مشاركة

Bab 42

مؤلف: Liontin
last update تاريخ النشر: 2026-09-22 20:37:57

Sentuhan bibir kami yang mendadak beradu di balik meja bar yang remang-remang langsung memadamkan segala perdebatan sengit di antara kami. Ciuman itu bukan sekadar sentuhan ringan; itu adalah ledakan dari rasa rindu, frustrasi, amarah, dan keinginan mendalam yang selama berbulan-bulan kami pendam rapat-rapat.

Johan sempat tertegun sepersekian detik karena terkejut atas inisiatifku yang begitu liar. Namun, dominasi pria itu langsung mengambil alih. Tangannya yang semula mencengkeram pinggangku k
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Antara Kita Bertiga   Bab 42

    Sentuhan bibir kami yang mendadak beradu di balik meja bar yang remang-remang langsung memadamkan segala perdebatan sengit di antara kami. Ciuman itu bukan sekadar sentuhan ringan; itu adalah ledakan dari rasa rindu, frustrasi, amarah, dan keinginan mendalam yang selama berbulan-bulan kami pendam rapat-rapat.Johan sempat tertegun sepersekian detik karena terkejut atas inisiatifku yang begitu liar. Namun, dominasi pria itu langsung mengambil alih. Tangannya yang semula mencengkeram pinggangku kini merayap naik ke tengkukku, menahan kepalaku agar tidak bisa lari, sementara bibirnya balas melumat bibirku dengan ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan menghanyutkan.Desahan tertahan lolos begitu saja dari sela-sela bibirku saat lidah Johan mendesak masuk, mengeksplorasi setiap inci rongga mulutku tanpa ampun. Suasana bising di dalam The Velvet Lounge—mulai dari dentuman musik jazz hingga riuh rendah suara para tamu—seolah lenyap tak bersisa. Dunia di sekeliling kami seakan berhenti b

  • Antara Kita Bertiga   Bab 41

    "Tidak, Tuan Arman. Sepertinya malam ini saya sudah cukup melayani Anda," kataku dengan suara dingin, mendadak kehilangan selera untuk pura-pura ramah.Tanpa menunggu persetujuannya, aku langsung menyambar nampan perak di atas meja, berbalik, dan melangkah pergi meninggalkan sofa nomor dua belas. Arman sempat memanggil namaku pelan, namun aku sama sekali tidak peduli. Seluruh perhatian dan fokusku kini sepenuhnya tersedot ke arah sofa VIP di seberang ruangan—tempat di mana Johan dan Sasa duduk terlalu dekat, tampak begitu menikmati kebersamaan mereka.Aku berjalan cepat menuju area bar utama, meletakkan nampan dengan sedikit sentakan keras hingga pelayan lain menoleh kaget. Napasku memburu, bukan karena lelah bekerja, melainkan karena gejolak emosi aneh yang mendadak membakar dada. Cemburu? Apakah aku baru saja merasa cemburu melihat Johan bersama wanita lain?Tidak mungkin! batinku menyangkal keras. Aku yang memilih kabur darinya. Aku yang menolak sangkar emasnya demi kebebasan. Jadi

  • Antara Kita Bertiga   Bab 40

    Dadaku bergemuruh kencang, napasku memburu tak beraturan di balik sekat pembatas lorong. Aku buru-buru melangkah mundur, menjauh dari pemandangan panas antara Clara dan Arman sebelum mereka sadar ada yang mengintip. Sambil menepuk-nepuk pipiku yang terasa panas membara, aku mencoba merapikan apron dan ekspresi wajahku agar kembali terlihat normal. Sialan, batinku bergejolak. Kenapa malah aku yang jadi ikut bergairah begini?Aku langsung berjalan cepat menuju area bar utama untuk memproses pesanan dua botol wine vintage termahal yang diminta oleh Arman."Mbak, tolong siapkan dua botol wine vintage meja nomor dua belas ya. Ini uang mukanya," kataku pada pelayan bar di sana sambil menyerahkan segepok lembaran uang tunai.Tak butuh waktu lama, botol minuman mahal itu pun siap di atas nampan perak. Dengan sisa-sisa kesadaran yang coba kukumpulkan, aku melangkah kembali menuju meja nomor dua belas di pojok ruangan. "Wah, cepat sekali datangnya, manis," sambut Arman begitu aku meletakkan bo

  • Antara Kita Bertiga   Bab 39

    "Aduh, Clar! Eyeliner-ku ini kenapa malah miring begini sih? Kalau kelihatan galak kayak penyihir, gimana mau melayani tamu?" keluhku panik sambil memegang kuas kecil di depan cermin kecil, mengikis garis hitam di kelopak mata kiriku.Clara yang sedang sibuk melilitkan syal sutra kecil di lehernya langsung menoleh, tertawa renyah melihat kepanikanku. "Sini, biar aku benerin! Makanya jangan grogi gitu dong, Sher. Anggap saja kita lagi mau dandan buat kondangan mantan," candanya santai sambil merampas alat makeup dari tanganku."Bukan masalah kondangan, Clar. Ini kan malam pertamaku kerja di tempat hiburan malam itu. Rasanya masih ada deg-degan aneh di dada," kataku jujur, merapikan lipstik merah marun di bibirku."Udah, tenang aja! Pokoknya malam ini target kita cuma satu: cari uang sebanyak-banyaknya buat nutupin uang sewa bulan depan," balas Clara penuh semangat sambil memakaikan blazer hitam panjang di tubuhku. "Oh, iya, aku lupa ngasih tau aturan emas di bar ini? Kalau ada tamu yan

  • Antara Kita Bertiga   Bab 38

    Deru kereta api mengantarkanku kembali ke stasiun kota besar yang bising dan penuh sesak. Begitu aku melangkah keluar dari gerbang kedatangan, sosok Clara langsung melambaikan tangan dengan penuh semangat, mengenakan jaket denim kesayangannya."Sherine!" teriak Clara histeris, langsung berlari menerjang dan memelukku erat-erat begitu kami bertemu. Air mata kebahagiaan menitik di sudut mata sahabatku itu. "Aku kangen banget, tahu!""Aku juga kangen, Clar," balasku sambil tersenyum tulus, membalas pelukannya tak kalah erat.Setelah melepas rindu sejenak di kedai kopi dekat stasiun, Clara langsung mengajakku menaiki taksi menuju tempat tinggal barunya—sebuah apartemen studio mungil yang letaknya tidak terlalu jauh dari pusat hiburan kota."Meskipun kecil, tapi ini aman dan murni pakai uangku sendiri, Sher," kata Clara bangga sambil meletakkan koperku di sudut ruangan. Ia lalu mendudukkan diri di tepi tempat tidur, menatapku serius. "Ngomong-ngomong soal bertahan hidup, dan pekerjaan yang

  • Antara Kita Bertiga   Bab 37

    Sudah satu bulan sejak pergiaannya aku dari kehidupan Johan dan Andi, mengasingkan diri dan hidup di kampung terpencil ini. Rasanya, hari-hari yang kuhabiskan di bawah bayang-bayang pegunungan dan kabut tipis berhasil mengembalikan kewarasan serta ketenangan yang sempat meredup di dalam diriku. Tidak ada lagi teror, tidak ada tatapan tajam yang menuntut, dan tidak ada cengkeraman kekuasaan yang membuatku merasa seperti boneka. Namun, kedamaian batin itu perlahan diiringi oleh kenyataan pahit ketika aku membuka dompetku pagi ini.Aku menatap sisa lembaran uang di tangan dengan desahan napas panjang. Tabunganku sudah mulai menipis drastis. Biaya hidup di desa memang murah, tetapi uang simpanan dari hasil kerja keras masa lalu tidak akan bertahan selamanya jika aku hanya berpangku tangan di rumah Pak Karto. Aku harus kembali mandiri.Tanpa berpikir panjang, aku segera berjalan menuju titik di desa yang memiliki sinyal telepon seluler cukup stabil. Ponselku bergetar beberapa kali sebelum

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status