanti aku bakal menjemputmu sendiri.]

[Kau siapa?]

[Tunangan Bella.]

Melihat kata tunangan, pipi Bella tiba-tiba terasa sedikit panas.

Di tidak tahu bagaimana Theo mendapatkan nomor ponselnya, tetapi memikirkannya lagi, itu bukan hal sulit.

Dengan kemampuan Keluarga Daryata, mendapatkan sebuah nomor telepon hanyalah perkara mudah.

Karena mengenakan perangkat jemala, Bella sama sekali tidak mendengar langkah kaki Martin mendekat.

Baru ketika Martin melepas perangkat jemala dari telinganya, Bella tersentak dan buru-buru mematikan layar ponselnya.

Gerakan itu tentu tidak luput dari perhatian Martin.

"Bella, sedang apa kau?"

"Nggak ada. Hanya mengobrol dengan teman."

Martin menyipitkan mata. Dia tahu Bella sedang berbohong, tetapi tidak membongkarnya.

"Kau pingsan selama empat hari. Sekarang bagaimana keadaanmu?"

Bella terpaku. Ternyata dia sudah tidak sadarkan diri selama empat hari. Dia buru-buru menoleh ke kalender di dinding, lalu mengembuskan napas lega.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 27

    Saat Martin kembali sadar, dia tidak melihat Bella di sisinya.Dia tertawa getir. "Sepertinya, dia memang sangat membenciku."Namun, di detik berikutnya, Bella masuk ke ruang rawat sambil membawa kotak bekal makanan. Saat melihat Martin sudah bangun, dia tampak sedikit terkejut."Cepat sekali sadarnya? Makanlah dulu.""Aku kira, kau sudah lama pergi ...."Bella tersenyum tipis. "Bagaimanapun juga, kau terluka karena menyelamatkanku. Sebelum kau sadar, aku memang nggak bakal pergi."Setelah mengatakan itu, nada bicara Bella berubah. "Tapi jangan salah paham. Aku nggak bakal merasa berutang budi karenanya. Semua musibah ini juga bermula darimu."Martin menundukkan kepala. Dia tahu semua ini memang terjadi karena dirinya.Beberapa saat kemudian, dia baru bertanya dengan suara pelan, "Bella, apa benar kita sudah nggak mungkin kembali seperti dulu? Apa pun yang kulakukan, sekeras apa pun aku meminta maaf dan mencoba memperbaiki semuanya, aku tetap nggak bisa mendapatkanmu kembali?"Bella me

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 26

    Bella berbalik ingin pergi, tetapi Martin kembali menghalangi jalannya."Bella, sekarang aku mengerti. Kau marah karena aku terlalu baik pada Raisa, 'kan? Aku akui, memang aku gagal menjaga batasan. Tolong maafkan aku sekali ini, ya? Aku bersumpah kejadian seperti itu nggak bakal terulang lagi."Melihat Bella tetap diam, Martin kembali memohon dengan suara rendah, "Bella, maafkan aku, ya?""Nggak."Martin bahkan belum sempat merasa kecewa ketika suara Raisa tiba-tiba terdengar."Martin, jadi benar kau datang menemui Bella! Semua yang kau katakan kemarin itu cuma bohong?"Martin langsung menoleh tajam. Suaranya sedingin es. "Raisa, kau mengikutiku?"Raisa tidak menjawab pertanyaannya dan terus berbicara sendiri, "Kemarin kau jelas-jelas bilang sudah melupakan Bella! Kau bilang bakal hidup baik-baik denganku, bahkan mengajakku pergi ke luar negeri buat menenangkan diri. Jadi sekarang kenapa kau malah datang mencari Bella?""Kenapa kau selalu begini? Saat bersama Bella, kau memikirkanku.

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 25

    "Ini apa?""Aku memintamu datang ke sini buat menunjukkan ini. Aku mau mengajakmu pergi ke luar negeri buat menenangkan diri, jadi perlu menandatangani dokumen asuransi."Raisa langsung berseri-seri. "Benarkah? Oke! Aku tanda tangan sekarang juga!"Setelah menandatangani halaman pertama, Martin membalik beberapa lembar berikutnya. "Yang di sini juga perlu ditandatangani."Tatapan Raisa dipenuhi keraguan. "Kenapa asuransi harus tanda tangan sebanyak ini?"Saat dia hendak membacanya dengan teliti, Martin langsung menghentikannya."Raisa, apa kau nggak percaya padaku?"Sejak Bella menikah ke Keluarga Daryata, Martin memang jarang memanggilnya dengan lembut. Kalau bukan karena sedang melamun dan tidak fokus, dia biasanya memanggilnya dengan dingin.Martin yang memanggil dengan lembut kembali membuatnya menurunkan kewaspadaan.Raisa menghentikan tangannya yang hendak membuka dokumen itu. "Mana mungkin? Orang yang paling kupercaya adalah kau."Martin tersenyum puas. Setelah Raisa selesai men

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 24

    Saat Martin sempoyongan kembali ke hotel, hari sudah hampir memasuki dini hari.Hawa dingin di dalam kamar terus mengingatkannya bahwa Bella sudah tidak ada lagi di sana.Dia terduduk lesu bersandar di sisi ranjang, menggenggam setengah botol alkohol yang belum habis. "Katanya alkohol itu yang barang bagus, bisa membuat orang melupakan semua kesedihan. Jangan sampai mengecewakanku."Setelah mengatakannya, Martin langsung menenggak sisa minuman itu hingga tandas.Seketika kepalanya terasa nyeri hebat, sedangkan sensasi terbakar di lambung membuat keringat dingin mulai mengalir.Dia mengeluarkan ponselnya dan berulang kali mengusap foto Bella di layar. "Bella, aku sangat merindukanmu ...."Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Efek mabuk Martin langsung hilang setengahnya.Dengan suara lirih dia bergumam, "Bella, pasti Bella yang datang mencariku.""Dia masih seperti dulu, pintar dan cerdas. Bahkan tanpa kuberi tahu alamatnya, dia tetap bisa menemukan aku ...."Namun, begitu kata-kata itu keluar

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 23

    Suasana di sekitar seketika kembali tenang seperti semula. Kini hanya Raisa dan Martin yang saling berpandangan.Martin berdiri sempoyongan lalu melangkah pergi ke kejauhan. Raisa buru-buru meraih tangannya. "Kak Martin, kau mau ke mana?"Martin menepis tangannya, tetapi Raisa dengan keras kepala kembali mendekat. "Kak Martin, ke mana pun kau pergi, aku bakal ikut.""Pergi!"Tenaga Martin terlalu kuat. Raisa terdorong jatuh ke pasir. Kerikil tajam dan butiran pasir menggores tangannya hingga berdarah tanpa henti, tetapi Martin seolah tidak melihat apa pun dan terus pergi tanpa menoleh.Raisa pun ditinggalkan sendirian sambil menangis tersedu-sedu.Tanpa sadar, Martin berjalan hingga tiba di sebuah bar.Dia memesan beberapa gelas minuman keras, lalu meneguknya sekaligus. Sang bartender tampak khawatir dan dengan niat baik mengingatkannya, "Tuan, minuman yang Anda pesan kadar alkoholnya sangat tinggi. Kalau diminum seperti itu, nggak baik buat kesehatan.""Atau saya ganti dengan yang kad

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 22

    "Theo, memanfaatkan keadaan seperti ini sama sekali nggak terhormat. Aku sama Bella kekasih sejak kecil. Dengan hak apa kau muncul di tengah-tengah kami saat seperti ini?"Belum sempat Theo berbicara, Bella sudah berdiri di depannya. Nada suaranya pun sama sekali tidak menyisakan belas kasihan."Aku sudah menikah dengan Theo. Hubungan kita sejak lama juga sudah berakhir. Jadi, tolong berhenti menggangguku lagi!"Ini pertama kalinya Martin melihat Bella bersikap sekasar itu. Dan semua itu demi pria lain.Air mata tiba-tiba jatuh dari mata Martin tanpa peringatan. "Bella, kau benar-benar nggak menginginkanku lagi?""Kita sudah menjadi kekasih masa kecil lebih dari dua puluh tahun. Bagaimana kau tega meninggalkanku seperti ini?""Aku nggak percaya, aku nggak percaya kau sudah nggak mencintaiku. Kau pasti masih marah, 'kan? Aku bakal menunggumu. Aku bakal menunggu sampai emosimu reda, lalu kita bicara baik-baik.""Atau, apa yang harus kulakukan supaya kau mau memaafkanku?"Martin terus ber

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status