Home / Fantasi / Anomali Sang Pewaris / Bara di Jantung Limbah

Share

Bara di Jantung Limbah

Author: Rjm10
last update publish date: 2026-09-22 22:33:20

Hawa panas langsung merambat melingkupi ruangan klinik yang sempit. Api biru yang membakar ujung pedang para pemburu bayaran itu bukan sekadar api biasa—itu adalah Ignis Azura, sihir api tingkat lanjut yang membakar oksigen lebih cepat dan menghasilkan asap beracun.

"Sialan!" maki Lyra, langsung melepaskan tembakan kejut dari pistol pelumpuhnya.

Dua jarum bermuatan listrik melesat menembus asap. Namun, salah satu pemburu bayaran melambaikan tangan kirinya, menciptakan perisai angin puyuh yang membelokkan jarum-jarum tersebut hingga menancap di langit-langit klinik.

"Pemberontak rendahan dari Distrik Bawah," ejek sang pemimpin pemburu bayaran, pria berambut perak dengan bekas luka melintang di pipi kirinya. "Menyerahkan buronan kami, atau kubakar tempat ini beserta seluruh isinya."

Dokter Silas merosot di dekat meja kerjanya, wajahnya pucat pasi menatap pedang menyala itu. "Mereka... mereka pemburu bayaran elit dari Sektor Tertinggi. Kita tamat..."

Kaelen mengepalkan kedua tangannya. Rasa sakit di dadanya akibat tulang rusuk yang belum tersambung sempurna seolah terbakar oleh gelombang panas dari pedang musuh. Tiga hari. Hidupnya tinggal tiga hari jika tidak bisa mengendalikan kutukan ini.

Tapi jika ia mati malam ini di tempat sampah ini, balas dendamnya pada Paman Varian hanya akan menjadi angan-angan.

Tidak. Aku belum boleh mati.

Kaelen menarik napas dalam-dalam. Ia mengabaikan rasa mual yang mendera, lalu berdiri tegak di hadapan Silas dan Lyra.

"Kalian mencari aku, kan?" suara Kaelen memecah deru api biru, dingin dan tanpa gentar.

Pemimpin pemburu bayaran itu menyipitkan mata, menatap jubah lusuh yang menutupi tubuh Kaelen. "Kaelen Adiwangsa. Si Anomali. Pamanmu menitipkan pesan khusus: kepala atau tubuh utuh, tidak ada bedanya bagi Dewan Klan."

Pria berambut perak itu mengayunkan pedangnya, mengirimkan gelombang sabit api biru langsung ke arah Kaelen. Suhu ruangan melonjak drastis, membuat lembaran logam di dinding mulai melengkung.

Lyra bersiap menerjang untuk menarik Kaelen, tetapi pemuda itu bergerak lebih cepat.

Kaelen tidak menghindar. Ia melangkah maju, merentangkan tangan kirinya selebar mungkin. Di dalam dadanya, pusaran kabut hitam keunguan bergolak liar, merespons kehadiran sihir musuh yang sangat pekat.

Hap!

Saat sabit api biru itu menghantam telapak tangannya, Kaelen merasakan sengatan panas yang membakar kulitnya. Namun, ia mengerahkan seluruh tekadnya untuk menahan rasa sakit itu. Kabut hitamnya melebar, menelan mentah-mentah gelombang api tersebut.

Tidak ada ledakan. Api biru itu tersedot ke dalam pusaran, lenyap tak bersisa.

Namun, volume mana yang ditelan kali ini jauh lebih besar dari sebelumnya. Wajah Kaelen memerah, urat-urat di lehernya menonjol, dan setetes darah segar mengalir dari hidungnya. Tubuhnya bergetar hebat menahan beban energi destruktif yang mendesak keluar.

Para pemburu bayaran terperanjat mundur untuk sesaat. "Apa... apa yang dia lakukan dengan sihir itu?" teriak salah satu kroco dengan nada tak percaya.

Kaelen menyeringai, meski napasnya terengah-engah dan pandangannya mulai kabur. Energi api biru yang baru saja ia telan kini bergolak di dalam telapak tangannya, mendesak untuk dilepaskan.

Kalian ingin api? Aku akan kembalikan sepuluh kali lipat.

Dengan sisa tenaganya, Kaelen mengarahkan tangannya ke arah tumpukan tabung gas tua di sudut klinik, lalu memuntahkan kembali energi mana yang telah ia telan. Pusaran hitam itu memuntahkan gelombang kejut energi murni bercampur api biru yang berputar liar.

BOOM!

Ledakan dahsyat menghantam tumpukan tabung gas. Puing-puing besi berkarat, api, dan gelombang kejut menghantam ketiga pemburu bayaran itu telak, melemparkan mereka keluar menembus dinding klinik yang jebol ke jalanan berlumpur di luar.

Kaelen kehilangan keseimbangan, tubuhnya ambruk ke lantai. Pandangannya menggelap, dan ia jatuh pingsan di atas tumpukan debu.

Ketika kesadaran Kaelen perlahan kembali, bau antiseptik yang tajam kembali menyergap. Ia tidak lagi berada di lantai berdebu. Ia terbaring di atas tempat bedah yang bersih, dan rasa sakit di dadanya sudah jauh berkurang—tulang rusuknya telah dipasang belat dan diperban dengan rapi.

Di samping tempat tidur, Lyra sedang membersihkan sisa mesiu dari pistolnya, sementara Dokter Silas tampak sibuk meracik ramuan hijau di dalam tabung kaca.

"Kau punya nyawa rangkap berapa, Tuan Muda?" tanya Lyra tanpa menoleh, suaranya terdengar mencemooh namun tersirat kelegaan. "Menelan api biru pemburu bayaran lalu memantulkannya kembali? Kau hampir membuat jantung tua Silas copot."

Kaelen mencoba duduk, meringis pelan saat dadanya terasa tertarik. Ia menatap kedua orang di depannya. "Di mana para pemburu bayaran itu?"

"Dua tewas tertimpa reruntuhan, satu lagi kabur sambil membawa buntut compang-camping kembali ke atas," jawab Lyra sambil menyeringai. "Tapi kabar buruknya: seluruh Sektor Bawah sekarang tahu ada bangsawan berambut hitam yang memakan sihir di klinik Silas.

Namamu akan segera jadi buruan utama, bukan cuma oleh keluargamu, tapi juga para penguasa kriminal di sini."

Kaelen menatap telapak tangan kirinya yang kini bersih dari noda darah, namun terasa dingin dan berdenyut pelan. Ia tahu perjalanannya baru saja dimulai.

Tiga hari batas waktu hidupnya kini telah berjalan, tetapi ia telah membuktikan satu hal: kutukan ini bisa menjadi senjata paling mematikan di dunia.

Kaelen mendongak menatap Lyra dan Silas. "Kalau begitu, kita butuh aliansi. Karena aku berniat mendaki kembali ke atas—dan meruntuhkan klan Adiwangsa sampai ke akar-akarnya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anomali Sang Pewaris   Api Suci dan Baja Ketiadaan

    Lonceng peringatan bergema membelah malam, suaranya lebih tajam daripada rentetan senapan mesin. Lampu-lampu sorot magis yang tadinya memancarkan cahaya putih kini berubah menjadi merah darah, menyapu seluruh area sektor terdalam bagai mata iblis raksasa yang mencari mangsa."Rencana siluman dibatalkan!" teriak Lyra. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia melemparkan bom asap beracun yang sedari tadi digenggamnya ke arah jembatan.BUM!Asap hijau pekat meledak, menelan keempat Inkuisitor yang menjaga penghalang cahaya. Namun, pasukan elit Kekaisaran Pusat itu bukanlah kroco jalanan dari Distrik Bawah. Dari dalam kepulan asap, pendar cahaya putih yang membutakan menyala terang, membakar habis partikel racun itu seketika. Topeng perak mereka sama sekali tidak tertembus asap."Biar kutebak, racun tidak mempan terhadap orang suci?!" rutuk Lyra, melompat mundur sambil mencabut kedua belatinya."Mundur, Lyra. Mereka milikku," suara Kaelen terdengar menggema, berat, dan tanpa sedikit pun ke

  • Anomali Sang Pewaris   Penyusup dalam Pasir

    Kekaisaran Pusat tidak pernah bergerak tanpa kepastian absolut. Melihat puluhan ribu pasukan Garda Matahari berkemah di dasar Kawah Hitam, Silas tahu bahwa titah dari Sang Kaisar Agung bukan sekadar pencarian buta. Mereka tahu persis apa yang terkubur di bawah sana. "Ini bunuh diri," Silas memijat pelipisnya, menatap layar radarnya yang kini dipenuhi titik merah tak terhitung jumlahnya. "Kaelen, mereka itu Garda Matahari. Mereka bukan ksatria klan bangsawan biasa yang mengandalkan sihir elemen. Mereka adalah pasukan elit langsung di bawah komando Kaisar. Senjata mereka dilapisi Aura Suci energi murni yang dirancang untuk membakar apa pun yang menyerapnya. Jika kau mencoba menelan serangan mereka, artefak di dadamu akan kelebihan beban dalam hitungan detik." Lyra menyipitkan mata, menatap kamp militer raksasa di bawah dari balik teropong jarak jauhnya. "Bukan cuma itu. Lihat kapal-kapal yang bersandar di tebing. Itu bukan kapal layar udara milik Klan Angin. Itu Dreadnought berten

  • Anomali Sang Pewaris   Debu dan Mesin

    Mesin uap raksasa itu mengaum parau, membelah kesunyian padang gurun yang membentang tanpa batas. Kendaraan itu dulunya adalah pengangkut bijih besi raksasa dari tambang Sektor Empat, namun mekanik Rexor telah merombaknya dalam waktu semalam. Lambungnya kini dilapisi pelat baja setebal tiga inci, jendelanya diganti dengan celah pandang berlapis kaca anti-peluru, dan cerobongnya terus memuntahkan asap hitam pekat yang langsung tersapu oleh angin kering padang belantara. Mereka telah meninggalkan perbatasan wilayah Klan Adiwangsa sejak tiga hari yang lalu, melaju terus ke arah barat menjauhi peradaban. Di dalam kabin yang pengap dan berbau oli terbakar, Lyra mengemudikan monster besi itu dengan kedua tangan mencengkeram kemudi yang berat. Peluh membasahi dahi gadis itu. Mengemudi melintasi Gurun Abu, zona transisi menuju Kawah Hitam, bukanlah tugas untuk mereka yang bermental lemah. Tidak ada jalan setapak. Hanya lautan pasir kelabu, bongkahan batu obsidian sebesar rumah, dan bad

  • Anomali Sang Pewaris   Hujan Bangkai di Langit Utara

    Sebelas Sky-Galleon yang tersisa menggantung membeku di udara. Awan badai yang mereka bawa kini terasa seperti kain kafan yang menyelimuti armada mereka sendiri. Dari atas geladak kapal-kapal itu, para ksatria Klan Aero menatap horor ke bawah, menyaksikan kapal bendera kebanggaan mereka hancur, dan kapten mereka tewas di tangan satu manusia tanpa elemen. Kepanikan menyebar dengan cepat bagai api liar. "Fokuskan seluruh meriam angin ke bangkai kapal utama!" Terdengar raungan perintah dari kapal kedua yang kini mengambil alih komando. "Tembakkan meriam Aero-Burst! Ratakan pemakan dewa itu menjadi debu!" Puluhan laras meriam magis dari sebelas kapal yang melayang itu serentak menyala hijau menyilaukan, mengunci target tepat ke arah Kaelen yang masih berdiri di atas geladak kapal yang hancur. Di pelataran bawah, Komandan Kael memucat. "Dia tidak akan bisa menelan tembakan meriam sebanyak itu sekaligus! Rexor, tembakkan rantai penarik lagi!" "Rantainya putus saat bantingan tadi, Pak

  • Anomali Sang Pewaris   Badai yang Terluka

    Angin bertiup tidak wajar di pelataran Kastil Adiwangsa. Udara yang tadinya pengap oleh asap mesin uap kini tersapu bersih oleh hembusan badai buatan yang membawa bau ozon dan embun beku. Di atas sana, awan kelabu bergulung liar, membentuk pusaran raksasa yang menutupi sisa-sisa sinar matahari pagi. Kaelen melangkah keluar dari sayap perpustakaan, disambut oleh kepanikan yang terstruktur. Di bawah komando Rexor, para preman Sektor Empat berteriak kasar sambil mendorong meriam-meriam anti-udara bertenaga uap ke posisi tembak. Di sisi lain, Komandan Kael berdiri di atas reruntuhan patung pualam, meneriakkan perintah baris-berbaris kepada mantan ksatria Ignis yang kini memanggul senapan laras panjang buatan pandai besi bawah tanah. Gesekan antara kedua kubu menghilang seketika, digantikan oleh insting primitif untuk bertahan hidup dari ancaman yang jauh lebih besar di atas kepala mereka. Dari balik pusaran awan kelabu, moncong-moncong kapal kayu raksasa mulai menembus langit. Sky-Ga

  • Anomali Sang Pewaris   Gesekan Baja dan Halaman Usang

    Pelataran pualam Kastil Adiwangsa yang dulunya suci kini tampak seperti pabrik besi berantakan. Asap hitam dari mesin-mesin uap portabel membumbung ke udara, mengotori patung-patung marmer yang tersisa. Bau keringat, mesiu, dan oli mesin menggantikan aroma kemenyan magis yang selama ratusan tahun melekat di tempat itu. Di tengah pelataran, Kaelen berdiri mengawasi kekacauan yang sedang ia paksa menjadi sebuah tatanan. Di sebelah kirinya, barisan preman Sektor Empat berbaris acak-acakan, menguap dan meludah sembarangan. Di sebelah kanannya, sisa-sisa ksatria Ignis berdiri tegak dengan postur militer sempurna, meski wajah mereka memucat menahan beban senapan uap laras panjang yang sama sekali tidak mereka pahami cara kerjanya. "Ini bencana," komentar Lyra yang berdiri di samping Kaelen, mengunyah sepotong dendeng kering. "Ksatria-ksatria itu memegang senapan seperti memegang sapu lidi, dan anak buah Rexor tidak tahu bedanya baris-berbaris dengan antrean pembagian jatah minuman keras

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status