Home / Romansa / Antara Ambisi dan Cinta / Ruang Hening Yang tak Menghakimi

Share

Ruang Hening Yang tak Menghakimi

Author: Erna Azura
last update Last Updated: 2025-10-30 19:11:00

Tengah hari tiba dengan lambat, membawa serta matahari yang tidak terlalu menyengat, hanya cukup untuk menghangatkan udara dingin yang menggigit.

Ezra dan Elara masih duduk di bangku kayu di bawah pohon pinus, ditemani teh hangat dan camilan ringan.

“Aku jadi mikir,” Elara membuka suara sambil menatap langit yang diisi awan putih menggulung. “Kalau setiap arisan beneran kayak gini, mungkin aku akan jadi ketua arisan seumur hidup.”

Ezra tertawa. “Kalau semua ‘arisan’ seperti ini, mungkin semua istri di Jakarta akan bohong ke suaminya.”

Elara mencibir sambil tersenyum, “Termasuk kamu.”

Ezra mengangkat bahu. “Aku enggak bohong. Aku memang ke Cisarua buat survei … survei kebahagiaan kamu.”

Mereka tertawa bersamaan. Tawa yang mengendurkan sekat. Tawa yang membungkus rasa bersalah dalam selimut tipis kenikmatan.

Perut mulai keroncongan, mereka pun membuka bekal makan siang yang Ezra beli tadi pagi—nasi hangat, ayam panggang bumbu kecap, dan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (4)
goodnovel comment avatar
listiani darmawan
ngeri ini perselingkuhan dianggap wajar .aduh..merinding bacanya thor..malas ..tp penasaran
goodnovel comment avatar
Neenaz
Apapun alasannya, selingkuh tetap salah. Ada masalah dgn pasangan hidup ya konsultasi dgn yg ahli, bukan mendekati orang yg senasib utk berbagi
goodnovel comment avatar
virna putri
Duhhh kalian ini.. melakukan pembenaran.. bang habis km dihabisi rex
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Antara Ambisi dan Cinta   Tamat

    Pagi itu, sinar matahari jatuh lembut di halaman belakang rumah keluarga Lazuardi. Burung-burung kecil berkicau di pepohonan flamboyan, sementara Mama Ayara duduk di kursi rotan, menikmati teh melati sambil membaca undangan lelang di London. Udara sejuk selepas hujan semalam membuat segala hal terasa damai — hingga dering ponselnya memecah keheningan. Nama Niscala Ezra Lazuardi muncul di layar. Senyum tipis mengembang di bibir Ayara. “Akhirnya anak ini ingat menelepon mamanya,” gumam beliau gemas, lalu menekan tombol hijau. “Pagi, sayang. Kamu enggak kerja hari ini?” “Enggak, Ma. Aku di rumah sama Cantika.” Suara Ezra terdengar lebih lembut dari biasanya, nyaris seperti anak kecil yang ingin mengabarkan sesuatu. “Ada apa? Kok kedengarannya… bahagia banget?” tanya Ayara sambil meletakkan cangkir tehnya. Beberapa detik sunyi, hanya terdengar tarikan napas panjang di ujung telepon. Lalu suara Ezra pecah dengan nada b

  • Antara Ambisi dan Cinta   Bersama-Sama

    Weekend itu, suasana di rumah mereka terasa lebih hangat dan nyaman dari biasanya. Matahari menembus tirai tipis ruang tengah, memantul di ubin marmer yang hangat oleh cahaya. Televisi layar besar yang nyaris menutupi seluruh tembok itu menyala menyajikan film kartun, terdengar tawa Nayaka dan Selena yang berebut mainan, sementara aroma roti panggang memenuhi udara dari arah dapur. Di depan jendela besar kamar utama, Cantika menatap kosong kalender di tangannya— tanggal-tanggal yang ia lingkari dengan spidol merah tampak seperti tanda rahasia kecil yang hanya ia mengerti. Hari ini genap dua minggu sejak ia terlambat datang bulan. Hatinya berdebar tak karuan. Ia menatap bayangan sendiri di kaca—kulitnya sedikit pucat, matanya lebih lembut, dan ada sesuatu di wajahnya yang membuatnya sulit menolak kenyataan: mungkin, dirinya sedang mengandung lagi. Ia menatap langit di luar sana, menarik napas panjang. “Jangan dulu terlalu berharap,” gumamnya. Tapi bibirnya sudah melen

  • Antara Ambisi dan Cinta   Tempat Aman

    Udara pagi di rumah itu berembus tenang. Dari jendela kamar utama, sinar matahari menembus tirai tipis berwarna krem, menimpa wajah Elara yang duduk di sisi ranjang. Rambutnya dikepang longgar ke satu sisi, tubuhnya dibalut kaus longgar dan celana jogger, siap untuk sesi fisioterapi pertamanya sejak kembali ke rumah. Meskipun dia sudah ingat semua tapi harus dijalani demi agar suaminya masih percaya kalau dia hilang ingatan. Terkadang Elara berpikir apakah ini adil untuk Alvaro? Tapi Elara takut kalau ketika tahu dirinya sudah tidak hilang ingatan, Alvaro akan kembali seperti dulu. Di meja kecil di dekat tempat tidur, ada segelas air putih, setumpuk obat, dan bunga mawar putih dalam vas kaca. Aroma segarnya berpadu dengan bau antiseptik dari salep yang biasa dioleskan di pelipisnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. “Pagi, sayang.” Suara Alvaro datang dari ambang pintu. Pria itu baru selesai menelepon dokter untuk datang ke rumah.

  • Antara Ambisi dan Cinta   Membangun Masa Depan Bersama

    Pagi itu aroma kopi baru diseduh bercampur dengan suara renyah tawa si kembar yang bermain di karpet ruang tengah. Selena sedang asyik menepuk mainan berbentuk kupu-kupu, sementara Nayaka memegangi telapak tangan Ezra yang jongkok di depannya, mencoba belajar berdiri. “Ayo, Nak. Satu… dua….” Ezra menghitung sambil mengangkat sedikit tubuh kecil itu. “Kamu pasti bisa.” Nayaka terhuyung, hampir jatuh, tapi Ezra cepat menangkapnya dan mengangkatnya tinggi ke udara. Tawa Nayaka pecah, menggelegar seperti lonceng kecil di pagi hari. Cantika yang baru turun dari lantai dua berhenti di anak tangga terakhir, menatap pemandangan itu dengan dada hangat. Sudah lama sekali ia tidak melihat Ezra tertawa seperti itu—tawa tanpa beban, tawa seorang ayah yang benar-benar bahagia bermain bersama anaknya. Ezra berbalik dan melihat Cantika. Ia tersenyum, lalu mengangkat Nayaka. “Lihat, sayang. Dia udah bisa berdiri tanpa pegangan selama dua detik. Dua detik!”

  • Antara Ambisi dan Cinta   Baru Menyadari

    Pagi itu tampak cerah karena hujan semalam baru saja reda. Embun masih menempel di kaca jendela ruang rawat Elara. Udara rumah sakit yang biasanya terasa pengap, pagi itu justru berbau segar—mungkin karena raut lega di wajah perawat yang datang membawa kabar bahwa, “Ibu Elara sudah diizinkan pulang hari ini.” Elara menoleh cepat dari atas ranjangnya, mata bulatnya membesar, lalu perlahan tersenyum kecil—senyum yang bahkan membuat perawat itu ikut lega. “Benarkah?” suaranya lembut, nyaris tak percaya. “Benar, Bu. Dokter bilang kondisi Ibu stabil, dan masa pemulihan bisa dilanjutkan di rumah. Hanya saja, tetap perlu kontrol rutin.” Sebelum Elara sempat menanggapi, pintu kamar mandi terbuka. Alvaro muncul dengan tubuh segar dan pakaian baru membuatnya terlihat … tampan dan lebih muda. “Sayang, aku dengar kamu boleh pulang?” suaranya seperti anak kecil yang menemukan hadiah, terdengar bahagia. Elara menoleh, tersenyum ragu tapi manis. “Iya, barusan dikasih tahu.” Alvaro

  • Antara Ambisi dan Cinta   Percaya

    Langit sore mulai menguning saat langkah berat Alvaro bergema di lorong rumah sakit. Nafasnya memburu, dasinya miring, kemejanya tak lagi serapi biasanya. Seorang perawat di depan nurse station bahkan sempat memanggil untuk menginformasikan update kondisi Elara. “Pak Alvaro, tolong tenang dulu—” “Tadi siang istri saya kambuh, iya?!” Suara Alvaro meninggi, setengah panik. “Iya, Pak,” jawab perawat sopan, “Ibu Elara sempat mengalami serangan nyeri kepala akut, tapi sekarang sudah tertangani. Dokter bilang reaksi itu muncul karena—” Namun kalimat itu tak selesai. Alvaro sudah berlari menuju ruang VIP tempat Elara dirawat. Dia tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya. Tangan Alvaro bergetar saat memutar gagang pintu. Dan begitu pintu terbuka, seluruh nadinya seperti kehilangan tenaga. Elara tengah duduk bersandar di kepala ranjang yang dibuat tegak, masih pucat tapi tersenyum kecil ketika mengetahui kedatangannya. “Mas….” Suaranya lembut, menenangkan. “Aku baik-baik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status