Partager

Bab 10

Auteur: Stroberi
Syukurlah, dia tidak melewatkan hari pernikahan itu. Kalau Bella bangun sehari lebih lambat, entah apa yang akan terjadi.

Melihat Bella diam saja, Martin kembali berbicara, "Kemarin aku sudah pergi melihat gaun pengantin. Bagaimana kalau kita menikah akhir bulan nanti? Aku yakin kau pasti bakal menjadi pengantin tercantik."

Bella menatap Martin tanpa mengerti bagaimana pria itu bisa bersikap setenang ini, seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

"Aku tahu kau marah padaku. Tapi sebenarnya aku nggak benar-benar meninggalkanmu sendirian. Aku terus mengikutimu dengan mobil dari belakang. Cuma aku sempat menerima telepon sebentar, lalu kawanan serigala itu muncul. Untung aku menemukanmu tepat waktu. Kalau nggak, akibatnya pasti nggak terbayangkan."

Saat mengatakan itu, sudut mata Martin bahkan tampak sedikit basah.

"Soal Raisa, berhentilah marah padanya. Keluarga Daryata sebentar lagi datang menjemputnya. Bagaimana kalau kita turun bersama untuk mengantarnya menikah?"

"Setelah Raisa menikah dan pergi, hidup kita pasti bakal kembali tenang. Aku janji bakal menebus semuanya padamu."

"Pernikahan adalah hal yang sangat penting bagi seorang wanita. Jangan sampai dia meninggalkan penyesalan. Kurasa dia juga berharap kau hadir."

Bella menolak tanpa berpikir panjang. "Aku nggak mau."

"Bella, sebenarnya kenapa kau begitu membenci Raisa? Apa sebenarnya kesalahan dia padamu?"

"Dia selalu menganggapmu orang terdekatnya, tapi kau justru terus menjauhinya."

"Kalau kau nggak mau datang juga nggak apa-apa. Aku pergi sendiri. Tapi jangan menyesal nanti."

Bella tersenyum kecil. Apa yang harus dia sesali?

Dia sudah melepaskan Martin. Dia juga sudah melepaskan Keluarga Lesmana. Mulai sekarang, apa pun yang berkaitan dengan mereka tidak lagi berarti baginya, apalagi sampai membuatnya menyesal.

Lagi pula, selama ini yang terus disakiti adalah dirinya, bukan Raisa.

Melihat sikap Bella yang begitu tegas, Martin akhirnya turun sendiri.

Namun, begitu sampai di lantai bawah, dia langsung terpaku. Vila itu sama sekali tidak tampak seperti rumah yang sedang mengadakan pernikahan.

Tidak ada dekorasi pernikahan, bahkan tidak ada sedikit pun warna merah. Tuan Willy duduk santai di ruang tamu sambil membaca koran dan minum teh, sedangkan Nyonya Siska sibuk merawat tanaman bunganya seperti biasa.

Kebetulan kepala pelayan lewat di sana. Martin segera menarik lengannya dengan panik. "Bukannya hari ini hari pernikahan Raisa? Kenapa rumah begitu sepi?"

Kepala pelayan tampak bingung. "Pernikahan? Nona Raisa masih tidur di kamarnya. Memangnya dia mau menikah dengan siapa?"

Napas Martin langsung terasa berat. Perasaan tidak enak mulai memenuhi pikirannya. Dia buru-buru berjalan ke arah Tuan Willy dan Nyonya Siska.

"Paman Willy, Bibi Siska, kenapa rumah belum disiapkan? Di mana Raisa? Dia juga seharusnya sudah bangun. Keluarga Daryata bukan keluarga biasa. Kalau rombongan penjemput datang sementara Raisa masih tidur, itu nggak sopan."

Melihat Martin masih belum mengetahui kebenarannya, Tuan Willy dan Nyonya Siska mulai saling melirik gelisah sambil mencari alasan untuk mengalihkan dirinya.

"Keluarga Daryata tadi menelepon. Katanya jalannya macet, jadi mereka mungkin datang terlambat. Kau pergi sarapan dulu saja. Nanti kalau rombongan penjemput sudah tiba, kami bakal memanggilmu."

Baru saja selesai berbicara, suara klakson mobil terdengar dari luar vila.

Tuan Willy dan Nyonya Siska saling berpandangan. Keduanya bisa melihat kegelisahan di mata satu sama lain.

Theo berjalan masuk dengan setelan jas rapi. Cahaya pagi yang lembut jatuh di batang hidungnya yang tegas, membuat auranya tampak dingin sekaligus berkelas.

"Ayah Mertua, Ibu Mertua, aku datang menjemput ...."

Belum selesai bicara, Martin sudah memotongnya dengan kening berkerut, "Raisa nggak bisa begitu saja dibawa pergi dengan sederhana seperti ini. Rumah bahkan belum dihias. Tunggu sebentar lagi."

Theo mengetukkan jarinya perlahan, tampak santai. Ini pertama kalinya ada orang menyuruhnya menunggu.

Sebelum Theo sempat bicara lagi, suara Bella terdengar dari lantai atas.

"Nggak perlu menunggu. Kita pergi sekarang saja."

Theo langsung melangkah maju dan mengambil koper dari tangan Bella dengan alami.

Keakraban itu membuat ekspresi Martin membeku seketika.

Dia segera melangkah maju dan menahan koper itu. "Bukannya yang dijodohkan dengan Keluarga Daryata itu Raisa? Apa yang sedang kalian lakukan?"

Sudut bibir Theo terangkat tipis. Nada suaranya tenang, tetapi di telinga Martin terdengar seperti petir yang meledak.

"Orang yang bakal kunikahi itu Bella."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 27

    Saat Martin kembali sadar, dia tidak melihat Bella di sisinya.Dia tertawa getir. "Sepertinya, dia memang sangat membenciku."Namun, di detik berikutnya, Bella masuk ke ruang rawat sambil membawa kotak bekal makanan. Saat melihat Martin sudah bangun, dia tampak sedikit terkejut."Cepat sekali sadarnya? Makanlah dulu.""Aku kira, kau sudah lama pergi ...."Bella tersenyum tipis. "Bagaimanapun juga, kau terluka karena menyelamatkanku. Sebelum kau sadar, aku memang nggak bakal pergi."Setelah mengatakan itu, nada bicara Bella berubah. "Tapi jangan salah paham. Aku nggak bakal merasa berutang budi karenanya. Semua musibah ini juga bermula darimu."Martin menundukkan kepala. Dia tahu semua ini memang terjadi karena dirinya.Beberapa saat kemudian, dia baru bertanya dengan suara pelan, "Bella, apa benar kita sudah nggak mungkin kembali seperti dulu? Apa pun yang kulakukan, sekeras apa pun aku meminta maaf dan mencoba memperbaiki semuanya, aku tetap nggak bisa mendapatkanmu kembali?"Bella me

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 26

    Bella berbalik ingin pergi, tetapi Martin kembali menghalangi jalannya."Bella, sekarang aku mengerti. Kau marah karena aku terlalu baik pada Raisa, 'kan? Aku akui, memang aku gagal menjaga batasan. Tolong maafkan aku sekali ini, ya? Aku bersumpah kejadian seperti itu nggak bakal terulang lagi."Melihat Bella tetap diam, Martin kembali memohon dengan suara rendah, "Bella, maafkan aku, ya?""Nggak."Martin bahkan belum sempat merasa kecewa ketika suara Raisa tiba-tiba terdengar."Martin, jadi benar kau datang menemui Bella! Semua yang kau katakan kemarin itu cuma bohong?"Martin langsung menoleh tajam. Suaranya sedingin es. "Raisa, kau mengikutiku?"Raisa tidak menjawab pertanyaannya dan terus berbicara sendiri, "Kemarin kau jelas-jelas bilang sudah melupakan Bella! Kau bilang bakal hidup baik-baik denganku, bahkan mengajakku pergi ke luar negeri buat menenangkan diri. Jadi sekarang kenapa kau malah datang mencari Bella?""Kenapa kau selalu begini? Saat bersama Bella, kau memikirkanku.

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 25

    "Ini apa?""Aku memintamu datang ke sini buat menunjukkan ini. Aku mau mengajakmu pergi ke luar negeri buat menenangkan diri, jadi perlu menandatangani dokumen asuransi."Raisa langsung berseri-seri. "Benarkah? Oke! Aku tanda tangan sekarang juga!"Setelah menandatangani halaman pertama, Martin membalik beberapa lembar berikutnya. "Yang di sini juga perlu ditandatangani."Tatapan Raisa dipenuhi keraguan. "Kenapa asuransi harus tanda tangan sebanyak ini?"Saat dia hendak membacanya dengan teliti, Martin langsung menghentikannya."Raisa, apa kau nggak percaya padaku?"Sejak Bella menikah ke Keluarga Daryata, Martin memang jarang memanggilnya dengan lembut. Kalau bukan karena sedang melamun dan tidak fokus, dia biasanya memanggilnya dengan dingin.Martin yang memanggil dengan lembut kembali membuatnya menurunkan kewaspadaan.Raisa menghentikan tangannya yang hendak membuka dokumen itu. "Mana mungkin? Orang yang paling kupercaya adalah kau."Martin tersenyum puas. Setelah Raisa selesai men

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 24

    Saat Martin sempoyongan kembali ke hotel, hari sudah hampir memasuki dini hari.Hawa dingin di dalam kamar terus mengingatkannya bahwa Bella sudah tidak ada lagi di sana.Dia terduduk lesu bersandar di sisi ranjang, menggenggam setengah botol alkohol yang belum habis. "Katanya alkohol itu yang barang bagus, bisa membuat orang melupakan semua kesedihan. Jangan sampai mengecewakanku."Setelah mengatakannya, Martin langsung menenggak sisa minuman itu hingga tandas.Seketika kepalanya terasa nyeri hebat, sedangkan sensasi terbakar di lambung membuat keringat dingin mulai mengalir.Dia mengeluarkan ponselnya dan berulang kali mengusap foto Bella di layar. "Bella, aku sangat merindukanmu ...."Tiba-tiba bel pintu berbunyi. Efek mabuk Martin langsung hilang setengahnya.Dengan suara lirih dia bergumam, "Bella, pasti Bella yang datang mencariku.""Dia masih seperti dulu, pintar dan cerdas. Bahkan tanpa kuberi tahu alamatnya, dia tetap bisa menemukan aku ...."Namun, begitu kata-kata itu keluar

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 23

    Suasana di sekitar seketika kembali tenang seperti semula. Kini hanya Raisa dan Martin yang saling berpandangan.Martin berdiri sempoyongan lalu melangkah pergi ke kejauhan. Raisa buru-buru meraih tangannya. "Kak Martin, kau mau ke mana?"Martin menepis tangannya, tetapi Raisa dengan keras kepala kembali mendekat. "Kak Martin, ke mana pun kau pergi, aku bakal ikut.""Pergi!"Tenaga Martin terlalu kuat. Raisa terdorong jatuh ke pasir. Kerikil tajam dan butiran pasir menggores tangannya hingga berdarah tanpa henti, tetapi Martin seolah tidak melihat apa pun dan terus pergi tanpa menoleh.Raisa pun ditinggalkan sendirian sambil menangis tersedu-sedu.Tanpa sadar, Martin berjalan hingga tiba di sebuah bar.Dia memesan beberapa gelas minuman keras, lalu meneguknya sekaligus. Sang bartender tampak khawatir dan dengan niat baik mengingatkannya, "Tuan, minuman yang Anda pesan kadar alkoholnya sangat tinggi. Kalau diminum seperti itu, nggak baik buat kesehatan.""Atau saya ganti dengan yang kad

  • Angin Malam Menyadarkannya   Bab 22

    "Theo, memanfaatkan keadaan seperti ini sama sekali nggak terhormat. Aku sama Bella kekasih sejak kecil. Dengan hak apa kau muncul di tengah-tengah kami saat seperti ini?"Belum sempat Theo berbicara, Bella sudah berdiri di depannya. Nada suaranya pun sama sekali tidak menyisakan belas kasihan."Aku sudah menikah dengan Theo. Hubungan kita sejak lama juga sudah berakhir. Jadi, tolong berhenti menggangguku lagi!"Ini pertama kalinya Martin melihat Bella bersikap sekasar itu. Dan semua itu demi pria lain.Air mata tiba-tiba jatuh dari mata Martin tanpa peringatan. "Bella, kau benar-benar nggak menginginkanku lagi?""Kita sudah menjadi kekasih masa kecil lebih dari dua puluh tahun. Bagaimana kau tega meninggalkanku seperti ini?""Aku nggak percaya, aku nggak percaya kau sudah nggak mencintaiku. Kau pasti masih marah, 'kan? Aku bakal menunggumu. Aku bakal menunggu sampai emosimu reda, lalu kita bicara baik-baik.""Atau, apa yang harus kulakukan supaya kau mau memaafkanku?"Martin terus ber

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status