Home / Romansa / Angin di Antara Kita / Bab 8 Jejak yang Tak Bisa Dihapus

Share

Bab 8 Jejak yang Tak Bisa Dihapus

Author: Elis Z. Faida
last update Last Updated: 2025-09-17 14:11:20

Kampus sore itu ramai oleh mahasiswa yang baru saja menyelesaikan kelas. Lantai koridor berderit oleh langkah kaki, suara tawa bersahut-sahutan, dan aroma kertas bercampur dengan parfum murah meriah memenuhi udara. Namun bagi Nayla, semua itu hanya latar buram.

Sejak pertemuannya dengan Elhan di lorong kemarin, bayangan lelaki itu terus menghantui pikirannya. Tatapan mata yang goyah, suara lirih yang berkata ia pun terluka—semuanya membuat Nayla semakin terjerat pada simpul yang tak bisa ia uraikan.

Ia berjalan cepat, mencoba menghindari kemungkinan bertemu Elhan lagi. Tetapi setiap bayangan punggung lelaki tinggi di keramaian, setiap suara berat yang samar terdengar, selalu membuat jantungnya berdegup tak karuan. Hatinya seperti terus dipermainkan oleh ketidakpastian.

“Nayla!” Dina memanggil dari arah belakang, berlari kecil menghampirinya. Nafasnya sedikit terengah. “Eh, kok buru-buru banget? Ada apa sih sama kamu akhir-akhir ini? Aku panggil berkali-kali, nggak nyaut.”

Nayla berhenti sejenak, tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan kekacauan di dalam dirinya. “Maaf, Din. Aku nggak denger.”

“Ngaku aja, kamu lagi mikirin sesuatu, kan?” Dina menatapnya tajam, seolah berusaha membaca isi kepalanya. “Atau… seseorang?”

Nayla terdiam, pandangannya segera beralih ke arah jendela di koridor, di mana sinar sore memantulkan cahaya keemasan. “Nggak ada apa-apa,” jawabnya singkat, lalu melanjutkan langkah. Tapi jelas, Dina tak percaya begitu saja.

Sepanjang jalan, Dina bercerita tentang tugas kuliah, rencana akhir pekan, bahkan tentang gosip terbaru di kelas mereka. Nayla hanya mengangguk seperlunya, setengah telinga mendengar, setengah pikiran kembali ke nama yang terus berputar di kepalanya.

Elhan.

Nama itu bagai mantra yang tak bisa hilang.

Malamnya, Nayla duduk di meja belajarnya dengan buku terbuka di depan. Namun satu halaman pun tak terbaca. Pena di tangannya hanya mencoret-coret tanpa makna.

Ia menutup buku keras-keras, menunduk, lalu memejamkan mata. Pikirannya kembali pada kata-kata Elhan. “Aku juga terluka.”

Kalau benar Elhan terluka, kenapa ia memilih pergi? Kenapa menyerah pada restu, padahal cinta mereka jelas masih ada? Pertanyaan itu berputar-putar, tanpa jawaban.

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari Ardan. “Nay, kamu udah makan? Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Kalau perlu temen cerita, aku ada.”

Nayla menatap layar itu lama, hatinya terasa hangat tapi juga kacau. Ia mengetik balasan singkat. “Makasih, Dan. Aku baik-baik aja.”

Tentu saja itu bohong. Ia sama sekali tidak baik-baik saja. Tapi ia tak mau menyeret Ardan masuk ke pusaran luka yang bahkan tak bisa ia pahami.

Setelah meletakkan ponsel, Nayla berdiri dan menghampiri jendela. Angin malam masuk lewat celah, membawa aroma hujan yang tersisa siang tadi. Ia menatap langit yang kelam, bertanya pada dirinya sendiri: Sampai kapan aku harus begini?

Matanya panas. Air mata menetes satu-satu, jatuh ke telapak tangannya. Nayla menggenggam erat, seolah ingin menyembunyikan kesedihannya bahkan dari dirinya sendiri.

Namun air mata tak bisa berbohong. Luka itu terlalu nyata, terlalu dalam.

Keesokan harinya, Nayla memutuskan datang lebih pagi ke kampus. Ia berharap bisa menghindari tatapan atau kehadiran Elhan. Namun takdir kembali mempermainkan.

Di depan ruang kelas, ia melihat Elhan berdiri. Tubuhnya tegap, wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, tapi tetap menyimpan aura dingin yang selalu membuat Nayla bergetar.

Langkah Nayla seketika melambat. Jantungnya berdetak liar. Ia ingin berbalik, tapi Elhan sudah lebih dulu menyadari kehadirannya.

“Nayla,” panggilnya pelan.

Suara itu, meski sederhana, mampu membuat seluruh pertahanan Nayla runtuh. Ia menggigit bibir, mencoba tetap tegar. “Kenapa?” tanyanya singkat, dingin.

Elhan menatapnya, lama, seperti mencari kata yang tepat. “Aku cuma… pengen bilang, maaf.”

Hanya satu kata, tapi dunia Nayla seakan runtuh sekali lagi. Maaf? Apa gunanya maaf ketika luka sudah begitu dalam? Apa gunanya maaf kalau cinta mereka masih terbelenggu restu yang tak pernah datang?

Nayla menghela napas panjang, menahan air mata yang hampir pecah. “Maaf nggak akan bikin semua balik seperti semula, Elhan.” Suaranya bergetar, tapi tatapannya tegas.

Elhan terdiam. Jemarinya mengepal, urat-urat tangannya menegang. Ia ingin mengatakan lebih, tapi kata-kata seolah terhenti di tenggorokan.

Akhirnya, Nayla melangkah masuk ke kelas, meninggalkan Elhan berdiri sendiri di depan pintu.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti badai yang tak henti. Nayla terus mencoba menjaga jarak, membangun tembok di sekeliling dirinya. Ia menenggelamkan diri dalam tugas kuliah, menulis catatan panjang, dan bahkan sesekali ikut Dina hang out agar pikirannya teralih.

Namun semua itu hanya topeng. Saat malam tiba, saat dunia hening, luka itu kembali menganga.

Suatu malam, Dina yang cemas mengetuk pintu kamarnya. “Nayla, kamu nggak bisa terus-terusan kayak gini. Kalau kamu butuh tempat nangis, aku ada. Jangan pura-pura kuat.”

Nayla akhirnya luluh. Ia jatuh dalam pelukan sahabatnya, menangis sejadi-jadinya. Dina tak banyak bicara, hanya mengusap punggungnya pelan.

“Aku capek, Din,” isaknya. “Aku capek harus pura-pura kuat.”

Dina mengangguk, meski hatinya ikut teriris. “Kalau capek, berhenti pura-pura. Biarkan aku ada di sini buat kamu.”

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, Nayla merasa sedikit lega. Tapi rasa lega itu hanya sementara. Karena jauh di lubuk hatinya, nama Elhan masih terus bergema, tak tergantikan oleh siapapun.

Beberapa hari kemudian, Nayla duduk di perpustakaan, mencoba membaca buku tebal. Namun konsentrasinya buyar ketika tiba-tiba Elhan muncul, berdiri di seberangnya.

Keduanya hanya saling menatap. Tak ada kata, tak ada senyum. Hanya tatapan yang penuh luka.

Nayla buru-buru merapikan buku dan berdiri, hendak pergi. Tapi Elhan menahan dengan suara parau, “Tolong… jangan benci aku, Nayla. Aku nggak pernah berhenti sayang sama kamu. Aku cuma—” suaranya tercekat, “—aku nggak bisa melawan Mamaku.”

Nayla berhenti, tubuhnya kaku. Air mata menetes tanpa bisa ia tahan. Ia tak menoleh, hanya berbisik dengan suara pecah, “Kamu nggak perlu takut aku benci. Aku cuma kecewa. Kecewa karena kamu lebih milih tunduk daripada berjuang.”

Setelah itu, ia pergi, meninggalkan Elhan yang terpaku di tempatnya.

Langkah Nayla bergetar, tapi ia terus maju. Di dalam hatinya, ia tahu cinta itu masih ada. Namun luka yang ditinggalkan lebih kuat dari apapun. Luka yang tak bisa dihapus oleh waktu, oleh kata maaf, bahkan oleh cinta itu sendiri.

Dan sejak hari itu, ia sadar—kisah mereka tak pernah benar-benar selesai. Tapi juga tak bisa benar-benar dimulai lagi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Angin di Antara Kita    Bab 69 Titik yang Mulai Menyatukan

    Sam tidak pernah menyangka bahwa keputusannya menerima tawaran kerja sama jangka panjang dari Elhan semalam akan membuat kepalanya penuh semalaman. Bukannya gelisah… tapi terlalu banyak hal yang ikut berputar bersamaan. Antara profesional dan personal, antara kepercayaan dan keberanian, antara dirinya yang dulu dan dirinya yang mulai berubah sekarang. Pagi ini, Sam masuk kantor dengan napas yang terasa lebih mantap dari biasanya. Banyak beban yang secara perlahan terangkat. Mungkin karena untuk pertama kalinya dalam hubungan mereka—apa pun ini nanti disebut—Elhan memberi kepastian yang konkret. Bukan hanya kata-kata, tapi tindakan yang nyata. Saat Sam melewati koridor lantai tujuh, ia melihat—seperti sudah menjadi kebiasaan baru—ruang kerja Elhan pintunya sedikit terbuka. Lampu di dalam sudah menyala. Elhan sudah datang. Sam berniat langsung ke mejanya… tapi Elhan memanggil dari

  • Angin di Antara Kita    Bab 68 Ruang yang Mulai Terbuka

    Sam rasa hidupnya berubah terlalu cepat dalam beberapa minggu terakhir. Bukan perubahan yang membuatnya terengah–engah, tapi perubahan yang justru membuatnya… bernapas lebih nyata. Tidak sesak. Tidak menunggu badai datang.Perubahan yang sebagian besar—disengaja atau tidak—gara-gara Elhan.Pagi itu, Sam sudah di kantor lebih awal. Biasanya dia datang mepet jam, tapi sejak bekerja dekat dengan Elhan akhir–akhir ini, ia mulai menata ulang ritme hidupnya. Tidak dipaksa, tapi seperti tubuhnya sendiri yang mendorongnya bergerak lebih rapi.Ia sedang membuka laptop ketika seseorang mengetuk pintu.“Masuk.”Pintu terbuka, dan Elhan muncul. Dengan kemeja abu gelap, lengan tergulung, rambut sedikit acak tapi entah kenapa tetap enak dipandang.Sam mengerutkan dahi. “Kamu biasanya nggak datang sepagi ini.”“Ada rapat jam sembilan.” Elhan menutup pintu. “Dan aku mau bicara dulu sama kamu.”Sam langsung waspada. “Tentang apa

  • Angin di Antara Kita    Bab 67 Gerak yang Mulai Selaras

    Ada hal-hal yang tidak pernah Sam kira akan ia alami seperti duduk bersebelahan dengan Elhan di ruang kerja kecilnya sambil sama-sama membaca laporan, tetapi tanpa ada jeda canggung di antara mereka. Padahal dulu, kedekatan lima menit saja bisa membuat seluruh tubuh Sam tegang. Sekarang? Tenang. Tidak sepenuhnya santai—Elhan terlalu… intens untuk membuat seseorang santai sepenuhnya—tapi nyaman dengan cara yang membuat Sam heran pada dirinya sendiri.Elhan membaca cepat, menandai beberapa catatan di tablet, lalu mencondongkan tubuh sedikit. “Yang ini perlu direvisi. Formatting-nya kacau.”Sam mengangguk. “Kau sudah periksa bagian belakang?”“Sudah,” jawab Elhan tanpa melihat. “Tinggal ini.”Mereka bekerja beberapa menit dalam hening. Hening itu bukan kosong—lebih seperti ritme baru yang sedang mereka temukan bersama. Sampai akhirnya Sam sadar sesuatu: ia tidak lagi menunggu Elhan tiba-tiba berubah, pergi, atau menjauh. Tidak ada ketakutan yang meng

  • Angin di Antara Kita    Bab 66 Pertemuan yang Menguji Janji Baru

    Sam selalu mengira setelah Elhan akhirnya jujur, segalanya akan langsung terasa ringan. Nyatanya tidak. Bukan dalam arti berat—lebih seperti… kerasanya denyut baru dalam hidupnya, sesuatu yang sudah lama ia tunggu tapi begitu datang malah membuat dadanya penuh cara yang tidak ia mengerti.Elhan berubah. Bukan drastis, tapi nyata.Ia lebih hadir. Lebih memperhatikan. Lebih sering memastikan Sam benar-benar baik, bukan sekadar menjawab “baik” untuk mengakhiri pembicaraan. Tapi belum sempat Sam benar-benar menyesuaikan diri dengan versi baru Elhan itu, semesta seperti memutuskan untuk mengetes mereka lebih cepat dari yang diperkirakan.⸻Hari itu Sam sedang sibuk dengan laptopnya ketika pintu ruang kerjanya diketuk. Ia tidak menoleh, hanya menjawab, “Masuk aja.”Pintu terbuka—dan seseorang berdiri di sana. Seseorang yang membuat Sam otomatis menegang.Damar.“Kamu sibuk?” tanyanya, suaranya seperti biasa—tenang, rapi, dan t

  • Angin di Antara Kita    Bab 65 Langkah yang Berani, Pilihan yang Tidak Lagi Sembunyi

    Elhan tidak pernah membayangkan hari itu akan datang hari ketika semua kebisuannya akhirnya menuntut jawaban. Hari ketika ia tidak bisa lagi pura-pura tidak tahu apa yang terjadi pada Sam, dan tidak bisa lagi bersembunyi di balik ketakutannya sendiri.Sejak kejadian malam itu—ketika Sam menangis tanpa suara di depan pintu rumah sakit, sementara Elhan hanya bisa mengusap punggungnya seperti orang pengecut yang tidak tahu harus berkata apa—pikiran Elhan terus berputar liar. Tidak pernah ada satu malam pun yang benar-benar ia lalui tanpa memikirkan Sam.Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, ia berhenti melarikan diri.⸻Sam baru saja keluar dari ruangannya ketika Elhan sudah berdiri di depan pintu, bersandar dengan tangan menyilang. Bukan dingin. Bukan acuh. Tapi seperti seseorang yang sudah siap membongkar semua yang ia simpan selama ini.“Sam,” panggilnya pelan.Sam berhenti. Jantungnya menegang, seolah tubuhnya tahu lebih dulu bah

  • Angin di Antara Kita    Bab 64 Bayanganmu yang Masih Ada

    Sulit untuk benar-benar memahami bagaimana seseorang bisa menghilang, tapi tetap hadir di setiap ruang yang kita lewati. Elhan mungkin tak lagi menyapa, tak lagi muncul dalam keseharian Nayla, namun jejaknya… entah kenapa justru terasa semakin nyata belakangan ini.Tidak ada awan, tidak ada hujan, tidak ada langit senja—hari itu berjalan biasa saja. Tapi justru karena “biasa”, semuanya terasa makin kosong.Nayla baru keluar dari kelas ketika pundaknya hampir bersenggolan dengan seseorang. Ia menoleh—dan jantungnya berdegup lebih keras dari seharusnya.Bukan Elhan.Tapi tubuh tinggi itu, cara dia berdiri, cara ia memegang tas di satu sisi bahu… semuanya mengingatkan pada orang yang sudah berminggu-minggu menghilang. Sekilas saja cukup untuk membuat seluruh pertahanan yang ia bangun rapuh lagi.“Sering banget ya, kamu ngeliatin orang tapi kayak kecewa sendiri,” suara Rara muncul dari belakang, membuat Nayla tersentak.“Aku nggak ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status