LOGINRasa sakit adalah guru yang kejam, namun Kaelen sudah terbiasa menjadi murid teladan.
Ia memaksa dirinya berdiri meski setiap tarikan napas terasa seperti ada belati yang menusuk paru-parunya. Tiga preman di depannya menyeringai, memamerkan gigi-gigi kuning berantakan. Mata Kaelen dengan cepat menganalisis ancaman. Pria di tengah, si pemimpin, memiliki lengan kiri buatan dari besi rongsok yang ditenagai oleh kristal mana murahan berwarna hijau terang. Dua krunya membawa pipa besi berkarat dan belati yang dilapisi racun rawa. Ini bukan pasukan Ignis. Mereka lambat, ceroboh, dan terlalu percaya diri. "Buka jubah sutramu itu pelan-pelan, Tuan Muda," ejek si pria berlengan besi, memutar-mutar pisau di tangan kanannya. "Dan serahkan cincin itu. Kami berjanji akan memotong lehermu dengan cepat supaya kau tidak perlu merasakan hidup di selokan ini." Kaelen tidak menjawab. Ia meludah, menyingkirkan darah dari mulutnya, lalu mengambil posisi kuda-kuda rendah. Ilmu bela diri tangan kosong klan Adiwangsa. "Bocah sombong!" teriak salah satu kroconya, melompat maju dengan pipa besi yang diayunkan lurus ke kepala Kaelen. Kaelen tidak mundur. Di detik terakhir, ia menunduk tajam ke bawah ayunan pipa, mengabaikan rasa nyeri di tulang rusuknya yang patah. Ia melangkah maju, memangkas jarak, dan menghantamkan telapak tangannya tepat ke ulu hati pria itu. Brak! Pria itu tersedak, matanya melotot sebelum tubuhnya ambruk ke tumpukan sampah, pingsan seketika. Si pemimpin dan preman kedua tertegun sejenak melihat kecepatan Kaelen. Bangsawan biasanya manja, mengandalkan sihir pelindung dan tembakan elemen dari jauh. Mereka tidak menyangka mangsanya adalah ahli pertarungan jarak dekat. "Bunuh dia!" raung si pemimpin. Preman kedua maju dengan belati beracun, sementara si pemimpin mengarahkan lengan besinya ke arah Kaelen. Kristal hijau di lengannya berpendar terang, melepaskan tembakan peluru angin yang kencang. Otak Kaelen bekerja lebih cepat dari instingnya. Ia tidak bisa menghindar dengan tubuh serusak ini. Ia harus menggunakan kutukannya. Sambil merendahkan tubuh, Kaelen mengarahkan tangan kirinya ke depan. Ayo, telan ini, batinnya. Pusaran kabut hitam keunguan itu kembali meledak dari telapak tangannya, kali ini lebih pekat dan agresif. Peluru angin yang melesat ke arahnya langsung menghantam pusaran itu. Bukannya terpental, peluru angin itu tersedot masuk ke dalam kabut dan lenyap tanpa bekas. Namun, kali ini efeknya berbeda. Kaelen merasakan sensasi dingin yang menyengat mengalir dari tangannya ke seluruh jaringan sarafnya. Tubuhnya yang belum terbiasa mencerna mana eksternal merespons dengan rasa mual yang hebat, seolah ia baru saja menelan sekepal paku berkarat. Keterkejutan musuh adalah senjata terbaik. Memanfaatkan jeda saat si pemimpin melongo melihat tembakannya lenyap, Kaelen menerjang maju. Preman kedua mencoba menusukkan belati beracun, tapi Kaelen menangkap pergelangan tangan pria itu. Dengan putaran kasar yang diiringi bunyi tulang patah, Kaelen melucuti belati tersebut dan menendang lutut musuhnya hingga hancur. Kini tersisa si pemimpin. Pria berlengan besi itu panik, mencoba memompa lebih banyak energi ke kristal mana-nya untuk tembakan kedua. Kaelen tidak memberinya kesempatan. Ia melompat, menekan rasa sakit yang membuat pandangannya memutih, dan menempelkan telapak tangan kirinya langsung ke lengan besi pria itu, tepat di atas kristal mana. "Apa yang—" Kalimat preman itu terputus. Kabut hitam Kaelen menyelimuti lengan mekanik tersebut layaknya parasit kelaparan. Cahaya hijau dari kristal mana itu berkedip liar, sebelum akhirnya redup total dan retak menjadi debu abu-abu. Lengan besi yang tadinya bergerak mulus kini mati, menjadi beban mati seberat puluhan kilogram yang menarik tuannya jatuh berlutut. "K-kau... monster apa kau?!" jerit pria itu, ketakutan melihat sihir di lengannya diserap habis. "Aku?" Kaelen menatap pria itu dengan mata dingin yang tak memancarkan ampun. Ia memungut belati beracun yang jatuh di tanah. "Aku hanya daging segar yang jatuh dari atas." Satu tebasan cepat, dan pria itu terkapar tak bernyawa. Napas Kaelen tersengal-sengal. Pandangannya mulai berputar. Kekuatan penelan ini mengambil banyak korban pada stamina fisiknya. Jika ia terus menyerap sihir tanpa tahu cara mengeluarkannya kembali, tubuhnya sendiri yang akan meledak dari dalam. Dengan tangan gemetar, Kaelen melucuti jubah kotor milik si pemimpin preman, menutupi jubah sutra merahnya yang terlalu mencolok, dan mengambil beberapa keping koin perunggu kusam dari saku mereka. Ia harus melepaskan identitas Adiwangsa jika ingin bertahan hidup malam ini. Ia memaksakan diri berjalan tertatih-tatih keluar dari gang sempit yang dipenuhi rongsokan itu, melangkah menuju jalanan Distrik Bawah yang diterangi lampu-lampu neon berkedip. Udara dipenuhi asap tebal dari pabrik penyulingan bawah tanah dan aroma rempah-rempah murah. Orang-orang dengan pakaian compang-camping dan pandangan mata mati lalu-lalang tanpa mempedulikan satu mayat tambahan di sudut gang. Kaelen menyandarkan tubuhnya ke dinding bata yang basah, mencoba menahan rasa sakit yang semakin menjadi. Ia butuh obat. Ia butuh tempat bersembunyi. "Gaya bertarung klan atas, tapi menggunakan sihir ilmu hitam yang bisa menguras kristal mana..." Sebuah suara wanita yang serak dan sinis tiba-tiba terdengar dari atas tumpukan peti kemas di dekatnya. Kaelen mendongak, tangannya secara refleks kembali menggenggam belati beracun. Di atas peti, duduk sesosok gadis dengan rambut dipotong pendek asimetris, mengenakan jaket kulit pudar dan kacamata goggle yang bertengger di dahinya. Ia tengah melempar-lempar sebuah apel merah ke udara, menatap Kaelen dengan tatapan menilai. "Kau tidak akan bertahan sampai pagi dengan tulang rusuk seperti itu, Tuan Muda," kata gadis itu, menggigit apelnya dengan suara keras. "Tapi... aku tahu dokter yang tidak akan banyak tanya, asalkan kau punya cukup koin." Gadis itu melompat turun, mendarat tanpa suara layaknya kucing liar. Ia mengulurkan tangannya, tersenyum miring. "Namaku Lyra. Dan sepertinya kau sangat butuh pemandu wisata malam ini."Lonceng peringatan bergema membelah malam, suaranya lebih tajam daripada rentetan senapan mesin. Lampu-lampu sorot magis yang tadinya memancarkan cahaya putih kini berubah menjadi merah darah, menyapu seluruh area sektor terdalam bagai mata iblis raksasa yang mencari mangsa."Rencana siluman dibatalkan!" teriak Lyra. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia melemparkan bom asap beracun yang sedari tadi digenggamnya ke arah jembatan.BUM!Asap hijau pekat meledak, menelan keempat Inkuisitor yang menjaga penghalang cahaya. Namun, pasukan elit Kekaisaran Pusat itu bukanlah kroco jalanan dari Distrik Bawah. Dari dalam kepulan asap, pendar cahaya putih yang membutakan menyala terang, membakar habis partikel racun itu seketika. Topeng perak mereka sama sekali tidak tertembus asap."Biar kutebak, racun tidak mempan terhadap orang suci?!" rutuk Lyra, melompat mundur sambil mencabut kedua belatinya."Mundur, Lyra. Mereka milikku," suara Kaelen terdengar menggema, berat, dan tanpa sedikit pun ke
Kekaisaran Pusat tidak pernah bergerak tanpa kepastian absolut. Melihat puluhan ribu pasukan Garda Matahari berkemah di dasar Kawah Hitam, Silas tahu bahwa titah dari Sang Kaisar Agung bukan sekadar pencarian buta. Mereka tahu persis apa yang terkubur di bawah sana. "Ini bunuh diri," Silas memijat pelipisnya, menatap layar radarnya yang kini dipenuhi titik merah tak terhitung jumlahnya. "Kaelen, mereka itu Garda Matahari. Mereka bukan ksatria klan bangsawan biasa yang mengandalkan sihir elemen. Mereka adalah pasukan elit langsung di bawah komando Kaisar. Senjata mereka dilapisi Aura Suci energi murni yang dirancang untuk membakar apa pun yang menyerapnya. Jika kau mencoba menelan serangan mereka, artefak di dadamu akan kelebihan beban dalam hitungan detik." Lyra menyipitkan mata, menatap kamp militer raksasa di bawah dari balik teropong jarak jauhnya. "Bukan cuma itu. Lihat kapal-kapal yang bersandar di tebing. Itu bukan kapal layar udara milik Klan Angin. Itu Dreadnought berten
Mesin uap raksasa itu mengaum parau, membelah kesunyian padang gurun yang membentang tanpa batas. Kendaraan itu dulunya adalah pengangkut bijih besi raksasa dari tambang Sektor Empat, namun mekanik Rexor telah merombaknya dalam waktu semalam. Lambungnya kini dilapisi pelat baja setebal tiga inci, jendelanya diganti dengan celah pandang berlapis kaca anti-peluru, dan cerobongnya terus memuntahkan asap hitam pekat yang langsung tersapu oleh angin kering padang belantara. Mereka telah meninggalkan perbatasan wilayah Klan Adiwangsa sejak tiga hari yang lalu, melaju terus ke arah barat menjauhi peradaban. Di dalam kabin yang pengap dan berbau oli terbakar, Lyra mengemudikan monster besi itu dengan kedua tangan mencengkeram kemudi yang berat. Peluh membasahi dahi gadis itu. Mengemudi melintasi Gurun Abu, zona transisi menuju Kawah Hitam, bukanlah tugas untuk mereka yang bermental lemah. Tidak ada jalan setapak. Hanya lautan pasir kelabu, bongkahan batu obsidian sebesar rumah, dan bad
Sebelas Sky-Galleon yang tersisa menggantung membeku di udara. Awan badai yang mereka bawa kini terasa seperti kain kafan yang menyelimuti armada mereka sendiri. Dari atas geladak kapal-kapal itu, para ksatria Klan Aero menatap horor ke bawah, menyaksikan kapal bendera kebanggaan mereka hancur, dan kapten mereka tewas di tangan satu manusia tanpa elemen. Kepanikan menyebar dengan cepat bagai api liar. "Fokuskan seluruh meriam angin ke bangkai kapal utama!" Terdengar raungan perintah dari kapal kedua yang kini mengambil alih komando. "Tembakkan meriam Aero-Burst! Ratakan pemakan dewa itu menjadi debu!" Puluhan laras meriam magis dari sebelas kapal yang melayang itu serentak menyala hijau menyilaukan, mengunci target tepat ke arah Kaelen yang masih berdiri di atas geladak kapal yang hancur. Di pelataran bawah, Komandan Kael memucat. "Dia tidak akan bisa menelan tembakan meriam sebanyak itu sekaligus! Rexor, tembakkan rantai penarik lagi!" "Rantainya putus saat bantingan tadi, Pak
Angin bertiup tidak wajar di pelataran Kastil Adiwangsa. Udara yang tadinya pengap oleh asap mesin uap kini tersapu bersih oleh hembusan badai buatan yang membawa bau ozon dan embun beku. Di atas sana, awan kelabu bergulung liar, membentuk pusaran raksasa yang menutupi sisa-sisa sinar matahari pagi. Kaelen melangkah keluar dari sayap perpustakaan, disambut oleh kepanikan yang terstruktur. Di bawah komando Rexor, para preman Sektor Empat berteriak kasar sambil mendorong meriam-meriam anti-udara bertenaga uap ke posisi tembak. Di sisi lain, Komandan Kael berdiri di atas reruntuhan patung pualam, meneriakkan perintah baris-berbaris kepada mantan ksatria Ignis yang kini memanggul senapan laras panjang buatan pandai besi bawah tanah. Gesekan antara kedua kubu menghilang seketika, digantikan oleh insting primitif untuk bertahan hidup dari ancaman yang jauh lebih besar di atas kepala mereka. Dari balik pusaran awan kelabu, moncong-moncong kapal kayu raksasa mulai menembus langit. Sky-Ga
Pelataran pualam Kastil Adiwangsa yang dulunya suci kini tampak seperti pabrik besi berantakan. Asap hitam dari mesin-mesin uap portabel membumbung ke udara, mengotori patung-patung marmer yang tersisa. Bau keringat, mesiu, dan oli mesin menggantikan aroma kemenyan magis yang selama ratusan tahun melekat di tempat itu. Di tengah pelataran, Kaelen berdiri mengawasi kekacauan yang sedang ia paksa menjadi sebuah tatanan. Di sebelah kirinya, barisan preman Sektor Empat berbaris acak-acakan, menguap dan meludah sembarangan. Di sebelah kanannya, sisa-sisa ksatria Ignis berdiri tegak dengan postur militer sempurna, meski wajah mereka memucat menahan beban senapan uap laras panjang yang sama sekali tidak mereka pahami cara kerjanya. "Ini bencana," komentar Lyra yang berdiri di samping Kaelen, mengunyah sepotong dendeng kering. "Ksatria-ksatria itu memegang senapan seperti memegang sapu lidi, dan anak buah Rexor tidak tahu bedanya baris-berbaris dengan antrean pembagian jatah minuman keras







