Share

Proyek Bersama

Author: Erna Azura
last update Huling Na-update: 2025-09-26 22:07:48

Langit Jakarta bagian selatan mulai memucat ketika dua mobil SUV hitam berhenti di gerbang lokasi utama HorizonOne. Di sekelilingnya, area seluas dua belas hektar itu dipagari seng pelindung yang mulai berkarat di bagian ujung, tanah merah terbentang penuh cekungan dan jejak roda berat.

Cantik keluar lebih dulu, body goal—nya dibalut kemeja biru langit, celana panjang hitam dan sepatu boots lapangan. Helm putih bertuliskan Vice PD – GZ Corp sudah bertengger rapi di kepala. Tablet di tangannya menyala dengan peta denah digital.

Tak lama kemudian, Ezra turun dari mobil di belakang mobil Cantika. Helmnya bertuliskan Vice PD – LZ Corp, seragam lapangannya lusuh di bagian siku, dan dia berjalan santai dengan ekspresi yang terlalu tenang untuk hari penting seperti ini.

“Kamu telat dua menit,” ujar Cantika tanpa menoleh.

Padahal dia tahu kalau mereka tiba bersama, sapaan selamat pagi Cantik memang berbeda dengan perempuan kebanyakan.

Ezra melirik jam tangan. “Lalu lintasnya padat, dan aku enggak punya sirine darurat seperti kamu.” Dan Ezra menanggapinya dengan santai.

Cantik menatapnya sekilas. “Lain kali naik helikopter.”

Di masa sekolah dulu, Ezra sering lupa membawa tas sehingga asisten papa Nicholas sering datang ke sekolah menggunakan helikopter agar cepat sampai mengingat jalanan di Jakarta tidak pernah bersahabat dan helikopter itu mendarat di atas gedung sekolah mereka.

Ezra menyeringai. “Kalau kamu yang jadi pilotnya, aku pikir-pikir dulu.”

Cantik mendelik tajam kemudian melanjutkan langkah.

Tim teknis dan konsultan struktur sudah berkumpul. Suara generator dari tenda logistik bergemuruh rendah, sementara di kejauhan crane tampak bersiap di sisi timur lahan.

“Pagi ini kita survei tiga titik krusial: pondasi utama, jalur drainase, dan area relokasi lahan hijau,” ucap Cantik ke tim. “Kita mulai dari sisi timur laut.”

Mereka berjalan melintasi jalan berbatu, menuju area yang ditandai dengan bendera kuning. Cantik berhenti di depan garis pondasi yang dibentangkan oleh tali ukur.

“Kenapa jalur pondasi geser dua meter dari blueprint awal?” tanyanya ke kepala lapangan.

“Permintaan pak Ezra,” jawab teknisi.

Cantik menoleh tajam. “Kenapa?”

Ezra membuka tablet, memperbesar peta digital. “Karena kamu minta perluasan jalur logistik barat kemarin. Kalau jalur itu jadi, sisi timur akan terlalu dekat dengan saluran buangan. Aku geser sedikit untuk jaga buffer zone, sesuai regulasi K3.”

Cantik mengangguk—tapi bukan karena setuju.

“Kamu ubah rencana tanpa konfirmasi ke aku?”

“Aku kirim revisi semalam. Kamu enggak balas.”

“Aku tidur empat jam semalam, Ezra. Bukan berarti kamu bisa override keputusan GZ Corp semaumu.”

“Aku enggak override. Aku improvisasi.”

“Dan kamu tahu pendapatku soal improvisasi yang tak terkendali.”

“Yup. Kamu anggap itu kriminal.”

Cantik mendekat, berdiri satu meter dari Ezra, wajahnya datar namun tajam. “Kita bukan lagi dua anak SMA yang sedang lomba memperebutkan kursi ketua OSIS, Ezra. Ini proyek senilai triliunan. Setiap keputusan sekecil dua meter itu berdampak.”

Ezra menatapnya balik. “Justru karena itu aku ambil keputusan. Dua meter itu bisa nyelametin struktur kalau musim hujan datang lebih awal. Tapi ya, kalau kamu lebih suka banjir daripada fleksibilitas, silakan lanjutkan.” Pria itu mengangkat bahu.

Para teknisi saling pandang. Beberapa mundur pelan-pelan dari jalur pertarungan.

Cantik mengecilkan layar tabletnya, menghela napas pelan. “Kalau kamu ambil keputusan tanpa koordinasi sekali lagi, aku akan ajukan pembekuan aksesmu ke dokumen GZ Corp. Dan aku serius.”

Ezra tak bicara. Tapi tatapannya cukup untuk mengatakan, “ Fine. Tapi aku enggak akan diam juga.”

Beberapa jam berlalu.

Mereka melanjutkan ke titik drainase utama di sisi selatan. Sinar matahari mulai terik, debu beterbangan, dan suasana mulai panas—secara harfiah dan emosional.

“Kamu lihat jalur drainase ini?” tanya Ezra, menunjuk gundukan tanah yang digali separuh. “Kamu pakai pendekatan vertikal karena lebih hemat ruang. Tapi itu bikin risiko tekanan balik saat musim hujan naik dua puluh persen.”

Cantik berjongkok, mengamati kemiringan jalur. “Aku pakai sistem modular dengan bahan beton ringan. Tekanannya sudah diperhitungkan. Ini bukan ide mentah.”

“Tapi vendor kamu pakai sistem lama. Aku udah cek. Mereka enggak pakai dual-layer valve.”

“Karena dual-layer belum diuji sepenuhnya di lahan seperti ini.”

“Justru karena belum diuji, kamu harus fleksibel. Kalau metode lama enggak relevan, kenapa dipertahankan?”

Cantik berdiri, menatap Ezra dengan suara menurun tapi berbahaya. “Karena aku tidak mengambil keputusan berdasarkan insting, tapi berdasarkan data.”

Ezra balas tatapan itu tanpa gentar. “Dan aku justru berpikir kamu terlalu banyak percaya angka, sampai lupa manusia yang kerja di lapangan enggak seideal simulasi.”

Suara berat dari atas bukit mengalihkan perhatian mereka. Rex, berdiri di atas gundukan tanah dengan helm kebesaran, melambaikan tangan.

“Berantem lagi? Siang ini aku upload ke TikTok ya! Judulnya ‘Love and Logistics: Episode Dua Kepala Batu’!”

Cantik memutar bola mata. “Kenapa dia ada di sini lagi?”

Ezra hanya menahan tawa. “Kayanya dia lagi enggak ada kerjaan.”

“Dia kayak hama proyek,” desis Cantik, “datang tanpa izin, ngelawak di tempat yang enggak lucu.”

Rex turun dari gundukan sambil membawa botol air dan snack bar.

“Aku bawa logistik darurat buat kalian berdua,” katanya santai. “Karena jelas, panasnya enggak cuma dari matahari.”

Cantik merebut air itu tanpa basa-basi. “Terima kasih, sekarang pulang.”

Ezra menahan Rex sebelum pergi. “Tunggu, nanti kamu bareng mobilku.”

Cantik menyela, “Dia enggak boleh masuk ke jalur instalasi. Security?”

“Santai, Kak. Aku udah foto dari kejauhan. Enggak masuk site line,” balas Rex sambil melenggang.

Setelah Rex benar-benar keluar dari area kerja, Ezra menoleh ke Cantik. “Kamu tahu, kamu bisa aja marah sepuasnya. Tapi aku akan tetap di sini.”

Cantik tidak merespon. Ia berjalan melewati Ezra, membuka kembali tablet dan menandai beberapa titik lokasi survei.

Ezra menatap punggungnya. Tak ada senyum. Tak ada kompromi. Tapi ada ketegasan yang membuatnya kagum.

Di antara panas, debu, dan grafik fondasi, dia sadar bahwa ia tidak sedang jatuh cinta lagi pada Cantik.

Ia sedang jatuh cinta pada versi Cantik yang lebih keras kepala, lebih cerdas, dan lebih sulit dimenangkan dari sebelumnya.

Dan ia tidak sabar menantang itu—hari demi hari.

***

Hari sudah sore saat mereka menyelesaikan survey titik terakhir di sisi barat HorizonOne.

Cahaya jingga matahari sore menggurat langit seperti sapuan kuas seniman murung. Angin mulai menurunkan suhu, tapi tensi dalam kepala Cantik justru naik perlahan.

Ia melangkah ke area parkir dengan tablet di tangan, mengirim voice note ke tim legal untuk pengecekan ulang kontrak vendor.

Sampai di sana, dia berhenti mendadak.

Mobil hitam GZ Corp yang biasa mengantarnya, terparkir miring. Si sopir, Pak Slamet, berdiri dengan tangan panik menunjuk kap mobil yang mengeluarkan asap tipis.

“Maaf banget, Bu Cantika… tadi waktu nunggu di luar pagar, ada suara ‘dug’ terus mesin mati sendiri. Sekarang enggak bisa distarter .…”

Cantik menutup mata, menekan pelipisnya. “Jadi sekarang mobilnya gimana?”

“Enggak bisa jalan, Bu. Saya sudah coba telepon teknisi, tapi—”

“Berapa lama?” potong Cantik cepat.

“Paling cepat dua jam sampai teknisinya datang. Itu pun kalau enggak macet dari arah Depok.”

Cantik menoleh ke arah jalan tanah yang mengarah ke gerbang utama. Tidak ada taksi. Tidak ada Grab. Sinyal pun hanya tiga bar.

Dia menghela napas. “Great. Mobil mogok di tengah ladang proyek. Hampir malam. Sinyal pas-pasan. Rasanya seperti scene pembuka film horor kelas B.”

“Kalau ini film horor ….” Suara itu datang dari belakang, santai seperti biasa, “… maka kamu jelas bukan korban pertama. Kamu sutradaranya.”

Cantik menoleh tajam. Ezra berdiri di sisi kiri, helm sudah dilepas, rambutnya sedikit acak, dan satu tangan memegang botol air yang sudah kosong setengah.

“Jangan bilang kamu nguping,” kata Cantik dingin.

“Aku melihat asap mobil dari jauh. Terlalu dramatis untuk diabaikan,” jawab Ezra, mendekat. “Mau tebakan?”

“Enggak.”

“Mobil kamu mati total dan enggak ada kendaraan GZ Corp lain dalam radius sepuluh kilometer.”

Cantik mendengus. “Aku bisa naik truk pengangkut beton kalau perlu.”

Ezra menyipitkan mata, “Iya, kalau kamu rela duduk di kursi besi dan disuguhi debu proyek selama dua jam.”

Cantik menoleh ke sopirnya. “Ada opsi rental darurat?”

Pak Slamet menggeleng pelan. “Sudah coba cari, Bu, tapi semua supir sudah balik ke pool.”

Ezra menyandarkan tubuh ke mobil Cantik dan berkata pelan tapi penuh kemenangan halus, “Mobilku masih bagus. AC dingin. Suspensi empuk. Musik jazz. Bahkan ada air lemon di dashboard.”

Cantik menyipitkan mata. “Kamu promosi mobilmu atau ngajak aku pindah perusahaan?”

Ezra mengangkat tangan seperti bersumpah. “Pure logistik. Aku juga mau balik ke Jakarta malam ini. Kursi penumpang kosong.”

Cantik terdiam cukup lama.

Rasionalitasnya tahu kalau ini satu-satunya opsi nyaman dan cepat. Tapi egonya—yang sudah ditempa bertahun-tahun sejak usia sembilan—menolak kalah pada Ezra dalam bentuk apa pun. Termasuk soal tumpangan.

Tapi langit semakin gelap. Dan laptopnya masih perlu di-charge.

“Aku duduk belakang,” katanya akhirnya.

Ezra tersenyum lebar. “Tentu, Nyonya Protokol.”

***

Perjalanan pulang dimulai dalam diam. Mobil Ezra melaju mulus di jalan aspal setelah keluar dari jalur proyek, dengan radio memutar musik instrumental.

Ezra melirik ke kaca spion tengah. “Kamu nyaman di belakang sana? Atau mau pindah ke depan dan debat tentang kecepatan laju kendaraan?”

“Jangan menggoda takdir, Ezra,” sahut Cantik tanpa melihat ke depan. “Kalau aku pindah ke depan, mungkin kita enggak sampai Jakarta hidup-hidup.”

Ezra tertawa. “Setidaknya dramanya akan viral.”

Beberapa menit berlalu dalam senyap. Lalu, dengan nada sedikit lebih rendah, Ezra bertanya,“Capek?”

“Kalau kamu sedang mencoba bersikap manusiawi, Ezra, kamu pilih waktu yang enggak tepat.”

“Justru waktu yang enggak tepat bikin percakapan jadi jujur,” jawab Ezra ringan.

Cantik tak menjawab. Tapi suara tarik napasnya terdengar. Ia mulai menurunkan tablet dari pangkuannya.

Ezra bicara lagi, lebih lembut. “Tadi siang… kamu ngelakuin hal yang benar. Tegas, jelas, dan enggak takut bikin vendor gemetar.”

“Dan kamu bikin semuanya cair dengan satu kalimat,” sahut Cantik. “Seolah kamu sengaja nunggu aku meledak dulu.”

Ezra tersenyum. “Kadang kamu butuh seseorang yang nge-backup kamu dari belakang. Kamu udah jago berdiri di depan.”

Cantik menatap keluar jendela. Jalanan mulai dipenuhi lampu kendaraan. Ia tidak bicara cukup lama, hingga akhirnya ia berucap, “Aku masih enggak suka kamu ubah keputusan tanpa koordinasi.”

“Noted,” jawab Ezra, pelan. “Tapi aku enggak akan berhenti jadi diriku sendiri juga.”

“Aku juga.”

Mereka kembali diam.

“Mau makan malam dulu enggak? Kayanya macet banget di depan … menurut gmaps.” Ezra menunjuk layar di dashboard.

Cantik mengembuskan nafas panjang. “Boleh … aku juga laper.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Antara Ambisi dan Cinta   Tamat

    Pagi itu, sinar matahari jatuh lembut di halaman belakang rumah keluarga Lazuardi. Burung-burung kecil berkicau di pepohonan flamboyan, sementara Mama Ayara duduk di kursi rotan, menikmati teh melati sambil membaca undangan lelang di London. Udara sejuk selepas hujan semalam membuat segala hal terasa damai — hingga dering ponselnya memecah keheningan. Nama Niscala Ezra Lazuardi muncul di layar. Senyum tipis mengembang di bibir Ayara. “Akhirnya anak ini ingat menelepon mamanya,” gumam beliau gemas, lalu menekan tombol hijau. “Pagi, sayang. Kamu enggak kerja hari ini?” “Enggak, Ma. Aku di rumah sama Cantika.” Suara Ezra terdengar lebih lembut dari biasanya, nyaris seperti anak kecil yang ingin mengabarkan sesuatu. “Ada apa? Kok kedengarannya… bahagia banget?” tanya Ayara sambil meletakkan cangkir tehnya. Beberapa detik sunyi, hanya terdengar tarikan napas panjang di ujung telepon. Lalu suara Ezra pecah dengan nada b

  • Antara Ambisi dan Cinta   Bersama-Sama

    Weekend itu, suasana di rumah mereka terasa lebih hangat dan nyaman dari biasanya. Matahari menembus tirai tipis ruang tengah, memantul di ubin marmer yang hangat oleh cahaya. Televisi layar besar yang nyaris menutupi seluruh tembok itu menyala menyajikan film kartun, terdengar tawa Nayaka dan Selena yang berebut mainan, sementara aroma roti panggang memenuhi udara dari arah dapur. Di depan jendela besar kamar utama, Cantika menatap kosong kalender di tangannya— tanggal-tanggal yang ia lingkari dengan spidol merah tampak seperti tanda rahasia kecil yang hanya ia mengerti. Hari ini genap dua minggu sejak ia terlambat datang bulan. Hatinya berdebar tak karuan. Ia menatap bayangan sendiri di kaca—kulitnya sedikit pucat, matanya lebih lembut, dan ada sesuatu di wajahnya yang membuatnya sulit menolak kenyataan: mungkin, dirinya sedang mengandung lagi. Ia menatap langit di luar sana, menarik napas panjang. “Jangan dulu terlalu berharap,” gumamnya. Tapi bibirnya sudah melen

  • Antara Ambisi dan Cinta   Tempat Aman

    Udara pagi di rumah itu berembus tenang. Dari jendela kamar utama, sinar matahari menembus tirai tipis berwarna krem, menimpa wajah Elara yang duduk di sisi ranjang. Rambutnya dikepang longgar ke satu sisi, tubuhnya dibalut kaus longgar dan celana jogger, siap untuk sesi fisioterapi pertamanya sejak kembali ke rumah. Meskipun dia sudah ingat semua tapi harus dijalani demi agar suaminya masih percaya kalau dia hilang ingatan. Terkadang Elara berpikir apakah ini adil untuk Alvaro? Tapi Elara takut kalau ketika tahu dirinya sudah tidak hilang ingatan, Alvaro akan kembali seperti dulu. Di meja kecil di dekat tempat tidur, ada segelas air putih, setumpuk obat, dan bunga mawar putih dalam vas kaca. Aroma segarnya berpadu dengan bau antiseptik dari salep yang biasa dioleskan di pelipisnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. “Pagi, sayang.” Suara Alvaro datang dari ambang pintu. Pria itu baru selesai menelepon dokter untuk datang ke rumah.

  • Antara Ambisi dan Cinta   Membangun Masa Depan Bersama

    Pagi itu aroma kopi baru diseduh bercampur dengan suara renyah tawa si kembar yang bermain di karpet ruang tengah. Selena sedang asyik menepuk mainan berbentuk kupu-kupu, sementara Nayaka memegangi telapak tangan Ezra yang jongkok di depannya, mencoba belajar berdiri. “Ayo, Nak. Satu… dua….” Ezra menghitung sambil mengangkat sedikit tubuh kecil itu. “Kamu pasti bisa.” Nayaka terhuyung, hampir jatuh, tapi Ezra cepat menangkapnya dan mengangkatnya tinggi ke udara. Tawa Nayaka pecah, menggelegar seperti lonceng kecil di pagi hari. Cantika yang baru turun dari lantai dua berhenti di anak tangga terakhir, menatap pemandangan itu dengan dada hangat. Sudah lama sekali ia tidak melihat Ezra tertawa seperti itu—tawa tanpa beban, tawa seorang ayah yang benar-benar bahagia bermain bersama anaknya. Ezra berbalik dan melihat Cantika. Ia tersenyum, lalu mengangkat Nayaka. “Lihat, sayang. Dia udah bisa berdiri tanpa pegangan selama dua detik. Dua detik!”

  • Antara Ambisi dan Cinta   Baru Menyadari

    Pagi itu tampak cerah karena hujan semalam baru saja reda. Embun masih menempel di kaca jendela ruang rawat Elara. Udara rumah sakit yang biasanya terasa pengap, pagi itu justru berbau segar—mungkin karena raut lega di wajah perawat yang datang membawa kabar bahwa, “Ibu Elara sudah diizinkan pulang hari ini.” Elara menoleh cepat dari atas ranjangnya, mata bulatnya membesar, lalu perlahan tersenyum kecil—senyum yang bahkan membuat perawat itu ikut lega. “Benarkah?” suaranya lembut, nyaris tak percaya. “Benar, Bu. Dokter bilang kondisi Ibu stabil, dan masa pemulihan bisa dilanjutkan di rumah. Hanya saja, tetap perlu kontrol rutin.” Sebelum Elara sempat menanggapi, pintu kamar mandi terbuka. Alvaro muncul dengan tubuh segar dan pakaian baru membuatnya terlihat … tampan dan lebih muda. “Sayang, aku dengar kamu boleh pulang?” suaranya seperti anak kecil yang menemukan hadiah, terdengar bahagia. Elara menoleh, tersenyum ragu tapi manis. “Iya, barusan dikasih tahu.” Alvaro

  • Antara Ambisi dan Cinta   Percaya

    Langit sore mulai menguning saat langkah berat Alvaro bergema di lorong rumah sakit. Nafasnya memburu, dasinya miring, kemejanya tak lagi serapi biasanya. Seorang perawat di depan nurse station bahkan sempat memanggil untuk menginformasikan update kondisi Elara. “Pak Alvaro, tolong tenang dulu—” “Tadi siang istri saya kambuh, iya?!” Suara Alvaro meninggi, setengah panik. “Iya, Pak,” jawab perawat sopan, “Ibu Elara sempat mengalami serangan nyeri kepala akut, tapi sekarang sudah tertangani. Dokter bilang reaksi itu muncul karena—” Namun kalimat itu tak selesai. Alvaro sudah berlari menuju ruang VIP tempat Elara dirawat. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya. Tangan Alvaro bergetar saat memutar gagang pintu. Dan begitu pintu terbuka, seluruh nadinya seperti kehilangan tenaga. Elara tengah duduk bersandar di kepala ranjang yang dibuat tegak, masih pucat tapi tersenyum kecil ketika mengetahui kedatangannya. “Mas….” Suaranya lembut, menenangkan. “Aku baik-baik

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status