Home / Romansa / Antara Kamu dan Putraku / Bab 4 Menolak Ajakan Suami

Share

Bab 4 Menolak Ajakan Suami

Author: Weneedta
last update Last Updated: 2025-12-02 16:13:28

Dengan bibir terkatup rapat, Damar menatap ibunya. Tidak, dia tidak mau mendengarkan perkataan ibunya yang selalu berusaha menghasutnya. Dia tahu ibunya tidak pernah menyukai Elena dan berharap dia menceraikan istrinya itu. Bahkan saat ini ibunya telah memiliki kandidat untuk dijodohkan dengannya.

Di sisi lain, menurut Ratih, Elena adalah wanita yang sudah merusak masa depan anaknya. Dengan ijazah arsitektur di tangan, seharusnya Damar bisa memiliki karier yang cemerlang. Namun di usia yang masih muda―23 tahun dan baru saja wisuda―Damar harus menikahi Elena yang saat itu tengah mengandung.

Ratih tidak pernah berharap anak-anaknya untuk menikah muda. Sudah sepantasnya jika Damar dan abangnya membahagiakan dirinya terlebih dahulu sebagai ibu, serta mengangkat derajatnya. Bukan malah buru-buru menikah dan memanjakan wanita lain yang menjadi istri mereka.

“Sudahlah, Bu.” Damar menghela napas panjang. “Sudah malam. Ibu kembali ke kamar dan segera tidur.”

Setelah mengatakannya, Damar meninggalkan ibunya dan naik tangga menuju kamarnya.

***

Tidur Elena terganggu karena merasakan kecupan di bibir serta belaian di dadanya. Dia hampir saja terbuai dengan sentuhan pada tubuhnya. Namun tiba-tiba dia tersadar, bukan Aldo yang sedang menyentuhnya saat ini, melainkan suaminya.

Saat dia membuka mata, tampak wajah sang suami yang sedang tersenyum kepadanya.

“Len, kamu mau ‘kan?” Suara Damar terdengar parau.

Namun reaksi Elena berbanding terbalik dengan suaminya. Dia malah mendorong tubuh Damar.

“Lepaskan, Mas! Aku benar-benar capek.”

Memang mereka sudah jarang berhubungan intim. Tepatnya sejak tujuh tahun lalu, setelah Elena keguguran anak kedua. Mereka melakukannya paling hanya satu atau dua kali dalam sebulan. Itu pun biasanya dilakukan Damar untuk meredam pertengkaran mereka.

Sejak saat itu Damar enggan menyentuhnya karena membenci sikap Avanti―ibu Elena―yang kerap menyinggung masalah pekerjaan dan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga. Secara tidak langsung Avanti menuduhnya sebagai penyebab Elena mengalami keguguran. Damar merasa terhina dengan ucapan Avanti, dan pada akhirnya kondisi tersebut berakibat pada hubungannya dengan Elena.

“Kenapa?” tanya Damar dengan suara bergetar menahan emosi. Dia tersentak dengan penolakan istrinya. “Apa kamu sudah tidak mau lagi bercinta denganku?”

Elena tidak langsung menjawab. Selain masih marah dengan perlakuan Damar sore tadi, yang terlintas di benaknya saat ini adalah kejadian beberapa jam lalu. Dia ingat betul, Aldo melakukannya tanpa pengaman.

Bagaimanapun Elena harus waspada. Bukan karena takut hamil, karena selama bertahun-tahun dia menggunakan kontrasepsi suntik. Dia hanya tidak ingin suaminya menjadi curiga. Sudah lama dia dan Damar tidak melakukan hubungan intim. Entah tiga minggu lalu atau sebulan lalu, dia tidak pernah memerhatikan tanggal. Lalu apa jadinya jika Damar mengetahui, mungkin ada jejak-jejak Aldo di dalam miliknya?

Tidak, lebih baik dia menolak ajakan suaminya. Risikonya terlalu besar.

“Aku benar-benar capek sekarang. Besok atau lain waktu saja.”

Damar tertegun sesaat, tetapi tak lama dia melepaskan tubuh istrinya. Penolakan Elena benar-benar telah menjatuhkan harga dirinya. Dia bangkit dari ranjang dan memilih keluar dari kamar tidur mereka.

***

Elena membiarkan air pancuran jatuh menimpa tubuhnya. Pikirannya masih terbayang dengan apa yang dilakukannya bersama Aldo semalam. Dia tidak menyangka pada akhirnya mereka melakukan hubungan terlarang. Perasaan berdosa pun mendera hatinya.

Dia berselingkuh. Ya, dia telah berselingkuh.

Bagaimana seandainya dia yang berada di posisi suaminya? Akankah sakit hati? Sudah pasti, pikirnya. Namun, benarkah begitu?

Elena tidak tahu apakah masih ada cinta antara dirinya dan Damar. Kehidupan pernikahannya benar-benar telah menguras energinya. Dia yang dulu aktif, kini menjadi pribadi yang tertutup. Perasaan malu dan kecewa akan suaminya, membuat dia membatasi diri dengan lingkungan.

Ingatan Elena melompat kembali pada kejadian semalam. Tanpa sadar dia mendekati wastafel dan bercermin melihat tubuhnya yang polos dan basah. Perlahan tangannya mulai menyentuh lembut salah satu dadanya.

Dia memejamkan kedua mata. Membayangkan bagaimana Aldo menyentuh kedua dadanya, hingga bayangan mereka saat melakukan hubungan intim, terus bermain di benaknya. Bahkan dia masih dapat merasakan tubuh atletis Aldo yang bergerak-gerak di atas tubuhnya. Permainan Aldo yang membuat tubuhnya serasa melayang.

“Aahhh ….”

Desahan lembut meluncur dari mulut Elena. Kenikmatan itu masih dapat dirasakannya ….

Tok tok tok!

“Ma …. Ma!”

Ketukan pintu dan suara putranya membangunkan Elena dari pikiran liar yang bermain di benaknya. Dia segera tersadar.

“Ya, Justin! Sebentar lagi Mama selesai!”

“Jangan lama-lama, Ma! Justin sakit perut!”

Elena buru-buru melanjutkan mandinya. Memang kamar mandi di rumah ini hanya ada dua. Satu di bawah dan satu lagi di lantai dua. Justin hampir tidak pernah mau menggunakan kamar mandi bawah dengan alasan malas turun.

Lima menit berselang Elena keluar dari kamar mandi. Tampak Justin berdiri setengah membungkuk menahan panggilan alam di pagi hari.

Setelah mengenakan pakaian rumah, Elena bergegas menyiapkan sarapan untuk Justin―yang saat ini duduk di kelas 7. Dia juga menyiapkan makanan untuk makan siang putranya nanti. Hal ini sudah menjadi rutinitas pagi Elena sebelum berangkat ke kantor.

 “Ibu ingin sarapan apa?” Elena menoleh singkat pada ibu mertuanya yang sudah duduk di kursi makan dengan secangkir teh di tangan.

“Memang kamu punya apa selain roti tawar? Biasanya cuma itu ‘kan? Tidak usah buatkan Ibu roti. Nanti Ibu makan nasi saja.”

Elena menoleh kembali pada ibu mertuanya. Ratih hampir tidak pernah bicara menggunakan kata-kata lembut atau bernada normal. Ucapan yang keluar dari bibirnya sering kali terdengar sarkas dan menusuk hati.

Namun Elena tidak mengindahkan ucapan Ratih. Lebih baik dia melanjutkan memasak karena waktunya sangat terbatas.

Selesai sarapan, Justin berpamitan pada Elena. Seperti biasa Damar akan mengantar putra mereka ke sekolah yang hanya menempuh waktu lebih kurang 15 menit. Setelahnya Damar kembali dan mengantar Elena sampai ke kantor.

Namun pagi ini, setelah berpamitan dengan ibunya, Damar langsung mengambil tas laptop-nya. Alis Elena mengeryit ketika melihatnya.

“Kamu mau langsung pergi, Mas?”

Wajah Damar terlihat tegang dengan rahang mengeras. “Hari ini kamu berangkat sendiri ke kantor. Aku ada urusan.”

Elena tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya memerhatikan suami dan putranya berjalan keluar rumah menuju mobil. Walau hatinya sedikit kesal karena harus mengeluarkan uang buat ongkos transportasi umum. Namun dia bisa menduga penolakan dirinya semalam yang membuat suaminya seperti itu. 

Tidak ingin membuang waktu, dia bergegas merapikan meja makan dan membawa gelas serta piring untuk dicuci. Sementara Ratih masih duduk di kursi makan.

“Memang kamu ya, yang tidak bisa menyenangkan suami! Sekarang apa susahnya sih melayani suami seperti membuat kopi yang dia minta semalam? Itu ‘kan memang tugasmu sebagai istri. Lihat sekarang, Damar tidak mau mengantarmu ‘kan?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 108 Pupus Sudah

    Damar hanya menatap ibunya sebentar, kemudian melangkah masuk menuju sofa. Dia melepas sepatu, setelah itu duduk berselonjor dengan kedua kaki berada di atas meja.Ratih ikut duduk di hadapannya. Dia menggelengkan kepala sembari melihat tingkah anaknya.“Jangan tanya macam-macam, Bu,” ucap Damar sambil memejamkan mata. “Aku benar-benar capek.”“Kalau capek, kenapa setiap hari pulang malam?”Damar mendengus sebelum menjawab ibunya. “Sekarang baru jam sepuluh. Belum terlalu malam.”“Orang lain jam tujuh sudah sampai rumah, Damar. Kok kamu bisa setiap hari lembur? Memangnya pekerjaan kamu banyak banget dan tidak ada habisnya?”Lama-lama Ratih tidak percaya dengan alasan anaknya. Perusahaan mana yang mengharuskan karyawannya lembur setiap hari?“Oya, tadi siang ada collector datang. Katanya, kamu belum bayar cicilan mobil dan sudah terlambat hampir sebulan. Kenapa belum dibayar, Damar? Terus terang Ibu malu karena dilihat tetangga depan. Mana si collector suaranya keras banget.”Damar mem

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 107 Buka-bukaan

    “Apa yang ingin Ibu bicarakan?” tanya Elena akhirnya.“Kamu duduk dulu,” balas Ratih dengan mata menyorot tajam. “Tidak sopan bicara dengan orang tua sambil berdiri.”“Memangnya apa yang ingin Ibu bicarakan?” tanya Elena sekali lagi. “Aku harap tidak lama.”Ratih tidak menjawab, dan berpaling menatap Justin. “Kamu tunggu di atas. Nenek mau ngomong sama Mama kamu.”Justin bertatapan dengan Elena. Setelah mendapat anggukan dari ibunya, dia meninggalkan ruang keluarga.Elena duduk setelah memastikan putranya menaiki tangga. Firasatnya mengatakan ada sesuatu hal tidak enak yang akan disampaikan Ratih.“Langsung saja, Bu,” ucapnya tanpa berbasa-basi. “Apa yang ingin Ibu bicarakan?”“Ibu ingin tahu, apa kamu tidak akan kembali ke rumah ini?”Elena terkesiap. Pertanyaan yang cukup frontal. Namun dia bukanlah Elena yang dulu. Dia siap menghadapi Ratih dan membuka semuanya.“Sebenarnya aku tidak ada niat meninggalkan rumah. Aku yakin Ibu sudah mendengar ceritanya. Aku keluar karena diusir anak

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 106 Kekhawatiran Aldo

    “Justin!” Ratih memanggil dari depan kamarnya. “Kamu ngomong sama siapa?”Justin bertatapan dengan ibunya.“Kamu turun dan bilang Nenek, kalau Mama yang datang,” ucap Elena yang sudah berada di ujung tangga.“Apa Mama tidak mau menemui Nenek?”“Nanti saja. Mama mau membereskan barang-barang Mama dulu.”Justin masih menatap Elena. Terselip perasaan bersalah karena telah mengusir ibunya.Sejujurnya dia berada dalam kebimbangan, antara percaya dengan ibunya atau ucapan neneknya. Namun fakta bahwa dia melihat sendiri kemesraan ibunya dengan Aldo, masih membuatnya menyimpan kemarahan.Justin menuruni tangga, kemudian menghampiri Ratih yang masih menunggu di depan kamar.“Aku ngomong sama Mama, Nek.”“Mama?” Kedua alis Ratih terangkat. “Mama kamu di sini?”“Iya.”“Terus sekarang Mama di mana? Kok Nenek tidak lihat?”“Mama di atas, lagi membereskan baju.”Ratih terlihat bingung. “Maksud kamu, Mama pulang dan sedang merapikan baju?”“Bukan. Mama cuma mau mengambil beberapa bajunya.”“Ohh ….”

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 105 Bangkit

    Keesokan harinya Elena kembali bekerja. Kemarin dia terpaksa izin kepada Brenda, dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Biarlah, toh atasannya sudah tahu permasalahan rumah tangganya, kecuali fakta mengenai ayah kandung Justin.Elena juga menceritakan masalahnya pada Asya. Bagaimanapun, hanya Asya yang menjadi teman baiknya. Meskipun awalnya menutup diri, pada akhirnya Elena mengakui bahwa dia membutuhkan seorang teman.Asya mengembuskan napas panjang. “Ada-ada saja ya, Len. Tapi menurutku, kamu tidak bisa diam saja. Kamu harus melakukan sesuatu.”“Aku tahu, Sya. Aku harus memikirkan rencana untuk mengambil kembali kepercayaan Justin. Juga rencana untuk berpisah dari Mas Damar. Meskipun semuanya membutuhkan waktu.”“Setuju. Aku dukung sepenuhnya kamu cerai dengan Damar. Maaf ya Len, suami dan mertua kamu benar-benar toxic.”Elena mengangguk. Kali ini dia tidak akan tinggal diam. Bukan dendam, dia hanya tidak mau menjadi wanita lemah lagi. Dia harus bangkit untuk Justin dan dirinya

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 104 Meninggalkan Rumah

    Elena masih berdiri terpaku dan menatap nanar putranya. Perasaan sakit langsung menusuk ke relung hatinya.“Kamu mengusir Mama, Justin?” tanyanya kemudian dengan suara bergetar. Dia tidak percaya telah diusir oleh putranya sendiri.“Iya! Lebih baik aku tidak punya ibu seperti Mama. Ayah kandungku saja tidak jelas. Kalau orang lain tahu, mereka akan mengatai aku anak haram.” “Tidak seperti itu, Justin. Di rumah sakit, Mama sudah menjelaskan semuanya sama kamu. Rangga, ayah kandung kamu, tidak pernah menolak kehadiran kamu. Seandainya Rangga tidak meninggal, kami sudah pasti menikah.”“Tidak ada gunanya Mama ngomong begitu sekarang. Kenyataannya aku bukan anak Papa Damar. Tapi Papa Damar sayang sama aku. Tidak pernah marah, dan sering mengajak aku jalan-jalan.”Justin menatap ibunya. Wajahnya memerah karena marah, dan matanya sudah berkaca-kaca.“Tapi Mama masih berhubungan dengan Kak Aldo. Padahal aku sudah minta Mama putus. Mama egois! Hanya memikirkan diri Mama sendiri! Mama tidak

  • Antara Kamu dan Putraku   Bab 103 Diusir

    Justin terdiam. Dia enggan membicarakan pertengkaran orang tuanya. Apalagi menceritakan pada neneknya.“Hmm, seharusnya Nenek tidak bertanya sama kamu,” ucap Ratih yang menyadari Justin tidak suka dengan pertanyaannya. “Sudah, kita lanjutkan makan.”Justin melanjutkan makan dalam diam. Begitu pun dengan Ratih. Namun benaknya penuh dengan kata-kata ancaman yang dilontarkan Avanti. Dia juga mengingat percakapan dengan anaknya.Beberapa menit berlalu. Ratih sudah tidak tahan menutup mulutnya.“Apa kamu tahu, Justin, Mama kamu punya pacar. Mama kamu selingkuh. Bahkan Nenek pernah melihat Mama kamu pulang diantar laki-laki lain.”“Waktu itu ‘kan Nenek sedang menginap di rumah Om Abram,” lanjut Ratih. “Jadi Nenek tidak tahu persis masalahnya. Sebenarnya Papa dan Mama ribut apa sih? Apa kamu tahu, Justin?”Justin menghentikan makannya yang tersisa sedikit. Wajahnya cemberut, dengan kedua alisnya menyatu.“Aku tidak tahu apa-apa,” jawabnya dengan suara dingin.“Lho, kamu ‘kan ada di rumah. Ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status