LOGINBelasan bilah pedang berlapis api melesat menembus udara, mengurung Kaelen dari segala penjuru. Suhu di Aula Kebangkitan mendadak melonjak, membakar oksigen di sekitarnya.
Insting bertarung Kaelen, yang ditempa selama belasan tahun oleh para guru militer terbaik, mengambil alih. Ia menunduk menghindari sabetan horizontal pertama, menggunakan momentum itu untuk menyapu kaki sang ksatria, lalu merebut gagang pedangnya. Namun, Kaelen tahu ia tidak akan menang. Ini adalah Pasukan Ignis, ksatria elit klan yang sihir apinya bisa melelehkan tameng baja dalam hitungan detik. Tanpa sihir pelindung, satu tebasan saja akan membakarnya menjadi abu. Tiga ksatria secara serentak melontarkan tombak api dari jarak dekat. Kaelen terpojok di depan sisa-sisa pilar altar. Kematian berjarak kurang dari satu jengkal. Tiba-tiba, rasa dingin yang mencekam itu kembali meledak dari dadanya. Tanpa sadar, Kaelen mengangkat tangan kirinya. Pusaran kabut ungu kehitaman bermanifestasi seketika, berputar liar menyerupai perisai hisap. Saat tiga tombak api itu menghantam pusaran tersebut, tidak ada ledakan. Tidak ada suara benturan. Api-api itu meredup, tersedot ke dalam lubang tak kasat mata di telapak tangannya, menyisakan udara kosong yang hampa. Para ksatria tertegun. Mulut mereka ternganga dari balik helm pelindung. Di dunia ini, sihir hanya bisa dilawan dengan sihir yang setara atau lebih kuat. Menghilangkan sihir secara mutlak adalah hal yang mustahil. Kaelen tidak menyia-nyiakan sepersekian detik keterkejutan mereka. Meski kepalanya mendadak pusing akibat "menelan" mana yang bukan miliknya, ia bergerak cepat. Ia melemparkan pedang pinjamannya ke arah lampu gantung raksasa yang menahan kristal pencahayaan di atas para ksatria. TRANG! Rantai penyangga putus. Lampu gantung raksasa runtuh dan menimpa barisan depan ksatria, menciptakan kekacauan debu dan pecahan kaca. Memanfaatkan kebutaan sesaat itu, Kaelen berbalik dan berlari menerobos jendela kaca patri raksasa di sayap barat aula. Kaca pecah berhamburan saat tubuhnya melayang menembus udara malam yang membeku, mendarat dengan gulingan sempurna di atap batu koridor luar. "Tutup seluruh gerbang utama! Jangan biarkan kutukan itu keluar hidup-hidup!" Suara Paman Varian bergema dari dalam aula, diperkuat oleh sihir angin. Kaelen berlari menyusuri atap kastil. Jantungnya bergemuruh keras. Kastil Adiwangsa berada di atas tebing raksasa. Di depan adalah gerbang utama yang kini pasti sudah dipenuhi ratusan penjaga bersenjata lengkap. Di belakang adalah Jurang Pembuangan—jurang tak berdasar yang diselimuti kabut beracun, pembatas alami yang memisahkan wilayah bangsawan di atas dan Distrik Bawah di dasar bumi. Tidak ada jalan keluar yang logis. Tapi Kaelen selalu berpikir melampaui logika. Ia memutar arah, berlari menuju Balkon Penghakiman, tempat yang menjorok langsung ke arah Jurang Pembuangan. Jika ia melompat ke sungai bawah tanah yang berarus deras di dasar jurang, peluang selamatnya hanya sepuluh persen. Tapi sepuluh persen jauh lebih baik daripada mati ditebas di halaman rumahnya sendiri. Namun, langkah Kaelen terhenti tepat sepuluh meter sebelum ujung balkon. Sesosok pria berjubah mewah berdiri menghalanginya, diterangi cahaya bulan purnama yang pucat. Paman Varian. Di tangan kanannya, meliuk sebuah cambuk api putih—sihir tingkat tinggi yang suhu panasnya membuat batu pualam di sekitarnya mulai meleleh. "Aku selalu tahu kau berbeda, Kaelen," ucap Varian, suaranya tenang, kontras dengan kekacauan di sekitarnya. "Tapi menjadi sebuah Anomali? Sesuatu yang menelan sihir? Sayang sekali. Jika saja kekuatanmu itu adalah api, kau mungkin bisa membunuhku malam ini." "Paman sudah merencanakan ini," desis Kaelen, matanya memicing tajam. "Bahkan jika Batu Suar itu menyala emas, Paman akan tetap mencari cara untuk menyingkirkanku." Varian tertawa pelan. "Kekuasaan tidak diwariskan kepada anak kecil yang kebetulan lahir dari rahim yang tepat, Kaelen. Kekuasaan itu direbut." Cambuk api putih itu melecut tanpa peringatan. Kecepatannya melampaui kilat. Kaelen mengangkat tangannya, mencoba memanggil kembali pusaran penelan itu. Kabut gelap muncul, namun kali ini terasa sangat berat. Saat cambuk itu menghantam pusarannya, Kaelen memang berhasil menyerap elemen sihir apinya. Namun, gaya kinetik murni dari lecutan itu tidak bisa ditelan. BAM! Daya dorong cambuk itu menghantam dada Kaelen seperti hantaman palu godam. Tulang rusuknya berderak. Tubuhnya terlempar ke udara, melayang melewati pagar pembatas balkon. Waktu seakan melambat. Kaelen melihat wajah pamannya yang tersenyum puas dari atas tebing, semakin menjauh, dan menjauh. Gravitasi menarik tubuhnya dengan kejam. Angin menderu kencang di telinganya saat ia jatuh menembus kabut tebal menuju kedalaman Jurang Pembuangan. Gelap mulai menguasai pandangannya, diiringi rasa sakit yang meremukkan tulang. Sesaat sebelum kesadarannya sepenuhnya menghilang, satu kalimat terukir tajam di benak Kaelen: Takhta itu milikku. Dan aku akan kembali untuk menagihnya. Lalu, punggungnya menghantam sesuatu yang keras dan dingin. Gelap total. Bau anyir darah dan besi berkarat adalah hal pertama yang menyapa indra penciuman Kaelen. Ia terbatuk keras, memuntahkan cairan hitam berbau busuk dari paru-parunya. Seluruh tubuhnya terasa seperti baru saja digiling oleh roda kereta kuda. Ia mencoba membuka mata, namun hanya melihat kegelapan remang-remang yang diterangi cahaya neon hijau dan merah yang berkedip dari kejauhan. Suara tetesan air menggema di sekelilingnya, disusul oleh decit tikus-tikus raksasa yang berlarian di tumpukan sampah besi. Ia tidak lagi berada di atas tebing. Ia berbaring di atas tumpukan rongsokan basah, diselimuti lumpur dan sisa-sisa hujan limbah. "Oi, lihat ini." Suara parau seorang pria terdengar dari arah bayang-bayang. "Ada daging segar jatuh dari atas. Jubahnya... sutra asli. Sepertinya kita dapat jackpot malam ini, Kawan-kawan." Kaelen memaksa tubuhnya yang gemetar untuk duduk. Tiga sosok pria berbadan besar dengan modifikasi logam berkarat di lengan dan wajah mereka melangkah maju. Salah satu dari mereka memegang pisau bergerigi yang meneteskan cairan beracun. Selamat datang di Distrik Bawah. Tempat di mana gelar bangsawan tidak bernilai sepeser pun, dan nyawa manusia lebih murah dari sekerat roti. Kaelen mengusap darah dari sudut bibirnya, menatap tajam ketiga preman itu. Kutukannya membuat ia jatuh, tapi kini, kutukan yang sama adalah satu-satunya alat yang ia miliki untuk mendaki kembali.Lonceng peringatan bergema membelah malam, suaranya lebih tajam daripada rentetan senapan mesin. Lampu-lampu sorot magis yang tadinya memancarkan cahaya putih kini berubah menjadi merah darah, menyapu seluruh area sektor terdalam bagai mata iblis raksasa yang mencari mangsa."Rencana siluman dibatalkan!" teriak Lyra. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia melemparkan bom asap beracun yang sedari tadi digenggamnya ke arah jembatan.BUM!Asap hijau pekat meledak, menelan keempat Inkuisitor yang menjaga penghalang cahaya. Namun, pasukan elit Kekaisaran Pusat itu bukanlah kroco jalanan dari Distrik Bawah. Dari dalam kepulan asap, pendar cahaya putih yang membutakan menyala terang, membakar habis partikel racun itu seketika. Topeng perak mereka sama sekali tidak tertembus asap."Biar kutebak, racun tidak mempan terhadap orang suci?!" rutuk Lyra, melompat mundur sambil mencabut kedua belatinya."Mundur, Lyra. Mereka milikku," suara Kaelen terdengar menggema, berat, dan tanpa sedikit pun ke
Kekaisaran Pusat tidak pernah bergerak tanpa kepastian absolut. Melihat puluhan ribu pasukan Garda Matahari berkemah di dasar Kawah Hitam, Silas tahu bahwa titah dari Sang Kaisar Agung bukan sekadar pencarian buta. Mereka tahu persis apa yang terkubur di bawah sana. "Ini bunuh diri," Silas memijat pelipisnya, menatap layar radarnya yang kini dipenuhi titik merah tak terhitung jumlahnya. "Kaelen, mereka itu Garda Matahari. Mereka bukan ksatria klan bangsawan biasa yang mengandalkan sihir elemen. Mereka adalah pasukan elit langsung di bawah komando Kaisar. Senjata mereka dilapisi Aura Suci energi murni yang dirancang untuk membakar apa pun yang menyerapnya. Jika kau mencoba menelan serangan mereka, artefak di dadamu akan kelebihan beban dalam hitungan detik." Lyra menyipitkan mata, menatap kamp militer raksasa di bawah dari balik teropong jarak jauhnya. "Bukan cuma itu. Lihat kapal-kapal yang bersandar di tebing. Itu bukan kapal layar udara milik Klan Angin. Itu Dreadnought berten
Mesin uap raksasa itu mengaum parau, membelah kesunyian padang gurun yang membentang tanpa batas. Kendaraan itu dulunya adalah pengangkut bijih besi raksasa dari tambang Sektor Empat, namun mekanik Rexor telah merombaknya dalam waktu semalam. Lambungnya kini dilapisi pelat baja setebal tiga inci, jendelanya diganti dengan celah pandang berlapis kaca anti-peluru, dan cerobongnya terus memuntahkan asap hitam pekat yang langsung tersapu oleh angin kering padang belantara. Mereka telah meninggalkan perbatasan wilayah Klan Adiwangsa sejak tiga hari yang lalu, melaju terus ke arah barat menjauhi peradaban. Di dalam kabin yang pengap dan berbau oli terbakar, Lyra mengemudikan monster besi itu dengan kedua tangan mencengkeram kemudi yang berat. Peluh membasahi dahi gadis itu. Mengemudi melintasi Gurun Abu, zona transisi menuju Kawah Hitam, bukanlah tugas untuk mereka yang bermental lemah. Tidak ada jalan setapak. Hanya lautan pasir kelabu, bongkahan batu obsidian sebesar rumah, dan bad
Sebelas Sky-Galleon yang tersisa menggantung membeku di udara. Awan badai yang mereka bawa kini terasa seperti kain kafan yang menyelimuti armada mereka sendiri. Dari atas geladak kapal-kapal itu, para ksatria Klan Aero menatap horor ke bawah, menyaksikan kapal bendera kebanggaan mereka hancur, dan kapten mereka tewas di tangan satu manusia tanpa elemen. Kepanikan menyebar dengan cepat bagai api liar. "Fokuskan seluruh meriam angin ke bangkai kapal utama!" Terdengar raungan perintah dari kapal kedua yang kini mengambil alih komando. "Tembakkan meriam Aero-Burst! Ratakan pemakan dewa itu menjadi debu!" Puluhan laras meriam magis dari sebelas kapal yang melayang itu serentak menyala hijau menyilaukan, mengunci target tepat ke arah Kaelen yang masih berdiri di atas geladak kapal yang hancur. Di pelataran bawah, Komandan Kael memucat. "Dia tidak akan bisa menelan tembakan meriam sebanyak itu sekaligus! Rexor, tembakkan rantai penarik lagi!" "Rantainya putus saat bantingan tadi, Pak
Angin bertiup tidak wajar di pelataran Kastil Adiwangsa. Udara yang tadinya pengap oleh asap mesin uap kini tersapu bersih oleh hembusan badai buatan yang membawa bau ozon dan embun beku. Di atas sana, awan kelabu bergulung liar, membentuk pusaran raksasa yang menutupi sisa-sisa sinar matahari pagi. Kaelen melangkah keluar dari sayap perpustakaan, disambut oleh kepanikan yang terstruktur. Di bawah komando Rexor, para preman Sektor Empat berteriak kasar sambil mendorong meriam-meriam anti-udara bertenaga uap ke posisi tembak. Di sisi lain, Komandan Kael berdiri di atas reruntuhan patung pualam, meneriakkan perintah baris-berbaris kepada mantan ksatria Ignis yang kini memanggul senapan laras panjang buatan pandai besi bawah tanah. Gesekan antara kedua kubu menghilang seketika, digantikan oleh insting primitif untuk bertahan hidup dari ancaman yang jauh lebih besar di atas kepala mereka. Dari balik pusaran awan kelabu, moncong-moncong kapal kayu raksasa mulai menembus langit. Sky-Ga
Pelataran pualam Kastil Adiwangsa yang dulunya suci kini tampak seperti pabrik besi berantakan. Asap hitam dari mesin-mesin uap portabel membumbung ke udara, mengotori patung-patung marmer yang tersisa. Bau keringat, mesiu, dan oli mesin menggantikan aroma kemenyan magis yang selama ratusan tahun melekat di tempat itu. Di tengah pelataran, Kaelen berdiri mengawasi kekacauan yang sedang ia paksa menjadi sebuah tatanan. Di sebelah kirinya, barisan preman Sektor Empat berbaris acak-acakan, menguap dan meludah sembarangan. Di sebelah kanannya, sisa-sisa ksatria Ignis berdiri tegak dengan postur militer sempurna, meski wajah mereka memucat menahan beban senapan uap laras panjang yang sama sekali tidak mereka pahami cara kerjanya. "Ini bencana," komentar Lyra yang berdiri di samping Kaelen, mengunyah sepotong dendeng kering. "Ksatria-ksatria itu memegang senapan seperti memegang sapu lidi, dan anak buah Rexor tidak tahu bedanya baris-berbaris dengan antrean pembagian jatah minuman keras







