Share

Bab 5

Penulis: Aline
Saat ketahuan sedang membereskan barang-barangnya, Denise sama sekali tidak panik. Dia tetap tenang melipat pakaiannya dan berkata dengan datar, "Setelah hamil, pakaian-pakaian ini sudah nggak bisa kupakai lagi. Aku berencana menyumbangkannya."

Ekspresi tegang Hernan akhirnya sedikit mengendur. Dalam hati, dia mentertawakan dirinya sendiri karena berpikir terlalu jauh.

Denise sangat mencintainya. Bagaimana mungkin wanita itu akan pergi? Sekalipun Denise ingin pergi, dia tidak akan mengizinkannya, apalagi menandatangani surat perjanjian cerai.

"Beli yang baru saja," ucap Hernan dengan nada penuh kasih sayang sambil menyerahkan sebuah kartu hitam. "Beli sebanyak yang kamu mau."

Denise menggumam pelan, lalu menerimanya. Namun, saat ujung jari mereka bersentuhan, dia segera menarik tangannya kembali, seolah baru menyentuh sesuatu yang kotor.

Hernan tidak menyadari keanehan itu. Setelah ragu sejenak, dia kembali berkata, "Beberapa hari ini Keiko mual cukup parah. Dia nggak bisa ditinggal sendirian .... Rencananya, aku mau nginap di apartemen dia selama beberapa hari."

Pria itu berhenti sejenak, seolah baru teringat sesuatu. "Aku lihat kehamilanmu lancar-lancar saja, nggak ada morning sickness atau semacamnya. Jadi, cobalah lebih pengertian padanya ya?"

Ujung jari Denise sedikit bergetar. Dia tidak mengalami mual karena anak itu sudah lama tidak ada.

Denise menyunggingkan sudut bibirnya. Pada akhirnya, dia tidak mengatakan apa-apa.

Hari-hari berikutnya, hampir setiap hari Denise melihat berita tentang bagaimana Hernan memanjakan Keiko.

[ Presdir Grup Saswita Menghamburkan Uang demi Wanita Tercinta ]

[ Hernan Membeli Plum Asam untuk Keiko Larut Malam ]

[ Inilah Wujud Cinta yang Sesungguhnya ]

Namun, di kolom komentar netizen malah menyeret namanya dan menghujatnya tanpa henti.

[ Denise ini nggak tahu malu sekali! Bisa-bisanya dia masih hidup! ]

[ Katanya, dia meladeni para penculik itu semalaman. Menjijikkan sekali! ]

[ Pak Hernan kasihan banget. Sudah diselingkuhi, masih harus pura-pura berlapang dada! ]

Setiap komentar terasa seperti pisau yang menusuk jantungnya. Denise mematikan ponsel dan berkata kepada dirinya sendiri, 'Sebentar lagi semuanya akan berakhir.'

Setelah seluruh barangnya selesai dibereskan, dia mengajak beberapa sahabatnya bertemu untuk berpamitan. Mereka semua tahu apa yang sebenarnya terjadi. Saat bertemu, mereka langsung marah.

"Dulu Hernan mengejarmu sampai satu kampus dibikin gempar. Tapi sekarang dia malah memperlakukanmu seperti ini ...."

"Betul! Apa sih maksud dia menyuruh kamu bersabar menahan gosip? Apa dia nggak tahu kalau gosip juga bisa membunuh orang?"

Denise hanya tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Sudahlah. Sebentar lagi semuanya akan berakhir."

Mendengar itu, suasana hati mereka sedikit membaik. Mereka menggenggam tangannya dengan penuh rasa iba.

"Betul. Kamu itu baik banget, kamu pantas mendapatkan pria terbaik. Hernan sudah berhasil mendapatkanmu, tapi nggak menghargaimu. Dia pantas kehilangan cinta sejati selamanya!"

Acara perpisahan itu berlangsung dengan suasana yang sangat menyedihkan. Setelah makan selesai, mereka saling berpelukan.

Baru setelah semua sahabatnya pergi, Denise keluar dari restoran. Saat dia hendak masuk ke mobil, tiba-tiba dua sosok berlari mendekat, keluar dari kerumunan.

Bruk! Keduanya berlutut di depan Denise.

"Bu Denise, kami mohon, tolong restui Keiko dan Hernan!" Ayah dan ibu Keiko berlutut di tanah sambil bersujud berulang kali.

"Sejak kecil, Keiko sudah menyukai Hernan. Tapi karena tahu di hati Hernan cuma ada kamu, dia hanya bisa diam-diam menjaganya dari jauh ...."

"Sekarang kamu yang lebih dulu mengkhianati Hernan dan melukai hatinya. Keiko juga sudah mengandung anaknya. Tolong restui mereka!"

Wajah Denise langsung memerah karena marah. Dia ingin pergi, tetapi ibu Keiko mencengkeram ujung gaunnya dengan erat.

Makin banyak orang berkumpul untuk menonton. Beberapa mulai berbisik sambil menunjuk-nunjuk.

"Itu istri Pak Hernan yang merayu para penculik, 'kan?"

"Benar-benar nggak tahu malu. Masih berani keluar rumah ...."

Plak! Sebutir telur menghantam bahu Denise. Kuning telurnya mengalir turun di atas gaun putihnya.

Tak lama kemudian, makin banyak tomat busuk, sisa teh susu, bahkan batu, semuanya dilemparkan ke arahnya.

Denise ingin pergi. Namun, ibu Keiko tetap mencengkeram ujung gaunnya erat-erat.

Dia menariknya dengan kuat. Tiba-tiba, ayah dan ibu Keiko menjatuhkan diri ke belakang. Dahi mereka "tanpa sengaja" membentur trotoar jalan. Darah langsung mengucur deras.

Kerumunan yang menonton seketika gempar. Terdengar jeritan panik dari segala arah.

"Pembunuhan! Denise mau bunuh orang!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 23

    Setelah terdengar sedikit suara berisik dari rekaman, suara Declan yang hati-hati terdengar."Jadi kamu benar-benar sudah melupakannya?"Begitu kalimat itu terdengar, tubuh Hernan yang berada di atas ranjang rumah sakit langsung menegang. Dia bahkan menahan napas, takut melewatkan satu kata saja.Tak lama kemudian, suara Denise yang tegas dan mantap masuk ke telinganya. "Ya."Satu kata itu bagaikan petir yang menyambar dari langit. Darah di seluruh tubuh Hernan seolah membeku seketika.Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram seprai erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tubuhnya seperti dipaku di atas ranjang, tak mampu bergerak sedikit pun.Pikirannya kosong. Semua kesadarannya seakan tersedot habis dalam sekejap, seolah seluruh dunianya runtuh tepat pada saat itu.Bunyi denging yang makin nyaring di telinga membuatnya hampir tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Denise setelah itu.Namun, dia sebenarnya tidak perlu mendengar lebih jauh. Satu kata itu saja sudah memberinya jawaban.

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 22

    Hingga pameran lukisan berakhir, Hernan tetap tidak berhasil mengucapkan sepatah kata pun kepada Denise.Saat dia hendak mengejar Denise keluar, ponselnya tiba-tiba berdering. Melihat tulisan "Ayah" di layar, Hernan akhirnya memilih mengangkat telepon itu.Tak ada satu pun dari mereka yang langsung berbicara. Mereka hanya diam mendengarkan napas satu sama lain.Akhirnya, ayah Hernan yang lebih dahulu memecah kesunyian. "Waktumu hampir habis. Kamu masih nggak mau pulang?"Hubungan Hernan dan ayahnya sebenarnya biasa saja. Ditambah lagi, sejak kecil ayahnya jarang menemaninya, sehingga mereka hampir tidak memiliki topik pembicaraan bersama.Ayah Hernan juga sosok yang keras dan tidak suka berinisiatif berkomunikasi dengan anaknya. Jurang di antara ayah dan anak itu pun makin lama makin lebar.Karena itu, mendengar ayahnya tiba-tiba bertanya seperti ini membuat Hernan sedikit tidak terbiasa.Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Aku akan pulang. Tapi aku ingin menemukan jawaba

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 21

    Menjelang malam, kembang api mulai bermekaran di seluruh penjuru kota. Cahaya berwarna-warni menerangi separuh langit.Di balkon vila keluarga Denise, dia menjadi pusat perhatian para tamu yang mengelilinginya.Dari dalam mobil yang terparkir jauh di sana, Hernan hanya bisa samar-samar melihat senyuman di wajah Denise. Senyum itu masih sama seperti dahulu. Masih memiliki pesona yang mampu menular kepada orang lain.Dia pun diam-diam ikut tersenyum."Selamat ulang tahun."'Denise-ku ....'Ketika kembang api terakhir menghilang di langit malam, para tamu mulai berpamitan dan pulang.Mobil-mobil mewah satu demi satu melaju meninggalkan vila. Rumah yang semula ramai kembali menjadi lengang. Hanya tersisa beberapa pelayan yang masih membersihkan aula.Namun, mobil Hernan tetap tidak bergerak. Baru setelah lampu terakhir di vila itu dipadamkan, Hernan menyuruh asistennya menyalakan mesin mobil.Namun, tepat saat itu seseorang mengetuk pelan jendela di sampingnya. Orang yang datang adalah kep

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 20

    Kalau Denise bilang dia tidak kecewa saat mengetahui hal itu, tentu itu bohong. Namun, dia tetap memaksakan senyuman dan berkata kepadanya tidak apa-apa.Karena merasa bersalah, Hernan segera memeluknya dan membujuknya dengan lembut. Dia mengatakan bahwa pada ulang tahunnya yang berikutnya, dia akan membuatkan kalung yang lebih indah untuknya.Kemudian, dia benar-benar membuatnya. Kalung bernama Cinta Sejati itu akhirnya selesai dibuat. Sayangnya, pemilik yang seharusnya mengenakannya sudah tidak berada di sisinya lagi.Hernan menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tangan dan mengetuk jendela mobil.Tak lama kemudian, jendela perlahan turun dan seorang pria berwajah asing segera menjulurkan kepala dengan sikap penuh hormat. "Pak Hernan."Hernan menyerahkan hadiah di tangannya kepada pria itu sambil tersenyum. "Maaf merepotkanmu."Hari ini Keluarga Andora mengundang banyak tamu. Kebetulan di antara mereka ada seseorang yang masih dikenalnya dan belum memutus hubungan dengannya. Kare

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 19

    Sambil menelepon, ibu Denise berjalan makin jauh.Di dalam kamar, Denise menutup mulutnya erat-erat agar isaknya tidak terdengar. Dia tahu kedua orang tuanya sangat mencintainya.Meskipun saat itu mereka tidak mengatakan apa pun di toko, dia tahu mereka pasti akan membelanya dan membalaskan semua ketidakadilan yang pernah dialaminya.Setelah itu, semua orang secara diam-diam sepakat untuk tidak lagi membicarakan masalah itu.Baru setelah puas berlibur di Kota Sudan bersama kedua orang tuanya, Denise kembali naik pesawat menuju Kota Hadil.Pada hari kedua setelah kepulangannya, tibalah ulang tahunnya yang ke-26. Sebagai putri Keluarga Andora yang sejak kecil selalu dimanjakan dan disayangi, setiap kali ulang tahunnya tiba, seluruh kota akan menyalakan kembang api untuk merayakannya.Kali ini, Keluarga Andora mengadakan pesta ulang tahun yang jauh lebih meriah dari biasanya.Pada hari pesta, tokoh-tokoh ternama dari berbagai kalangan datang untuk memberikan ucapan selamat. Mobil-mobil me

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 18

    Mungkin karena menyadari suasana hati Denise sedang kurang baik, Declan langsung mengambil keputusan dan mengirim Denise serta kedua orang tuanya ke kampung halaman ibu mereka untuk berlibur dan menenangkan diri.Awalnya dia juga ingin meminta istrinya untuk menemani mereka. Namun, istrinya mendadak kurang sehat sehingga terpaksa beristirahat di rumah.Declan sendiri tentu tidak bisa ikut karena harus merawat istrinya. Meski begitu, dia tetap berusaha menghalangi Hernan yang terus mencari Denise.Karena informasi dari asistennya terlambat, Hernan kembali pergi ke berbagai tempat yang sebelumnya biasa didatangi Denise.Pertama, dia menunggu semalaman di alun-alun sambil diterpa angin dingin. Alih-alih bertemu Denise yang katanya akan datang menonton kembang api, dia justru kehujanan hingga seluruh tubuhnya basah kuyup.Seperti yang diduga, Hernan jatuh sakit. Namun, kali ini tidak ada lagi wanita yang dengan sabar menjaga dan mengelap tubuhnya sepanjang malam.Kedua kalinya, dia pergi k

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status