MasukMendengar permintaan suaminya, Elena tidak mengatakan apa-apa, hanya mengekor Damar menuju kamar mereka. Setelah berada di kamar, Damar menjatuhkan bokongnya di sofa. Sementara Elena memilih ranjang sebagai tempat duduknya.
Suasana hening selama beberapa menit. Hanya terdengar helaan napas panjang. Elena sengaja tidak membuka mulut. Menunggu suaminya memulai pembicaraan. “Lena ….” Akhirnya Damar membuka mulutnya. “Apa kamu bisa pinjam uang di kantor? Sudah dua bulan cicilan mobil tidak dibayar.” Elena terkejut mendengarnya. “Mas, aku tidak mengerti maksudnya. Setiap bulan aku transfer uang cicilan mobil ke rekening Mas Damar. Terus uangnya ke mana?” “Apa kamu lupa kalau aku pernah bilang uangnya digunakan untuk modal bikin kontrakan rumah bareng temanku? Gajiku yang tidak seberapa juga aku taruh di sana.” Mata mereka saling bertatapan. Damar bertahan agar Elena mempercayai ucapannya. Sementara Elena berusaha mencari kejujuran di mata Damar. Seingatnya Damar tidak pernah mengatakan hal itu. Elena yakin Damar membohonginya. Dia sudah hidup bersama dengan pria itu selama 12 tahun sejak dia berusia 21 tahun. Sejujurnya, rasa percaya pada suaminya sudah hampir hilang. Mungkin hanya tersisa 5%. “Mas …. Kenapa kamu tidak diskusikan dulu denganku soal uang itu? Seharusnya kamu tahu, keuangan kita sudah minus. Tapi kamu malah menggunakannya untuk hal lain.” Emosi Damar sedikit naik mendengar ucapan Elena. “Aku sudah bilang sama kamu. Coba kamu ingat-ingat. Lagipula, apa kamu pikir aku suka dengan keadaanku seperti ini? Makanya begitu temanku menghubungi, aku langsung ambil kesempatan ini.” Elena menatap lekat suaminya. Tetap saja dia sulit mempercayai ucapan pria itu. “Bagaimana, Len? Kamu belum menjawab pertanyaanku.” Lena tetap diam. Dia sangat mengenal suaminya. Damar hanya peduli jika ada sesuatu yang berhubungan langsung dengannya. Seperti saat ini, Damar pasti sedang dikejar-kejar pihak leasing karena pemohon kredit atas nama Damar. Melihat Elena tetap diam, Damar menghela lagi napasnya. Memang istrinya sudah beberapa kali mengatakan tidak ada kebijakan dari kantor dalam hal pinjaman karyawan. Namun dia sungguh tidak rela jika harus keluar rumah menggunakan motor. Baginya itu akan mengurangi gengsi serta harga dirinya. “Kalau tidak bisa pinjam, apa kamu bisa pakai uang kantor dulu?” Kedua mata Elena langsung terbelalak. “Kamu gila ya, Mas? Kamu suruh aku korupsi??” Dia tidak habis pikir dengan suaminya. Ada apa dengan otak Damar? Apa pria itu tidak bisa berpikir jauh? Yang ada dia bisa dipecat karena memakai uang kantor. “Kamu salah, Lena. Aku tidak minta kamu korupsi. Aku bilang kamu pakai dulu uang kantor, nanti aku ganti. Seharusnya tidak masalah. Kamu ‘kan manajernya.” “Manajer dari mana? Jabatan istri sendiri saja, kamu tidak tahu,” gerutu Elena kesal. “Aku cuma kepala bagian keuangan. Masih ada manajer di atasku.” “Tapi … apa kamu tidak punya akses, Len?” Damar masih tidak mau menyerah. “Ya, tidaklah. Persetujuan uang keluar harus dari Ms. Brenda.” Tatapan kecewa terlihat dari ekspresi Damar. Selama beberapa menit dia termenung. “Apa kamu tidak bisa mengusahakan uangnya?” tanya Damar lagi dengan suara rendah. Elena mengangkat bahu. “Dari mana?” “Mungkin teman, atau siapa.” Helaan napas panjang terdengar. “Kamu tahu, Mas, aku tidak punya teman dekat. Paling hanya teman kantor.” “Nah itu, teman kantor.” Damar tampak sedikit bersemangat. “Mungkin kamu bisa pinjam sama dia.” Elena mengangkat alisnya. “Aku tidak pernah punya hubungan dekat dengan teman kantor. Paling cuma sekadar makan atau jalan-jalan ke mall.” “Masa sih?” Damar seolah meragukan ucapan istrinya. “Untuk apa?” Elena mendengus. “Teman kantor itu tidak ada bedanya dengan teman sekolah atau kampus. Sama-sama senang bergosip.” Damar terdiam, ekspresinya tampak rumit. Tatapannya tertuju ke lantai. Namun tak lama dia menatap lagi istrinya. “Apa kamu mau coba tanya keluargamu? Kakak kamu atau adik kamu.” Elena membalas tatapan Damar. Ingatannya melayang pada ucapan ibu, kakak, dan adiknya sejak dia keguguran tujuh tahun lalu. 'Kamu keguguran itu karena stres menanggung sendiri beban hidup rumah tangga.' 'Mana tanggung jawab Damar sebagai kepala keluarga? Bisa-bisanya kerja sebentar-sebentar pindah. Lebih baik kamu cerai saja!' 'Seharusnya kamu bilang sama Damar supaya cari pekerjaan yang lebih baik. Kalau perlu, kamu di rumah saja. Biar suami kamu itu ada tanggung jawabnya.' 'Kamu ganti mobil? Terus siapa yang bayar? Pasti kamu lagi, ‘kan?' 'Tapi maaf ya, Kak. Menurut aku, Mas Damar sudah benar-benar keterlaluan. Apa Kak Lena tidak pernah berpikir untuk pisah? Mungkin hidup Kak Lena bisa jadi lebih baik.' Masih banyak lagi ucapan mereka saat ada pertemuan keluarga. Namun Elena tidak mungkin menghindari mereka. Biasanya dia datang berdua dengan Justin karena Damar sudah pasti menolak ikut. “Kenapa malah diam? Aku tanya kamu, Lena!” Elena tersadar dari lamunannya. Pandangannya kembali pada suaminya. “Iya, aku tunggu jawaban kamu. Apa kamu mau coba pinjam pada keluargamu?” Elena menghela napas berat sampai kedua bahunya terangkat.“Itu tidak mungkin, Mas.” “Tidak mungkin bagaimana?” Damar mendengus tidak sabar. “Kamu saja belum tanya mereka.” “Mas ….” Elena berusaha memilih kata-kata yang akan diucapkannya. “Apa kamu sadar, bagaimana hubungan kamu dengan keluargaku selama ini?” Damar terkesiap mendengarnya. Namun dia tidak kehabisan akal. “Kamu ‘kan bisa pakai alasan lain.” “Alasan apa?” Elena kesal dengan Damar yang selalu menggampangkan semuanya. “Ya … kamu bisa cari alasan lain,” balas Damar sekenanya karena dia juga malas memikirkan alasannya. Elena menggeleng tegas. “Tidak, aku tidak mau.” Emosi Damar mulai naik. “Sebenarnya kamu tidak bisa cari pinjaman atau memang kamu yang tidak mau?” Dia mengusap kasar wajahnya, kemudian melanjutkan, “Aku tidak mau mobil itu ditarik karena aku butuh kendaraan.” “Apa motor kamu sudah tidak bisa dipakai lagi?” Elena ingat motor sport yang dibeli Damar sekitar 6 tahun lalu, dan dibiarkan di halaman belakang. “Motor itu?” Damar mendengus keras. “Sudah jadi bangkai, kali!” Selama beberapa menit tidak ada yang bicara. Mereka larut dalam pikiran masing-masing. “Aku tetap tidak mau mobil ditarik,” tegas Damar. “Kalau punya uang, aku juga tidak akan minta padamu, Len. Akan aku usahakan sendiri.” “Kalau begitu, kenapa kamu tidak minta bantuan Mas Abram?” “Kamu kayak tidak tahu Mas Abram. Mana mungkin dia mau membantu. Orang paling pelit yang aku kenal!” Elena diam lagi. Sebenarnya dia sangat kesal karena sudah memberikan uangnya pada Damar, tetapi malah diselewengkan untuk hal lain. “Sepertinya kamu benar-benar tidak mau membantu aku ya?” tanya Damar dengan tatapan curiga. “Kenapa? Kok aku lihat kamu semakin sombong terhadapku akhir-akhir ini. Apa harus aku ingatkan lagi untuk tidak bertingkah macam-macam denganku?” Elena menoleh, terkesiap mendengarnya.Elena melirik jam tangan. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Dia yakin, tidak lama lagi Aldo akan datang.Benar saja. Sekitar lima belas menit kemudian pria itu datang, masih mengenakan hoodie hitam dan celana training dengan warna yang sama.Elena memerhatikan wajah Aldo yang tampan, dengan postur tinggi dan tegap, dan senyuman yang memikat. Bagaimana dia bisa melupakan pria itu? Rasanya sungguh berat, terlebih Elena juga mencintainya.“Apa sudah lama menunggu, Sayang?” tanya Aldo sambil menarik sebuah kursi, lalu duduk di sana.“Tidak. Aku belum lama datang. Oya, kamu mau minum apa, Do? Aku pesan coffee mocktail, apa kamu juga mau?”“Ehm, aku mau lemon-lime mint.”“Oke. Sebentar ya.”Elena memanggil seorang pramusaji dan memesankan minuman untuk Aldo.“Tumben kamu ingin bertemu di sini, Sayang. Ada apa? Kenapa kita tidak bicara di kost atau apartemen?”Elena sengaja memilih bertemu di kafe, karena khawatir tidak sanggup menolak jika Aldo mengajaknya bermesraan. Dia suda
Elena terkejut melihat wanita yang mencoleknya.“Hai, Lena …. Apa kabar?” sapa Siska sambil memeluknya.“Aku baik-baik saja,” jawab Elena sambil membalas pelukan wanita itu. “Mbak Siska sendiri, bagaimana kabarnya?”“Aku sehat dan baik, seperti yang kamu lihat. Oya Len, kamu ke mana saja sih? Sudah lama tidak muncul di hall.”Elena tertegun akibat pertanyaan wanita itu.“Tapi Sabtu kemarin aku lihat Justin datang sendirian,” ucap Siska lagi. “Kenapa kamu tidak mengantarnya, Len?”“Waktu itu memang Justin yang ingin pergi sendiri.”“Begitu ya?” balas Siska, kemudian melihat ke arah Asya. “Itu teman kantor kamu, Len? Enak juga ya, bisa jalan-jalan di mall.”“Iya, Mbak. Istirahat kami cukup panjang dan kantor kami juga dekat, makanya bisa jalan-jalan ke sini.”Siska mendekatinya, kemudian berbisik. “Ada yang ingin aku sampaikan sama kamu, Len.”Elena terlihat ragu. Dia khawatir dengan apa yang akan dikatakan Siska.“Tidak lama kok. Aku juga tahu kamu harus kembali ke kantor.”Mendapat uc
Aldo membelai pipi Elena. Tatapannya menelusuri setiap detail wajah kekasihnya. Dari alis, mata, hidung, hingga bibir, dan akhirnya kembali pada sepasang mata Elena.“Apa kamu tahu,” ucapnya pelan, “aku sangat ingin bercinta denganmu.”“Do ….”“Jangan berpikir negatif dulu, Sayang. Bercinta bukan sekadar hubungan fisik, tetapi salah satu cara pria untuk mengungkapkan perasaannya, karena pria tidak pandai berkata-kata.”Elena tersenyum kecut. “Kamu belum cerita reaksi Justin mengenai hubungan kita. Aku benar-benar penasaran, Do.”“Apa lagi yang harus aku ceritakan? Aku yakin, kamu sudah bisa menebaknya. Justin mau kembali latihan dan meninggalkan rokok, asalkan kita tidak berhubungan lagi. Itu persyaratan yang dia minta.”“Seperti yang sudah aku duga.”“Itu permintaan wajar, Sayang. Seandainya salah satu orang tuaku berselingkuh, aku juga akan marah.”“Lalu apa yang harus kita lakukan, Do?”Aldo menatap Elena yang masih risau. “Apa kamu lupa dengan apa yang pernah aku bilang sebelumnya
Justin memikirkan ucapan Aldo. Dia memiliki rokok elektrik karena diberikan Dion, dan dia hanya mencobanya. Tidak benar-benar tertarik.Antara rokok dan basket, hatinya tetap memilih basket. Sebenarnya dia tersiksa karena sudah tidak bisa menahan diri untuk bermain basket lagi.“Bagaimana Justin?” Aldo menunjuk rokok elektrik yang berada di meja. “Apa kamu bisa meninggalkannya?”Perlahan Justin mengangguk.“Bagus. Dan kamu juga mau latihan lagi?”“Iya. Aku juga akan berhenti merokok asalkan Kak Aldo tidak berhubungan sama Mama lagi.”Aldo tersenyum lebar. “Bagus. Ini yang Kak Aldo suka. Jadi anak muda harus selalu semangat.”“Tapi benar ‘kan, Kak Aldo dan Mama tidak berhubungan lagi? Kak Aldo harus janji. Aku juga tidak mau Kak Aldo menjemput atau mengantar aku pulang. Aku bisa naik ojek ke hall.”Sesaat Aldo terdiam. Secara tidak langsung Justin mengancamnya untuk memutuskan hubungan perselingkuhan dengan ibunya, jika ingin melihatnya kembali berlatih basket dan berhenti menggunakan
“Ayolah, Justin! Kak Aldo hanya minta waktu kamu sekali ini saja.”Selama beberapa detik, Justin hanya diam. Dia bimbang, tetapi tak lama mengangguk. Entah apa yang menggerakkan hatinya. Mungkin karena perasaan tidak enak mengingat hubungan dekat mereka selama ini.Akhirnya Justin mengikuti Aldo masuk ke mobil, meninggalkan Dion yang tampak kesal.“Kamu mau makan di mana, Justin?” tanya Aldo sambil mengendarai mobilnya.“Terserah Kak Aldo,” jawab Justin singkat tanpa menoleh sama sekali. Dia membuang pandangan keluar jendela di sampingnya.Tidak ada percakapan lagi hingga Aldo menghentikan mobilnya di sebuah mall. Dia sengaja memilih tempat yang ramai untuk mencairkan suasana. Selain itu dia tahu, anak seusia Justin sangat menyukai mall.“Kamu mau pizza atau burger?” tanya Aldo lagi setelah mereka keluar dari mobil.Justin tidak menjawab. Remaja yang masih terbilang kurus itu hanya melangkahkan kakinya perlahan di samping Aldo.“Hei!” Aldo menepuk bahu Justin sambil tertawa. “Tidak us
Sementara di tempat lain, Aldo sedang bersiap-siap untuk menemui Justin. Jika Justin tidak mau bertemu dengannya, berarti kecurigaannya benar.Tiba di sekolah, Aldo menunggu di depan gerbang dekat pos satpam. Matanya tidak henti memerhatikan setiap anak yang keluar, entah sendiri, berdua, atau pun bergerombol. Tidak lama, akhirnya terlihat sosok yang dia cari.Tidak sulit mencari Justin, karena tinggi badannya yang melampaui anak-anak seusianya.“Justin!” panggil Aldo ketika anak itu sudah berada di dekatnya.Yang dipanggil menoleh. Wajahnya tampak terkejut.“Kamu mau pulang ‘kan?” tanya Aldo tanpa menghiraukan keberadaan teman Justin. “Biar Kak Aldo antar. Kebetulan tadi Kak Aldo lewat sini.”Justin bertatapan dengan Dion, kemudian beralih pada Aldo. “Tidak usah, Kak. Aku pulang bareng temanku.”“Sekali ini saja. Ada yang ingin Kak Aldo bicarakan sama kamu.”Alis Justin langsung mengernyit. Dia bisa mengira-ngira apa yang akan dibicarakan mantan pelatihnya.“Tidak, Kak. Aku sudah jan







