LOGINElena mengangguk pelan. Namun kalau hanya untuk berkeluh-kesah, dia tidak berniat melakukannya. Dia rasa Aldo sudah sangat paham dengan kelakuan Damar.
Yang ada dalam benaknya saat ini, bagaimana bisa mendapatkan uang untuk makan esok hari. Miris memang, tetapi itulah yang terjadi. Dan jika bukan dia yang mengusahakan, bisa dipastikan mereka sekeluarga tidak akan makan.
Detik demi detik berlalu, hitungan menit pun terlewati, tetapi Elena tetap bungkam. Melihatnya seperti itu, Aldo bisa menebak apa yang terjadi. Sesaat kemudian dia bangkit dan melangkah menuju meja. Diraihnya dompetnya yang ada di meja itu, lalu mengeluarkan sepuluh lembar uang kertas berwarna merah.
“Aku belum mengambil uang,” ucap Aldo seraya membalikkan tubuhnya menghadap Elena. “Tapi ini kamu pegang saja dulu.”
Elena hanya menatap Aldo tanpa berucap sepatah kata. Ini bukan pertama kali Aldo memberinya uang. Malu sudah pasti dirasakannya, dan yang lebih menyesakkan adalah fakta bahwa selama beberapa bulan terakhir malah pria lain yang memberinya uang. Bukan suaminya. Sungguh ironis.
Awalnya Elena merasa berat hati saat pertama kali meminta bantuan pada Aldo. Rasanya seperti mengkhianati suaminya sendiri, membuka aib rumah tangga mereka. Namun dia terjebak dalam situasi sulit di mana kondisi keuangan mereka benar-benar berada di ujung tanduk. Bahkan untuk makan sehari-hari saja, dia harus memutar otak.
Elena tidak bisa meminta bantuan lagi kepada ibu, maupun kakak dan adiknya. Mereka menginginkan Elena meninggalkan suaminya.
“Lena ….”
Aldo memanggil wanita yang masih bertahan duduk di ranjang. Dia melihat keengganan dari ekpresi wanita itu. Tanpa dijelaskan, dia mengerti apa yang dirasakan Elena.
Akhirnya Elena bangkit berdiri, langkahnya pelan menghampiri Aldo. Namun kedua tangannya tetap berada di samping tubuhnya, meskipun tangan kanan Aldo masih terulur kepadanya.
Elena melihat beberapa lembar uang di tangan Aldo. Alih-alih mengambil uang itu, air matanya malah jatuh membasahi pipi. Bahunya bergerak-gerak mengikuti isak tangisnya. Dia tak kuasa menahan perasaan sesak yang menghimpit dadanya
Aldo meletakkan uangnya kembali di meja, kemudian merengkuh bahu Elena dan mendekapnya.
“Ssttt …. Jangan nangis lagi …,” bujuk Aldo sambil mengusap-usap punggung Elena.
“Ta-tapi Do, a-aku merasa sangat malu denganmu.” Suara Elena terbata-bata, air matanya pun mulai membasahi kaus yang dikenakan Aldo. “Tidak sepantasnya aku datang ke kamu.”
Aldo memahami kerapuhan wanita dalam pelukannya. “Jangan pikirkan itu. Berkali-kali aku bilang, kamu tidak perlu malu terhadapku.”
Elena tidak menjawab. Saat ini dia merasa harga dirinya sudah jatuh di hadapan Aldo. Dia berharap ada cara lain agar dia bisa memperoleh bantuan. Terhadap teman-temannya pun, dia tidak punya muka. Semua temannya, termasuk di kantor, mungkin sudah tahu kondisi rumah tangganya.
Menyadari tidak ada respon apa pun, Aldo melepaskan usapannya di punggung Elena, lalu meraih kedua tangan wanita itu dan menggenggamnya.
“Kamu tidak perlu sungkan,” ucapnya lembut. “Yang penting masalah kamu selesai dulu biar kamu tenang. Tidak usah memikirkan hal lainnya.”
Elena mengangguk, tetapi sedetik kemudian wajahnya meringis.
“Kenapa?” Alis Aldo mengernyit bingung, lalu tatapannya beralih mengikuti pandangan Elena. Kedua matanya membesar melihat pergelangan tangan Elena yang baru saja digenggamnya. “Apa dia menyakiti kamu lagi?!”
Tidak ada jawaban, tetapi Aldo bisa melihat betapa merahnya pergelangan tangan itu.
“Kurang ajar! Benar-benar laki bajingan!” maki Aldo tak bisa menahan emosi. Matanya nyalang menatap Elena.
Melihat Aldo seperti itu membuat Elena mundur selangkah dan berusaha menyembunyikan pergelangan tangannya. Sekarang bukan lagi sedih yang dirasakannya, melainkan rasa malu yang kembali menyergapnya. Entah sudah berapa kali Aldo menanyakan alasan dia masih bertahan dengan suaminya.
Elena berpikir, hanya melihat pergelangan tangannya yang merah saja, emosi Aldo sudah meluap. Apa jadinya jika Aldo mengetahui Damar telah dua kali menamparnya? Mungkin saat ini bekas tamparan di pipinya sudah tidak berbekas sehingga Aldo tidak menyinggungnya.
Menyadari makiannya yang keras, Aldo mendekati Elena dan mendekapnya lagi. “Maafkan aku. Kamu tahu, aku tidak bisa melihat kamu seperti ini. Kamu berhak bahagia.”
Elena tidak membalas ucapan Aldo. Bibirnya tetap terbungkam, hanya kepalanya yang bersandar di dada pria itu. Wangi aroma woods dapat dirasakan hidungnya, meskipun sebagian tertutup ingus akibat tangisnya.
Dia merasakan nyaman dalam dekapan pria yang jauh lebih muda dari dirinya. Dia seperti mendapatkan kembali gairah hidupnya. Gairah yang sudah lama mati, tenggelam dalam jurang kekecewaan yang teramat dalam.
Selama beberapa detik mereka masih berpelukan, hingga akhirnya kedua tangan Aldo meraih wajah Elena dan menangkup kedua pipinya. Tatapan mereka saling bertemu. Mata Aldo menatap lekat kedua netra coklat milik wanita di hadapannya.
Merasa gugup, tak sadar Elena menarik ingusnya yang membuat pernapasannya melega. Namun itu tidaklah cukup. Jantungnya malah berdegup lebih cepat dan dadanya terasa panas.
Wajah Aldo semakin mendekat, bahkan napas pria itu dapat dirasakan Elena. Dia sadar, kini bibir mereka sudah hampir melekat.
Tak lama bibir Aldo sudah menempel di bibirnya. Mengecup lembut hingga membuat mata Elena terpejam. Bahkan kedua tangannya masing-masing memegang lengan Aldo. Memang ini bukan ciuman pertama mereka. Mereka sudah melakukannya sejak beberapa bulan lalu. Mungkin tiga atau empat bulan, entahlah. Elena lupa akan hal itu.
Tanpa Elena sadari, ciuman Aldo yang awalnya lembut, kini semakin mendalam. Sampai Elena menjadi kesulitan untuk bernapas.
“Aldo ….” Elena berusaha mendorong tubuh Aldo, tetapi yang dilakukannya hanyalah sia-sia. Dengan terpaksa dia menarik tubuhnya agar ciuman mereka terlepas, kemudian menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Setelahnya Elena beralih memandang Aldo. Dia sungguh tidak ingin mereka berdua kebablasan yang akhirnya hanya menyisakan penyesalan. Namun detik kemudian dia dibuat terkejut dengan tangan Aldo yang menarik pinggangnya.
“Do!” panggil Elena refleks yang tidak siap dengan gerakan Aldo.
Pria itu kembali menciumnya, bahkan kini lebih menuntut dan mendominasi. Satu tangan Aldo sudah berada di tengkuknya, sementara tangan lainnya mengusap-usap punggung Elena.
“Aldo …,” panggil Elena sekali lagi. Dia khawatir mereka akan bertindak semakin jauh. Pasalnya setelah beberapa detik berlalu, dia merasakan bagian bawah tubuh Aldo yang mengeras, menekan miliknya. Elena dapat merasakan gairah Aldo perlahan naik.
Panggilan kedua Elena membuat Aldo menghentikan ciuman mereka. Dia menatap nanar wanita di hadapannya.
“Bolehkah?” Suara Aldo sedikit serak karena hasrat yang mulai merasuki dirinya.
Elena serasa berada di persimpangan. Bohong kalau dia tidak tersulut gairahnya. Apalagi bukan sekali dua kali mereka berciuman seperti ini. Namun dia masih mencoba bertahan dan membentengi dirinya karena mengingat banyak perbedaan di antara mereka berdua.
“Jangan bohongi dirimu, Lena. Ikuti saja kata hatimu.”
“Tapi, Do … aku takut. Aku tidak tahu …. A-apa kamu yakin?”
Damar hanya menatap ibunya sebentar, kemudian melangkah masuk menuju sofa. Dia melepas sepatu, setelah itu duduk berselonjor dengan kedua kaki berada di atas meja.Ratih ikut duduk di hadapannya. Dia menggelengkan kepala sembari melihat tingkah anaknya.“Jangan tanya macam-macam, Bu,” ucap Damar sambil memejamkan mata. “Aku benar-benar capek.”“Kalau capek, kenapa setiap hari pulang malam?”Damar mendengus sebelum menjawab ibunya. “Sekarang baru jam sepuluh. Belum terlalu malam.”“Orang lain jam tujuh sudah sampai rumah, Damar. Kok kamu bisa setiap hari lembur? Memangnya pekerjaan kamu banyak banget dan tidak ada habisnya?”Lama-lama Ratih tidak percaya dengan alasan anaknya. Perusahaan mana yang mengharuskan karyawannya lembur setiap hari?“Oya, tadi siang ada collector datang. Katanya, kamu belum bayar cicilan mobil dan sudah terlambat hampir sebulan. Kenapa belum dibayar, Damar? Terus terang Ibu malu karena dilihat tetangga depan. Mana si collector suaranya keras banget.”Damar mem
“Apa yang ingin Ibu bicarakan?” tanya Elena akhirnya.“Kamu duduk dulu,” balas Ratih dengan mata menyorot tajam. “Tidak sopan bicara dengan orang tua sambil berdiri.”“Memangnya apa yang ingin Ibu bicarakan?” tanya Elena sekali lagi. “Aku harap tidak lama.”Ratih tidak menjawab, dan berpaling menatap Justin. “Kamu tunggu di atas. Nenek mau ngomong sama Mama kamu.”Justin bertatapan dengan Elena. Setelah mendapat anggukan dari ibunya, dia meninggalkan ruang keluarga.Elena duduk setelah memastikan putranya menaiki tangga. Firasatnya mengatakan ada sesuatu hal tidak enak yang akan disampaikan Ratih.“Langsung saja, Bu,” ucapnya tanpa berbasa-basi. “Apa yang ingin Ibu bicarakan?”“Ibu ingin tahu, apa kamu tidak akan kembali ke rumah ini?”Elena terkesiap. Pertanyaan yang cukup frontal. Namun dia bukanlah Elena yang dulu. Dia siap menghadapi Ratih dan membuka semuanya.“Sebenarnya aku tidak ada niat meninggalkan rumah. Aku yakin Ibu sudah mendengar ceritanya. Aku keluar karena diusir anak
“Justin!” Ratih memanggil dari depan kamarnya. “Kamu ngomong sama siapa?”Justin bertatapan dengan ibunya.“Kamu turun dan bilang Nenek, kalau Mama yang datang,” ucap Elena yang sudah berada di ujung tangga.“Apa Mama tidak mau menemui Nenek?”“Nanti saja. Mama mau membereskan barang-barang Mama dulu.”Justin masih menatap Elena. Terselip perasaan bersalah karena telah mengusir ibunya.Sejujurnya dia berada dalam kebimbangan, antara percaya dengan ibunya atau ucapan neneknya. Namun fakta bahwa dia melihat sendiri kemesraan ibunya dengan Aldo, masih membuatnya menyimpan kemarahan.Justin menuruni tangga, kemudian menghampiri Ratih yang masih menunggu di depan kamar.“Aku ngomong sama Mama, Nek.”“Mama?” Kedua alis Ratih terangkat. “Mama kamu di sini?”“Iya.”“Terus sekarang Mama di mana? Kok Nenek tidak lihat?”“Mama di atas, lagi membereskan baju.”Ratih terlihat bingung. “Maksud kamu, Mama pulang dan sedang merapikan baju?”“Bukan. Mama cuma mau mengambil beberapa bajunya.”“Ohh ….”
Keesokan harinya Elena kembali bekerja. Kemarin dia terpaksa izin kepada Brenda, dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Biarlah, toh atasannya sudah tahu permasalahan rumah tangganya, kecuali fakta mengenai ayah kandung Justin.Elena juga menceritakan masalahnya pada Asya. Bagaimanapun, hanya Asya yang menjadi teman baiknya. Meskipun awalnya menutup diri, pada akhirnya Elena mengakui bahwa dia membutuhkan seorang teman.Asya mengembuskan napas panjang. “Ada-ada saja ya, Len. Tapi menurutku, kamu tidak bisa diam saja. Kamu harus melakukan sesuatu.”“Aku tahu, Sya. Aku harus memikirkan rencana untuk mengambil kembali kepercayaan Justin. Juga rencana untuk berpisah dari Mas Damar. Meskipun semuanya membutuhkan waktu.”“Setuju. Aku dukung sepenuhnya kamu cerai dengan Damar. Maaf ya Len, suami dan mertua kamu benar-benar toxic.”Elena mengangguk. Kali ini dia tidak akan tinggal diam. Bukan dendam, dia hanya tidak mau menjadi wanita lemah lagi. Dia harus bangkit untuk Justin dan dirinya
Elena masih berdiri terpaku dan menatap nanar putranya. Perasaan sakit langsung menusuk ke relung hatinya.“Kamu mengusir Mama, Justin?” tanyanya kemudian dengan suara bergetar. Dia tidak percaya telah diusir oleh putranya sendiri.“Iya! Lebih baik aku tidak punya ibu seperti Mama. Ayah kandungku saja tidak jelas. Kalau orang lain tahu, mereka akan mengatai aku anak haram.” “Tidak seperti itu, Justin. Di rumah sakit, Mama sudah menjelaskan semuanya sama kamu. Rangga, ayah kandung kamu, tidak pernah menolak kehadiran kamu. Seandainya Rangga tidak meninggal, kami sudah pasti menikah.”“Tidak ada gunanya Mama ngomong begitu sekarang. Kenyataannya aku bukan anak Papa Damar. Tapi Papa Damar sayang sama aku. Tidak pernah marah, dan sering mengajak aku jalan-jalan.”Justin menatap ibunya. Wajahnya memerah karena marah, dan matanya sudah berkaca-kaca.“Tapi Mama masih berhubungan dengan Kak Aldo. Padahal aku sudah minta Mama putus. Mama egois! Hanya memikirkan diri Mama sendiri! Mama tidak
Justin terdiam. Dia enggan membicarakan pertengkaran orang tuanya. Apalagi menceritakan pada neneknya.“Hmm, seharusnya Nenek tidak bertanya sama kamu,” ucap Ratih yang menyadari Justin tidak suka dengan pertanyaannya. “Sudah, kita lanjutkan makan.”Justin melanjutkan makan dalam diam. Begitu pun dengan Ratih. Namun benaknya penuh dengan kata-kata ancaman yang dilontarkan Avanti. Dia juga mengingat percakapan dengan anaknya.Beberapa menit berlalu. Ratih sudah tidak tahan menutup mulutnya.“Apa kamu tahu, Justin, Mama kamu punya pacar. Mama kamu selingkuh. Bahkan Nenek pernah melihat Mama kamu pulang diantar laki-laki lain.”“Waktu itu ‘kan Nenek sedang menginap di rumah Om Abram,” lanjut Ratih. “Jadi Nenek tidak tahu persis masalahnya. Sebenarnya Papa dan Mama ribut apa sih? Apa kamu tahu, Justin?”Justin menghentikan makannya yang tersisa sedikit. Wajahnya cemberut, dengan kedua alisnya menyatu.“Aku tidak tahu apa-apa,” jawabnya dengan suara dingin.“Lho, kamu ‘kan ada di rumah. Ma







