LOGINPagi itu suasana di kantor pusat HorizonOne Project Division—yang menempati satu lantai penuh di Centris Tower—jauh dari kata tenang.
Beberapa staf dari dua kubu, GZ Corp dan LZ Corp, tampak sibuk di depan komputer. Tapi sesekali, pandangan mereka mencuri ke arah ruang rapat kaca yang masih kosong—tempat dua Vice PD muda akan kembali duduk satu meja. Bisik-bisik kecil beredar di lorong, bukan karena skandal, tapi karena rasa ingin tahu. Pasalnya Cantika dan Ezra tampak akrab tapi penuh dendam. “Katanya semalam ada makan malam keluarga antara Maverick dan Lazuardy.” “Iya, kakakku kerja di bagian hospitality, katanya keluarga Lazuardy booking ruangan private di restoran mahal.” “Pak Ezra dan bu Cantik duduk berdampingan. Tapi kayaknya bukan yang romantis-romantis banget deh .…” “Eh, tapi mereka debat, katanya. Bahkan pas makan malam keluarga pun tetap beda pendapat.” Tak ada yang tahu pasti bagaimana info itu bisa menyebar, tapi di dunia sekelas mereka, gosip kantor tak butuh banyak saksi. Satu sopir yang ngobrol dengan staf restoran saja bisa menyalakan percikan kecil di ruang obrolan karyawan. Dan pagi ini, semua menanti apakah dua orang paling keras kepala di proyek ini akan kembali bertarung atau mulai berdamai. Suara pintu lift terbuka. Cantik melangkah masuk, tubuh semampainya kali ini mengenakan blazer hitam dan celana panjang abu-abu gelap. Wajahnya datar, sorot matanya fokus, dan langkahnya tak menyisakan celah untuk basa-basi. Laptop di tangan kiri, ponsel di kanan. Beberapa detik kemudian, Ezra muncul, dengan lengan kemeja birunya sudah tergulung rapi hingga sikut dan kopi panas di tangan. “Pagi,” sapa Ezra santai kepada beberapa staf yang melintas. “Kalau kalian haus gosip, pastikan juga minum air putih, biar enggak seret saat bisik-bisik.” Ezra sedang menyindir, pasalnya ketika tadi di pantry membuat kopi, dia sempat mendengar beberapa karyawan berkumpul menggosipkan makan malam kemarin. Beberapa orang tertawa kecil, sebagian cepat-cepat berlalu pura-pura serius. Tapi tak satu pun dari mereka melewatkan fakta bahwa atmosfer di kantor ini berubah sejak dua nama besar duduk dalam satu proyek yang sama. Cantik tak menoleh. Ia langsung menuju ruang rapat, membuka pintu kaca, dan mulai menyalakan layar proyektor. “Pagi, Pak Hartanto,” sapa Cantika ketika pria paruh baya itu masuk. “Pagi… pagi.” Pak Hartanto duduk di kursi ujung meja, merapikan map di depannya. “Rapat mingguan dimulai lima menit lagi,” kata beliau, nada tajam dan efisien, seperti biasa. Cantika menatap layar. “Kita mulai dari laporan logistik. Minggu ini terjadi keterlambatan pasokan baja ringan. Siapa yang tangani langsung?” Seorang staf LZ Corp, Kevin, mengangkat tangan gugup. “Saya, Mbak.” “Saya lihat di laporan kamu, kamu ambil rute distribusi dari jalur selatan, padahal jelas-jelas kita sudah sepakati jalur utara untuk efisiensi waktu tempuh. Kenapa?” Kevin menoleh ke Ezra, seperti minta perlindungan. Ezra segera angkat suara. “Saya minta Kevin coba jalur selatan karena ada indikasi perbaikan jalan di utara.” Cantika menoleh tajam. “Tapi kamu tidak melaporkan perubahan jalur itu ke saya atau ke manajer pengadaan.” Ezra menarik napas. “Karena saya ambil keputusan saat itu juga. Kalau saya nunggu persetujuan, pasokan bisa makin mundur.” “Lalu kamu anggap keputusan impulsif itu sebagai inisiatif?” Cantika membalas tenang. “Kalau hasilnya lebih cepat, ya. Ini bukan soal ego, Cantik. Ini soal kelangsungan proyek.” “Tapi kita bukan proyek kelas warung, Ezra. Ini struktur organisasi miliaran. Kalau setiap perubahan dilakukan tanpa koordinasi, itu namanya bukan kerja sama. Dan kita akan menjadi sekelompok hewan sirkus.” Ruang rapat hening. Beberapa staf menunduk, pura-pura sibuk menulis catatan. Pak Hartanto mengetuk ujung pulpen ke meja, suaranya pelan tapi mengiris keheningan. “Saya setuju dengan poin Mbak Cantika soal koordinasi. Ezra, kamu tahu saya menghargai keputusan cepat di lapangan. Tapi kamu juga tahu—dalam proyek sebesar ini—tidak ada ruang untuk aksi solo. Semua perubahan jalur, teknis, atau supplier, harus ada catatan resmi dan disetujui minimal oleh salah satu VP. Ezra mengangguk tipis. “Baik, Pak. Next time, saya update dulu sebelum eksekusi.” Pak Hartanto menatap mereka bergantian, nada suaranya dingin tapi terukur. “Kalian berdua di sini bukan untuk saling membuktikan siapa lebih cepat atau lebih tepat. Kalian di sini untuk memastikan proyek ini berjalan sesuai standar yang kita sepakati. Kalau ada perbedaan strategi, selesaikan di luar forum ini. Di sini, kita bicara hasil dan prosedur.” Cantika mengangguk kecil. “Baik, Pak.” Rapat berlanjut dengan pembahasan teknis dan koreksi desain minor. Beberapa ide Ezra disetujui tim, tapi Cantika selalu memberi revisi kecil yang tajam—bukan untuk menjatuhkan, tapi sebagai bentuk kontrol mutu. Sesekali, Pak Hartanto masuk dengan komentar singkat, memastikan diskusi tidak melenceng menjadi debat personal. Satu jam kemudian, rapat selesai. Staf mulai keluar satu per satu, beberapa melirik ke arah Ezra dan Cantika, penasaran apakah akan ada “babak kedua”. Pak Hartanto hanya menutup mapnya, menatap keduanya, lalu berkata singkat, “Ingat, kalian ini wakil perusahaan besar. Jangan sampai ruang rapat ini berubah jadi arena adu gengsi.” Cantik masih menyusun berkas, Ezra masih di depan laptopnya. “Aku serius soal laporan logistik, by the way,” ujar Ezra, pelan tapi cukup jelas untuk didengar. “Aku tahu,” jawab Cantik tanpa menatap. “Tapi kamu terlalu terbiasa bekerja dengan insting.” Ezra memutar kursi sedikit menghadapnya. “Dan kamu terlalu terbiasa membuat semua orang tunduk pada protokol. Dunia nyata enggak selalu patuh sama SOP.” Cantik menatapnya, dingin tapi tajam. “Maka tugas kita bukan membiarkan dunia menjadi liar, tapi mengatur supaya dunia itu tunduk.” Ezra terdiam. Tatapan Cantik terlalu kuat untuk dipecahkan oleh debat logika. Namun di balik itu semua, dia menyadari satu hal—Cantika tak pernah sekalipun menyerang pribadinya. Hanya pekerjaannya. Dan hal tersebut membuat Ezra semakin yakin kalau Cantik masih percaya padanya, setidaknya sebagai rekan kerja. Setelah hening sempat terbentang usai kalimat terakhir mereka, Cantika menegakan punggungnya, membereskan dokumen, lalu berdiri. “Ada rapat lanjutan dengan vendor jam dua siang. Jangan telat. Dan tolong jangan improvisasi,” ujarnya datar sambil melangkah pergi. Ezra menatap pintu yang menutup di belakangnya. Lalu mendesah panjang. “Terima kasih atas pengingatnya, Nyonya Protokol,” gumamnya. Cantika melengos tanpa menimpali, namun beberapa saat setelah Cantika masuk ke dalam ruangannya, suara notifikasi grup tim masuk di laptop Ezra. Cleosana C. Maverick: Checklist hasil rapat dan revisi distribusi bahan sudah saya update di drive. Tolong semua segera konfirmasi. Ezra membuka file itu, tersenyum kecil. Dia tahu, satu hari lagi, satu pertempuran lagi. Tapi selama Cantik masih membalas pesan, masih memperdebatkan ide, masih meluruskan langkahnya maka perang ini belum selesai. Dan dia tidak akan menyerah. *** Jam menunjuk pukul 13.58 ketika Cantik memasuki ruang rapat eksekutif di lantai 22 Centris Tower, tempat rapat bersama vendor konstruksi dan logistik dijadwalkan berlangsung. Ekspresi wajahnya tampak seperti definisi dari kendali dan presisi. Beberapa vendor sudah duduk rapi mulai dari manajer perwakilan Triastra Logistics, Borneo Beton, serta pihak audit eksternal yang ditunjuk oleh konsultan proyek. Semua orang berdiri ketika Cantik masuk. Ia mengangguk cepat tanpa senyum, lalu duduk di kursinya di ujung meja. Ezra santai saja membiarkan Cantika mendominasi meski posisinya dengan Cantika sama tapi sejak dulu, sejak mereka masih duduk di bangku sekolah, Cantika memang selalu mendominasi dalam kelompok belajar. Dan Ezra akui, Cantika memang memiliki otak yang encer dan pemikiran yang luar biasa. “Terima kasih sudah datang tepat waktu,” ucapnya langsung. “Saya ingin kita mulai dari laporan pemenuhan pasokan beton dan keterlambatan tahap satu yang terjadi minggu lalu.” Suasana langsung terasa tegang. Manajer Borneo Beton-pak Rudy, membuka map, nadanya sudah defensif bahkan sebelum bicara. “Mohon maaf sebelumnya, Bu Cantika. Tim kami sudah melakukan koordinasi, tapi ada kendala dari pihak logistik yang—“ “Saya sudah baca laporan Bapak,” potong Cantik, tenang tapi tegas. “Yang saya minta sekarang adalah solusi. Karena jika keterlambatan ini berulang, sesuai kontrak, penalti akan diberlakukan.” Pak Rudy menelan ludah. “Kami usulkan revisi jadwal … penyesuaian volume harian agar tetap bisa tercapai, tanpa harus menambah shift malam yang mahal.” Cantik menggeleng pelan. “Kami tidak akan kompromi soal efisiensi. Jika Anda tidak bisa memenuhi volume sesuai jadwal, maka kami pertimbangkan vendor pengganti. LZ Corp sudah siapkan dua alternatif.” Pak Rudy terdiam. Semua orang di ruangan menahan napas. Dari sisi kiri meja, Ezra yang duduk diam sejak awal hanya mengamati, akhirnya angkat suara. Nadanya datar, hampir tak terdengar mengancam. “Maaf, boleh saya tambahkan sedikit?” Cantik menoleh, tapi tak bicara. Ezra melanjutkan, tenang dan netral. “Kami juga menyadari ada satu isu teknis yang belum tercermin di laporan—yaitu perubahan berat jenis material dari pabrik pemasok baru yang ditunjuk vendor. Itu membuat jumlah muatan per rit berkurang 6%.” Pak Rudy tampak terkejut. “Benar sekali … tapi saya belum sempat sampaikan ke bu Cantika.” Ezra mengangguk pelan. “Jadi jika kita sesuaikan hitungan volume dengan toleransi berat jenis tersebut, sebenarnya vendor masih bisa memenuhi target—dengan sedikit penyesuaian jadwal, tanpa penalti.” Cantik diam sejenak. Matanya menatap Ezra, tajam dan menyelidik. “Kenapa kamu tahu ini?” tanyanya akhirnya. Ezra menatap lurus ke depan. “Saya minta anak magang finance lintas-divisi kumpulkan data tiga hari lalu. Mereka belum sempat serahkan laporan ke pihak GZ Corp. Aku juga baru baca semalam.” Pak Rudy buru-buru mengangguk. “Benar, kami baru dapat laporan lengkapnya tadi pagi.” Suasana rapat mencair perlahan. Beberapa vendor tampak lega, walau tetap tegang. Cantik mengetuk ujung pulpennya ke meja. “Baik. Kirim laporan revisi estimasi harian berdasarkan kalkulasi berat jenis, selambat-lambatnya pukul sembilan pagi besok. Masukkan juga data supplier dan justifikasi penyesuaian distribusi.” Pak Rudy mengangguk cepat. “Siap, Bu Cantika.” Cantik berdiri. “Kalau tidak ada tambahan, rapat saya tutup. Terima kasih atas waktu dan kejelasannya.” Satu per satu peserta rapat pamit keluar. Cantik masih berdiri di ujung ruangan, membereskan map dan tablet. Ezra belum bergerak dari tempat duduknya. Setelah ruangan nyaris kosong, Cantik mendekat ke tempat Ezra duduk. “Kalau kamu tahu vendor bisa diselamatkan, kenapa enggak bilang dari awal?” tanyanya disertai tatapan kesal. Ezra berdiri, menatapnya lurus. “Karena kamu pemimpin rapat. Bukan aku.” Cantik memicingkan mata. “Dan kalau aku langsung jatuhkan mereka?” Ezra mengangkat bahu ringan. “Berarti aku harus keluarin rencana cadangan. Tapi aku masih lebih percaya sama cara kamu mengatur tekanan. Aku cuma intervensi kalau perlu.” Cantik menatapnya lama, sebelum akhirnya berkata, “Kamu tetap keras kepala.” Ezra tersenyum miring. “Dan kamu tetap pengendali.” Cantik menarik napas, kemudian berbalik. “Besok pagi jangan telat. Kita audit ulang semua vendor jam delapan.” “Siap, Nyonya Protokol,” gumam Ezra sambil mengambil mapnya. Cantik berjalan keluar tanpa menoleh. Tapi kali ini, senyumnya muncul lebih cepat dari langkahnya. Kecil, singkat. Tapi cukup untuk menyadarkan Ezra bahwa ia tidak menyelamatkan rapat itu demi tampil heroik. Ia menyelamatkan kepercayaan Cantik—meskipun diam-diam. Di dunia mereka, itu sudah cukup untuk bertahan satu hari lagi.Pagi itu, sinar matahari jatuh lembut di halaman belakang rumah keluarga Lazuardi. Burung-burung kecil berkicau di pepohonan flamboyan, sementara Mama Ayara duduk di kursi rotan, menikmati teh melati sambil membaca undangan lelang di London. Udara sejuk selepas hujan semalam membuat segala hal terasa damai — hingga dering ponselnya memecah keheningan. Nama Niscala Ezra Lazuardi muncul di layar. Senyum tipis mengembang di bibir Ayara. “Akhirnya anak ini ingat menelepon mamanya,” gumam beliau gemas, lalu menekan tombol hijau. “Pagi, sayang. Kamu enggak kerja hari ini?” “Enggak, Ma. Aku di rumah sama Cantika.” Suara Ezra terdengar lebih lembut dari biasanya, nyaris seperti anak kecil yang ingin mengabarkan sesuatu. “Ada apa? Kok kedengarannya… bahagia banget?” tanya Ayara sambil meletakkan cangkir tehnya. Beberapa detik sunyi, hanya terdengar tarikan napas panjang di ujung telepon. Lalu suara Ezra pecah dengan nada b
Weekend itu, suasana di rumah mereka terasa lebih hangat dan nyaman dari biasanya. Matahari menembus tirai tipis ruang tengah, memantul di ubin marmer yang hangat oleh cahaya. Televisi layar besar yang nyaris menutupi seluruh tembok itu menyala menyajikan film kartun, terdengar tawa Nayaka dan Selena yang berebut mainan, sementara aroma roti panggang memenuhi udara dari arah dapur. Di depan jendela besar kamar utama, Cantika menatap kosong kalender di tangannya— tanggal-tanggal yang ia lingkari dengan spidol merah tampak seperti tanda rahasia kecil yang hanya ia mengerti. Hari ini genap dua minggu sejak ia terlambat datang bulan. Hatinya berdebar tak karuan. Ia menatap bayangan sendiri di kaca—kulitnya sedikit pucat, matanya lebih lembut, dan ada sesuatu di wajahnya yang membuatnya sulit menolak kenyataan: mungkin, dirinya sedang mengandung lagi. Ia menatap langit di luar sana, menarik napas panjang. “Jangan dulu terlalu berharap,” gumamnya. Tapi bibirnya sudah melen
Udara pagi di rumah itu berembus tenang. Dari jendela kamar utama, sinar matahari menembus tirai tipis berwarna krem, menimpa wajah Elara yang duduk di sisi ranjang. Rambutnya dikepang longgar ke satu sisi, tubuhnya dibalut kaus longgar dan celana jogger, siap untuk sesi fisioterapi pertamanya sejak kembali ke rumah. Meskipun dia sudah ingat semua tapi harus dijalani demi agar suaminya masih percaya kalau dia hilang ingatan. Terkadang Elara berpikir apakah ini adil untuk Alvaro? Tapi Elara takut kalau ketika tahu dirinya sudah tidak hilang ingatan, Alvaro akan kembali seperti dulu. Di meja kecil di dekat tempat tidur, ada segelas air putih, setumpuk obat, dan bunga mawar putih dalam vas kaca. Aroma segarnya berpadu dengan bau antiseptik dari salep yang biasa dioleskan di pelipisnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. “Pagi, sayang.” Suara Alvaro datang dari ambang pintu. Pria itu baru selesai menelepon dokter untuk datang ke rumah.
Pagi itu aroma kopi baru diseduh bercampur dengan suara renyah tawa si kembar yang bermain di karpet ruang tengah. Selena sedang asyik menepuk mainan berbentuk kupu-kupu, sementara Nayaka memegangi telapak tangan Ezra yang jongkok di depannya, mencoba belajar berdiri. “Ayo, Nak. Satu… dua….” Ezra menghitung sambil mengangkat sedikit tubuh kecil itu. “Kamu pasti bisa.” Nayaka terhuyung, hampir jatuh, tapi Ezra cepat menangkapnya dan mengangkatnya tinggi ke udara. Tawa Nayaka pecah, menggelegar seperti lonceng kecil di pagi hari. Cantika yang baru turun dari lantai dua berhenti di anak tangga terakhir, menatap pemandangan itu dengan dada hangat. Sudah lama sekali ia tidak melihat Ezra tertawa seperti itu—tawa tanpa beban, tawa seorang ayah yang benar-benar bahagia bermain bersama anaknya. Ezra berbalik dan melihat Cantika. Ia tersenyum, lalu mengangkat Nayaka. “Lihat, sayang. Dia udah bisa berdiri tanpa pegangan selama dua detik. Dua detik!”
Pagi itu tampak cerah karena hujan semalam baru saja reda. Embun masih menempel di kaca jendela ruang rawat Elara. Udara rumah sakit yang biasanya terasa pengap, pagi itu justru berbau segar—mungkin karena raut lega di wajah perawat yang datang membawa kabar bahwa, “Ibu Elara sudah diizinkan pulang hari ini.” Elara menoleh cepat dari atas ranjangnya, mata bulatnya membesar, lalu perlahan tersenyum kecil—senyum yang bahkan membuat perawat itu ikut lega. “Benarkah?” suaranya lembut, nyaris tak percaya. “Benar, Bu. Dokter bilang kondisi Ibu stabil, dan masa pemulihan bisa dilanjutkan di rumah. Hanya saja, tetap perlu kontrol rutin.” Sebelum Elara sempat menanggapi, pintu kamar mandi terbuka. Alvaro muncul dengan tubuh segar dan pakaian baru membuatnya terlihat … tampan dan lebih muda. “Sayang, aku dengar kamu boleh pulang?” suaranya seperti anak kecil yang menemukan hadiah, terdengar bahagia. Elara menoleh, tersenyum ragu tapi manis. “Iya, barusan dikasih tahu.” Alvaro
Langit sore mulai menguning saat langkah berat Alvaro bergema di lorong rumah sakit. Nafasnya memburu, dasinya miring, kemejanya tak lagi serapi biasanya. Seorang perawat di depan nurse station bahkan sempat memanggil untuk menginformasikan update kondisi Elara. “Pak Alvaro, tolong tenang dulu—” “Tadi siang istri saya kambuh, iya?!” Suara Alvaro meninggi, setengah panik. “Iya, Pak,” jawab perawat sopan, “Ibu Elara sempat mengalami serangan nyeri kepala akut, tapi sekarang sudah tertangani. Dokter bilang reaksi itu muncul karena—” Namun kalimat itu tak selesai. Alvaro sudah berlari menuju ruang VIP tempat Elara dirawat. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya. Tangan Alvaro bergetar saat memutar gagang pintu. Dan begitu pintu terbuka, seluruh nadinya seperti kehilangan tenaga. Elara tengah duduk bersandar di kepala ranjang yang dibuat tegak, masih pucat tapi tersenyum kecil ketika mengetahui kedatangannya. “Mas….” Suaranya lembut, menenangkan. “Aku baik-baik







