Share

Bab 3

Penulis: Serena
Kalau kupikir-pikir sekarang, daripada membuang waktu untuk hal seperti itu, lebih baik aku bekerja lebih keras dan memikirkan cara menghasilkan uang. Bagaimanapun juga, hati manusia mudah berubah, tetapi uang tidak akan pernah mengkhianati diri sendiri.

Memikirkan hal itu, aku langsung meninggalkan perusahaan sambil memikirkan langkah selanjutnya setelah pergi.

Mobilku baru saja keluar dari parkiran ketika ponselku berbunyi dua kali. Setelah kubuka, ternyata notifikasi pembayaran.

Rangga kembali menggesek kartuku sebesar 400 juta.

....

Semua orang mengira aku bersama Rangga karena uangnya.

Padahal kenyataannya, semua kartuku ada di tangannya. Dia bilang uangnya harus dipakai untuk perusahaan, jadi selama bertahun-tahun, semua pengeluaran rumah tangga memakai gajiku dan penghasilan sampinganku.

Aku selalu berpikir rumah tangga harus dijalani bersama. Tidak perlu perhitungan siapa yang memberi lebih banyak dan siapa yang memberi lebih sedikit. Karena itu, aku tidak pernah mempermasalahkannya.

Sampai belum lama ini aku menyadari, penghasilanku jelas tinggi, tapi aku tidak pernah punya tabungan. Bahkan sering merasa uangku selalu kurang.

Aku benar-benar tidak tahan dan akhirnya mengecek rincian rekening. Baru saat itu aku tahu, Rangga sering memakai kartuku untuk membelikan hadiah bagi Wina.

Rangga pernah memberinya lipstik edisi terbatas seharga jutaan, tas merek terkenal seharga puluhan juta, bahkan pada hari ulang tahun Wina dia menghabiskan ratusan juta untuk memesan hotel bintang lima sebagai tempat perayaan.

Namun selama bertahun-tahun, aku memakai pakaian yang sama sampai dua tahun lamanya dan dia tidak rela membelikanku yang baru. Hadiah lebih dari ratusan ribu saja dia sudah mengomel mahal. Dia hanya menuliskan kartu ucapan seadanya untukku, lalu berkata harus berhemat demi masa depan kami.

Aku tidak bisa menahan diri dan mempertanyakannya. Wajah Rangga langsung menjadi muram. Dia memarahiku karena tidak percaya padanya, lalu kembali berperang dingin denganku, bahkan berkata tidak akan lagi memakai uangku sepeser pun.

Mengingat itu, aku tetap menelepon Rangga.

Namun setelah menelepon lebih dari sepuluh kali, dia sama sekali tidak mengangkat. Melihat hal itu, aku tidak ragu lagi. Aku langsung pergi ke bank dan memblokir kartu ATM-ku.

Kurang dari satu menit kemudian, Rangga segera menelepon balik.

"Tadi aku sedang sibuk, nggak lihat teleponmu. Ada apa?" katanya berpura-pura polos.

Nada bicaraku tetap tenang. "Sudah nggak apa-apa."

"Oh."

"Kartumu ada masalah, dibekukan," katanya.

"Aku tahu." Aku tidak menutupinya dan langsung berkata jujur, "Aku yang memblokirnya."

"Kenapa kamu tiba-tiba blokir kartu? Nggak ada kerjaan, ya."

"Anggap saja begitu. Tapi, bukannya dulu kamu bilang nggak akan lagi memakai kartuku?"

Rangga terdiam sejenak. Dulu aku tidak pernah mempermasalahkan uang dengannya.

Saat perusahaan baru berdiri dan belum lama berjalan, aku sempat sakit parah. Biaya operasinya 200 juta. Tepat saat itu, tanpa sepengetahuanku, dia menginvestasikan seluruh uang yang kami punya ke sebuah proyek dan semuanya habis tak bersisa.

Dia mengira aku akan marah. Dengan mata berkaca-kaca, dia meminta maaf padaku.

Namun, aku hanya menghiburnya dan mengatakan bahwa uang hanyalah masalah kecil. Uangku selalu bisa dia pakai lebih dulu. Aku pikir ketulusan akan dibalas dengan ketulusan dan hubungan kami akan semakin kokoh.

Ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Aku membuatnya semakin tidak tahu batasan.

Namun, Rangga tampaknya tidak memikirkannya sejauh itu. Setelah terdiam dua detik, dia menghela napas. Nada bicaranya terdengar seolah dia benar.

"Sudahlah, aku tahu. Kamu masih menyalahkanku karena nggak pergi bulan madu sama kamu, jadi sekarang kamu ngambek."

"Nabila, aku kira kamu sudah jadi lebih dewasa. Ternyata tetap saja berhati sempit."

"Aku janji, setelah urusan ini selesai, aku pasti tinggalkan semua pekerjaan dan pergi bulan madu dengan kamu, puas?"

"Aku nggak bawa kartu waktu keluar kali ini. Sekarang kamu pergi buka blokirnya. Jangan kekanak-kanakan. Acara nanti benar-benar penting."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Asisten Suamiku Adalah Maut Rumah Tanggaku   Bab 12

    Namun, di belakangku terdengar tangisan keras yang memilukan. Dalam tangisan itu ada penyesalan dan keputusasaan. Akan tetapi aku tahu, itu bukan karena dia benar-benar menyesal. Dia hanya tidak menyangka akan menerima konsekuensi seperti ini.Sekalipun waktu diputar ulang, dia tetap akan memilih jalan yang sama.Sesuai dugaan, gugatan Rangga akhirnya kalah. Pihak lawan menuntut ganti rugi tiga kali lipat dari uang muka, totalnya hampir miliaran.Dana perusahaan tidak mencukupi. Rangga mengeluarkan seluruh tabungannya dan menjual semua barang berharga, tetapi masih kurang ratusan juta. Terpaksa dia memutuskan menjual rumah kecil yang dulu diam-diam dibelinya.Namun saat hendak menjualnya, dia baru sadar bahwa nama di sertifikat sudah berganti.Tertulis atas nama Wina Putri.Saat kabar itu diketahui, tidak ada yang benar-benar terkejut. Dulu Rangga begitu memercayainya. Mengurus balik nama rumah tentu bukan hal sulit."Kak Rangga, dulu kamu sendiri yang bilang rumah ini mau kamu berikan

  • Asisten Suamiku Adalah Maut Rumah Tanggaku   Bab 11

    Saat menerima surat panggilan pengadilan, Rangga kembali datang mencariku untuk meminta bantuan.Hujan turun deras. Dia berdiri di bawah hujan, berteriak dan menangis sampai suaranya pecah. Dia terus meminta maaf, memohon agar aku memberinya satu kesempatan lagi dan bersumpah tidak akan pernah mengulangi kesalahan seperti ini.Aku menutup tirai dan memakai penutup telinga, lalu berbaring di atas kasur empuk.Aku tidak merasa iba sedikit pun. Dia hanya kehujanan satu malam. Sedangkan lima tahun pernikahanku ini adalah musim hujan yang panjang tanpa henti.Kupikir jika aku tidak keluar, dia akan malu sendiri dan pergi. Namun sampai fajar menyingsing keesokan harinya, Rangga masih berdiri di luar pagar.Rambutnya yang basah menempel di pipi. Wajahnya pucat pasi.Aku belum pernah melihatnya seterpuruk itu. Aku sebenarnya tidak ingin menemuinya, tapi aku tetap harus berangkat kerja. Seperti yang kuduga, begitu aku melangkah keluar, Rangga langsung berjalan cepat ke hadapanku. Matanya menata

  • Asisten Suamiku Adalah Maut Rumah Tanggaku   Bab 10

    Akhirnya Rangga menemukan catatan pengunduran diriku. Saat melihat namaku tertera sebagai pemohon, matanya membelalak dan dia mundur dua langkah dengan terhuyung. Dia mengumpat pelan."Siapa yang menyetujui pengunduran dirimu? Mereka nggak tahu hubunganmu denganku?"Rangga langsung menelepon perusahaan seperti orang kehilangan kendali.Telepon tersambung. Tanpa memberi kesempatan lawan bicara berbicara, dia langsung memaki, "Soal pengunduran diri Nabila, kamu pernah konfirmasi ke aku? Siapa yang suruh kamu ambil keputusan sendiri?""Tapi, Pak Rangga, sebelumnya Anda sendiri yang bilang ....""Aku bilang apa? Aku pernah bilang suruh kamu pecat dia? Dia istriku, kamu nggak tahu? Kamu kerja pakai otak nggak? Sudah nggak tahu siapa atasanmu, ya!""Keluar dari perusahaan sekarang juga. Jangan sampai aku melihatmu lagi!"Rangga memarahi orang itu habis-habisan, lalu berbalik menatapku dengan ekspresi seolah ingin menyanjung, "Nabila, aku benar-benar nggak menyangka dia berani memperlakukanmu

  • Asisten Suamiku Adalah Maut Rumah Tanggaku   Bab 9

    Sepertinya dia juga teringat.Dulu setelah Rangga merebut proposal itu dariku dan menyerahkannya pada Wina, aku selalu merasa tidak tenang. Setiap kali aku diam-diam memperbaiki kesalahan yang penuh celah sampai proposal benar-benar selesai.Namun, setiap kali pula Rangga tersenyum dan menyalahkanku karena ikut campur, serta berkata Wina bisa menyelesaikannya sendiri. Ketika muncul masalah, dia tetap melempar kesalahan kepadaku, menyalahkanku karena tidak memeriksa dengan teliti, bahkan kesalahan yang begitu jelas pun katanya tidak kulihat.Jadi kali ini, aku bahkan tidak meliriknya. Dia bilang Wina bisa menyelesaikan sendiri, maka aku beri dia kesempatan itu untuk berprestasi."Nggak," jawabku sambil menggeleng.Alis Rangga langsung berkerut.Melihat dia hampir marah, aku berkata dengan tenang, "Itu pekerjaan Wina, bukan tanggung jawabku. Aku memang nggak punya hak dan nggak punya kewajiban untuk ikut campur.""Tapi kamu istriku.""Lalu kenapa?"Aku tertawa sinis. "Karena aku istrimu,

  • Asisten Suamiku Adalah Maut Rumah Tanggaku   Bab 8

    "Urusan kami belum sampai giliranmu ikut campur. Kalau nggak ada urusan lagi, kamu pulang dulu."Wina tidak mau. "Kak Rangga, kamu lupa? Rumah yang aku sewa sekarang nggak bisa ditempati ....""Kalau nggak bisa ditempati, pergi saja ke hotel. Kamu sudah dewasa, masa menyelesaikan masalah sendiri saja nggak bisa? Atau kamu mau aku tiba-tiba menyulap satu rumah untukmu?" Nada bicara Rangga terdengar dingin dan tanpa perasaan.Namun, aku melihat sesuatu. Dia diam-diam memberi Wina sebuah isyarat dengan tatapan mata. Dia pikir itu cukup tersembunyi, tapi dia tidak tahu aku memang sudah tahu dari dulu. Tanpa sepengetahuanku, dia membeli sebuah rumah kecil di pinggiran kota.Wina jelas memahami maksudnya. Dia berpura-pura cemberut kecewa, lalu diam-diam mengambil kunci dari saku mantel Rangga yang tergantung di rak, kemudian keluar dari rumah.Aku tidak membongkar sandiwara mereka.Aku sudah tidak peduli lagi pada mereka. Lagi pula, membongkarnya juga tidak ada gunanya. Secara hukum rumah it

  • Asisten Suamiku Adalah Maut Rumah Tanggaku   Bab 7

    Senyum di sudut bibir Rangga membeku."Apa maksudmu? Kamu mau menceraikanku?"Wajahnya tidak terlihat senang seperti yang dulu pernah kubayangkan. Di luar dugaan, dia malah terlihat sedikit marah.Wina hanya tertegun sesaat. Di matanya terlintas kegembiraan sesaat. Namun, nadanya pura-pura menegur, "Kak Nabila, kenapa kamu nggak peka, sih? Kak Rangga tadi bilang cerai itu cuma supaya kamu membujuk dia, bukan benar-benar mau cerai.""Cepat tarik kembali surat cerainya. Jangan bikin masalah. Kak Rangga sudah capek kerja dan baru pulang, jangan buat dia marah."Seolah membelaku, tapi aku tahu dia sengaja memancing emosi Rangga.Cara seperti ini sudah sering dia pakai dan selalu berhasil. Dulu karena kesal, Rangga pernah mencabut jabatanku, bahkan pernah memotong gajiku dua bulan. Kupikir kali ini dia juga akan menerima perceraian hanya karena gengsi.Namun tak kusangka, ekspresinya malah menjadi tegang.Beberapa saat kemudian dia berkata pelan, "Aku nggak akan ceraikan kamu. Nabila, sekar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status