Share

Chapter 6

Jihan ingin sekali membalikkan tubuh, saat melihat mobil Tommy berada di depan rumah kontrakannya. Namun akhirnya Jihan mengurungkan niatnya. Jihan berpikir, sejauh apapun ia berlari, Tommy tetap akan menjadi bagian dari hidupnya. Apapun yang terjadi dalam rumah tangga mereka, Tommy tetaplah ayah dari anak-anaknya. Makanya Jihan memutuskan untuk tidak lagi menghindari Tommy. Mereka berdua sudah sama-sama dewasa. Sudah seharusnya kalau mereka bisa duduk berdua dan menyelesaikan masalah mereka secara baik-baik.

Saat Jihan kian mendekati mobil yang terparkir, ternyata mesin mobil dalam keadaan menyala. Itu artinya Tommy saat ini menunggunya di dalam mobil. Dan bukan di rumahnya. Pasti Retno tidak mengizinkan Tommy masuk. ART ibunya itu, ternyata memang bisa diandalkan.

"Kamu dari mana saja, Han?" Melihat kehadirannya, Tommy segera keluar dari mobil.

"Ada urusan sebentar," jawab Jihan singkat. Ia malas berhandai-handai dengan Tommy. Semenjak mengetahui tingkah liar Tommy di luar, Jihan sudah tidak merasa nyaman lagi berdekatan dengan suaminya ini. Jihan melanjutkan langkah ke depan rumah, dan membuka pintu dengan kuncinya sendiri.

"Perut kamu sudah sebesar ini. Untuk apa lagi kamu keluar-keluar rumah sendirian? Bagaimana kalau kamu kenapa-kenapa di jalan?" Tommy yang membuntuti langkahnya kembali sok menasehati. Jihan mual mendengar kekhawatiran Tommy yang terlambat padanya.

"Ya tidak bagaimana-bagaimana. Di jalanan itu banyak orang. Kalaupun Jihan kenapa-kenapa, pasti akan ada orang yang menolong," sahut Jihan acuh. Sungguh, ia sedang lelah lahir batin saat ini. Rasa kecewa akibat tidak mendapatkan warung incaran membuat moodnya terjun bebas. Ia sedang tidak butuh basa basi busuk sekarang.

Jihan mengeluarkan serenceng kunci dari tas tangannya. Ia sengaja tidak memanggil Retno untuk membuka pintu, karena tidak ingin membangunkan Niko. Jam-jam seperti ini adalah jam putranya itu tidur siang. Benar saja. Setelah pintu terbuka, tidak terdengar suara apapun dari dalam rumah. Pasti keduanya tengah tertidur.

Jihan menghempaskan pinggul perlahan ke atas tikar. Sungguh ia begah sekali duduk dalam posisi menyamping seperti ini. Perut buncitnya tertekan oleh pahanya sendiri. Belum lagi pinggangnya serasa patah karena harus menahan posisi punggungnya. Jujur, pada saat-saat seperti ini ia merindukan sofa empuknya. Hidup sederhana memang membutuhkan perjuangan luar biasa. Kenyataan memang semiris itu.

"Kamu itu dari dulu selalu begitu. Selalu menggampangkan masalah. Mereka itu orang lain. Bukan siapa-siapamu. Jangan terlalu yakin." Tommy ikut duduk bersamanya di atas tikar.

"Orang lain juga mempunyai hati nurani kok, Mas. Malah terkadang orang-orang mengenal kita dengan baik yang justru tidak punya nurani. Jangan suka suudzon dengan orang yang bahkan tidak Mas kenal."

"Kamu menyindir Mas, Jihan?" Tommy meradang. Jihan hanya melirik Tommy dengan pandangan skeptis.

"Mas merasa begitu ya? Jihan sih tidak berniat menyindir Mas. Tapi kalau Mas merasa, mungkin karena hal itu benar adanya. Makanya Mas jadi merasa terganggu. Aduh!" Jihan meringis. Kakinya sekarang terasa kram. Mungkin karena hari ia terlalu banyak berjalan. Semenjak hamil tua, ia memang sering sekali mengalami kram. Punggung kakinya juga membengkak. Menurut dokter Wita Sp. Og, karena perubahan kadar hormon selama kehamilan,

memicu tubuhnya menahan lebih banyak cairan dan garam. Hal tersebut memang biasa terjadi pada ibu hamil katanya.

"Kamu kenapa, Han? Kram ya?" Tommy beringsut mendekati Jihan. Berniat untuk memijat-mijat kakinya seperti dulu.

"Jihan nggak apa-apa, Mas." Jihan mengibaskan tangan. Mengisyaratkan kalau ia menolak untuk disentuh. Tommy mengetatkan geraham. Ia mengenali aroma-aroma tidak mengenakkan. Jihan tidak mau lagi ia dekati. Padahal biasanya Jihan suka sekali membauinya. Jihan dulu tidak segan-segan menciumi pangkal lengannya walaupun ia belum mandi. Terkadang ia sampai merasa tidak enak sendiri karena bau dan kotor. Bangaimanapun aroma pangkal lengan itu tidak enak bukan? Tapi Jihan dulu tidak pernah mempermasalahkannya.

Namun sekarang Jihan bersikap seolah-olah dirinya adalah seonggok bangkai yang menjijikkan. Bagaimana ia tidak tersinggung karenanya?

"Mengapa kamu bersikap seperti ini pada suamimu sendiri, Han? Bukankah kamu dulu selalu mengatakan bahwa karena cintamu pada Mas, maka kamu senantiasa akan menerima kekurangan Mas. Lantas mengapa saat Mas terpeleset sekali saja seperti ini, kamu tidak bersedia memaafkan Mas?" desis Tommy kecewa. Sungguh ia tidak mengira kalau perselisihan mereka kali ini, akan berakhir berbeda. Jihan tidak bersedia lagi memaafkannya seperti yang dulu-dulu. Sebagai pasangan suami istri tentu saja mereka terkadang berselisih paham. Namun biasanya Jihan akan mengalah, dan mereka akan berbaikan kembali. Tommy tidak terbiasa melihat sikap Jihan yang keras kepala seperti ini.

"Cukup main dramanya ya? Mas. Sungguh, Jihan sedang capek dan banyak pikiran. Mas pasti tau kalau Jihan anti drama-drama murahan. Dengar ya, Mas. Jihan tau kalau Mas bukan hanya sekali terpeleset affairs dengan Diana. Jihan sudah membaca semua chat-chat dari perempuan-perempuan yang biasa Mas pakai. Jadi berhentilah bersikap playing victim. Jihan muak!"

"Kamu... bagaimana kamu soal-soal mereka itu," Tommy tergagap. Sungguh ia tidak mengira kalau Jihan mengetahui kegilaan sesekalinya. Kartu As-nya telah diketahui Jihan. Kalau sudah seperti ini, semua rencananya bakalan berantakan.

"Dari ponsel Mas yang ketinggalan di ruang kerja tentu saja. Mas bingung ya kenapa ponsel keramat Mas itu tiba-tiba hilang?" Jihan berdecih. Ia meraih tas tangannya dan mengeluarkan ponsel rahasia Tommy.

"Ini. Jihan kembalikan ponsel penuh dosa Mas ini pada empunya. Mas, memang Jihan pernah bilang kalau cinta itu senantiasa menerima kekurangan. Namun ketidaksetiaan bukan salah satunya. Ingat itu Mas."

Jihan menghentikan kalimatnya saat mendengar suara tangisan dari dalam kamar. Pasti Niko terbangun karena mendengar suara pertengkaran mereka. Baru saja Jihan bermaksud untuk mengecek keadaan Niko, pintu kamar telah lebih dulu terbuka. Retno keluar dari kamar sembari menggendong Niko yang masih menangis. Melihat kehadiran Niko, Tommy langsung berdiri.

"Lho anak Ayah kok nangis sih?" Tommy menghampiri Niko dan meraup putra tampannya itu dari buaian Retno. Sungguh, Tommy sangat merindukan putra semata wayangnya ini. Sudah dua minggu lamanya mereka berpisah. Sebelumnya ia tidak pernah berpisah selama ini dengan Niko. Keluar kota pun paling lama ia lakoni hanya tiga atau lima hari. Kerinduan Tommy membuncah.

"Ayah," Niko seketika mengalungkan kedua lengan gemuknya ke leher Tommy. Menyembunyikan wajahnya dilekukan leher ayahnya.

"Ayah datang juga," Niko memeluk Tommy erat. Jihan menekan dadanya perlahan. Setidak respek-tidak respeknya ia pada Tommy, ia tau bahwa Tommy adalah sumber kebahagiaan putranya. Niko pasti sangat kehilangan Tommy selama dua minggu ini. Hanya saja, ia belum mampu menunjukkan perasaannya. Namun melihat eratnya kedua tangan gemuk Niko memeluk leher Tommy, nuraninya tersentuh. Ayah dan anak memang tidak seharusnya dipisahkan. Apapun urusan di antara kedua orang tuanya, bagi seorang anak, keduanya adalah orang yang sama-sama ia cintai. Oleh karena itu Jihan juga tidak ingin memisahkan mereka berdua. Seperti apapun hubungannya dengan Tommy kelak, Niko tetap akan mendapatkan kasih sayang dari mereka berdua.

"Maaf Bu. Tadi saya sudah berusaha membujuk Niko di kamar. Tapi Niko tetap ingin keluar. Ia mau bersama ayah, katanya." Retno berdiri dengan perasaan serba salah.

"Tidak apa-apa, Retno. Niko pasti kangen dengan ayahnya. Ya sudah, kamu buat minum kopi untuk Bapak ya? Gulanya satu sendok teh saja."

Hati Tommy menghangat saat Jihan tidak mempersulitnya bertemu dengan Niko. Istimwa Jihan juga meminta Retno untuk membuat kopi yang sesuai dengan seleranya. Ini adalah sebuah pertanda baik. Mudah-mudahan saja Jihan bersedia kembali kepelukannya setelah amarahnya mereda.

"Kamu lihat sendiri 'kan, Han. Niko ini membutuhkan Mas. Sebaiknya-baiknya pertumbuhan seorang anak adalah jikalau ia diasuh oleh kedua orang tuanya."

"Setuju, Mas. Makanya Jihan tetap akan memberikan akses pada Mas untuk tetap bisa menemui Niko, sesuai dengan peraturan yang kita berdua sepakati nantinya. Bercerai itu adalah perihal kita berdua. Niko tidak termasuk di dalamnya." Jihan menjawab dalam posisi tetap duduk menyamping di tikar. Untuk langsung berdiri ia agak kesulitan.

Mendengar jawaban diplomatis Jihan membuat Tommy geram. Jihan sekarang keras kepala sekali.

"Kalau kamu bersikeras ingin bercerai itu artinya kamu tidak menyayangi Niko. Kamu egois. Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri!"

Jihan tersenyum sumir saat mendengar argumen Tommy. Ia paling muak mendengar pembelaan diri berdasarkan perpektif cara pandang picik seorang pecundang. Jihan belum ingin menjawab pertanyaan Tommy. Karena ia tidak ingin Niko menyaksikan perselisihan kedua orang tuanya. Jihan menunggu hingga Retno menyuguhkan secangkir kopi. Setelahnya Jihan meminta Retno membawa Niko berjalan-jalan di luar dulu, sebelum ia kembali menghadapi Tommy.

"Mas bilang kalau Jihan tidak menyayangi Niko, egois dan mau menang sendiri. Lantas perbuatan Mas saat berkali-kali mencari kehangatan dari wanita lain itu disebut apa? Oalah Mas... Mas... kalau mau menelanjangi kesalahan orang itu, mbok ya, celana Mas dipakai dulu. Mas menunjuk-nunjuk ketelanjangan orang, tapi Mas sendiri tidak memakai celana. Eling Mas, eling."

Air muka Tommy menghitam mendengar ejekan Jihan. Terbiasa diperlakukan bagai seorang raja, membuat Tommy meradang kala kecerdasannya dipertanyakan.

"Tidak usah sok pintar kamu. Kamu pikir kamu itu sudah hebat sekali bisa mendebat Mas. Bagi Mas, kamu itu tetap perempuan bodoh yang tidak tau apa-apa. Tidak usah sok memakai istilah-istilah intelek pada Mas!" Tommy berdecih. Ia paling membenci perempuan-perempuan feminis yang sok merasa lebih hebat dari laki-laki. Jihan ini istrinya. Ia tau sampai sebatas mana kecerdasan istrinya.

"Jihan bukan sok pintar, Mas. Jihan hanya mengungkapkan fakta. Lagi pula Jihan memang pintar kan Mas? Mas lupa kalau Jihan ini lulusan cum laude? Semua dosen-dosen Jihan dulu mengakui kepintaran Jihan. Mengapa Mas yang lulus dengan IP dua koma sekian berani mengatai Jihan bodoh?"

Wajah Tommy kian busuk. Ia emosi saat IP zaman kuliahnya dibawa-bawa. IP toh tidak menjamin kesuksesan seseorang. Buktinya ia juga bisa menjadi pengusaha sukses dengan IP pas-pasan.

"Banyak ngomong kamu! Walau kamu lulusan cum laude, tapi kamu jadi apa sekarang? Ibu rumah tangga yang tiap bulan mengemis uang belanja pada Mas 'kan? Tidak usah sok hebat kamu!"

"Cukup, Mas. Mas tidak perlu berbicara lagi. Jangan membuat Jihan semakin kehilangan respek mendengar argumen picik tidak berdasar Mas ini. Satu hal yang harus Mas ketahui. Jangan memaksa Jihan untuk jongkok, hanya karena Mas ingin terlihat tinggi."

Jihan menjawab dengan suara tercekat. Sungguh sebenarnya Jihan sedang menahan sakit. Kaki dan pinggangnya nyeri sekali. Ia sudah cukup lama duduk dalam posisi seperti ini. Hanya saja ia tidak ingin memperlihatkan penderitaannya di depan Tommy. Jihan takut kalau Tommy akan semakin menekannya.

"Baik! Kalau kamu sekarang merasa sudah hebat, Mas akan mengikuti apa maumu. Kamu ingin bercerai? Tidak masalah! Toh kamu sendiri yang akan menderita. Akan Mas lihat berapa lama kamu sanggup hidup di gubuk reot seperti ini. Satu hal yang pasti. Jangan harap Mas akan membiayai kamu lagi!"

Tommy segera berlalu setelah membanting pintu. Jihan yang kaget hanya bisa mengelus dada. Perlahan ia mencoba berdiri dan berjalan tertatih-tatih menuju kamar. Pinggangnya serasa akan patah, karena duduk di atas tikar cukup lama. Baru saja ia duduk di ujung ranjang, ponsel di tas tangannya berbunyi. Jihan memanjangkan lengan. Meraih tas tangannya. Pasti ibunya yang menelepon. Menanyakan keadaannya hari ini. Bola mata Jihan membesar saat melihat nama Pak Imran di layar ponselnya. Semoga saja kabar baiklah yang akan diberitakan Pak Imran.

"Assalamualaikum Pak Imran. Ada apa Bapak menelepon saya?" Jihan menyapa dengan jantung berdebar.

"Walaikumsalam, Bu. Saya mau mengabarkan kalau Ibu bisa berjualan di warung saya."

"Alhamdullilah. Bapak tidak jadi menjualnya ya? Kalau begitu saya ke sana sekarang ya, Pak? Saya ingin memberikan uang sewanya pada Bapak saat ini juga." Sambil menelepon Jihan berusaha berdiri. Ia akan ke warung sekarang juga. Ia takut kalau Pak Imran kembali berubah pikiran. Kalau ia sudah memberikan uang sewanya, sudah ada kekuatan hukum di sana. Pak Imran jadi tidak bisa membatalkan perjanjian lagi.

"Boleh, Bu. Saya tunggu ya? Eh tunggu sebentar ya, Bu?"

Jihan memegang dadanya saat Pak Imran memintanya menunggu sebentar. Jangan-jangan Pak Imran berubah pikiran lagi. Apalagi samar-samar Jihan mendengar Pak Imran sedang berbicara dengan seorang laki-laki. Mungkin Pak Azzam. Pasti penawaran Pak Azzam tidak sesuai dengan harapan Pak Imran. Makanya Pak Imran tidak jadi menjualnya.

"Begini, Bu. Ibu tidak usah ke sini lagi. Saya sudah menyetujui akan menyewakan warung ini pada Ibu. Ibu tidak usah khawatir. Besok saja Ibu ke warungnya. Oh iya, saya akan merenovasi warung ini dulu supaya lebih bagus."

Renovasi? Berarti uang keluar lagi!

"Maaf saya potong dulu. Warungnya tidak usah direnovasi lagi, Pak. Saya... saya... tidak punya uang lagi untuk membayar biaya renovasinya."

"Hehehe. Biaya ini semua sudah ditanggung kok, Bu. Ibu tidak perlu membayar apapun lagi. Ibu tinggal terima bersih, pokoknya."

Alhamdullilah. Jihan mengucapkan kata terima kasih dengan suara tersendat. Air matanya mengalir tidak terkendali. Ternyata Allah tahu apa yang terbaik buat umatnya dan kapan waktu yang tepat bagi unatnya untuk memilikinya. Alhamdullilah.

Comments (4)
goodnovel comment avatar
Cilon Kecil
kesel banget sama Tommy pengen bejek² sampai hancur rasanya
goodnovel comment avatar
ririt putri
bagus tapi kelanjutannya di kunci
goodnovel comment avatar
Irma Sari
kereeenn sekli crta ny
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status