LOGIN“Kenapa harus tidak yakin? Kamu tahu, perasaan kita sudah terikat satu sama lain.”
Melihat Elena masih bimbang, Aldo meraih dagu wanita itu. “Aku mencintaimu, Lena. Kamu tidak perlu khawatir. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu.”
Perasaan hangat menjalar di hati Elena. Terlebih selama bertahun-tahun dia merasakan kehampaan dalam kehidupan pernikahannya. Perhatian dan ucapan Aldo selalu menyentuh relung hatinya. Namun tetap saja dia belum bisa mengiyakan permintaan pria ini karena dia takut lebih terjebak lagi dalam lingkaran dosa.
Tanpa diduga, bibir Aldo melesat membungkam mulut Elena agar wanita itu tidak kembali bicara. Dia tidak bisa menahan hasratnya lagi. Walaupun dia tahu ini salah, tetapi sebagai pria dewasa, dia juga ingin memadu kasih bersama wanita yang telah dicintainya selama setahun terakhir.
Perlahan bibir Aldo mulai turun, menyesap leher Elena yang jenjang. Sementara tangannya menyelinap masuk ke dalam blus yang dikenakan Elena. Jemarinya meraba-raba mencari puncak kecil untuk membangkitkan gairah wanitanya. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, dia mengusap dan meremas gumpalan lembut di sekitar puncak kecil itu.
Elena yang menyadari perbuatan Aldo yang semakin jauh, berupaya keras untuk menolak. Dia mendorong tubuh Aldo, tetapi pria itu semakin mempererat dekapannya.
Aldo tak henti memberikan rangsangan kepadanya, hingga Elena tak kuasa menahan reaksi tubuhnya yang tidak selaras dengan pikirannya. Tidak membutuhkan waktu lama, mereka berdua sudah berada di ranjang. Untuk kali ini, Aldo merasa harus melakukannya.
“Ahhh … Aldo ….”
Suara desahan dan erangan lolos dari bibir Elena. Dia memejamkan mata, merasakan percintaan yang dilakukannya bersama Aldo untuk pertama kali. Semua terasa berbeda. Entah karena perasaannya yang sedang mengharu-biru, atau karena cinta Aldo yang memang sudah bersemi di hatinya.
Mesin pendingin udara dalam kamar mewah itu tetap tidak mampu menghentikan peluh yang keluar dari tubuh Aldo. Meski memulainya dengan lembut―seakan mengerti suasana hati wanita yang berada dalam kungkungan tubuhnya, tetapi lambat-laun iramanya berubah cepat, seiring dengan ledakan yang akan meluap dari miliknya.
Setelah melakukan percintaan yang panjang, akhirnya mereka berbaring berdampingan. Dengan napas sedikit tersengal, Aldo memiringkan tubuhnya dan menatap Elena.
“Terima kasih, Sayang,” ucapnya lembut sambil mengecup dahi wanita itu.
***
Elena meraih tangan kiri Aldo dan menggenggamnya. “Sampai sini saja, Do.”
“Tapi rumah kamu masih beberapa meter ke depan.”
“Tidak apa-apa. Sampai sini saja,” balas Elena sambil mengalihkan wajahnya ke arah Aldo. “Aku tidak mau mengambil risiko.”
Aldo menghela napasnya. “Baiklah, kalau itu mau-mu.”
Elena meraih tas kecil dan dua kantung plastik belanjaan berisi bahan makanan. Sebelum turun, sakali lagi dia menatap Aldo.
“Terima kasih ya, Do.”
Aldo meraih tangan kanan Elena. “Besok kita bertemu di tempat biasa ya.”
Elena mengangguk singkat.
“Tunggu! Bolehkan aku menciummu?” tanya Aldo belum melepaskan tangan Elena.
Elena tampak ragu, tetapi akhirnya dia melihat keluar mobil. Memastikan tidak ada satu orang pun yang masih berada di jalanan menuju rumahnya. Setelah yakin, dia mendekatkan wajahnya ke arah Aldo dan mengecup singkat bibir pria itu. Namun Aldo malah menahannya dan memperdalam ciuman mereka sedikit lebih lama.
“Sudah, Do.” Elena memaksa menarik wajahnya agar bibir mereka terlepas. “Aku harus turun sekarang.”
Tidak ingin membuat Elena berada dalam masalah, Aldo membiarkan wanita itu turun dari mobilnya. Selama beberapa waktu dia masih menunggu hingga Elena tidak terlihat lagi dari pandangannya, barulah dia mengendarai mobil meninggalkan kompleks perumahan itu.
Sementara Elena membuka pintu pagar dan menutupnya kembali dengan pelan, berharap tidak menimbulkan suara. Hatinya sedikit lega melihat kondisi dalam rumahnya yang sudah tampak gelap. Setelah berhasil membuka kunci pintu rumah, dia melepaskan sandalnya dan membawanya untuk disimpan di rak dekat dapur.
“Kenapa baru pulang sekarang?”
Elena memekik kecil karena terkejut. Kantung plastik belanjaan di tangannya jatuh seketika. Dia tidak menyangka ibu mertuanya akan memergokinya pulang selarut ini.
“I-ibu … kok belum tidur?” Suara Elena terdengar gugup.
Dengan jantung masih berdegup keras, Elena berjongkok memunguti bahan makanan yang jatuh berantakan di lantai. Dia pikir ibu mertuanya sudah tidur karena semua lampu sudah padam, kecuali lampu teras.
“Bagaimana aku bisa tidur?” Ratih mendengus keras, tetapi matanya menyelisik ingin tahu apa yang dibawa Elena. “Punya menantu, sudah malam begini tapi masih saja kelayapan.”
Elena menatap ibu mertuanya yang duduk di sofa, masih dengan tangannya membereskan barang belanjaan. “Aku dari rumah temanku, lalu belanja keperluan rumah. Lagipula kulkas sudah kosong, tidak ada bahan makanan sama sekali.”
“Kalau mau belanja, seharusnya minta Damar untuk mengantar kamu.”
Hembusan napas terdengar dari mulut Elena. Tangan kirinya mengepal menahan kesal. Tak ingin meladeni ibu mertuanya yang senang mencari perkara dengan dirinya, Elena bergegas ke dapur untuk menyimpan belanjaannya. Namun langkahnya sempat terhenti melihat suaminya melangkah turun dari tangga.
Sama seperti terhadap ibu mertuanya, Elena tidak mengindahkan suaminya. Dia menata semua barang belanjaan di kulkas dan lemari dapur.
“Hmm, kamu beli apa?” Damar memeluk Elena dari belakang sambil mengecup puncak kepala istrinya itu. “Kamu tidak lupa beli kopi untukku ‘kan?”
Elena membungkam. Hatinya masih terasa sakit karena perlakuan dan kekerasan yang dilakukan suaminya sore tadi.
Menyadari tidak ada respon dari istrinya, Damar mempererat pelukannya. “Maafkan aku, Lena. Kamu tahu, aku tidak pernah bermaksud kasar terhadapmu.”
Dengan tergesa Elena melepaskan kedua tangan Damar yang melingkar di pinggangnya, kemudian berbalik menatap tajam pria itu.
“Tidak bermaksud, katamu? Mas Damar menamparku dua kali, terus ini apa?!” Sedikit memekik, Elena menunjukkan pergelangan tangan kanannya yang masih memerah. Bahkan sebagian sudah membiru.
Damar melirik memar di tangan istrinya. Dia tahu telah berbuat kasar, tetapi itu semua karena Elena yang memancing emosinya. Setidaknya seperti itu yang ada dalam pikirannya.
Hati Elena masih mendongkol, tetapi dia tidak ingin terjadi keributan lagi mengingat saat ini sudah tengah malam. Terlebih melihat ibu mertuanya yang sedang melangkah menghampiri mereka.
“Len, maafkan aku.” Damar masih membujuk seperti yang biasa dia lakukan acapkali mereka bertengkar. “Tapi aku bisa minta tolong ‘kan? Tolong buatkan aku kopi. Aku tunggu di atas ya.”
Elena melirik tajam suaminya. “Tidak, aku capek.”
Setelah mengatakannya, dia meninggalkan dapur dan menuju kamarnya di lantai dua.
Sementara Ratih memerhatikan menantunya sampai menghilang di tangga, lalu duduk di kursi dapur. Dia menatap anaknya yang masih berdiri seperti orang bodoh di depan kulkas.
“Seharusnya kamu tegas terhadap Lena. Kamu itu 'kan kepala keluarga. Kalau dibiarkan terus, lama-lama dia semakin melunjak dan akan menginjak-injak harga diri kamu.”
Elena melirik jam tangan. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Dia yakin, tidak lama lagi Aldo akan datang.Benar saja. Sekitar lima belas menit kemudian pria itu datang, masih mengenakan hoodie hitam dan celana training dengan warna yang sama.Elena memerhatikan wajah Aldo yang tampan, dengan postur tinggi dan tegap, dan senyuman yang memikat. Bagaimana dia bisa melupakan pria itu? Rasanya sungguh berat, terlebih Elena juga mencintainya.“Apa sudah lama menunggu, Sayang?” tanya Aldo sambil menarik sebuah kursi, lalu duduk di sana.“Tidak. Aku belum lama datang. Oya, kamu mau minum apa, Do? Aku pesan coffee mocktail, apa kamu juga mau?”“Ehm, aku mau lemon-lime mint.”“Oke. Sebentar ya.”Elena memanggil seorang pramusaji dan memesankan minuman untuk Aldo.“Tumben kamu ingin bertemu di sini, Sayang. Ada apa? Kenapa kita tidak bicara di kost atau apartemen?”Elena sengaja memilih bertemu di kafe, karena khawatir tidak sanggup menolak jika Aldo mengajaknya bermesraan. Dia suda
Elena terkejut melihat wanita yang mencoleknya.“Hai, Lena …. Apa kabar?” sapa Siska sambil memeluknya.“Aku baik-baik saja,” jawab Elena sambil membalas pelukan wanita itu. “Mbak Siska sendiri, bagaimana kabarnya?”“Aku sehat dan baik, seperti yang kamu lihat. Oya Len, kamu ke mana saja sih? Sudah lama tidak muncul di hall.”Elena tertegun akibat pertanyaan wanita itu.“Tapi Sabtu kemarin aku lihat Justin datang sendirian,” ucap Siska lagi. “Kenapa kamu tidak mengantarnya, Len?”“Waktu itu memang Justin yang ingin pergi sendiri.”“Begitu ya?” balas Siska, kemudian melihat ke arah Asya. “Itu teman kantor kamu, Len? Enak juga ya, bisa jalan-jalan di mall.”“Iya, Mbak. Istirahat kami cukup panjang dan kantor kami juga dekat, makanya bisa jalan-jalan ke sini.”Siska mendekatinya, kemudian berbisik. “Ada yang ingin aku sampaikan sama kamu, Len.”Elena terlihat ragu. Dia khawatir dengan apa yang akan dikatakan Siska.“Tidak lama kok. Aku juga tahu kamu harus kembali ke kantor.”Mendapat uc
Aldo membelai pipi Elena. Tatapannya menelusuri setiap detail wajah kekasihnya. Dari alis, mata, hidung, hingga bibir, dan akhirnya kembali pada sepasang mata Elena.“Apa kamu tahu,” ucapnya pelan, “aku sangat ingin bercinta denganmu.”“Do ….”“Jangan berpikir negatif dulu, Sayang. Bercinta bukan sekadar hubungan fisik, tetapi salah satu cara pria untuk mengungkapkan perasaannya, karena pria tidak pandai berkata-kata.”Elena tersenyum kecut. “Kamu belum cerita reaksi Justin mengenai hubungan kita. Aku benar-benar penasaran, Do.”“Apa lagi yang harus aku ceritakan? Aku yakin, kamu sudah bisa menebaknya. Justin mau kembali latihan dan meninggalkan rokok, asalkan kita tidak berhubungan lagi. Itu persyaratan yang dia minta.”“Seperti yang sudah aku duga.”“Itu permintaan wajar, Sayang. Seandainya salah satu orang tuaku berselingkuh, aku juga akan marah.”“Lalu apa yang harus kita lakukan, Do?”Aldo menatap Elena yang masih risau. “Apa kamu lupa dengan apa yang pernah aku bilang sebelumnya
Justin memikirkan ucapan Aldo. Dia memiliki rokok elektrik karena diberikan Dion, dan dia hanya mencobanya. Tidak benar-benar tertarik.Antara rokok dan basket, hatinya tetap memilih basket. Sebenarnya dia tersiksa karena sudah tidak bisa menahan diri untuk bermain basket lagi.“Bagaimana Justin?” Aldo menunjuk rokok elektrik yang berada di meja. “Apa kamu bisa meninggalkannya?”Perlahan Justin mengangguk.“Bagus. Dan kamu juga mau latihan lagi?”“Iya. Aku juga akan berhenti merokok asalkan Kak Aldo tidak berhubungan sama Mama lagi.”Aldo tersenyum lebar. “Bagus. Ini yang Kak Aldo suka. Jadi anak muda harus selalu semangat.”“Tapi benar ‘kan, Kak Aldo dan Mama tidak berhubungan lagi? Kak Aldo harus janji. Aku juga tidak mau Kak Aldo menjemput atau mengantar aku pulang. Aku bisa naik ojek ke hall.”Sesaat Aldo terdiam. Secara tidak langsung Justin mengancamnya untuk memutuskan hubungan perselingkuhan dengan ibunya, jika ingin melihatnya kembali berlatih basket dan berhenti menggunakan
“Ayolah, Justin! Kak Aldo hanya minta waktu kamu sekali ini saja.”Selama beberapa detik, Justin hanya diam. Dia bimbang, tetapi tak lama mengangguk. Entah apa yang menggerakkan hatinya. Mungkin karena perasaan tidak enak mengingat hubungan dekat mereka selama ini.Akhirnya Justin mengikuti Aldo masuk ke mobil, meninggalkan Dion yang tampak kesal.“Kamu mau makan di mana, Justin?” tanya Aldo sambil mengendarai mobilnya.“Terserah Kak Aldo,” jawab Justin singkat tanpa menoleh sama sekali. Dia membuang pandangan keluar jendela di sampingnya.Tidak ada percakapan lagi hingga Aldo menghentikan mobilnya di sebuah mall. Dia sengaja memilih tempat yang ramai untuk mencairkan suasana. Selain itu dia tahu, anak seusia Justin sangat menyukai mall.“Kamu mau pizza atau burger?” tanya Aldo lagi setelah mereka keluar dari mobil.Justin tidak menjawab. Remaja yang masih terbilang kurus itu hanya melangkahkan kakinya perlahan di samping Aldo.“Hei!” Aldo menepuk bahu Justin sambil tertawa. “Tidak us
Sementara di tempat lain, Aldo sedang bersiap-siap untuk menemui Justin. Jika Justin tidak mau bertemu dengannya, berarti kecurigaannya benar.Tiba di sekolah, Aldo menunggu di depan gerbang dekat pos satpam. Matanya tidak henti memerhatikan setiap anak yang keluar, entah sendiri, berdua, atau pun bergerombol. Tidak lama, akhirnya terlihat sosok yang dia cari.Tidak sulit mencari Justin, karena tinggi badannya yang melampaui anak-anak seusianya.“Justin!” panggil Aldo ketika anak itu sudah berada di dekatnya.Yang dipanggil menoleh. Wajahnya tampak terkejut.“Kamu mau pulang ‘kan?” tanya Aldo tanpa menghiraukan keberadaan teman Justin. “Biar Kak Aldo antar. Kebetulan tadi Kak Aldo lewat sini.”Justin bertatapan dengan Dion, kemudian beralih pada Aldo. “Tidak usah, Kak. Aku pulang bareng temanku.”“Sekali ini saja. Ada yang ingin Kak Aldo bicarakan sama kamu.”Alis Justin langsung mengernyit. Dia bisa mengira-ngira apa yang akan dibicarakan mantan pelatihnya.“Tidak, Kak. Aku sudah jan







