Share

Bab 7 - Keputusan Raka

Penulis: Ahong
last update Tanggal publikasi: 2026-04-11 12:45:51

"Kamu mau atau tidak? Kalau tidak–"

"Sa-saya mau! Mau Bu!"

Senyum kecil akhirnya muncul di bibir Melaine, membawa lega yang tak bisa ia sembunyikan.

Selama berhari-hari, pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Kekhawatiran itu terus berputar, menyesakkan dada tanpa ampun.

Tapi hari ini—saat jawaban itu akhirnya datang—segala beban yang menghimpitnya runtuh seketika. Yang tersisa hanyalah kelegaan—hangat, luas, dan menenangkan.

Melaine berdehem, buru-buru mengondisikan diri. "Tadi kamu bilang kalau ibumu dirawat di rumah sakit ini? Memangnya ibumu sakit apa?"

Belum sempat Raka menjawab, Melaine menebak. "Dan pasti biaya besar yang sedang kamu butuhkan saat ini... untuk ibumu?"

Dengan perasaan campur aduk, Raka mengangguk. Akhirnya, menceritakan tentang penyakit sang ibu, tentang operasi transplantasi dan juga biayanya.

Serta tak tahan mengungkapkan kekecewaannya sebab dirinya tidak lolos intern yang menyebabkan harapan memiliki pekerjaan tetap dan mengajukan pinjaman ke bank gagal.

Demikian, Raka masih berharap manager divisinya itu iba dan mungkin...

"Sudah saya katakan kalau pekerjaan yang saya berikan padamu ini jauh lebih baik karena kamu akan dapat uangnya dengan cepat daripada kamu menjadi karyawan tetap di Vantrex Corp! Dan saya rasa kalau pun kamu keterima, belum tentu kamu akan langsung dapat uang yang sedang kamu butuhkan itu dengan cepat. Dan kalau kamu bekerja pada saya, saya akan kasih kamu bayaran tiga ratus juta diawal sebagai bayaran pertamamu." Suara Melaine tegas penuh penekanan.

Sedangkan Raka membelalak tak percaya. Tentu, baginya itu uang yang jumlahnya sangat banyak. Malahan lebih banyak daripada yang ia butuhkan!

"A-apa? Ti-tiga ratus juta? Anda akan memberikan bayaran pertama tiga ratus juta kepada saya?" ulang Raka terbata, seakan hendak memastikan ia tidak salah dengar.

Mendapati Melaine mengangguk dengan ekspresi wajah serius, Raka menelan ludah susah payah, menandakan kalau bossnya tidak main-main.

"Maaf kalau saya lancang, apakah saya bisa nerima uang setengahnya dari itu dalam tujuh hari lagi? Karna pihak rumah sakit memberikan saya tenggat waktu–"

"Nggak perlu nunggu sampai tujuh hari lagi, Raka. Besok juga kamu udah terima uangnya. Semuanya. Tiga ratus juta... cash!" potong Melanie. Nadanya sinis meremehkan.

Mata Raka pun kian melebar. Sampai-sampai butuh waktu sepersekian detik untuk mencernanya.

"Lebih cepat lebih baik, bukan?" Melaine mengangkat sebelah alisnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum penuh arti. "Dengan begitu, kamu bisa langsung membayarkan uang mukanya dan ibumu akan segera dioperasi dan tentu, bisa sembuh lebih cepat. Pasti itu yang kamu mau."

Mendadak, Raka merasa tak karu-karuan. Disaat bersamaan, matanya memanas sebab terharu.

"Terima kasih banyak, Bu... terima kasih banyak... " ujar Raka tulus dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. "Saya tidak peduli mengapa Ibu melakukan hal itu dan memilih saya, karena yang penting, ibu saya segera dioperasi dan bisa sembuh."

"Bagus kalau kamu tidak memilih kepo."

Tanpa menoleh ke arah Raka begitu berdiri, Melaine angkat bicara lagi. "Kalau begitu kita ketemu lagi besok dan bicarakan hal-hal yang perlu kita bahas lagi besok."

Melaine pun meninggalkan Raka yang kini berdiri mematung menatap sosok boss wanitanya yang secara perlahan menghilang dari pandangannya seraya menghembuskan napas lega berkali-kali.

***

Keesokan harinya, di sebuah kafe privat yang tenang, tampak Raka duduk sendirian di sudut ruangan.

Tatapannya sesekali akan mengarah ke pintu masuk, lalu kembali menunduk, sesekali mengecek ponsel, seolah menimbang sesuatu dalam pikirannya.

Wajahnya tenang, tapi sorot matanya menyimpan banyak hal—harapan, keraguan, dan sedikit kecemasan yang ia coba sembunyikan.

Keberadaan Raka di situ tak lain tengah menunggu kedatangan Melaine.

Sesuai perkataan Melaine kemarin jika keduanya akan membahas perjanjian pernikahan kontrak lebih lanjut dan pagi menjelang siang ini, keduanya akan membahasnya di kafe tersebut.

Di saat ini, pintu kafe tiba-tiba terbuka, memecah keheningan yang sejak tadi menyelimuti ruangan, menampilkan sosok wanita cantik.

Melaine datang dengan balutan pakaian kantor yang rapi namun tetap menonjolkan siluet tubuhnya. Ia mengenakan blus fit berwarna terang dengan potongan sederhana, dipadukan dengan rok pensil gelap yang jatuh pas di atas lutut. Blazer tipis melengkapi tampilannya, sementara sepatu hak tinggi memberi kesan tegas dan percaya diri disetiap langkahnya.

Sementara Raka sempat terpana tatkala melihat kedatangan wanita yang selalu menjadi buah bibir orang-orang kantor kini datang hanya untuknya.

Meski galak dan sedikit menyeramkan, tapi Melaine memang benar-benar cantik dan seksi...

Tidak kusangka kalau aku udah pernah berhubungan badan dengannya... walau terpaksa sih... ah apa yang kamu pikirkan Raka? Fokus fokus!

Selagi Raka menghalau pikiran ngawurnya, Melanie sudah duduk di depannya tanpa menyapa atau sekadar basa-basi terlebih dahulu.

Setelah sibuk dengan dirinya sesaat, wanita itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tas dan meletakkan sebuah map cokelat tebal di atas meja.

Ia mendorong map itu perlahan ke arah Raka. "Ini kontraknya. Bisa kamu cek dan baca dulu."

Seketika pandangan Raka beralih pada map tersebut. Menduga kalau itu adalah kontrak perjanjian menjadi suami sewaan!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Asisten Rahasia Sang Bos Cantik   Bab 20 - Niat Balas Dendam

    "Enggak enak aja sama saudaraku, Mel." Raka menghembuskan napas pelan. "Aku juga enggak nyangka kalau suadaraku masih ingat dengan kami karna udah lama sekali kami putus hubungan dan setahuku, dulu suadaraku itu bukan orang kaya, sama susahnya dengan kami. Makanya, aku juga enggak minta tolong sama saudaraku itu. Tapi ternyata dia udah jadi orang kaya sekarang." Melanie manggut-manggut, ia kembali menghadap depan. "Oh begitu, bagus deh. Tadinya kalau suadaramu belum membayarkan biaya operasi ibumu, aku akan membayarkannya. Aku ikut senang karna Ibumu dioperasi. Dengan begitu, kamu bisa fokus dengan tugasmu padaku setelah ini." Melaine tidak bohong. Ia akan melakukannya. Tujuannya semata supaya Raka tambah terikat padanya dan tak ada alasan untuk berbuat macam-macam. Raka yang mendengarnya tersenyum tipis. Mulai berpikir bahwa datangnya orang-orang yang mengulurkan tangan padanya saat ini karena keuntungan mata giok yang ia miliki. "Ngomong-ngomong... gimana orang tuamu? Apa kamu

  • Asisten Rahasia Sang Bos Cantik   Bab 19 - Operasi Transplantasi Jantung Arumi

    Lampu merah di atas ruang operasi akhirnya padam setelah berjam-jam lamanya. Beberapa menit kemudian, pintu ruang operasi terbuka yang menampilkan sosok seorang dokter keluar dari dalam. Raka yang sejak tadi duduk tegang di kursi lorong dengan mata merah, rambut berantakan langsung berdiri dan bergegas menghampirinya. "Bagaimana, Dok? Apakah operasi Ibu saya berjalan lancar?" tanya Raka tak sabaran. Dokter itu melepas masker dan tersenyum tipis, "Operasi Ibu anda berjalan lancar." Mendengar itu, napas Raka seketika seperti kembali setelah ditahan berjam-jam. Pertama kalinya sejak pagi ketegangan di wajahnya sedikit menghilang. "Jantung donor merespons dengan baik, Mas. Sekarang pasien hanya perlu melewati masa." "Terima kasih, Dok…" suara Raka serak hampir seperti kehilangan tenaga. "Sama-sama." Tak lama kemudian, ranjang dorong keluar dari ruang operasi. Arumi terlihat pucat dengan berbagai alat medis terpasang, napasnya dibantu oksigen, dan matanya masih tertutup karena pe

  • Asisten Rahasia Sang Bos Cantik   Bab 18 - Pria Misterius

    Pagi itu, lorong rumah sakit sudah disibukan oleh perawat yang berlalu-lalang mendorong troli, suara langkah kaki dan roda tempat tidur bercampur dengan aroma antiseptik yang menusuk samar. Di saat ini, tampak Raka berdiri di depan meja administrasi dengan wajah tegang. Hari operasi transplantasi jantung Ibunya akhirnya tiba. Tentu saja Raka sangat bahagia dan lega. Tapi satu hal yang paling mengganggu pikirannya sejak awal hanyalah satu–yaitu biayanya. Sebenarnya, ketika ia sudah mendapatkan uang mukanya, ia tidak benar-benar bisa lega sebab masih ada sisa biaya yang jauh lebih besar. Uang muka itu belum seberapa. Satu nama langsung menjadi jawaban ketika ia memikirkan dari mana ia mendapatkan biaya operasi itu. Tak lain dan tak bukan adalah Melaine. Namun, Raka juga tidak yakin kalau Melaine akan memberikan uang dalam jumlah miliaran. Ia sudah mendapatkan bayaran pertama dari menjadi suami kontrak. Jemari Raka kini sedikit mengepal, rahangnya terkatup rapat. "Maaf… berapa tota

  • Asisten Rahasia Sang Bos Cantik   Bab 17 - Leluhur Mata Giok

    Pria tua bernama Jayasena itu berdiri tenang di tengah bias cahaya hijau seperti sosok yang tidak sepenuhnya berasal dari waktu yang sama. Tubuhnya tinggi dan kurus, rambutnya panjang berwarna putih keperakan diikat rendah di belakang kepala dengan tali sederhana. Pakainnya kuno jauh dari gaya modern. Ia mengenakan jubah panjang berlapis berwarna abu-abu yang sudah memudar oleh waktu. Kainnya tampak tebal dengan tekstur kasar seperti tenunan lama. Kakinya dibalut sepatu kain sederhana, model lama yang hampir tak pernah terlihat di zaman sekarang. Keseluruhan penampilannya seperti seseorang yang berjalan keluar dari masa lalu, bukan sekadar tua, tapi berasal dari era yang sudah lama hilang. Dan auranya benar-benar kuat. Seperti seseorang yang pernah memegang kekuatan besar. "Anda adalah leluhur mata giok?" tebak Raka. Jayasena tersenyum tipis, dagunya terangkat. "Bisa dibilang begitu," Raka termangu. Lalu ia memperhatikan ke sekeliling. Tempat apa ini? Apakah ia sedang bermimpi?

  • Asisten Rahasia Sang Bos Cantik   Bab 16 - Mimpi Aneh

    "Kamu enggak apa-apa?" tanya Raka. Melaine yang kini tengah menundukan kepalanya mendongak, segera mengusap air matanya yang menggenang dan menggeleng. "Aku enggak apa-apa." Raka memberanikan diri merangkul dan mengusap lengan Melaine. "Kamu enggak sendirian. Ada aku di sini." Melaine mendelik, "Singkirkan tanganmu, Raka," bisiknya tegas. Tanpa menoleh ia menambahkan. "Jangan cari kesempatan dalam kesempitan!" Raka tertegun sebelum kemudian langsung menarik tangannya. "Maafkan aku, Melaine. Aku hanya ingin memberitahumu kalau kamu enggak sendirian." Melaine menatap Raka tajam. "Udah aku bilang kalau aku enggak apa-apa. Lagi pula tadi itu cuma akting." Raka menghembuskan napas kasar. Lalu ia mengedikan bahunya. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Raka hati-hati. Ia menoleh ke arah pintu yang tadi digunakan untuk keluar masuk kedua orang tuanya Melaine. "Orang tuamu enggak setuju. Apa kamu punya rencana lain?" Tanpa menatap ke arah Raka, Melanie menjawab. "Masalah itu bia

  • Asisten Rahasia Sang Bos Cantik   Bab 15 - Kemarahan Kedua Orang Tua Melanie

    Arman refleks berdiri yang membuat kursi yang didudukinya bergeser tajam. "Kalau itu keputusanmu, dengar baik-baik, Melaine. Sampai kapan pun, papa tidak akan pernah memberikan restu dan mengakui pernikahan kalian." Tangan Arman menunujuk Raka, tapi tatapannya masih lurus ke arah putrinya. "Selama kamu memilih dia, kamu bukan bagian dari keluarga ini dan jangan harap kamu masih bisa menyandang nama keluarga ini dengan bangga." Melaine terbeliak. Darahnya berdesir panas. Ia tidak menyangka sang Ayah akan memutuskan hal demikian. Perkataannya terasa begitu menyakitkan. Belum sempat Melaine angkat bicara, Ratna menimpali lebih dulu, suaranya sama menusuknya. "Itu berarti kamu tidak akan bisa menikmati semua fasilitas keluarga, nama Adipratama juga tidak akan melindungimu lagi." Ratna menunjuk ke arah Raka dengan nada merendahkan. "Lihat baik-baik siapa pria yang kamu pilih ini. Dia akan membuatmu sengsara. Sebelum semuanya terlambat, nurut sama mama dan papa atau kamu akan menyesal

  • Asisten Rahasia Sang Bos Cantik   Bab 9 - Godaan Dari Sang Atasan

    Kamar hotel itu terasa seperti dunia yang terpisah dari hiruk-pikuk luar—sunyi, elegan, dan penuh kemewahan yang tidak berisik, tapi begitu terasa. Lantai marmer mengilap, lampu gantung kristal, dinding yang dihiasi panel kayu berwarna hangat dengan sentuhan emas, ranjang king-size dengan seprai p

  • Asisten Rahasia Sang Bos Cantik   Bab 8 - Isi Kontrak

    "Durasi satu tahun. Pernikahan legal. Kamu akan tinggal bersamaku selama itu. Di depan publik, keluarga dan kolega, kamu adalah suamiku!" ujar Melaine dingin sekaligus tegas. Melaine mencondongkan tubuh dengan kedua tangan terlipat di depan dada, pandangannya memicing. "Tapi di mataku, kamu nggak

  • Asisten Rahasia Sang Bos Cantik   Bab 6 - Tawaran Pernikahan Kontrak Dari Melanie

    "Halo, ada apa Bu—""Temui saya sekarang!" suara Melanie yang dingin, cepat dan tanpa kompromi itu langsung menyambutnya di sebrang sana.Mengingat kebuntuan yang tengah dihadapinya, Raka hanya bisa menghela napas berat."Ada yang mau saya bicarakan padamu. Ini penting!"Wajah Raka tak berdaya sela

  • Asisten Rahasia Sang Bos Cantik   Bab 5 - Operasi Transplantasi Sang Ibu

    Sepulang dari kantor, Raka langsung melesat ke rumah sakit tempat ibunya dirawat.Saat Raka membuka pintu kamar rawat ibunya, suara oksigen dan detak monitor menyambutnya.Di ranjang pasien, wajah seorang wanita paruh baya menoleh perlahan ke arahnya. Sang ibu.Matanya yang dulu hangat kini redup,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status