Share

Bab 4

Author: Aline
Wajah Denise pucat pasi, sementara kukunya mencengkeram telapak tangan hingga meninggalkan bekas yang dalam.

Dia tidak menyangka rumor itu sudah menyebar sejauh ini. Dalam cerita yang beredar, dia justru menjadi sosok yang begitu hina.

Dia berbalik hendak pergi, tetapi sekelompok sosialita menghalangi jalannya.

"Bu Denise mau ke mana? Pestanya baru saja dimulai lho."

"Ayo, main sama kami."

Katanya mengajak bermain, tetapi ada yang menyiramkan anggur merah ke gaunnya, ada yang "tidak sengaja" mendorongnya, bahkan ada yang langsung mendorongnya ke kolam renang!

Byur! Air kolam yang dingin langsung menelan Denise. Air yang masuk ke rongga hidung membuatnya merasa perih hingga dia meronta secara naluriah. Jari-jarinya mencengkeram dinding kolam mati-matian, berusaha memanjat ke atas.

Tepat saat dia hampir menyentuh tepi kolam, sebuah tangan dengan kuku merah menyala menekan kepalanya.

"Tolong ... tolong ...."

"Tolong apanya? Nggak bakal ada yang datang! Apa kamu tahu berapa banyak putri keluarga kaya dan sosialita yang mengidam-idamkan Hernan? Dia begitu mencintaimu, bahkan anggap kamu lebih penting daripada nyawanya sendiri! Kamu justru memperlakukannya seperti ini! Wanita murahan sepertimu memang pantas mati di sini!"

Air terus masuk ke rongga hidung. Rasa sesak membuat pandangannya mulai menggelap. Namun, yang lebih membuatnya sesak adalah kata-kata mereka.

Dia wanita murahan? Dia hina? Hernan mencintainya lebih dari mencintai nyawa sendiri? Lelucon macam apa itu? Ini lelucon terbesar yang pernah dia dengar!

"Apa yang kalian lakukan?!" Terdengar teriakan marah.

Tekanan di atas kepalanya tiba-tiba menghilang. Dalam pandangan yang kabur, Denise melihat Hernan berlari menghampiri seperti orang gila.

Tiba-tiba, dia ingin tertawa. Untuk apa pria itu panik? Bukankah semua ini adalah hasil perbuatannya sendiri?

Hernan mengangkatnya keluar dari kolam, lalu memarahi semua orang yang ada di sana, "Kalian sudah gila ya?! Istriku pun berani kalian sentuh?!"

"Pak Hernan, kami cuma nggak tahan lihat dia mengkhianatimu ...."

"Cukup!" Hernan tidak menjelaskan kebenarannya. Dia hanya berkata dengan dingin, "Sekalipun anak yang dikandung Denise adalah anak para penculik, aku tetap hanya mencintainya seorang. Sampai kapan pun itu nggak akan berubah!"

Di tengah seruan kagum seperti "Pak Hernan benar-benar pria yang sangat setia", dia menggendong Denise yang basah kuyup dan meninggalkan tempat itu.

Di ruang istirahat, Hernan mengambil handuk kering dan mengeringkan rambutnya.

"Denise, aku tahu kamu sudah diperlakukan nggak adil. Aku yang salah." Suaranya lembut. "Aku janji kejadian seperti hari ini nggak bakal terulang lagi."

"Bersabarlah sedikit lagi. Setelah Keiko melahirkan anak itu, aku akan kirim dia ke luar negeri. Setelah itu, kita akan kembali menjalani hidup seperti dulu."

Tidak. Mereka tidak akan bisa kembali seperti dahulu. Tidak ada masa depan lagi bagi mereka.

Dengan kelelahan yang luar biasa, Denise berkata, "Aku ingin pulang."

Hernan tertegun sejenak. "Pestanya belum selesai, nggak enak kalau kita pergi sekarang. Aku suruh sopir antar kamu pulang dulu ya. Nanti aku nyusul dan temani kamu, gimana?"

Tidak enak hati jika langsung pulang? Atau sebenarnya dia tidak tenang meninggalkan Keiko sendirian di sini?

Denise tertawa kecil. Dia sudah tidak punya tenaga lagi untuk membongkar kebohongan itu. Dia bangkit, lalu pergi.

Sesampainya di vila, hal pertama yang dia lakukan adalah membereskan barang-barangnya. Satu demi satu, dia menghapus semua jejak keberadaannya di rumah itu.

Entah sudah berapa lama dia merapikan semuanya, ketika kotak terakhir akhirnya ditutup, pintu utama tiba-tiba terbuka.

Hernan berdiri di ambang pintu, menatap koper-koper yang berjajar di lantai dengan ekspresi terkejut. Hatinya mendadak diliputi kepanikan.

"Denise, kenapa kamu tiba-tiba beresin barang-barang? Kamu mau ke mana?"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 23

    Setelah terdengar sedikit suara berisik dari rekaman, suara Declan yang hati-hati terdengar."Jadi kamu benar-benar sudah melupakannya?"Begitu kalimat itu terdengar, tubuh Hernan yang berada di atas ranjang rumah sakit langsung menegang. Dia bahkan menahan napas, takut melewatkan satu kata saja.Tak lama kemudian, suara Denise yang tegas dan mantap masuk ke telinganya. "Ya."Satu kata itu bagaikan petir yang menyambar dari langit. Darah di seluruh tubuh Hernan seolah membeku seketika.Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram seprai erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Tubuhnya seperti dipaku di atas ranjang, tak mampu bergerak sedikit pun.Pikirannya kosong. Semua kesadarannya seakan tersedot habis dalam sekejap, seolah seluruh dunianya runtuh tepat pada saat itu.Bunyi denging yang makin nyaring di telinga membuatnya hampir tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Denise setelah itu.Namun, dia sebenarnya tidak perlu mendengar lebih jauh. Satu kata itu saja sudah memberinya jawaban.

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 22

    Hingga pameran lukisan berakhir, Hernan tetap tidak berhasil mengucapkan sepatah kata pun kepada Denise.Saat dia hendak mengejar Denise keluar, ponselnya tiba-tiba berdering. Melihat tulisan "Ayah" di layar, Hernan akhirnya memilih mengangkat telepon itu.Tak ada satu pun dari mereka yang langsung berbicara. Mereka hanya diam mendengarkan napas satu sama lain.Akhirnya, ayah Hernan yang lebih dahulu memecah kesunyian. "Waktumu hampir habis. Kamu masih nggak mau pulang?"Hubungan Hernan dan ayahnya sebenarnya biasa saja. Ditambah lagi, sejak kecil ayahnya jarang menemaninya, sehingga mereka hampir tidak memiliki topik pembicaraan bersama.Ayah Hernan juga sosok yang keras dan tidak suka berinisiatif berkomunikasi dengan anaknya. Jurang di antara ayah dan anak itu pun makin lama makin lebar.Karena itu, mendengar ayahnya tiba-tiba bertanya seperti ini membuat Hernan sedikit tidak terbiasa.Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, "Aku akan pulang. Tapi aku ingin menemukan jawaba

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 21

    Menjelang malam, kembang api mulai bermekaran di seluruh penjuru kota. Cahaya berwarna-warni menerangi separuh langit.Di balkon vila keluarga Denise, dia menjadi pusat perhatian para tamu yang mengelilinginya.Dari dalam mobil yang terparkir jauh di sana, Hernan hanya bisa samar-samar melihat senyuman di wajah Denise. Senyum itu masih sama seperti dahulu. Masih memiliki pesona yang mampu menular kepada orang lain.Dia pun diam-diam ikut tersenyum."Selamat ulang tahun."'Denise-ku ....'Ketika kembang api terakhir menghilang di langit malam, para tamu mulai berpamitan dan pulang.Mobil-mobil mewah satu demi satu melaju meninggalkan vila. Rumah yang semula ramai kembali menjadi lengang. Hanya tersisa beberapa pelayan yang masih membersihkan aula.Namun, mobil Hernan tetap tidak bergerak. Baru setelah lampu terakhir di vila itu dipadamkan, Hernan menyuruh asistennya menyalakan mesin mobil.Namun, tepat saat itu seseorang mengetuk pelan jendela di sampingnya. Orang yang datang adalah kep

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 20

    Kalau Denise bilang dia tidak kecewa saat mengetahui hal itu, tentu itu bohong. Namun, dia tetap memaksakan senyuman dan berkata kepadanya tidak apa-apa.Karena merasa bersalah, Hernan segera memeluknya dan membujuknya dengan lembut. Dia mengatakan bahwa pada ulang tahunnya yang berikutnya, dia akan membuatkan kalung yang lebih indah untuknya.Kemudian, dia benar-benar membuatnya. Kalung bernama Cinta Sejati itu akhirnya selesai dibuat. Sayangnya, pemilik yang seharusnya mengenakannya sudah tidak berada di sisinya lagi.Hernan menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat tangan dan mengetuk jendela mobil.Tak lama kemudian, jendela perlahan turun dan seorang pria berwajah asing segera menjulurkan kepala dengan sikap penuh hormat. "Pak Hernan."Hernan menyerahkan hadiah di tangannya kepada pria itu sambil tersenyum. "Maaf merepotkanmu."Hari ini Keluarga Andora mengundang banyak tamu. Kebetulan di antara mereka ada seseorang yang masih dikenalnya dan belum memutus hubungan dengannya. Kare

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 19

    Sambil menelepon, ibu Denise berjalan makin jauh.Di dalam kamar, Denise menutup mulutnya erat-erat agar isaknya tidak terdengar. Dia tahu kedua orang tuanya sangat mencintainya.Meskipun saat itu mereka tidak mengatakan apa pun di toko, dia tahu mereka pasti akan membelanya dan membalaskan semua ketidakadilan yang pernah dialaminya.Setelah itu, semua orang secara diam-diam sepakat untuk tidak lagi membicarakan masalah itu.Baru setelah puas berlibur di Kota Sudan bersama kedua orang tuanya, Denise kembali naik pesawat menuju Kota Hadil.Pada hari kedua setelah kepulangannya, tibalah ulang tahunnya yang ke-26. Sebagai putri Keluarga Andora yang sejak kecil selalu dimanjakan dan disayangi, setiap kali ulang tahunnya tiba, seluruh kota akan menyalakan kembang api untuk merayakannya.Kali ini, Keluarga Andora mengadakan pesta ulang tahun yang jauh lebih meriah dari biasanya.Pada hari pesta, tokoh-tokoh ternama dari berbagai kalangan datang untuk memberikan ucapan selamat. Mobil-mobil me

  • Antara Aku Atau Sahabat Masa Kecilnya   Bab 18

    Mungkin karena menyadari suasana hati Denise sedang kurang baik, Declan langsung mengambil keputusan dan mengirim Denise serta kedua orang tuanya ke kampung halaman ibu mereka untuk berlibur dan menenangkan diri.Awalnya dia juga ingin meminta istrinya untuk menemani mereka. Namun, istrinya mendadak kurang sehat sehingga terpaksa beristirahat di rumah.Declan sendiri tentu tidak bisa ikut karena harus merawat istrinya. Meski begitu, dia tetap berusaha menghalangi Hernan yang terus mencari Denise.Karena informasi dari asistennya terlambat, Hernan kembali pergi ke berbagai tempat yang sebelumnya biasa didatangi Denise.Pertama, dia menunggu semalaman di alun-alun sambil diterpa angin dingin. Alih-alih bertemu Denise yang katanya akan datang menonton kembang api, dia justru kehujanan hingga seluruh tubuhnya basah kuyup.Seperti yang diduga, Hernan jatuh sakit. Namun, kali ini tidak ada lagi wanita yang dengan sabar menjaga dan mengelap tubuhnya sepanjang malam.Kedua kalinya, dia pergi k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status