LOGINKeheningan yang pekat menyelimuti sisa-sisa ruangan klinik yang setengah hancur itu. Pernyataan Kaelen menggantung di udara, berbenturan dengan bau asap dan darah yang masih menggenang.
Dokter Silas adalah orang pertama yang memecah kesunyian itu. Pria tua itu tidak membalas dengan kekaguman, melainkan dengan tawa parau yang berujung pada batuk keras. Ia menggeleng pelan, mengusap debu dari kacamata pembesarnya. "Meruntuhkan Adiwangsa?" Silas mendengus, menatap Kaelen seolah pemuda itu baru saja kehilangan akal sehatnya. "Nak, jangankan meruntuhkan klan penyihir terkuat dalam sejarah kekaisaran. Untuk berjalan keluar dari pintu yang jebol itu saja kau masih butuh tongkat. Tolong bedakan antara ambisi dan halusinasi akibat kelebihan mana." Lyra, di sisi lain, tidak tertawa. Gadis itu menyilangkan tangan di depan dada, menatap Kaelen dengan sorot mata menilai yang tajam. "Aku suka orang gila," ucapnya santai, "karena orang gila biasanya berani membayar mahal. Tapi Silas benar, Tuan Muda. Kau punya batas waktu tiga hari sebelum energi di dadamu itu meledakkan jantungmu sendiri. Balas dendammu butuh tubuh yang hidup." Kaelen menunduk, menatap telapak tangannya yang masih bergetar halus. Ia bisa merasakannya. Sebuah denyut tidak wajar di kedalaman dadanya, layaknya bom waktu yang berdetak. "Lalu bagaimana cara menghentikannya, Dokter? Kau menyebutku seorang Null. Pasti ada preseden sejarah atau catatan medis tentang anomali ini." Silas menghela napas panjang, mulai memunguti peralatan bedahnya dan memasukkannya ke dalam tas kulit usang. Ia tahu mereka tidak bisa berlama-lama di sini; pemburu bayaran klan pasti akan segera mengirim bala bantuan. "Inti jiwamu seperti perut kosong yang terus-menerus kelaparan," jelas Silas seraya mengunci tasnya. "Saat kau menyerap mana dari luar, tubuhmu tidak tahu cara memprosesnya. Energi itu menumpuk, bergesekan, dan akhirnya akan merobek wadahnya—yaitu tubuh fisikmu. Kau butuh sebuah Jangkar Mana. Sebuah artefak penyaring yang bisa ditanamkan ke dalam titik nadimu untuk menstabilkan dan membuang kelebihan energi itu sebelum ia membunuhmu." "Di mana kita bisa mendapatkan Jangkar Mana itu?" Kaelen langsung menuntut jawaban, menolak membuang waktu dengan keputusasaan. Lyra dan Silas saling berpandangan sejenak, sebuah isyarat tanpa kata yang memancarkan keraguan. "Di Sektor Empat ini, hanya ada satu orang yang mengoleksi artefak sihir tingkat tinggi dari dunia atas," jawab Lyra, nada suaranya berubah menjadi jauh lebih serius dari biasanya. "Bos Rexor. Penguasa pasar gelap dan arena pertarungan bawah tanah. Masalahnya, Rexor bukanlah tipe orang yang suka berbagi, apalagi beramal. Dia memeras setiap tetes darah dari barang-barangnya." "Bawa aku padanya," perintah Kaelen, menyibakkan selimut medis dan memaksakan diri untuk berdiri. Rasa ngilu yang luar biasa menjalar dari tulang rusuknya, namun ia menelannya mentah-mentah. "Aku akan memberinya penawaran yang tidak bisa dia tolak." Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, ketiga orang itu telah meninggalkan klinik yang kini hanya tinggal puing berasap. Silas memutuskan ikut, menyadari bahwa tertinggal di sana hanya akan membuatnya menjadi sasaran interogasi mematikan dari klan Adiwangsa. Mereka menyusuri labirin gang-gang gelap Distrik Bawah. Semakin jauh mereka berjalan, pemandangan menjadi semakin brutal. Cahaya lampu neon digantikan oleh obor-obor minyak mentah. Asap pabrik penyulingan membuat udara terasa berat dan mengiris paru-paru. Di sepanjang jalan, puluhan pasang mata lapar menatap dari balik bayang-bayang, menilai apakah Kaelen dan kelompoknya layak dijadikan mangsa. Namun, melihat Lyra yang berjalan di depan dengan tangan bersiap di gagang pistol pelumpuhnya, para predator jalanan itu memilih mundur. Akhirnya, mereka tiba di depan sebuah gerbang besi raksasa yang dijaga oleh dua pria berbadan separuh mesin. Suara sorakan penonton dan benturan logam terdengar samar dari balik dinding beton tebal. Ini adalah The Pit—kasino sekaligus arena gladiator mematikan tempat Bos Rexor berkuasa. Lyra melemparkan sekeping koin perak berukir tengkorak kepada salah satu penjaga. Pintu berderak terbuka, memperlihatkan lorong panjang yang berujung pada balkon VIP di atas arena pertarungan yang terang benderang. Di balkon itu, duduk santai di atas sofa beludru merah yang kontras dengan kekumuhan sekitarnya, adalah Rexor. Pria itu bertubuh masif, dengan bekas luka bakar di sekujur rahangnya dan sebuah kalung emas tebal yang melingkari leher bantengnya. Namun, bukan Rexor yang membuat langkah Kaelen terhenti kaku. Di lantai balkon, berlutut dengan tangan terantai dan wajah babak belur, adalah salah satu ksatria Ignis dari klan Adiwangsa—orang yang sama yang kemarin malam mencoba mengeksekusinya di Aula Kebangkitan. Rexor memutar gelas anggurnya yang berwarna merah pekat, menatap Kaelen dengan seringai predator yang menemukan mangsa utamanya. "Kudengar," suara bariton Rexor bergema, mengalahkan riuh rendah penonton di arena bawah, "ada seorang bangsawan terbuang yang membuat keributan di wilayahku. Dan lihatlah, dia datang mengantarkan nyawanya sendiri padaku."Lonceng peringatan bergema membelah malam, suaranya lebih tajam daripada rentetan senapan mesin. Lampu-lampu sorot magis yang tadinya memancarkan cahaya putih kini berubah menjadi merah darah, menyapu seluruh area sektor terdalam bagai mata iblis raksasa yang mencari mangsa."Rencana siluman dibatalkan!" teriak Lyra. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia melemparkan bom asap beracun yang sedari tadi digenggamnya ke arah jembatan.BUM!Asap hijau pekat meledak, menelan keempat Inkuisitor yang menjaga penghalang cahaya. Namun, pasukan elit Kekaisaran Pusat itu bukanlah kroco jalanan dari Distrik Bawah. Dari dalam kepulan asap, pendar cahaya putih yang membutakan menyala terang, membakar habis partikel racun itu seketika. Topeng perak mereka sama sekali tidak tertembus asap."Biar kutebak, racun tidak mempan terhadap orang suci?!" rutuk Lyra, melompat mundur sambil mencabut kedua belatinya."Mundur, Lyra. Mereka milikku," suara Kaelen terdengar menggema, berat, dan tanpa sedikit pun ke
Kekaisaran Pusat tidak pernah bergerak tanpa kepastian absolut. Melihat puluhan ribu pasukan Garda Matahari berkemah di dasar Kawah Hitam, Silas tahu bahwa titah dari Sang Kaisar Agung bukan sekadar pencarian buta. Mereka tahu persis apa yang terkubur di bawah sana. "Ini bunuh diri," Silas memijat pelipisnya, menatap layar radarnya yang kini dipenuhi titik merah tak terhitung jumlahnya. "Kaelen, mereka itu Garda Matahari. Mereka bukan ksatria klan bangsawan biasa yang mengandalkan sihir elemen. Mereka adalah pasukan elit langsung di bawah komando Kaisar. Senjata mereka dilapisi Aura Suci energi murni yang dirancang untuk membakar apa pun yang menyerapnya. Jika kau mencoba menelan serangan mereka, artefak di dadamu akan kelebihan beban dalam hitungan detik." Lyra menyipitkan mata, menatap kamp militer raksasa di bawah dari balik teropong jarak jauhnya. "Bukan cuma itu. Lihat kapal-kapal yang bersandar di tebing. Itu bukan kapal layar udara milik Klan Angin. Itu Dreadnought berten
Mesin uap raksasa itu mengaum parau, membelah kesunyian padang gurun yang membentang tanpa batas. Kendaraan itu dulunya adalah pengangkut bijih besi raksasa dari tambang Sektor Empat, namun mekanik Rexor telah merombaknya dalam waktu semalam. Lambungnya kini dilapisi pelat baja setebal tiga inci, jendelanya diganti dengan celah pandang berlapis kaca anti-peluru, dan cerobongnya terus memuntahkan asap hitam pekat yang langsung tersapu oleh angin kering padang belantara. Mereka telah meninggalkan perbatasan wilayah Klan Adiwangsa sejak tiga hari yang lalu, melaju terus ke arah barat menjauhi peradaban. Di dalam kabin yang pengap dan berbau oli terbakar, Lyra mengemudikan monster besi itu dengan kedua tangan mencengkeram kemudi yang berat. Peluh membasahi dahi gadis itu. Mengemudi melintasi Gurun Abu, zona transisi menuju Kawah Hitam, bukanlah tugas untuk mereka yang bermental lemah. Tidak ada jalan setapak. Hanya lautan pasir kelabu, bongkahan batu obsidian sebesar rumah, dan bad
Sebelas Sky-Galleon yang tersisa menggantung membeku di udara. Awan badai yang mereka bawa kini terasa seperti kain kafan yang menyelimuti armada mereka sendiri. Dari atas geladak kapal-kapal itu, para ksatria Klan Aero menatap horor ke bawah, menyaksikan kapal bendera kebanggaan mereka hancur, dan kapten mereka tewas di tangan satu manusia tanpa elemen. Kepanikan menyebar dengan cepat bagai api liar. "Fokuskan seluruh meriam angin ke bangkai kapal utama!" Terdengar raungan perintah dari kapal kedua yang kini mengambil alih komando. "Tembakkan meriam Aero-Burst! Ratakan pemakan dewa itu menjadi debu!" Puluhan laras meriam magis dari sebelas kapal yang melayang itu serentak menyala hijau menyilaukan, mengunci target tepat ke arah Kaelen yang masih berdiri di atas geladak kapal yang hancur. Di pelataran bawah, Komandan Kael memucat. "Dia tidak akan bisa menelan tembakan meriam sebanyak itu sekaligus! Rexor, tembakkan rantai penarik lagi!" "Rantainya putus saat bantingan tadi, Pak
Angin bertiup tidak wajar di pelataran Kastil Adiwangsa. Udara yang tadinya pengap oleh asap mesin uap kini tersapu bersih oleh hembusan badai buatan yang membawa bau ozon dan embun beku. Di atas sana, awan kelabu bergulung liar, membentuk pusaran raksasa yang menutupi sisa-sisa sinar matahari pagi. Kaelen melangkah keluar dari sayap perpustakaan, disambut oleh kepanikan yang terstruktur. Di bawah komando Rexor, para preman Sektor Empat berteriak kasar sambil mendorong meriam-meriam anti-udara bertenaga uap ke posisi tembak. Di sisi lain, Komandan Kael berdiri di atas reruntuhan patung pualam, meneriakkan perintah baris-berbaris kepada mantan ksatria Ignis yang kini memanggul senapan laras panjang buatan pandai besi bawah tanah. Gesekan antara kedua kubu menghilang seketika, digantikan oleh insting primitif untuk bertahan hidup dari ancaman yang jauh lebih besar di atas kepala mereka. Dari balik pusaran awan kelabu, moncong-moncong kapal kayu raksasa mulai menembus langit. Sky-Ga
Pelataran pualam Kastil Adiwangsa yang dulunya suci kini tampak seperti pabrik besi berantakan. Asap hitam dari mesin-mesin uap portabel membumbung ke udara, mengotori patung-patung marmer yang tersisa. Bau keringat, mesiu, dan oli mesin menggantikan aroma kemenyan magis yang selama ratusan tahun melekat di tempat itu. Di tengah pelataran, Kaelen berdiri mengawasi kekacauan yang sedang ia paksa menjadi sebuah tatanan. Di sebelah kirinya, barisan preman Sektor Empat berbaris acak-acakan, menguap dan meludah sembarangan. Di sebelah kanannya, sisa-sisa ksatria Ignis berdiri tegak dengan postur militer sempurna, meski wajah mereka memucat menahan beban senapan uap laras panjang yang sama sekali tidak mereka pahami cara kerjanya. "Ini bencana," komentar Lyra yang berdiri di samping Kaelen, mengunyah sepotong dendeng kering. "Ksatria-ksatria itu memegang senapan seperti memegang sapu lidi, dan anak buah Rexor tidak tahu bedanya baris-berbaris dengan antrean pembagian jatah minuman keras







