Share

Bab 53

Author: Liontin
last update publish date: 2026-11-03 23:55:51

Pagi yang cerah itu seolah membawa udara segar ke dalam paru-paruku yang sejak kemarin terasa sesak. Setelah membaca email panggilan wawancara dari PT Graha Utama, keraguan yang sempat menggelayuti hatiku perlahan-lahan menguap. Tanpa menunggu waktu lama, aku langsung mendial nomor telepon kantor perusahaan tersebut untuk mengonfirmasi jadwal kehadiranku.

Suara ramah dari bagian HRD di ujung sambungan telepon memberikan kejelasan yang membuatku bernapas lega. "Baik, Ibu Sherine. Kami tunggu keh
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Antara Kita Bertiga   Bab 56

    Lidahku mendadak kelu, membatu di hadapan Vanessa yang masih tersenyum penuh kemenangan. Kenyataan bahwa wanita di depanku ini adalah staf senior di PT Graha Utama—perusahaan yang baru saja wawancaraku—membuat isi kepalaku berputar hebat.Vanessa menyesap teh herbal yang baru saja disajikan pelayan, lalu meletakkan cangkirnya dengan gerakan perlahan. Raut wajahnya yang tadinya tampak beringas dan ceria perlahan berubah menjadi agak muram dan defensif."Sher..." bisik Vanessa, memajukan tubuhnya ke arah meja. "Aku tahu kamu pasti kaget dan mungkin benci banget sama aku. Tapi sejujurnya, akhir-akhir ini pikiranku berantakan banget."Aku menelan ludah, berusaha menguasai diri meski tanganku di bawah meja meremas rok pensilku hingga kusut. "Berantakan kenapa, Vanessa?"Vanessa menghela napas panjang, menatap cangkir tehnya dengan pandangan menerawang. "Andi... dia benar-benar berubah, Sher. Sampai detik ini dia masih menolak keras untuk menemui aku. Berulang kali aku hubungi, berulang ka

  • Antara Kita Bertiga   Bab 55

    "Permisi, Selamat pagi. Mau menanyakan ruang wawancara kerja untuk posisi Staff Human Resources di lantai berapa, ya?" tanyaku pada petugas resepsionis yang berdiri anggun di balik meja marmer. Suaraku sedikit bergetar, berusaha sekuat tenaga menutupi kegugupan yang menggerogoti dada."Selamat pagi. Untuk wawancara HR PT Graha Utama ada di lantai lima belas, Mbak. Silakan isi daftar tamu di sini dan gunakan kartu akses ini untuk menuju lift," jawab resepsionis itu dengan senyum ramah yang profesional."Baik, terima kasih banyak," balasku sambil menerima kartu akses dengan jemari yang terasa sedikit dingin.Aku melangkah menuju deretan lift utama, meniti lantai marmer mengkilap dengan sepasang sepatu hak tinggi yang baru kubeli kemarin. Langkah kakiku terasa kaku dan canggung. Sudah lama sekali aku tidak berpakaian rapi seperti ini—mengenakan rok pensil yang cukup ketat, blazer formal, dan berjalan menembus gedung perkantoran mewah.Ting!Pintu lift di lantai lima belas terbuka. Aku me

  • Antara Kita Bertiga   Bab 54

    "Ah... ahh... Andi, jangan berhenti di situ..." desahku tertahan, suaraku nyaris tenggelam di antara desau napas kami yang saling berkejaran di dalam mobil.Efek alkohol malam itu membakar habis sisa-sisa kewarasan dan logikaku. Aku tidak lagi peduli pada status kami yang sedang dalam proses cerai, ataupun pada kenyataan bahwa pria ini pernah menghancurkan hatiku berkali-kali. Malam ini, rasa sepi yang menghimpit dada serta kebutuhan mendesak untuk dijamah dan dikuasai membuatku melebur sepenuhnya dalam gelombang nafsu yang memabukkan.Begitu mobil mewah Andi tiba di pelataran parkir apartemen Clara, kami bahkan tidak sanggup menunggu untuk sampai ke dalam kamar.Begitu pintu unit apartemen terbuka dan tertutup rapat di belakang kami, bibir kami langsung kembali bertaut dalam ciuman yang jauh lebih buas dan menuntut tepat di depan daun pintu yang masih terkunci. Tangan Andi mencengkeram pinggangku erat, mengangkat tubuhku hingga kakiku melingkar sempurna di pinggangnya. Aku mengalungk

  • Antara Kita Bertiga   Bab 53

    Pagi yang cerah itu seolah membawa udara segar ke dalam paru-paruku yang sejak kemarin terasa sesak. Setelah membaca email panggilan wawancara dari PT Graha Utama, keraguan yang sempat menggelayuti hatiku perlahan-lahan menguap. Tanpa menunggu waktu lama, aku langsung mendial nomor telepon kantor perusahaan tersebut untuk mengonfirmasi jadwal kehadiranku.Suara ramah dari bagian HRD di ujung sambungan telepon memberikan kejelasan yang membuatku bernapas lega. "Baik, Ibu Sherine. Kami tunggu kehadirannya untuk proses wawancara pada lusa pagi ya, pukul sembilan tepat. Jangan lupa membawa berkas lengkap."Lusa pagi! Itu berarti aku hanya punya waktu satu hari penuh hari ini untuk mempersiapkan semuanya dengan sempurna. Mengingat sudah lama sekali aku tidak mengenakan pakaian formal untuk melamar kerja kantoran, lemari bajuku praktis kosong dari pakaian profesional.Tanpa membuang waktu, aku langsung mandi, merapikan diri, dan melangkah keluar menuju pusat perbelanjaan terbesar di kota in

  • Antara Kita Bertiga   Bab 52

    "Jangan pura-pura bodoh kamu!" teriak wanita dewasa itu dengan napas memburu. Ia melangkah masuk begitu saja tanpa diundang, matanya yang memerah dan beringas meneliti setiap sudut ruang tamu apartemen yang kecil itu. Tangannya yang dipenuhi perhiasan bergetar hebat saat menyapu udara, menunjuk-nunjuk ke arah kamar tidurku."Keluar kamu, Clara! Saya tahu suami saya ada di dalam!" tumpah amarahnya, suaranya melengking tinggi hingga menggaung di lorong apartemen yang sepi.Aku terhuyung dua langkah ke belakang, memegangi dadaku yang kaget. "Mbak, tunggu dulu! Tolong tenang! Ini bukan rumah Clara, dan nggak ada siapa-siapa di sini selain aku!""Bohong!" sergah wanita itu histeris. Air mata mulai mengalir deras merusak riasan wajahnya yang mewah. "Dasar wanita tidak tahu diri! Clara itu pelakor! Perempuan tidak punya otak! Mengambil harta suami saya saja tidak cukup, kenapa harus mengambil suamiku sekalian?! Hah?!"Aku terpaku di tempat, lidahku mendadak kelu. Seluruh amarah dan teriakan

  • Antara Kita Bertiga   Bab 51

    Namun, baru deringan pertama berbunyi, akal sehatku tiba-tiba berteriak keras. Aku langsung menjauhkan ponsel dari telinga dan memutus sambungannya sebelum panggilan itu tersambung.Kenapa aku harus menghubunginya? pikirku sinis sambil menatap layar ponsel yang kembali gelap.Kalau itu benar Johan dan dia sedang menghabiskan malam dengan wanita lain, itu justru bagus sekali. Aku jadi benar-benar bebas. Tidak ada lagi bayang-bayang masa lalu, tidak ada lagi rasa bersalah, dan aku tidak perlu lagi merasa takut atau terikat oleh pria yang suka menghantui duniaku dengan janji-janji kosong. Hidupku sudah cukup berantakan oleh kepergian Ayah dan peliknya masalah Clara; aku tidak butuh tambahan racun bernama Johan dalam hidupku.Dengan langkah mantap, aku memutuskan berbalik arah, berjalan meninggalkan trotoar yang dingin itu, dan memesan taksi untuk pulang ke apartemen.Sesampainya di unit apartemen yang sepi, suasana sunyi langsung menyambutku. Aku merebus air hangat, menyeduh secangkir te

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status