Home / Fantasi / Anomali Sang Pewaris / Padamnya Api Suci

Share

Anomali Sang Pewaris
Anomali Sang Pewaris
Author: Rjm10

Padamnya Api Suci

Author: Rjm10
last update publish date: 2026-09-22 22:30:35

Bagi Klan Adiwangsa, api bukan sekadar elemen. Api adalah napas, takhta, dan hukum mutlak.

Selama empat ratus tahun, garis keturunan Adiwangsa telah memerintah wilayah utara Kekaisaran dengan tangan besi yang diselimuti kobaran Api Suci—sihir tingkat tinggi yang konon bisa melelehkan baja hanya dengan satu hembusan napas.

Malam ini, di Aula Kebangkitan yang megah, ribuan lilin berjejer di sepanjang pilar marmer, menerangi ukiran naga api yang merambat di dinding. Udara terasa panas dan sarat akan sihir. Di ujung aula, para Tetua Klan dan bangsawan dari berbagai penjuru duduk dengan tatapan penuh ekspektasi.

Di tengah-tengah semua itu, Kaelen Adiwangsa berdiri dengan punggung tegap.

Mengenakan jubah sutra merah dengan sulaman benang emas, pemuda berusia delapan belas tahun itu tampak sempurna. Ia adalah pewaris tunggal, putra dari mendiang Kepala Klan.

Sejak kecil, Kaelen dididik untuk menjadi senjata yang tak kenal ampun. Ia hafal setiap taktik perang, menguasai ilmu pedang terbaik, dan memiliki kecerdasan yang membuat para tutornya kewalahan.

Hanya satu hal yang tersisa untuk mengesahkan takhtanya: Malam Kebangkitan. Malam di mana inti sihirnya akan diuji melalui Batu Suar, sebuah artefak kuno di tengah altar.

"Kaelen," panggil sebuah suara bariton yang bergema di penjuru aula.

Kaelen menoleh. Di kursi kehormatan yang seharusnya menjadi milik ayah Kaelen, duduklah Paman Varian—pria paruh baya dengan bekas luka bakar di lehernya. Senyum Varian tampak hangat, namun Kaelen selalu bisa melihat ada ambisi dingin di balik mata pria itu.

Selama ayahnya tiada, Varian-lah yang memegang kendali klan sebagai wali.

"Waktumu telah tiba, Keponakanku," ucap Varian, merentangkan tangannya. "Buktikan pada leluhur bahwa darah Adiwangsa mengalir deras di nadimu. Bangkitkan Api Suci, dan pimpinlah klan ini menuju kejayaan."

Gemuruh tepuk tangan memenuhi aula. Kaelen hanya membalasnya dengan anggukan tipis yang tenang. Ia tidak butuh validasi mereka. Ia tahu siapa dirinya.

Kaelen melangkah menaiki tangga pualam menuju altar. Di atas penyangga obsidian, Batu Suar seukuran tengkorak manusia berdenyut dengan cahaya merah redup, seolah menunggunya.

Aturannya sederhana. Letakkan kedua tangan di atas batu, alirkan energi kehidupan (Mana) ke dalamnya, dan batu itu akan memproyeksikan elemen sihir bawaan yang tertidur di dalam jiwa. Untuk seorang Adiwangsa, batu itu seharusnya meledak menjadi pilar api berwarna emas.

Kaelen menarik napas panjang. Ia menutup mata, memfokuskan pikirannya, lalu meletakkan kedua telapak tangannya ke permukaan Batu Suar yang dingin.

Ia mulai mengalirkan energinya.

Satu detik. Dua detik.

Kaelen mengerutkan kening. Ada yang salah. Biasanya, saat seseorang menyentuh batu itu, mereka akan merasakan tolakan hangat. Namun Kaelen tidak merasakan kehangatan. Ia merasa seolah tangannya dicelupkan ke dalam sumur tak berdasar yang terbuat dari es dan lumpur.

Energinya tidak mengalir ke dalam batu. Sebaliknya, sesuatu di dalam dirinya... terbangun. Sesuatu yang lapar.

Tiba-tiba, cahaya merah dari Batu Suar meredup drastis.

Bisik-bisik mulai terdengar dari bangku penonton. Kaelen membuka matanya dan terkesiap. Batu yang seharusnya bersinar keemasan kini berubah warna menjadi hitam pekat, seperti menyerap semua cahaya di sekitarnya.

"Apa yang terjadi?" gumam salah satu Tetua.

Kaelen mencoba menarik tangannya, tapi ia tidak bisa. Sesuatu menahannya. Rasa dingin menyengat menjalar dari dadanya, merambat ke lengan, dan menembus ke dalam Batu Suar.

Dan kemudian, mimpi buruk itu terjadi.

Bukan pilar api yang meledak dari altar. Melainkan sebuah pusaran kabut berwarna ungu kehitaman yang pekat. Pusaran itu berputar tanpa suara, merobek udara di sekitar altar.

Kejadian selanjutnya membuat seluruh aula terkesiap dalam horor. Ribuan lilin yang menerangi ruangan raksasa itu... padam secara serentak. Api di perapian besar mati seketika. Bahkan sihir perlindungan yang mengelilingi aula hancur berkeping-keping.

Udara panas tiba-tiba berubah menjadi sedingin es. Gelap gulita menelan Aula Kebangkitan. Sisa-sisa sihir api di ruangan itu seolah disedot paksa, ditelan habis-habisan oleh pusaran hitam yang berpusat pada Kaelen.

Pemuda itu terhuyung mundur, akhirnya berhasil melepaskan tangannya dari batu. Pusaran hitam itu perlahan meresap kembali ke dalam pori-pori kulitnya, meninggalkan Batu Suar yang kini retak seribu dan berubah menjadi abu kelabu.

Hening. Kesunyian yang mencekik menguasai ruangan.

Kaelen menatap telapak tangannya sendiri dengan napas memburu. Ia tidak merasakan panasnya Api Suci. Ia merasakan ketiadaan. Sebuah lubang hitam di dalam jiwanya yang mendambakan sihir untuk dimakan.

Cahaya perlahan kembali menyala saat para penjaga dengan tergesa-gesa menyalakan obor sihir cadangan. Cahaya redup itu menyorot wajah Kaelen yang pucat pasi, dan wajah-wajah para bangsawan yang kini menatapnya seolah ia adalah monster.

"Batu Suar hancur..." suara Tetua Agung bergetar, memecah keheningan. Ia menunjuk Kaelen dengan jari keriput yang gemetar. "Bukan api... itu bukan elemen apa pun! Itu adalah ketiadaan! Kekuatan penelan kutukan kuno!"

"Anomali," bisik seseorang dari kerumunan, disusul oleh gumaman panik yang semakin keras. "Dia seorang Anomali! Anak yang dikutuk!"

Kaelen mendongak, mencari pembelaan. Tatapannya berserobok dengan Paman Varian.

Di tengah kekacauan dan kepanikan para Tetua, Varian tidak tampak terkejut, tidak juga terlihat sedih. Pria dengan bekas luka bakar di leher itu menatap Kaelen dari atas kursinya. Dan perlahan, ujung bibir Varian tertarik ke atas, membentuk seringai tipis yang hanya bisa dilihat oleh Kaelen.

Seringai yang mengatakan: Permainan selesai, Kaelen. Takhta ini milikku.

"Tangkap dia!" suara Varian tiba-tiba menggelegar ke seluruh ruangan, penuh otoritas palsu yang dibalut kepanikan buatan. "Anomali adalah musuh alam semesta! Jangan biarkan dia mencemari Aula Suci ini!"

Belasan ksatria elit klan mencabut pedang mereka secara serentak. Ujung bilah yang menyala oleh api kini tidak lagi diarahkan untuk menghormatinya, melainkan diarahkan tepat ke leher sang pewaris.

Dalam satu malam, Kaelen Adiwangsa kehilangan segalanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anomali Sang Pewaris   Api Suci dan Baja Ketiadaan

    Lonceng peringatan bergema membelah malam, suaranya lebih tajam daripada rentetan senapan mesin. Lampu-lampu sorot magis yang tadinya memancarkan cahaya putih kini berubah menjadi merah darah, menyapu seluruh area sektor terdalam bagai mata iblis raksasa yang mencari mangsa."Rencana siluman dibatalkan!" teriak Lyra. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia melemparkan bom asap beracun yang sedari tadi digenggamnya ke arah jembatan.BUM!Asap hijau pekat meledak, menelan keempat Inkuisitor yang menjaga penghalang cahaya. Namun, pasukan elit Kekaisaran Pusat itu bukanlah kroco jalanan dari Distrik Bawah. Dari dalam kepulan asap, pendar cahaya putih yang membutakan menyala terang, membakar habis partikel racun itu seketika. Topeng perak mereka sama sekali tidak tertembus asap."Biar kutebak, racun tidak mempan terhadap orang suci?!" rutuk Lyra, melompat mundur sambil mencabut kedua belatinya."Mundur, Lyra. Mereka milikku," suara Kaelen terdengar menggema, berat, dan tanpa sedikit pun ke

  • Anomali Sang Pewaris   Penyusup dalam Pasir

    Kekaisaran Pusat tidak pernah bergerak tanpa kepastian absolut. Melihat puluhan ribu pasukan Garda Matahari berkemah di dasar Kawah Hitam, Silas tahu bahwa titah dari Sang Kaisar Agung bukan sekadar pencarian buta. Mereka tahu persis apa yang terkubur di bawah sana. "Ini bunuh diri," Silas memijat pelipisnya, menatap layar radarnya yang kini dipenuhi titik merah tak terhitung jumlahnya. "Kaelen, mereka itu Garda Matahari. Mereka bukan ksatria klan bangsawan biasa yang mengandalkan sihir elemen. Mereka adalah pasukan elit langsung di bawah komando Kaisar. Senjata mereka dilapisi Aura Suci energi murni yang dirancang untuk membakar apa pun yang menyerapnya. Jika kau mencoba menelan serangan mereka, artefak di dadamu akan kelebihan beban dalam hitungan detik." Lyra menyipitkan mata, menatap kamp militer raksasa di bawah dari balik teropong jarak jauhnya. "Bukan cuma itu. Lihat kapal-kapal yang bersandar di tebing. Itu bukan kapal layar udara milik Klan Angin. Itu Dreadnought berten

  • Anomali Sang Pewaris   Debu dan Mesin

    Mesin uap raksasa itu mengaum parau, membelah kesunyian padang gurun yang membentang tanpa batas. Kendaraan itu dulunya adalah pengangkut bijih besi raksasa dari tambang Sektor Empat, namun mekanik Rexor telah merombaknya dalam waktu semalam. Lambungnya kini dilapisi pelat baja setebal tiga inci, jendelanya diganti dengan celah pandang berlapis kaca anti-peluru, dan cerobongnya terus memuntahkan asap hitam pekat yang langsung tersapu oleh angin kering padang belantara. Mereka telah meninggalkan perbatasan wilayah Klan Adiwangsa sejak tiga hari yang lalu, melaju terus ke arah barat menjauhi peradaban. Di dalam kabin yang pengap dan berbau oli terbakar, Lyra mengemudikan monster besi itu dengan kedua tangan mencengkeram kemudi yang berat. Peluh membasahi dahi gadis itu. Mengemudi melintasi Gurun Abu, zona transisi menuju Kawah Hitam, bukanlah tugas untuk mereka yang bermental lemah. Tidak ada jalan setapak. Hanya lautan pasir kelabu, bongkahan batu obsidian sebesar rumah, dan bad

  • Anomali Sang Pewaris   Hujan Bangkai di Langit Utara

    Sebelas Sky-Galleon yang tersisa menggantung membeku di udara. Awan badai yang mereka bawa kini terasa seperti kain kafan yang menyelimuti armada mereka sendiri. Dari atas geladak kapal-kapal itu, para ksatria Klan Aero menatap horor ke bawah, menyaksikan kapal bendera kebanggaan mereka hancur, dan kapten mereka tewas di tangan satu manusia tanpa elemen. Kepanikan menyebar dengan cepat bagai api liar. "Fokuskan seluruh meriam angin ke bangkai kapal utama!" Terdengar raungan perintah dari kapal kedua yang kini mengambil alih komando. "Tembakkan meriam Aero-Burst! Ratakan pemakan dewa itu menjadi debu!" Puluhan laras meriam magis dari sebelas kapal yang melayang itu serentak menyala hijau menyilaukan, mengunci target tepat ke arah Kaelen yang masih berdiri di atas geladak kapal yang hancur. Di pelataran bawah, Komandan Kael memucat. "Dia tidak akan bisa menelan tembakan meriam sebanyak itu sekaligus! Rexor, tembakkan rantai penarik lagi!" "Rantainya putus saat bantingan tadi, Pak

  • Anomali Sang Pewaris   Badai yang Terluka

    Angin bertiup tidak wajar di pelataran Kastil Adiwangsa. Udara yang tadinya pengap oleh asap mesin uap kini tersapu bersih oleh hembusan badai buatan yang membawa bau ozon dan embun beku. Di atas sana, awan kelabu bergulung liar, membentuk pusaran raksasa yang menutupi sisa-sisa sinar matahari pagi. Kaelen melangkah keluar dari sayap perpustakaan, disambut oleh kepanikan yang terstruktur. Di bawah komando Rexor, para preman Sektor Empat berteriak kasar sambil mendorong meriam-meriam anti-udara bertenaga uap ke posisi tembak. Di sisi lain, Komandan Kael berdiri di atas reruntuhan patung pualam, meneriakkan perintah baris-berbaris kepada mantan ksatria Ignis yang kini memanggul senapan laras panjang buatan pandai besi bawah tanah. Gesekan antara kedua kubu menghilang seketika, digantikan oleh insting primitif untuk bertahan hidup dari ancaman yang jauh lebih besar di atas kepala mereka. Dari balik pusaran awan kelabu, moncong-moncong kapal kayu raksasa mulai menembus langit. Sky-Ga

  • Anomali Sang Pewaris   Gesekan Baja dan Halaman Usang

    Pelataran pualam Kastil Adiwangsa yang dulunya suci kini tampak seperti pabrik besi berantakan. Asap hitam dari mesin-mesin uap portabel membumbung ke udara, mengotori patung-patung marmer yang tersisa. Bau keringat, mesiu, dan oli mesin menggantikan aroma kemenyan magis yang selama ratusan tahun melekat di tempat itu. Di tengah pelataran, Kaelen berdiri mengawasi kekacauan yang sedang ia paksa menjadi sebuah tatanan. Di sebelah kirinya, barisan preman Sektor Empat berbaris acak-acakan, menguap dan meludah sembarangan. Di sebelah kanannya, sisa-sisa ksatria Ignis berdiri tegak dengan postur militer sempurna, meski wajah mereka memucat menahan beban senapan uap laras panjang yang sama sekali tidak mereka pahami cara kerjanya. "Ini bencana," komentar Lyra yang berdiri di samping Kaelen, mengunyah sepotong dendeng kering. "Ksatria-ksatria itu memegang senapan seperti memegang sapu lidi, dan anak buah Rexor tidak tahu bedanya baris-berbaris dengan antrean pembagian jatah minuman keras

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status