Home / Romansa / Angin di Antara Kita / Bab 41 Saat Semua Rasa Pulang

Share

Bab 41 Saat Semua Rasa Pulang

Author: Elis Z. Faida
last update publish date: 2025-11-06 13:28:43

Langit sore itu begitu tenang. Awan menggantung lembut di atas kota, seolah ikut menenangkan riuh hati Nayla yang sejak tadi berdetak tak menentu. Sudah lama ia tak merasakan udara seperti ini—udara yang tidak lagi menyesakkan dada, tapi juga belum sepenuhnya menenangkan.

Ia berjalan pelan di sepanjang trotoar yang dulu sering ia dan Elhan lewati. Tempat yang menyimpan banyak percakapan kecil, tawa ringan, juga diam panjang yang dulu terasa nyaman. Kini, semuanya terasa jauh, seperti potongan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Angin di Antara Kita    Bab 69 Titik yang Mulai Menyatukan

    Sam tidak pernah menyangka bahwa keputusannya menerima tawaran kerja sama jangka panjang dari Elhan semalam akan membuat kepalanya penuh semalaman. Bukannya gelisah… tapi terlalu banyak hal yang ikut berputar bersamaan. Antara profesional dan personal, antara kepercayaan dan keberanian, antara dirinya yang dulu dan dirinya yang mulai berubah sekarang. Pagi ini, Sam masuk kantor dengan napas yang terasa lebih mantap dari biasanya. Banyak beban yang secara perlahan terangkat. Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka—apa pun ini nanti disebut—Elhan memberi kepastian yang konkret. Bukan hanya kata-kata, tapi tindakan yang nyata. Saat Sam melewati koridor lantai tujuh, ia melihat—seperti sudah menjadi kebiasaan baru—ruang kerja Elhan pintunya sedikit terbuka. Lampu di dalam sudah menyala. Elhan sudah datang. Sam berniat langsung ke mejanya… tapi Elhan memanggil dari

  • Angin di Antara Kita    Bab 68 Ruang yang Mulai Terbuka

    Sam rasa hidupnya berubah terlalu cepat dalam beberapa minggu terakhir. Bukan perubahan yang membuatnya terengah–engah, tapi perubahan yang justru membuatnya… bernapas lebih nyata. Tidak sesak. Tidak menunggu badai datang.Perubahan yang sebagian besar—disengaja atau tidak—gara-gara Elhan.Pagi itu, Sam sudah di kantor lebih awal. Biasanya dia datang mepet jam, tapi sejak bekerja dekat dengan Elhan akhir–akhir ini, ia mulai menata ulang ritme hidupnya. Tidak dipaksa, tapi seperti tubuhnya sendiri yang mendorongnya bergerak lebih rapi.Ia sedang membuka laptop ketika seseorang mengetuk pintu.“Masuk.”Pintu terbuka, dan Elhan muncul. Dengan kemeja abu gelap, lengan tergulung, rambut sedikit acak tapi entah kenapa tetap enak dipandang.Sam mengerutkan dahi. “Kamu biasanya nggak datang sepagi ini.”“Ada rapat jam sembilan.” Elhan menutup pintu. “Dan aku mau bicara dulu sama kamu.”Sam langsung waspada. “Tentang apa

  • Angin di Antara Kita    Bab 67 Gerak yang Mulai Selaras

    Ada hal-hal yang tidak pernah Sam kira akan ia alami seperti duduk bersebelahan dengan Elhan di ruang kerja kecilnya sambil sama-sama membaca laporan, tetapi tanpa ada jeda canggung di antara mereka. Padahal dulu, kedekatan lima menit saja bisa membuat seluruh tubuh Sam tegang. Sekarang? Tenang. Tidak sepenuhnya santai—Elhan terlalu… intens untuk membuat seseorang santai sepenuhnya—tapi nyaman dengan cara yang membuat Sam heran pada dirinya sendiri.Elhan membaca cepat, menandai beberapa catatan di tablet, lalu mencondongkan tubuh sedikit. “Yang ini perlu direvisi. Formatting-nya kacau.”Sam mengangguk. “Kau sudah periksa bagian belakang?”“Sudah,” jawab Elhan tanpa melihat. “Tinggal ini.”Mereka bekerja beberapa menit dalam hening. Hening itu bukan kosong—lebih seperti ritme baru yang sedang mereka temukan bersama. Sampai akhirnya Sam sadar sesuatu: ia tidak lagi menunggu Elhan tiba-tiba berubah, pergi, atau menjauh. Tidak ada ketakutan yang meng

  • Angin di Antara Kita    Bab 66 Pertemuan yang Menguji Janji Baru

    Sam selalu mengira setelah Elhan akhirnya jujur, segalanya akan langsung terasa ringan. Nyatanya tidak. Bukan dalam arti berat—lebih seperti… kerasanya denyut baru dalam hidupnya, sesuatu yang sudah lama ia tunggu tapi begitu datang malah membuat dadanya penuh cara yang tidak ia mengerti.Elhan berubah. Bukan drastis, tapi nyata.Ia lebih hadir. Lebih memperhatikan. Lebih sering memastikan Sam benar-benar baik, bukan sekadar menjawab “baik” untuk mengakhiri pembicaraan. Tapi belum sempat Sam benar-benar menyesuaikan diri dengan versi baru Elhan itu, semesta seperti memutuskan untuk mengetes mereka lebih cepat dari yang diperkirakan.⸻Hari itu Sam sedang sibuk dengan laptopnya ketika pintu ruang kerjanya diketuk. Ia tidak menoleh, hanya menjawab, “Masuk aja.”Pintu terbuka—dan seseorang berdiri di sana. Seseorang yang membuat Sam otomatis menegang.Damar.“Kamu sibuk?” tanyanya, suaranya seperti biasa—tenang, rapi, dan t

  • Angin di Antara Kita    Bab 65 Langkah yang Berani, Pilihan yang Tidak Lagi Sembunyi

    Elhan tidak pernah membayangkan hari itu akan datang hari ketika semua kebisuannya akhirnya menuntut jawaban. Hari ketika ia tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada Sam, dan tidak bisa lagi bersembunyi di balik ketakutannya sendiri.Sejak kejadian malam itu—ketika Sam menangis tanpa suara di depan pintu rumah sakit, sementara Elhan hanya bisa mengusap punggungnya seperti orang pengecut yang tidak tahu harus berkata apa—pikiran Elhan terus berputar liar. Tidak pernah ada satu malam pun yang benar-benar ia lalui tanpa memikirkan Sam.Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, ia berhenti melarikan diri.⸻Sam baru saja keluar dari ruangannya ketika Elhan sudah berdiri di depan pintu, bersandar dengan tangan menyilang. Bukan dingin. Bukan acuh. Tapi seperti seseorang yang sudah siap membongkar semua yang ia simpan selama ini.“Sam,” panggilnya pelan.Sam berhenti. Jantungnya menegang, seolah tubuhnya tahu lebih dulu bah

  • Angin di Antara Kita    Bab 64 Bayanganmu yang Masih Ada

    Sulit untuk benar-benar memahami bagaimana seseorang bisa menghilang, tapi tetap hadir di setiap ruang yang kita lewati. Elhan mungkin tak lagi menyapa, tak lagi muncul dalam keseharian Nayla, namun jejaknya… entah kenapa justru terasa semakin nyata belakangan ini.Tidak ada awan, tidak ada hujan, tidak ada langit senja—hari itu berjalan biasa saja. Tapi justru karena “biasa”, semuanya terasa makin kosong.Nayla baru keluar dari kelas ketika pundaknya hampir bersenggolan dengan seseorang. Ia menoleh—dan jantungnya berdegup lebih keras dari seharusnya.Bukan Elhan.Tapi tubuh tinggi itu, cara dia berdiri, cara ia memegang tas di satu sisi bahu… semuanya mengingatkan pada orang yang sudah berminggu-minggu menghilang. Sekilas saja cukup untuk membuat seluruh pertahanan yang ia bangun rapuh lagi.“Sering banget ya, kamu ngeliatin orang tapi kayak kecewa sendiri,” suara Rara muncul dari belakang, membuat Nayla tersentak.“Aku nggak ke

  • Angin di Antara Kita    Bab 31 Pertengkaran yang Membakar

    Matahari menembus jendela kamar Nayla tanpa ampun. Cahaya hangatnya justru terasa menyengat, seperti menyoroti segala kegelisahan yang ia sembunyikan. Kertas-kertas berserakan di meja belajar, buku catatan terbuka di halaman kosong—sama kosongnya dengan pikirannya sejak semalam. Telepon Elhan

  • Angin di Antara Kita    Bab 30 Cinta atau Keluarga

    Bukan hujan. Bukan senja. Bukan malam sunyi yang memulai semuanya kali ini. Tapi suara langkah cepat di koridor rumah besar keluarga Arga, suara pintu yang dibuka dengan keras, dan napas yang tersengal di antara kalimat yang tertahan. “Elhan!” Suara berat itu milik Pak Arga, ayahnya. Wajahnya

  • Angin di Antara Kita    Bab 29 Pilihan yang Menyakitkan

    Tidak ada yang benar-benar siap kehilangan sesuatu yang masih diinginkan. Begitu juga Elhan. Ia duduk sendirian di balkon kamar kosnya, menatap langit malam yang kosong, memeluk diri sendiri dengan pikiran yang berat. Sudah seminggu sejak Dara pergi. Dan setiap kali ia mencoba merasa lega, ada b

  • Angin di Antara Kita    Bab 28 Antara Cinta dan Harga Diri

    Kopi di tangan Nayla sudah dingin sejak satu jam lalu. Ia duduk di balkon apartemennya, menatap langit sore yang memudar. Langit jingga itu seakan menjadi cermin perasaannya — indah tapi perih, hangat tapi memudar perlahan. Ia baru saja pulang dari rumah sakit. Dan sejak keluar dari ruangan Elhan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status