LOGIN“Hei!” panggil Brenda pada anak buahnya yang duduk terpaku di hadapannya.
“Ohh … maaf.” Elena tampak gelagapan, menyadari sikapnya yang tidak responsif . “Iya, Ms. Brenda. Saya paham kok. Hanya ….”
“Hanya apa?”
Elena menggeleng cepat. “Ehm ... tidak. Tidak apa-apa.”
Brenda menghela napas singkat. “Setiap orang pasti punya masalahnya sendiri, ‘kan? Tapi sebagai orang dewasa, harus bisa memilah dan menempatkan diri dengan baik. Jangan mencampuradukkan satu masalah dengan masalah lainnya, bisa-bisa malah kehilangan semuanya.”
Elena mengangguk pelan. Minggu lalu dia kurang fokus dan hampir melakukan kesalahan pembayaran kepada salah satu supplier. Untung saja prosedur pembayaran harus dengan persetujuan manajer sehingga kesalahan itu tidak terjadi.
Senyum tipis pun tersungging dari bibirnya. “Terima kasih, Ms. Brenda.”
“Ya,” balas Brenda sambil memberikan Elena setumpuk dokumen yang sudah dia tanda tangani. “Bawa kembali. Sebentar lagi waktunya pulang.”
Sekali lagi Elena mengangguk, kemudian keluar dari ruangan itu. Dia bersyukur atasannya tidak terlalu sibuk, sehingga cepat memeriksa dokumen yang harus ditandatangani.
Begitu sampai di ruangannya, Elena langsung bertanya pada Asya Kamala―rekannya yang duduk dekat dengannya. “Jam berapa sekarang?”
“Jam 5 kurang 10 menit,” jawab Asya sambil melihat jam di ponselnya, lalu menatap Elena. “Kenapa? Kamu terlihat terburu-buru.”
“Iya, aku ada janji dengan … kakakku.”
Oh God, sejak memiliki hubungan dengan Aldo, Elena merasa jadi mudah berbohong.
Asya tidak bertanya lagi. Seperti Elena, dia mulai membereskan dokumen di meja dan bersiap-siap pulang.
Setelah mejanya rapi, Elena keluar ruangan bersama beberapa karyawan lainnya hingga mereka berada di depan lift. Sambil menunggu, dia membuka ponsel untuk mengecek pesan dari Aldo, sampai seseorang menepuk bahunya. Dia terkejut dan langsung menoleh ke belakang.
“Istrimu sudah ada di bawah tuh, jemput kamu!” sarkas Reza―salah satu manajer di kantornya―dengan senyum terkulum di bibir.
“Hahahaaa ….” gelak tawa riuh terdengar dari beberapa karyawan yang berada di sana, membuat air muka Elena berubah merah.
Sebuah sindiran yang menyakitkan, tetapi mereka malah tertawa-tawa seolah itu hanyalah sebuah lelucon.
Elena hanya bisa menundukkan kepala. Mereka sungguh tidak menyadari jika ucapan ‘istri’ yang dilontarkan Reza telah membuat hatinya meradang.
Seperti yang sudah diduganya, mungkin semua orang kantor telah mengetahui kondisi rumah tangganya. Entah dari mana mereka tahu hal itu. Mungkin juga karena suaminya―saat menganggur―sering terlihat mengantar jemput dirinya dengan hanya mengenakan kaus dan celana pendek layaknya pakaian rumahan.
“Ihhh … kalian jahat banget sama Elena,” ujar salah satu karyawati dari divisi lain. “Masa ngomong seperti itu?”
“Hei, serius amat sih!” seru karyawan lain. ”Kami juga cuma bercanda kok!”
Elena benar-benar mati kutu, lidahnya kelu dan otaknya serasa kosong, tidak bisa membalas ucapan Reza. Yang bisa dilakukannya hanyalah berdoa dalam hati agar lift segera terbuka.
Tak lama doanya terkabul. Begitu pintu lift terbuka, Elena bergegas masuk. Dia sudah tidak tahan berlama-lama di tempat itu.
Tiba di lobi, Elena dapat melihat Damar berdiri menunggu di pelataran parkir. Dia bergegas menghampiri suaminya.
Setelah duduk di dalam mobil, Elena bertanya sembari mengenakan sabuk pengaman. “Kenapa tidak mengabari kalau ingin menjemput?”
“Tadi aku bertemu dengan rekan kerjamu dan sudah menitip pesan padanya,” balas Damar tanpa menoleh ke arah Elena. Tatapannya fokus ke depan, mengendarai mobil keluar dari gedung perkantoran.
Selanjutnya tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Elena mengalihkan pandangan keluar jendela di sampingnya. Sampai tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Elena mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Setelah mengetahui siapa yang menghubunginya, dia menolak panggilan itu. Namun ponselnya berdering lagi hingga dua kali, dan dia tetap melakukan hal yang sama.
“Kenapa tidak dijawab?” Damar menoleh curiga padanya.
“Orang kantor,” balas Elena singkat.
“Apa bukan sesuatu yang penting?”
“Aku malas ditelepon di luar jam kantor.”
Duh, Elena menyesalkan dirinya sendiri karena sekarang mulutnya semakin lancar untuk berbohong. Namun harus bagaimana lagi?
Tidak mungkin dia mengatakan sejujurnya bahwa itu telepon dari Aldo. Bahkan Elena sendiri sempat lupa dengan janji bertemu pria itu. Semua karena Damar yang tiba-tiba menjemputnya, dan juga sarkas dari Reza yang membuatnya merasa dipermalukan.
Elena hanya berharap Aldo tidak marah atau kecewa karena dia tidak datang dan tidak mengabarinya terlebih dahulu.
***
Sementara di sebuah kafe, Aldo duduk sambil menatap ponselnya. Dia tidak mengerti mengapa Elena tiga kali menolak panggilannya. Bahkan Elena tidak mengirim pesan lagi, selain ucapan terima kasih setelah dia mengirim bukti transfer.
Dia bertanya-tanya dalam hati karena Elena tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Aldo juga mengkhawatirkannya, dan berharap Elena tidak mendapat kekerasan lagi dari suaminya.
Setelah menunggu hampir sejam lamanya, Aldo berniat meninggalkan kafe itu. Namun niatnya terhenti setelah melihat lambaian tangan seorang wanita muda.
“Kak Aldo!” panggil wanita itu dari jarak beberapa meter. Setelah berada di hadapannya, tanpa basa-basi dia menarik sebuah kursi dan langsung duduk di sana.
Aldo menatap wanita bernama Raellyn Pradipta yang dulu merupakan adik kampusnya, sekaligus teman satu klub basket.
“Dari mana?” tanyanya singkat.
“Tadi bertemu dengan teman di mall. Niatnya mau pulang, tapi begitu melihat Kak Aldo, langsung melipir ke sini deh,” jawab Raellyn sambil tertawa yang menampilkan kedua lesung pipinya.
“Kak Aldo, bagaimana kabarnya?” lanjutnya dengan mata berbinar. “Kok Kak Aldo makin ganteng sih? Sepertinya sudah lama ya kita tidak ketemuan. Oya, apa Kak Aldo masih melatih anak-anak junior?”
“Masih …. Aku belum ber―”
“Eh sebentar, Kak,” potong Raellyn sambil menatap sekilas gelas kosong di hadapannya. “Apa Kak Aldo mau minum lagi?”
Namun tanpa menunggu jawaban Aldo, kepala Raellyn sudah bergerak mengitari ruangan untuk mencari keberadaan pramusaji.
Aldo mengeryit melihatnya. “Kamu mau apa?”
Mendengar pertanyaan Aldo, Raellyn beralih menatap pria itu. “Aku mau pesan minum, sekalian buat Kak Aldo.”
“Thanks, Rae, tapi tidak usah,” balas Aldo cepat sambil bangkit berdiri. “Sejak tadi aku sudah berniat ingin pulang.”
“Loh loh … tapi kita belum ngobrol, Kak!” protes Raellyn bingung dengan Aldo yang tampak terburu-buru.
“Sorry, aku masih ada urusan lain, Rae. Kapan-kapan kita masih bisa ketemuan.”
Aldo meninggalkan Raellyn yang masih tak percaya akan ditinggal begitu saja. Namun Aldo tidak peduli. Dia tahu perasaan Raellyn padanya. Bagi Aldo, hanya ada nama satu wanita yang bersemayam di hatinya.
Dia berharap kelak ibunya tidak ikut campur dalam urusan asmaranya, mengingat hubungan baik yang terjalin antara Keluarga Brawijaya dengan Keluarga Pradipta.
***
Elena baru saja tiba di lantai dua usai mencuci peralatan makan malam, ketika Damar menghalangi jalannya.
“Ada yang ingin kubicarakan denganmu,” ujar pria itu dengan raut muka serius.
Elena melirik jam tangan. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul lima sore. Dia yakin, tidak lama lagi Aldo akan datang.Benar saja. Sekitar lima belas menit kemudian pria itu datang, masih mengenakan hoodie hitam dan celana training dengan warna yang sama.Elena memerhatikan wajah Aldo yang tampan, dengan postur tinggi dan tegap, dan senyuman yang memikat. Bagaimana dia bisa melupakan pria itu? Rasanya sungguh berat, terlebih Elena juga mencintainya.“Apa sudah lama menunggu, Sayang?” tanya Aldo sambil menarik sebuah kursi, lalu duduk di sana.“Tidak. Aku belum lama datang. Oya, kamu mau minum apa, Do? Aku pesan coffee mocktail, apa kamu juga mau?”“Ehm, aku mau lemon-lime mint.”“Oke. Sebentar ya.”Elena memanggil seorang pramusaji dan memesankan minuman untuk Aldo.“Tumben kamu ingin bertemu di sini, Sayang. Ada apa? Kenapa kita tidak bicara di kost atau apartemen?”Elena sengaja memilih bertemu di kafe, karena khawatir tidak sanggup menolak jika Aldo mengajaknya bermesraan. Dia suda
Elena terkejut melihat wanita yang mencoleknya.“Hai, Lena …. Apa kabar?” sapa Siska sambil memeluknya.“Aku baik-baik saja,” jawab Elena sambil membalas pelukan wanita itu. “Mbak Siska sendiri, bagaimana kabarnya?”“Aku sehat dan baik, seperti yang kamu lihat. Oya Len, kamu ke mana saja sih? Sudah lama tidak muncul di hall.”Elena tertegun akibat pertanyaan wanita itu.“Tapi Sabtu kemarin aku lihat Justin datang sendirian,” ucap Siska lagi. “Kenapa kamu tidak mengantarnya, Len?”“Waktu itu memang Justin yang ingin pergi sendiri.”“Begitu ya?” balas Siska, kemudian melihat ke arah Asya. “Itu teman kantor kamu, Len? Enak juga ya, bisa jalan-jalan di mall.”“Iya, Mbak. Istirahat kami cukup panjang dan kantor kami juga dekat, makanya bisa jalan-jalan ke sini.”Siska mendekatinya, kemudian berbisik. “Ada yang ingin aku sampaikan sama kamu, Len.”Elena terlihat ragu. Dia khawatir dengan apa yang akan dikatakan Siska.“Tidak lama kok. Aku juga tahu kamu harus kembali ke kantor.”Mendapat uc
Aldo membelai pipi Elena. Tatapannya menelusuri setiap detail wajah kekasihnya. Dari alis, mata, hidung, hingga bibir, dan akhirnya kembali pada sepasang mata Elena.“Apa kamu tahu,” ucapnya pelan, “aku sangat ingin bercinta denganmu.”“Do ….”“Jangan berpikir negatif dulu, Sayang. Bercinta bukan sekadar hubungan fisik, tetapi salah satu cara pria untuk mengungkapkan perasaannya, karena pria tidak pandai berkata-kata.”Elena tersenyum kecut. “Kamu belum cerita reaksi Justin mengenai hubungan kita. Aku benar-benar penasaran, Do.”“Apa lagi yang harus aku ceritakan? Aku yakin, kamu sudah bisa menebaknya. Justin mau kembali latihan dan meninggalkan rokok, asalkan kita tidak berhubungan lagi. Itu persyaratan yang dia minta.”“Seperti yang sudah aku duga.”“Itu permintaan wajar, Sayang. Seandainya salah satu orang tuaku berselingkuh, aku juga akan marah.”“Lalu apa yang harus kita lakukan, Do?”Aldo menatap Elena yang masih risau. “Apa kamu lupa dengan apa yang pernah aku bilang sebelumnya
Justin memikirkan ucapan Aldo. Dia memiliki rokok elektrik karena diberikan Dion, dan dia hanya mencobanya. Tidak benar-benar tertarik.Antara rokok dan basket, hatinya tetap memilih basket. Sebenarnya dia tersiksa karena sudah tidak bisa menahan diri untuk bermain basket lagi.“Bagaimana Justin?” Aldo menunjuk rokok elektrik yang berada di meja. “Apa kamu bisa meninggalkannya?”Perlahan Justin mengangguk.“Bagus. Dan kamu juga mau latihan lagi?”“Iya. Aku juga akan berhenti merokok asalkan Kak Aldo tidak berhubungan sama Mama lagi.”Aldo tersenyum lebar. “Bagus. Ini yang Kak Aldo suka. Jadi anak muda harus selalu semangat.”“Tapi benar ‘kan, Kak Aldo dan Mama tidak berhubungan lagi? Kak Aldo harus janji. Aku juga tidak mau Kak Aldo menjemput atau mengantar aku pulang. Aku bisa naik ojek ke hall.”Sesaat Aldo terdiam. Secara tidak langsung Justin mengancamnya untuk memutuskan hubungan perselingkuhan dengan ibunya, jika ingin melihatnya kembali berlatih basket dan berhenti menggunakan
“Ayolah, Justin! Kak Aldo hanya minta waktu kamu sekali ini saja.”Selama beberapa detik, Justin hanya diam. Dia bimbang, tetapi tak lama mengangguk. Entah apa yang menggerakkan hatinya. Mungkin karena perasaan tidak enak mengingat hubungan dekat mereka selama ini.Akhirnya Justin mengikuti Aldo masuk ke mobil, meninggalkan Dion yang tampak kesal.“Kamu mau makan di mana, Justin?” tanya Aldo sambil mengendarai mobilnya.“Terserah Kak Aldo,” jawab Justin singkat tanpa menoleh sama sekali. Dia membuang pandangan keluar jendela di sampingnya.Tidak ada percakapan lagi hingga Aldo menghentikan mobilnya di sebuah mall. Dia sengaja memilih tempat yang ramai untuk mencairkan suasana. Selain itu dia tahu, anak seusia Justin sangat menyukai mall.“Kamu mau pizza atau burger?” tanya Aldo lagi setelah mereka keluar dari mobil.Justin tidak menjawab. Remaja yang masih terbilang kurus itu hanya melangkahkan kakinya perlahan di samping Aldo.“Hei!” Aldo menepuk bahu Justin sambil tertawa. “Tidak us
Sementara di tempat lain, Aldo sedang bersiap-siap untuk menemui Justin. Jika Justin tidak mau bertemu dengannya, berarti kecurigaannya benar.Tiba di sekolah, Aldo menunggu di depan gerbang dekat pos satpam. Matanya tidak henti memerhatikan setiap anak yang keluar, entah sendiri, berdua, atau pun bergerombol. Tidak lama, akhirnya terlihat sosok yang dia cari.Tidak sulit mencari Justin, karena tinggi badannya yang melampaui anak-anak seusianya.“Justin!” panggil Aldo ketika anak itu sudah berada di dekatnya.Yang dipanggil menoleh. Wajahnya tampak terkejut.“Kamu mau pulang ‘kan?” tanya Aldo tanpa menghiraukan keberadaan teman Justin. “Biar Kak Aldo antar. Kebetulan tadi Kak Aldo lewat sini.”Justin bertatapan dengan Dion, kemudian beralih pada Aldo. “Tidak usah, Kak. Aku pulang bareng temanku.”“Sekali ini saja. Ada yang ingin Kak Aldo bicarakan sama kamu.”Alis Justin langsung mengernyit. Dia bisa mengira-ngira apa yang akan dibicarakan mantan pelatihnya.“Tidak, Kak. Aku sudah jan







